Bless the Lord oh My soul

Bless the Lord oh My soul

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan

Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan

Sukacita adalah ciri Utama orang Kristen. bersukacita sebagai ungkapan hati atas kasih karunia Tuhan More »

Spread the word

Spread the word

Sebarkan Berita Keselamatan More »

Janagn risau menghadapi tantangan hidup

Janagn risau menghadapi tantangan hidup

Selalu ada berkat dibalik masalah yang kita hadapi. More »

Bingung memilih Asuransi Jiwa?

Bingung memilih Asuransi Jiwa?

PT Generali Indonesia adalah perusahaan internasional yang berpengalaman sejak tahun 1831. More »

 

Category Archives: Umum

Hozier lirik mencemooh gereja

Hozier, seorang musisi asal Irlandia berusia 25 tahun yang main di genre indie rock-blues-soul, dengan suara yang “berat”, sering melontarkan komentar dalam lagu-lagunya yang menentang iman dan peradaban,lihat saja lirik lagunya yang berjudul “Take me to the church” :

My lover’s got humour
She’s the giggle at a funeral
Knows everybody’s disapproval
I should’ve worshipped her sooner
If the heavens ever did speak
She’s the last true mouthpiece
Every Sunday’s getting more bleak
A freshan buday poison each week
“We were born sick”
You heard them say it
My church offers no absolutes
She tells me “worship in the bedroom”
The only heaven I’ll be sent to
Is when I’m alone with you
I was born sick, but I love it
Command me to be well
Amen, Amen, Amen
Take me to church
I’ll worship like a dog at the shrine of your lies
I’ll tell you my sins and you can sharpen your knife
Offer me that deathless death
Good God, let me give you my life
[x2]
If I’m a pagan of the good times
My lover’s the sunlight
To keep the goddess on my side
She demands…

artinya:
Kekasihku punya humor
Dia terkikik saat menghadiri pemakaman
Mengetahui ketidaksetujuan orang lain
Seharusnya aku lebih dulu memujanya
Jika langit pernah berbicara
Dia adalah corong sebenarnya yang terakhir
Setiap hari Minggu semakin suram
Racun segar setiap minggu
“Kami terlahir sakit”
Anda mendengar mereka mengatakannya
Gereja saya tidak menawarkan yang absolut
Dia mengatakan kepada saya “penyembahan di kamar tidur”
Satu-satunya surga yang akan saya kirim
Apakah saat aku sendirian bersamamu?
Saya lahir sakit, tapi saya menyukainya
Perintahkan aku untuk menjadi sehat
Amin, Amin, Amin
Bawa saya ke gereja
Aku akan menyembah seperti anjing di tempat suci kebohonganmu
Aku akan memberitahumu dosa-dosaku dan kamu bisa mempertajam pisaumu
Tawarkan padaku kematian tanpa kematian itu
Ya Tuhan, biarkan aku memberimu hidupku
[x2]
Jika saya seorang kafir pada saat-saat indah
Kekasihku adalah sinar matahari
Untuk menjaga dewi di sisi saya
Dia menuntut …

Kuasa mujizat dalam masa gereja awal

Gregorius Thaumaturgus (213-270 m) mempunyai kuasa yang dahsyat atas roh-roh jahatndan karunia penginjilan yang sedemikian kuatnya sehingga injil disebarluaskan.

Gregorius Agung (540-604 M) banyak menulis tentang mujizat-mujizat yang terjadi dalam zamannya pada buku Dialoques dan <em>Homilies On The Gospels</em>. Diantara kesaksian tersebut, terdapat Benedictus dari Nursia, yang melayani pelepasan roh jahat dan kesembuhan ilahi.

Justinus Martir adalah bapa gereja abad kedua. Dia menulis:” Karena setiap roh jahat diusir,ditaklukkan, dan ditundukkan dalam nama Anak Bapa.” Selanjutnya “Bagaimanapun juga, banyak dari orang-orang kita ini yang sudah menyembuhkan banyak orang yang kerasukan, orang-orang yang tidak menerima penyembuhan dari orang lain yang mengusir setan, tukang sihir atau dukun ”

Irenaeus menulis “Karena itu, orang-orang yang berada dalam kebenaran, murid-muridNya yang menerima anugerah dari Dia, mengadakan mujizat-mujizat dalam nama-Nya untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain “

Yesus Kristus adalah bagian dari sejarah umat manusia

Dalam sebuah debat yang disponsori oleh dewan mahasiswa sebuah universitas midwestern, lawan debat saya seorang calon anggota kongres dari Partai Buruh Progresif (Marxist) di New York, mengatakan dalarn kata pembukanya: “Para sejarawan dewasa ini dapat dikatakan telah menghapuskan Yesus Kristus dari sejarah … ” Saya nyaris tidak mempercayai telinga saya (tapi saya bersyukur sesudahnya, karena 2.500 orang mahasiswa yang mendengarnya segera menyadari bahwa dia tidak membuat persiapan apa pun tentang sejarah). Kebetulan saya membawa catatan dan dokumentasi ini sebagai bahan sanggahan saya.Pasti bukan sejarawan (mungkin ada beberapa ekonom) yang mempropagandakan teori bahwa Yesus Kristus adalah sebuah mitos.

Sebagaimana yang dinyatakan dengan tepat sekali oleh F. F. Bruce, profesor Rylands dalam penelitian kritis dan penjelasan Alkitab dari Universitas Manchester:

“Beberapa pengarang boleh saja bermain-main dengan suatu ‘mitos Kristus,’ tetapi mereka tidak melakukannya berdasarkan bukti-bukti sejarah. Bagi sejarawan yang tidak memihak, latar belakang sejarah Kristus adalah sarna pastinya dengan latar belakang sejarah Julius Caesar. Jadi yang mempropagandakan teori ‘mitos Kristus’ pasti bukan scjarawan.” 2/119

Otto Betz menyimpulkan bahwa “tidak ada ilmuwan serius yang berani mencoba-coba mengajukan teori tentang ketidaksejarahan Yesus.” 1/9

I. Sumber-sumber Kristen untuk Mendukung Kesejarahan Yesus

a. DUA PULUH TUJUH DOKUMEN PERJANJIAN BARU YANG BERBEDA

John Montgomery bertanya:
“Jadi, kalau begitu, apa yang diketahui seorang sejarawan tentang Yesus? Yang paling utama dia tahu bahwa dokumen-dokumen Perjanjian Barn dapat dipercaya untuk memberikan garnbaran yang akurat tentang Dia. Dan dia tahu bahwa garnbaran ini tidak dapat diubah-ubah menurut pikiran yang muluk-muluk, praduga filosofis, atau rekayasa kesusasteraannya.” 6/40

b. BAPA-BAPA GEREJA

Polikarpus, Eusebius, Irenaeus, Ignatius, Justin, Origenes, dan lain-lain.

II. Sumber-Sumber di Luar Alkitab untuk Mendukung Kesejarahan Yesus Kristus

a. CORNELIUS TACITUS (Iahir 52-54 sM)

Seorang sejarawan Roma, pada tahun 112 M, Gubemur Asia, menantu pria Julius Agricola yang menjadi Gubemur Britania