Bless the Lord oh My soul

Bless the Lord oh My soul

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan

Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan

Sukacita adalah ciri Utama orang Kristen. bersukacita sebagai ungkapan hati atas kasih karunia Tuhan More »

Spread the word

Spread the word

Sebarkan Berita Keselamatan More »

Janagn risau menghadapi tantangan hidup

Janagn risau menghadapi tantangan hidup

Selalu ada berkat dibalik masalah yang kita hadapi. More »

Bingung memilih Asuransi Jiwa?

Bingung memilih Asuransi Jiwa?

PT Generali Indonesia adalah perusahaan internasional yang berpengalaman sejak tahun 1831. More »

 

Category Archives: Hidup

Kisah petani dan anjing setia

Ada sebuah keluarga Petani yang tinggal di sebuah desa. Keluarga Petani ini di karuniai seorang putri yg masih berumur enam bulan. Mereka juga memelihara seekor anjing yg sangat mereka sayangi.

Anjing itu begitu pintar dan setia kpd majikannya. Ia bisa diandalkan utk membantu pasangan Petani itu di dlm menjaga sawahnya.

Mereka tdk perlu membuang wkt untuk mencegah burung-burung atau tikus yg akan merusak tanaman padi, krn sang anjing setia akan mengusir burung2 yg datang untuk melahap padi mereka. Karena kegesitannya sang anjing setia itu selalu berhasil menangkap tikus-tikus buas yang akan merusak tanaman padi dan sang anjing akanmen-cabik-cabik tubuh mereka.

Pagi itu pak Tani bermaksud menjual hasil sawahnya ke kota, tetapi kali ini ia terpaksa hrs mengajak istrinya krn banyaknya hasil sawah yg hrs mrk bawa ke pasar. Masalahnya, siapa yg akan menjaga si kecil yg baru berumur enam bln itu? “Kan ada sang anjing,” kata pak Tani kepada istrinya.

Maka berangkatlah suami istri itu ke pasar dan mempercayakan pengawasan bayi mereka kepada sang anjing setia. Toh selama ini kesetiaan dan kepintarannya sdh terbukti.

Setelah semua hasil panennya habis terjual, mereka pun pulang ke rumah.

Melihat majikannya datang, dr kejauhan sang anjing menyalak, me-lompat2 sambil ber-putar2 seolah ingin memberitahukan kpd majikannya, “cepat ke mari, ada sesuatu yg terjadi” Setelah dekat, suami-istri itu pun kaget bkn kepalang. Betapa tdk, mrk melihat moncong si anjing berlumuran darah. “Pastilah sang anjing ini sdh memakan bayi kita”, jerit istri petani histeris.

Serta merta si pak Tani mengambil sebatang kayu, sambil mencaci maki sang anjing, “anjing kurang ajar, tidak tahu diuntung, teganya engkau memakan bayi kami” Sekuat tenaga pak Tani itu memukulkan kayu ke kepala sang anjing tsb. Sang anjing pun sempoyongan, berteriak lemah dan memandang tuannya dgn mata sayu, setelah itu ia rebah dan tak bernyawa dekat kaki tuannya.

Suami-istri itu bergegas ke dalam dan di sana mereka melihat bayi kecil mrk sdg tertidur lelap. Di bawah tempat tidurnya, tampak bangkai ular besar dgn darah yg berceceran di tanah bekas gigitan sang anjing.

Suami-istri itu pun duduk terkulai. Penyesalan mendera hati mrk krn telah membunuh sang anjing setia yg justru telah menyelamatkan nyawa bayi merek dr serangan si ular besar.

*Pesan Moral:*
_*”saat kita marah, jagalah kata2 dan sikap, sblm menyesal dgn akibatnya. Lebih baik diam dan menghindar sementara sampai kita mampu mengendalikan emosi”*_

_*”setiap org hendaklah cepat utk mendengar, tetapi lambat utk ber-kata2, dan jg lambat utk marah; sebab amarah manusia bisa tidak mengerjakan kebenaran”*_
dikutip dari #edisiSelfReminder#

Fokus pada hidup

Ini adalah sebuah wawancara yang benar-benar luar biasa dengan Rick Warren, penulis Purpose Driven Life dan pastor dari Gereja Saddleback di California.
Dalam sebuah wawancara dengan Paul Bradshaw, Rick Warren mengatakan: Orang-orang bertanya kepada saya, apa tujuan dari hidup? Dan jawab saya adalah: secara ringkas, hidup adalah persiapan untuk kekekalan. Kita diciptakan untuk hidup selama-lamanya, dan Tuhan menginginkan kita untuk bersama-sama dengan Dia di surga. Suatu hari jantung saya akan berhenti, dan itu akan menjadi akhir dari tubuh saya tapi bukan akhir dari saya.
Saya mungkin hidup 60 sampai 100 tahun di bumi, tapi saya akan menghabiskan trilyunan tahun dalam kekekalan. Ini adalah sekedar pemanasan, persiapan untuk yang sesungguhnya.
Allah menginginkan kita melatih di dunia apa yang akan kita lakukan selamanya dalam kekekalan. Kita diciptakan oleh Allah dan untuk Allah, dan sampai engkau bisa memahami hal itu, hidup tidak akan pernah masuk akal.
Hidup adalah sebuah seri dari masalah-masalah: apakah engkau sedang dalam masalah sekarang, baru saja selesai dari satu masalah, atau akan segera masuk dalam satu masalah.
Alasan untuk ini adalah: Tuhan lebih tertarik kepada karaktermu daripada kesenangan / kenyamanan hidupmu.
Tuhan lebih tertarik untuk membuat hidupmu suci daripada membuat hidupmu senang. Kita bisa cukup senang di dunia, tapi itu bukanlah tujuan darihidup. Tujuannya adalah pertumbuhan karakter, dalam kemiripan kepada Kristus.

Setahun terakhir ini telah menjadi tahun yang paling hebat dalam hidup saya tapi juga tahun yang paling sulit, dengan istri saya, Kay, terkena kanker.

Dulu saya terbiasa berpikir bahwa hidup adalah bukit dan lembah suatu saat kamu melalui masa-masa gelap, kemudian kamu naik ke puncak, bolak-balik seperti itu. Saya tidak percaya itu lagi.
Hidup bukannya dalam bentuk bukit dan lembah, sekarang saya percaya bahwa hidup adalah seperti 2 rel di rel kereta api, dan pada setiap waktu kamu mengalami sesuatu yang baik dan sesuatu yang buruk dalam hidupmu. Tidak penting seberapa baiknya berbagai hal terjadi dalam hidupmu, selalu ada hal-hal yang buruk yang perlu diselesaikan.
Dan tidak peduli seberapa buruknya yang terjadi dalam hidupmu, selalu ada sesuatu yang baik dimana engkau bisa bersyukur kepada Tuhan.
Engkau bisa fokus pada tujuan hidupmu, atau engkau bisa fokus pada masalahmu.
Jika engkau fokus pada masalahmu, engkau akan menjadi terpusat pada dirimu (self-centeredness) , masalahku, urusanku, sakitku.
Tapi satu cara yang paling mudah untuk menyingkirkan rasa sakit itu adalah dengan melepaskan fokusmu pada dirimu sendiri dan mulai memfokuskan diri kepada Allah dan kepada sesama.
Kami dengan cepat menemukan bahwa walaupun didoakan oleh ratusan ribu orang, Tuhan tidak akan menyembuhkan Kay atau meringankan penderitaannya. Keadaan sangat sulit untuk dia, tapi Allah sudah memperkuat karakternya, memberinya pelayanan menolong orang lain, memberinya sebuah kesaksian, menarik dia lebih dekat lagi kepada Allah dan kepada sesama.
Engkau harus belajar untuk berhadapan dengan hal yang baik maupun yangburuk dalam hidup. Sebenarnya, terkadang berurusan dengan yang baik bisa lebih sulit. Sebagai contoh, dalam setahun terakhir ini, secara begitu tiba-tiba, ketika sebuah buku terjual 15 juta buah, hal itu membuat saya langsung sangat kaya.
Itu juga membawa banyak kepopuleran yang belum pernah saya hadapi sebelumnya. Saya pikir Allah tidak memberimu uang ataupun kepopuleran untuk ego dirimu sendiri atau untuk engkau hidup enak-enakan.
Jadi saya mulai bertanya kepada Allah apa yang Ia inginkan untuk saya lakukan dengan uang, kepopuleran, dan pengaruh ini. Dia memberiku 2 pasal yang berbeda yang menolong saya menentukan apa yang harus dilakukan, 2Korintus 9 dan Mazmur 72.

Pertama,meskipun ada begitu banyak uang yang kami terima, kami tidak akan mengubah gaya hidup kami sedikitpun. Kami tidak melakukan pembelian besarapapun.

Kedua, mulai sekitar tengah tahun lalu, saya berhenti mengambil gaji dari gereja.
Ketiga, kami mendirikan yayasan-yayasan untuk mendanai sebuah inisiatif yang kami sebut The Peace Plan: untuk mendirikan gereja, memperlengkapi pemimpin-pemimpin, menolong orang miskin, merawat yang sakit, dan mendidik generasi masa depan.
Keempat, saya menjumlahkan semua yang telah gereja bayarkan kepada saya selama 24 tahun sejak saya memulai gereja, dan saya mengembalikan semuanya. Terasa sangat membebaskan untuk bisa melayani Allah secara cuma-cuma.
Kita harus bertanya pada diri kita: Apakah saya akan hidup untuk kekayaan? Popularitas?
Apakah saya akan diarahkan oleh tekanan? Perasaan bersalah? Kepahitan? Materialisme?
Atau saya akan diarahkan oleh rencana-rencana Allah untuk hidup saya? Ketika saya bangun pagi, saya duduk di sisi tempat tidur saya dan berkata, Tuhan, jika saya tidak menyelesaikan satu halpun pada hari ini, saya ingin mengenal Engkau lebih lagi dan mengasihi Engkau lebih lagi. Tuhan tidak meletakkanmu di bumi hanya untuk mengisi daftar hal-hal yang harus dikerjakan. Dia lebih tertarik kepada siapa saya daripada apa yang saya lakukan. Karena itulah kita disebuthuman beings, bukan human doings.
Dalam masa-masa yang menyenangkan, PUJI TUHAN.
Dalam masa-masa sulit, CARI TUHAN.
Dalam masa-masa tenang, SEMBAH TUHAN.
Dalam masa-masa yang menyakitkan, PERCAYAI TUHAN.
Setiap saat, BERSYUKURLAH KEPADA TUHAN.
Dikutip dari: Renungan Harian Inspirasi Kristen

Berhikmat dalam perkataan

Mewaspadai Ucapan

Pada masa kekuasaan Tsar Nicolas I di kekaisaran Rusia, pecah sebuah pemberontakan yang dipimpin seorang bernama Kondraty Ryleyev. Namun, pemberontakan itu berhasil ditumpas. Ryleyev, sang pemimpin ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung. Namun saat tali sudah diikatkan di lehernya dan eksekusi dilaksanakan, tiba-tiba tali gantungan itu putus. Di masa itu, kejadian luar biasa seperti itu biasanya dianggap sebagai bukti bahwa terhukum tidak bersalah dan Tsar mengampuninya. Namun, Ryleyev yang lega dan merasa di atas angin pun menggunakan kesempatan itu untuk tetap mengkritik, “Lihat, di pemerintahan ini sama sekali tidak ada yang betul. Bahkan, membuat talipun tidak becus!”
Seorang pembawa pesan yang melihat peristiwa putusnya tali ini kemudian melaporkan pada Tsar. Sang penguasa Rusia itu bertanya, “Lalu, apa yang Ryleyev katakan?”
Ketika pembawa pesan itu menceritakan komentar Ryleyev di atas, Tsar pun menjawab, “Kalau begitu, mari kita buktikan bahwa ucapannya tidak benar.”
Ryleyev pun menjalani hukuman gantung kedua kalinya dan kali ini tali gantungannya tidak putus. Bukan hukuman yang membinasakannya, tapi ucapannya sendiri.
Lidah itu seperti kekang kuda, kemudi sebuah kapal, yang hanya benda kecil tapi bisa mengendalikan Benda raksasa. Lidah dapat menjadi seperti api kecil di tengah hutan, bahkan lebih buas dari segala hewan liar.
Apa yang kita ucapkan sangat sering menentukan arah hidup kita. Apa saja yang kita ucapkan pada orang lain dan pada diri sendiri sangat berpengaruh terhadap kejadian-kajdian yang akan kita alami kemudian.
Apa yang kita ucapkan seringkali menentukan apa yang kemudian kita terima.
” … tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah,
ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.”
( Yakobus 3 : 2 )
Dikutip dari Renungan Harian Inspirasi Kristen

Walaupunn hanya sebuah paku keling

Hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya suka damai, lembut … tidak memihak dan tidak munafik (Yakobus 3:17)
Bacaan: Yakobus 3:13-18
Para ilmuwan telah sepakat bahwa keling yang cacat merupakan penyebab tenggelamnya kapal Titanic yang “tak dapat tenggelam” itu. Menurut para peneliti yang baru-baru ini menyelidiki bagian-bagian kapal yang berhasil dikumpulkan dari puing-puing Titanic, keling kapal yang terbuat dari besi tempa, bukannya baja, menyebabkan badan kapal terbuka seperti resleting. Nasib Titanic membuktikan bahwa menghabiskan uang untuk peralatan mewah dan promosi publik, tetapi mengabaikan bagian-bagian yang “kecil” adalah tindakan bodoh.
Dalam beberapa hal, gereja hampir sama seperti kapal, dan banyak orang di dalam gereja bertindak sebagai keling kapal. Meskipun keling sepertinya tidak penting, merekalah yang menyatukan bagian-bagian kapal dan menjaganya agar tetap mengapung.
Banyak orang merasa tidak penting, bahkan perasaan itu juga menyerang orang-orang kristiani, dan beberapa orang melakukan hal-hal yang menyakitkan untuk membuat mereka merasa penting. Yakobus berkata, “Di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (3:16). Orang-orang yang terkorupsi oleh keinginan duniawi akan kecantikan, kekayaan, dan kekuasaan dapat meruntuhkan gereja-gereja besar, tetapi orang-orang yang murni dan tak bercacat (1:27) menyatukan gereja.
Sebagai anggota gereja, kita harus menjadi “keling-keling” yang tak bercacat. Jika kita murni (Yakobus 3:17), kuat (Efesus 6:10), dan berdiri teguh (1 Korintus 15:58), kita akan dipakai Tuhan untuk menjaga kapal-Nya agar tetap mengapung di tengah krisis
Dikutip dari Renungan Harian Inspirasi Kristen

Mujizat di balik musibah

Ketika musibah menggagalkan kematian

Dr. Lin Ting Tung adalah orang Taiwan pertama yang menjadi dokter dan menjadi Kristen. Ini terjadi pada akhir abad ke-19. Ia bekerja di rumah sakit kecil yang dirintis oleh Dr. Maxwell, seorang misionaris Inggris. Ketika itu tingkat kesehatan masyarakat di Taiwan sangat rendah dan cara pengobatan masih sangat sederhana.

Pada suatu hari seorang anak datang ke rumah sakit itu dan meminta obat untuk ibunya yang sedang demam akibat malaria. Anak ini berjalan lebih dari dua jam dari desanya ke rumah sakit melalui jalan setapak melewati hutan dan sawah.

Ketika nama ibunya dipanggil, anak ini langsung bangkit dari bangkunya, meraih botol obat dan bergegas pulang. Sore harinya pukul lima , ketika kamar obat akan ditutup, seorang perawat tampak bingung dan berbisik,”Dokter Lin,botol obat untuk pasien malaria masih ada disini. Tetapi ada satu botol yang hilang. Isinya disinfektan.”

Dr. Lin terkejut, diperiksanya botol yang tertinggal, benar isinya obat malaria. Jadi, anak tadi membawa botol yang salah!

Botol-botol dikamar obat itu memang berbentuk sama dan berwarna sama, lagipula baik obat malaria maupun disinfektan sama-sama cairan.

“Celaka kita. Ibu itu bisa mati. Disinfektan itu obat keras pembunuh kuman untuk kamar operasi. Kalau sampai diminum, usus bisa terbakar dan orang itu akan mati,” ujar Dr. Lin dengan wajah pucat. Segera mereka melaporkan peristiwa ini kepada Dr.Maxwell.

Ia juga terkejut. “Sekarang pukul lima, anak itu pergi dari sini pukul tiga, jadi ia sudah hampir tiba. Tidak mungkin kita mengejarnya. Kita tidak tahu jalan ke desa itu,” ujar Dr. Maxwell. Dr.Maxwell termenung, lalu ia berkata, “Mulai hari ini semua obat keras tidak boleh diletakkan diatas meja. Sekarang panggil semua karyawan untuk berkumpul. Kita akan berdoa.”

Begitulah semua orang yang bekerja di rumah sakit itu berkumpul dan berdoa. Dr. Maxwell berdoa, “Tuhan, kami telah membuat kecerobohan. Ampunilah kami. Nyawa seorang ibu sedang terancam. Tolonglah dia, cegahlah dia agar tidak meminum obat yang salah itu……”

Malam harinya Dr. Lin berdinas malam. Ia harus bertanggung jawab atas kematian ibu ini. Esok harinya, ketika masih subuh pintu diketuk. Ternyata itu anak yang kemarin membawa botol yang keliru. Mukanya pucat ketakutan.

Dr. Lin juga takut. Kedua orang itu berdiri saling memandang dengan gugup. Kemudian anak itu berkata, “Ma’af dokter. Kemarin saya bawa botol itu sambil berlari, lalu saya jatuh botol itu pecah dan isinya tumpah.”

Dr. Lin yang masih terpaku karena gugup langsung bertanya, “Kapan Jatuhnya?”

Anak itu menjadi makin ketakutan, “Ma’af, dokter. Saya baru datang sekarang. Jatuhnya kemarin sore, menjelang gelap.”

Dr. Lin langsung ingat : Menjelang gelap….itu adalah saat ketika semua karyawan rumah sakit berkumpul mendoakan ibu anak ini.

Jiwa ibu anak ini tertolong, isi botol yang salah itu tidak sampai terminum, karena botol itu pecah ditengah jalan.

——————

Kita bisa lihat peristiwa ini dari sudut si anak. Ia pulang membawa botol obat ini sambil berlari. Ia ingin cepat-cepat memberikan obat ini kepada ibunya. Ia ingin menunjukan baktinya kepada ibunya. Ia ingin ibunya cepat sembuh. Anak ini tidak mengetahui bahwa botol yang sedang dipegangnya berisi racun. Ia tidak bisa membaca tulisan dibotol itu. Ia buta huruf. Anak ini berlari terus. Jalan dari desa ke rumah sakit dikota sangat jauh. Perginya dua jam, pulangnya dua jam.

Ia letih. Lalu, tiba-tiba ia tersandung. Ia jatuh. Mungkin aa terluka, tetapi yang paling celaka; botolnya jatuh dan pecah, cairan isinya tumpah di tanah. Bayangkan bagaimana perasaan anak itu. Ia kecewa, sedih dan takut.

Bagaimana kalau penyakit ibunya makin parah. Bagaimana kalau dokter itu marah? Anak ini sangat terpukul oleh kejatuhan ini.

Saat itu ia belum tahu bahwa justru terjatuhnya dia ini menolong nyawa ibunya. Mungkin orang lain akan tersenyum, “Ah, itu cuma kebetulan.”

Namun orang percaya akan bersaksi, “Tuhan bisa bekerja melalui sebuah kebetulan,” itulah juga kesaksian Rasul Paulus di Roma 8:28 :”….Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia…….”

“SEGALA SESUATU” berarti segala keadaan atau segala kejadian, baik berhasil maupun kejatuhan. Kejatuhan dapat berbentuk musibah, penyakit atau kegagalan. Seringkali kita mengira bahwa Allah hanya hadir dan bekerja dalam keberhasilan. Padahal Allah juga hadir dan bekerja dalam kejatuhan. Apa tujuan Allah bekerja dalam kejatuhan?

Paulus menjawab,”…..untuk mendatangkan KEBAIKAN……”

Dikutip dengan penyesuaian dari buku “Selamat Panjang Umur” Dr.Andar Ismail

Kayu / Pohon Penaga dalam Alkitab

Walaupun kata “pohon penaga” dalam Alkitab hanya terdapat di Yesaya 41:19, namun kayu penaga banyak dicatat dalam Alkitab. Pohon ini termasuk jenis akasia, yang dalam  bahasa latin disebut acacia seyal. Ketinggian pohon bisa mencapai empat hingga delapan meter dengan batang kayu berwarna kemerahan dan bunga berwarna kuning.

namejesusnamejesus

Kayu pohon yang sering dipakai untuk keperluan ibadah adalah kayu penaga. Kayu penaga ini yang dipakai sebagai salah satu bahan membuat kemah suci, tetapi tentu yang terpenting sebagai bahan membuat Tabut Perjanjian. Banyak ahli memperkirakan pohon penaga ini adalah pohon yang dilihat Musa waktu api Tuhan menyala tetapi tidak memungkinan bahwa rangkaian “mahkota”  duri Yesus, berasal dari rantingnya. Ini pohon yang memiliki ketahanan hidup yang tangguh, mampu tumbuh di tempat yang paling tandus sekalipun. Karena keuletannya itulah kayu ini memiliki kualitas kayu yang baik sehingga sering terpilih sebagai perkakas mulia.
Kita bisa belajar banyak dari kehidupan pohon penaga ini.Bertahan dalam segala kondisi Kegunaan sangat banyak, hidup begitu bermanfaat, bagi Tuhan dan sesama manusia.

“Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (2 Timotius 2:21).

Kebahagian tanpa henti

Kebahagiaan dan Damai Sejahtera yang Tak Pernah Habis/Berhenti Mengalir

dikutip dari Renungan Harian

Ayat bacaan: Yesaya 48:18
======================
“Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti.”

Jika memiliki kesempatan ke pantai, saya paling senang melihat gelombang laut yang terus menerpa ke pantai. Ada yang gelombangnya kecil, ada pula yang agak besar. Jika saya berada agak ke dalam, maka gelombang itu akan lebih terasa ketika menabrak saya. Saya bisa terlempar kembali ke pinggir pantai dalam keadaan jungkir balik apabila gelombangnya cukup besar. Bagi peselancar, gelombang besar akan sangat menantang adrenalin mereka. Mereka akan sangat bangga apabila bisa menaklukkan gelombang yang dahsyat. Salah seorang peselancar dari luar negeri pernah bercerita kepada saya bahwa ketinggian gelombang di laut-laut Indonesia sangatlah ‘merangsang’ untuk ditaklukkan. Kembali kepada ‘hobi’ saya di pantai yang suka memperhatikan gelombang, satu hal yang saya simpulkan adalah bahwa besar atau kecil, kapanpun, gelombang tidak akan pernah berhenti menerpa pantai.

Masih bicara soal air, dahulu dari teras samping rumah di lantai dua ketika saya masih mengontrak, saya bisa melihat sebuah sungai yang sebenarnya tidak terlalu besar tetapi airnya tidak pernah berhenti mengalir. Menurut cerita penduduk asli yang sudah lama bermukim disana, dahulu kala sungai itu menjadi sumber air utama penduduk. Kehidupan di area sana juga ternyata bermula dari pinggiran sungai. Kebanyakan peradaban juga biasanya bermula dari pinggiran sungai karena siapapun tentu membutuhkan akses yang baik untuk memperoleh mata air. Sungai-sungai di India juga tercatat tidak pernah kering meski daerahnya sangat panas, dan sejauh yang saya ketahui, itu karena sumber airnya berasal dari pegunungan Himalaya yang selalu menyediakan air sepanjang tahun.

Gelombang laut tidak akan pernah berhenti tanpa peduli waktu. Malam pun jika anda berjalan di tepi pantai, anda akan tetap mendapati bahwa gelombang-gelombang itu tetap ada mengombak di tengah laut dan bergulung menuju kaki anda. Sungai yang tidak kering akan menjamin kesuburan tanah di sekitarnya sekaligus menjamin kehidupan yang baik bagi orang-orang yang tinggal disana. Jadi kita bisa membayangkan bagaimana hebatnya apabila damai sejahtera dan kebahagiaan bisa kita miliki seperti kedua ilustrasi ini. Kebahagiaan kita bisa hadir bagai gelombang laut yang tidak pernah berhenti mendatangi pantai, dan damai sejahtera selalu ada di dalam kita bagaikan sungai yang tidak pernah kering. Bukankah itu terdengar sangat luar biasa indahnya?

Sadar atau tidak, seperti itulah tepatnya yang Tuhan janjikan kepada kita. Lihatlah ayat bacaan hari ini: “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti.” (Yesaya 48:18).

Wow, ini janji Tuhan yang luar biasa. Itu semua bisa menjadi milik kita dengan satu catatan atau syarat, yaitu apabila kita memperhatikan perintah-perintah Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita. Dalam versi Bahasa Inggrisnya dikatakan: “Oh, that you had hearkened to My commandments! Then your peace and prosperity would have been like a flowing river, and your righteousness [the holiness and purity of the nation] like the [abundant] waves of the sea.” Kata ‘hearken’ berarti mendengar, memperhatikan dan mematuhi. Dengan kata lain, if we listen, give attention to Lord’s commandments with full obedience, we will gain peace and prosperity like a flowing river, then our righteousness will never stop just like the waves of the sea. Jika kita mendengar, mencermati dan mematuhi ketetapan Tuhan, semua itu dijanjikan Tuhan untuk menjadi milik kita.

Tuhan menjanjikan kebahagiaan yang dapat kita peroleh secara melimpah tanpa henti, bagai gelombang laut yang tidak pernah berhenti dan damai sejahtera bagai sungai yang tidak pernah kering seperti yang tertulis dalam Yesaya 48:18. Tapi itu semua bisa menjadi milik kita apabila kita memperhatikan setiap perintah Tuhan secara serius dan sungguh-sungguh. Ketaatan kita akan membuat Tuhan berada dekat dengan kita, di dalam diri kita, dan hanya dengan cara itulah kita bisa menerima janji Tuhan yang besar seperti ini. Disanalah kita bisa merasakan seperti apa sebenarnya kebahagiaan dan damai sejahtera yang berasal dari Tuhan, yang tidak lagi tergantung oleh baik buruknya situasi dalam hidup kita sehari-hari atau hal-hal yang dijanjikan dunia. Jika kita masih ragu akan hal itu, dalam beberapa kesempatan kita bisa menemukan ayat yang menyatakan dengan jelas bahwa Tuhan sendirilah yang merupakan sumber damai sejahtera seperti yang bisa kita lihat dalam Roma 15:33 dan 16:20.

Konsep yang dipercaya dunia sering mengajarkan hal yang berbeda. Memenuhi keinginan daging secara sekilas seolah-olah mampu memberikan jawaban untuk mendatangkan kebahagiaan. Banyak orang mati-matian berusaha untuk memuaskan keinginan dagingnya untuk memperoleh rasa bahagia dan damai sejahtera, bahkan untuk itu mereka rela mengorbankan hubungan dengan Tuhan. Mereka mencoba terus lebih dekat lagi kepada hal-hal duniawi yang dianggap mampu menjawab kebutuhan akan kebahagiaan itu, padahal kuncinya justru berada di Tuhan dan bisa kita peroleh lewat Roh. Firman Tuhan berkata “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” (Roma 8:6). Dalam Galatia 5:22-23 pun kita bisa melihat bahwa damai sejahtera dan sukacita merupakan dua dari beberapa buah Roh.

Sangatlah menarik ketika seorang filsuf dan ahli ilmu pengetahuan yang sangat terkenal bernama Pascal. Suatu kali ia pernah memberi pernyataan yang sangat penting mengenai kepenuhan hati untuk bisa merasakan damai sejahtera dan kebahagiaan. Ia mengatakan bahwa sesungguhnya ada sebuah rongga kosong di dalam hati kita yang tidak bisa diisi oleh siapa atau apapun kecuali oleh Tuhan, melalui Yesus. Bukankah menarik ketika kita mencermati bahwa ucapan ini berasal dari seorang yang sangat ahli dalam ilmu pengetahuan, orang yang menciptakan begitu banyak teori yang masih dipakai sebagai dasar ilmu pengetahuan sampai hari ini? Setinggi-tingginya kita menguasai ilmu, sehebat-hebatnya dan sekaya-kayanya kita, ternyata ada sebuah rongga atau lubang yang akan selalu ada di dalam diri kita yang tidak akan mampu dipenuhi oleh hal apapun selain oleh Tuhan sendiri.

Itulah sebabnya kita sering melihat bahkan mungkin pernah mengalami bahwa tidak peduli seberapa kerasnya usaha kita untuk menutupi lubang ini lewat hal-hal yang ditawarkan dunia, itu tidak pernah bisa ditambal apabila tidak oleh Tuhan sendiri. Manusia cenderung mencari kebahagiaan di tempat yang salah, mengimani apa yang dipercaya dunia bisa mendatangkan kebahagiaan seperti misalnya kekayaan, jabatan, lingkungan jetset dalam pertemanan, berbagai bentuk pesta atau bahkan sebagian orang lagi memilih hal yang lebih jauh seperti mabuk-mabukan atau obat terlarang. Tapi buktinya, mereka ini hanya akan tersesat lebih dan lebih jauh lagi tanpa pernah menemukan solusi yang mujarab. Ini merupakan hal yang ironis karena pengambilan langkah yang salah seperti ini tidak saja sia-sia tapi bahkan semakin menjauhkan kita dari Tuhan dan memberikan bahaya besar baik dalam hidup di dunia saat ini maupun kelak dalam kehidupan selanjutnya.

Oleh karena itulah, baik lewat ucapan Pascal seperti yang bisa dibaca dalam renungan kemarin atau lewat contoh-contoh nyata yang sering atau mungkin pernah kita alami, kita harus menyadari bahwa kebahagiaan sejati hanyalah bisa kita peroleh secara rohani lewat hubungan erat kita dengan Tuhan. Ketaatan terhadap Tuhan, patuh terhadap ketetapan-ketetapanNya tanpa terkecuali merupakan kunci penting untuk bisa memperoleh kebahagiaan dan damai sejahtera yang sejati, tanpa pernah kering, tanpa pernah berhenti. Rongga kosong dalam hati kita akan tetap ada selama kita terus terjebak mencari solusi yang salah. Semua itu tidak akan mampu mengisi kekosongan kecuali Tuhan sendiri.

Selanjutnya mari kita lihat bahwa Yesus berfirman: “..Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” (Roma 14:17). Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah bukan mengacu kepada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan fisik saja, tetapi justru mengacu kepada damai sejahtera dan sukacita lewat Roh Kudus. Itulah yang akan mampu memenuhi rongga kosong dalam hati kita lantas dalam kepenuhan bisa mencapai kebahagiaan dan damai sejahtera yang tidak ada habisanya, yang tidak lagi terpengaruh oleh keadaan atau kondisi apapun yang tengah kita alami hari ini. Sebuah Kebahagiaan dan damai sejahtera yang sejati hanya bisa disediakan oleh Tuhan, dan itu hanya akan bisa terjadi jika Kerajaan Allah hadir dalam kehidupan kita. Harta benda, kekayaan, jabatan, pujian dan penghargaan tidak akan pernah mampu menjawab kebutuhan kita akan kebahagiaan ini.

Kita sering keliru bahwa uang merupakan jawaban atas segala-galanya, yang sepertinya mampu memenuhi segala kebutuhan kita atas berbagai produk yang terus menawarkan kebahagiaan. Tapi pada suatu ketika nanti, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa ada ruang kosong yang tidak akan pernah bisa diisi penuh oleh apapun kecuali oleh Tuhan. Ketika rongga itu terpenuhi, disanalah kita akan merasakan kebahagiaan dan damai sejahtera tanpa henti yang tidak lagi tergantung lewat berbagai kesusahan di dunia ini. Sebaliknya, semakin meninggalkan atau menjauh dari Tuhan dan terus mengejar kenikmatan atas kedagingan justru akan membuat rongga kosong ini terus melebar, membawa kita ke dalam bermacam kesesatan yang semakin parah, dan merampas setiap sukacita yang seharusnya menjadi bagian dari kita lewat Kristus.

Jika anda saat ini sedang tidak dalam keadaan terdesak atau sulit tapi ada rasa kosong dalam hati anda yang membuat anda merasa kering tanpa damai sejahtera dan gelombang kebahagiaan terasa berhenti mengalir, itu tandanya anda harus mulai berpikir untuk memeriksa apakah masih ada ketetapan Tuhan yang belum ditaati atau hubungan kita dengan Tuhan masih harus diperbaiki. Di dalam Alkitab dikatakan: “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” (Yakobus 4:8). Tuhan menantikan anda dan rindu untuk mengalirkan damai sejahtera dan kebahagiaan yang tidak pernah kering dan berhenti. Sejak dua hari sebelumnya saya secara khusus berdoa untuk anda yang masih belum merasakan janji Tuhan yang dahsyat ini dan masih merasakan kekosongan dalam hati yang belum juga bisa dipenuhi. Tuhan siap menjawab itu semua, datanglah kepadaNya, perbaiki bagian-bagian yang masih belum beres dan terimalah rasa damai sejahtera dan bahagia dalam tingkatan yang tidak lagi bisa digoyahkan oleh kondisi sesulit apapun. Tuhan memberkati.

Kebahagiaan dan damai sejahtera yang melimpah tanpa henti menjadi milik orang-orang yang taat pada perintahNya

Berkat dalam kesukaran

Berkat dalam kesukaran

“God often hides His blessing in trouble or trial, which makes it all the sweeter when it comes our way.” »AW Tozer«

“Tuhan sering menyembunyikan berkatnya dalam kesukaran atau cobaan, yang membuatnya menjadi lebih manis waktu datang kepada kita.” »AW Tozer«

1 Korintus 10 : 13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Pencobaan cendrung membuat kita stress, bila dirasakan terlalu dalam terasa menekan dan menjadi frustasi.

Padahal seringkali berkat bersembunyi dibalik pencobaan, bila kita keliru menafsirkannya akan sangat merugikan diri sendiri.

Nikmati dan ikuti saja aliran Roh Kudus, ijinkan Dia menuntun kita memasuki rencanaNya yang luar biasa.

Serahkanlah seluruh hidup kita kepadaNya, maka damai sejahteraNya akan memenuhi hati kita, hidup menjadi lebih manis dan berarti.

Posted in Encouraging, Renungan | Leave a comment

Kebahagiaan dan Damai Sejahtera yang Tak Pernah Habis/Berhenti Mengalir

Kebahagiaan dan Damai Sejahtera yang Tak Pernah Habis/Berhenti Mengalir

Ayat bacaan: Yesaya 48:18
======================
“Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti.”

Jika memiliki kesempatan ke pantai, saya paling senang melihat gelombang laut yang terus menerpa ke pantai. Ada yang gelombangnya kecil, ada pula yang agak besar. Jika saya berada agak ke dalam, maka gelombang itu akan lebih terasa ketika menabrak saya. Saya bisa terlempar kembali ke pinggir pantai dalam keadaan jungkir balik apabila gelombangnya cukup besar. Bagi peselancar, gelombang besar akan sangat menantang adrenalin mereka. Mereka akan sangat bangga apabila bisa menaklukkan gelombang yang dahsyat. Salah seorang peselancar dari luar negeri pernah bercerita kepada saya bahwa ketinggian gelombang di laut-laut Indonesia sangatlah ‘merangsang’ untuk ditaklukkan. Kembali kepada ‘hobi’ saya di pantai yang suka memperhatikan gelombang, satu hal yang saya simpulkan adalah bahwa besar atau kecil, kapanpun, gelombang tidak akan pernah berhenti menerpa pantai.

Masih bicara soal air, dahulu dari teras samping rumah di lantai dua ketika saya masih mengontrak, saya bisa melihat sebuah sungai yang sebenarnya tidak terlalu besar tetapi airnya tidak pernah berhenti mengalir. Menurut cerita penduduk asli yang sudah lama bermukim disana, dahulu kala sungai itu menjadi sumber air utama penduduk. Kehidupan di area sana juga ternyata bermula dari pinggiran sungai. Kebanyakan peradaban juga biasanya bermula dari pinggiran sungai karena siapapun tentu membutuhkan akses yang baik untuk memperoleh mata air. Sungai-sungai di India juga tercatat tidak pernah kering meski daerahnya sangat panas, dan sejauh yang saya ketahui, itu karena sumber airnya berasal dari pegunungan Himalaya yang selalu menyediakan air sepanjang tahun.

Gelombang laut tidak akan pernah berhenti tanpa peduli waktu. Malam pun jika anda berjalan di tepi pantai, anda akan tetap mendapati bahwa gelombang-gelombang itu tetap ada mengombak di tengah laut dan bergulung menuju kaki anda. Sungai yang tidak kering akan menjamin kesuburan tanah di sekitarnya sekaligus menjamin kehidupan yang baik bagi orang-orang yang tinggal disana. Jadi kita bisa membayangkan bagaimana hebatnya apabila damai sejahtera dan kebahagiaan bisa kita miliki seperti kedua ilustrasi ini. Kebahagiaan kita bisa hadir bagai gelombang laut yang tidak pernah berhenti mendatangi pantai, dan damai sejahtera selalu ada di dalam kita bagaikan sungai yang tidak pernah kering. Bukankah itu terdengar sangat luar biasa indahnya?

Sadar atau tidak, seperti itulah tepatnya yang Tuhan janjikan kepada kita. Lihatlah ayat bacaan hari ini: “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti.” (Yesaya 48:18).

Wow, ini janji Tuhan yang luar biasa. Itu semua bisa menjadi milik kita dengan satu catatan atau syarat, yaitu apabila kita memperhatikan perintah-perintah Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita. Dalam versi Bahasa Inggrisnya dikatakan: “Oh, that you had hearkened to My commandments! Then your peace and prosperity would have been like a flowing river, and your righteousness [the holiness and purity of the nation] like the [abundant] waves of the sea.” Kata ‘hearken’ berarti mendengar, memperhatikan dan mematuhi. Dengan kata lain, if we listen, give attention to Lord’s commandments with full obedience, we will gain peace and prosperity like a flowing river, then our righteousness will never stop just like the waves of the sea. Jika kita mendengar, mencermati dan mematuhi ketetapan Tuhan, semua itu dijanjikan Tuhan untuk menjadi milik kita.

Tuhan menjanjikan kebahagiaan yang dapat kita peroleh secara melimpah tanpa henti, bagai gelombang laut yang tidak pernah berhenti dan damai sejahtera bagai sungai yang tidak pernah kering seperti yang tertulis dalam Yesaya 48:18. Tapi itu semua bisa menjadi milik kita apabila kita memperhatikan setiap perintah Tuhan secara serius dan sungguh-sungguh. Ketaatan kita akan membuat Tuhan berada dekat dengan kita, di dalam diri kita, dan hanya dengan cara itulah kita bisa menerima janji Tuhan yang besar seperti ini. Disanalah kita bisa merasakan seperti apa sebenarnya kebahagiaan dan damai sejahtera yang berasal dari Tuhan, yang tidak lagi tergantung oleh baik buruknya situasi dalam hidup kita sehari-hari atau hal-hal yang dijanjikan dunia. Jika kita masih ragu akan hal itu, dalam beberapa kesempatan kita bisa menemukan ayat yang menyatakan dengan jelas bahwa Tuhan sendirilah yang merupakan sumber damai sejahtera seperti yang bisa kita lihat dalam Roma 15:33 dan 16:20.

Konsep yang dipercaya dunia sering mengajarkan hal yang berbeda. Memenuhi keinginan daging secara sekilas seolah-olah mampu memberikan jawaban untuk mendatangkan kebahagiaan. Banyak orang mati-matian berusaha untuk memuaskan keinginan dagingnya untuk memperoleh rasa bahagia dan damai sejahtera, bahkan untuk itu mereka rela mengorbankan hubungan dengan Tuhan. Mereka mencoba terus lebih dekat lagi kepada hal-hal duniawi yang dianggap mampu menjawab kebutuhan akan kebahagiaan itu, padahal kuncinya justru berada di Tuhan dan bisa kita peroleh lewat Roh. Firman Tuhan berkata “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” (Roma 8:6). Dalam Galatia 5:22-23 pun kita bisa melihat bahwa damai sejahtera dan sukacita merupakan dua dari beberapa buah Roh.

Sangatlah menarik ketika seorang filsuf dan ahli ilmu pengetahuan yang sangat terkenal bernama Pascal. Suatu kali ia pernah memberi pernyataan yang sangat penting mengenai kepenuhan hati untuk bisa merasakan damai sejahtera dan kebahagiaan. Ia mengatakan bahwa sesungguhnya ada sebuah rongga kosong di dalam hati kita yang tidak bisa diisi oleh siapa atau apapun kecuali oleh Tuhan, melalui Yesus. Bukankah menarik ketika kita mencermati bahwa ucapan ini berasal dari seorang yang sangat ahli dalam ilmu pengetahuan, orang yang menciptakan begitu banyak teori yang masih dipakai sebagai dasar ilmu pengetahuan sampai hari ini? Setinggi-tingginya kita menguasai ilmu, sehebat-hebatnya dan sekaya-kayanya kita, ternyata ada sebuah rongga atau lubang yang akan selalu ada di dalam diri kita yang tidak akan mampu dipenuhi oleh hal apapun selain oleh Tuhan sendiri.

Itulah sebabnya kita sering melihat bahkan mungkin pernah mengalami bahwa tidak peduli seberapa kerasnya usaha kita untuk menutupi lubang ini lewat hal-hal yang ditawarkan dunia, itu tidak pernah bisa ditambal apabila tidak oleh Tuhan sendiri. Manusia cenderung mencari kebahagiaan di tempat yang salah, mengimani apa yang dipercaya dunia bisa mendatangkan kebahagiaan seperti misalnya kekayaan, jabatan, lingkungan jetset dalam pertemanan, berbagai bentuk pesta atau bahkan sebagian orang lagi memilih hal yang lebih jauh seperti mabuk-mabukan atau obat terlarang. Tapi buktinya, mereka ini hanya akan tersesat lebih dan lebih jauh lagi tanpa pernah menemukan solusi yang mujarab. Ini merupakan hal yang ironis karena pengambilan langkah yang salah seperti ini tidak saja sia-sia tapi bahkan semakin menjauhkan kita dari Tuhan dan memberikan bahaya besar baik dalam hidup di dunia saat ini maupun kelak dalam kehidupan selanjutnya.

Oleh karena itulah, baik lewat ucapan Pascal seperti yang bisa dibaca dalam renungan kemarin atau lewat contoh-contoh nyata yang sering atau mungkin pernah kita alami, kita harus menyadari bahwa kebahagiaan sejati hanyalah bisa kita peroleh secara rohani lewat hubungan erat kita dengan Tuhan. Ketaatan terhadap Tuhan, patuh terhadap ketetapan-ketetapanNya tanpa terkecuali merupakan kunci penting untuk bisa memperoleh kebahagiaan dan damai sejahtera yang sejati, tanpa pernah kering, tanpa pernah berhenti. Rongga kosong dalam hati kita akan tetap ada selama kita terus terjebak mencari solusi yang salah. Semua itu tidak akan mampu mengisi kekosongan kecuali Tuhan sendiri.

Selanjutnya mari kita lihat bahwa Yesus berfirman: “..Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” (Roma 14:17). Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah bukan mengacu kepada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan fisik saja, tetapi justru mengacu kepada damai sejahtera dan sukacita lewat Roh Kudus. Itulah yang akan mampu memenuhi rongga kosong dalam hati kita lantas dalam kepenuhan bisa mencapai kebahagiaan dan damai sejahtera yang tidak ada habisanya, yang tidak lagi terpengaruh oleh keadaan atau kondisi apapun yang tengah kita alami hari ini. Sebuah Kebahagiaan dan damai sejahtera yang sejati hanya bisa disediakan oleh Tuhan, dan itu hanya akan bisa terjadi jika Kerajaan Allah hadir dalam kehidupan kita. Harta benda, kekayaan, jabatan, pujian dan penghargaan tidak akan pernah mampu menjawab kebutuhan kita akan kebahagiaan ini.

Kita sering keliru bahwa uang merupakan jawaban atas segala-galanya, yang sepertinya mampu memenuhi segala kebutuhan kita atas berbagai produk yang terus menawarkan kebahagiaan. Tapi pada suatu ketika nanti, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa ada ruang kosong yang tidak akan pernah bisa diisi penuh oleh apapun kecuali oleh Tuhan. Ketika rongga itu terpenuhi, disanalah kita akan merasakan kebahagiaan dan damai sejahtera tanpa henti yang tidak lagi tergantung lewat berbagai kesusahan di dunia ini. Sebaliknya, semakin meninggalkan atau menjauh dari Tuhan dan terus mengejar kenikmatan atas kedagingan justru akan membuat rongga kosong ini terus melebar, membawa kita ke dalam bermacam kesesatan yang semakin parah, dan merampas setiap sukacita yang seharusnya menjadi bagian dari kita lewat Kristus.

Jika anda saat ini sedang tidak dalam keadaan terdesak atau sulit tapi ada rasa kosong dalam hati anda yang membuat anda merasa kering tanpa damai sejahtera dan gelombang kebahagiaan terasa berhenti mengalir, itu tandanya anda harus mulai berpikir untuk memeriksa apakah masih ada ketetapan Tuhan yang belum ditaati atau hubungan kita dengan Tuhan masih harus diperbaiki. Di dalam Alkitab dikatakan: “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” (Yakobus 4:8). Tuhan menantikan anda dan rindu untuk mengalirkan damai sejahtera dan kebahagiaan yang tidak pernah kering dan berhenti. Sejak dua hari sebelumnya saya secara khusus berdoa untuk anda yang masih belum merasakan janji Tuhan yang dahsyat ini dan masih merasakan kekosongan dalam hati yang belum juga bisa dipenuhi. Tuhan siap menjawab itu semua, datanglah kepadaNya, perbaiki bagian-bagian yang masih belum beres dan terimalah rasa damai sejahtera dan bahagia dalam tingkatan yang tidak lagi bisa digoyahkan oleh kondisi sesulit apapun. Tuhan memberkati.

Kebahagiaan dan damai sejahtera yang melimpah tanpa henti menjadi milik orang-orang yang taat pada perintahNya

Diperbarui dalam Roh

Oleh Bert Gehezzi

 

Delapan tahun yang lalu, larut malam, saya sedang membaca khotbah yang ditulis C.S.Lewis dan saya membaca bagian ini: ” Tidak ada orang yang biasa. Anda tidak pernah berbicara semata-mata dengan mahluk hidup. Bangsa-bangsa, kebudayaan, seni, peradaban-semuanya itu fana dan hanya seumur jagung saja. Tetapi dengan yang abadilah kita berkelakar, bekerja, menikah,manfaatkan, inilah kengerian abadi atau kemuliaan kekal.” Saya sudah percaya pada hidup kekal dan bahkan menggebu-gebu. Tetapi ketika saya membaca kata-kata ini, tiba-tiba saya menjadi mengerti.

Karena saya begitu terpesona oleh ilham itu,saya berjalan-jalan di seluruh rumah dan melihat setiap anggota keluarga saya sementara mereka tidur. Kengerian kekal atau kemuliaan kekal, mereka semua akhirnya akan berada: di surga atau di neraka. Lewis berkata bahwa seandainya kita dapat melihat seseorang dalam bentuk surgawinya, mungkin kita ingin menyembahnya.

Hati adalah Wadah Hidup

Author: Susan Kusumawaty

Pada suatu hari, saya mengisi botol kosong dengan air. Sewaktu saya mengisinya, saya cukup heran karena air yang saya tuang ke dalam botol tersebut adalah air yang bersih, dan jernih, tetapi sewaktu air itu masuk ke dalam botol tersebut, air itu menjadi agak keruh. Saat saya sedang bertanya-tanya dalam hati, ada sebuah suara yang mengatakan : Air adalah gambaran Firman Allah sedangkan botol adalah gambaran wadah/tempat/hati kita , seperti air itulah gambaran sebuah hati manusia, dimana bila hati kita dibersihkan terus menerus oleh Firman Allah maka yang muncul adalah hati yang bersih, tetapi bila hati kita diisi oleh semua yang tidak berasal dari Firman Allah maka yang muncul adalah hati yang kotor dan itu semua dapat tercermin dalam segala keberadaan kita. Firman Allah mengatakan bahwa Allah adalah yang menyelidiki batin manusia.
<strong>
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.</strong><em>

Kurang lebih tahun 1992 s/d 2000 an saya menjadi sekretaris persekutuan keluarga dimana salah satu tugas saya adalah mengantarkan undangan/jadwal persekutuan tersebut dari satu rumah ke rumah lainnya. Saya melakukan hal tersebut biasanya setelah saya bekerja, dan diantar oleh mama saya. Peristiwa demi peristiwa saya lalui salah satunya adalah dimana saya mendengar dengan jelas dimana tuan rumah yang hendak saya antar undangan tersebut mengatakan kepada anaknya “paling juga dia datang hanya untuk mengantarkan persekutuan, sudah tidak perlu dibukakan pintunya”, sedih sekali mendengarkan perkataan tersebut, tapi saya mengucap syukur kepada Tuhan bahwa saya memiliki seorang mama yang selalu memotivasi saya untuk terus melayani Tuhan tanpa memandang manusia. Saya tidak membayangkan sama sekali bahwa ternyata Tuhan sedang melatih saya untuk menjadi seorang yang tegar hatinya dan ternyata Tuhan juga sudah mempersiapkan suatu pelayanan yang lebih besar lagi kapasitasnya untuk saya.
<strong>Roma 8:28 </strong>
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”

Saya sering sekali mengalami sakit kepala, hingga suatu hari di suatu ibadah, Tuhan mengatakan sesuatu kepada saya “kamu tahu mengapa sering sakit kepala?” karena kamu sering marah, coba ingat-ingat kapan terakhir kali kamu marah apakah waktu nya bersamaan juga dengan sakit kepala?” saat itu saya berjanji dalam hati untuk tidak mudah marah, karena marah sering mengakibatkan hal yang lebih buruk lagi dengan cara intim dengan Tuhan.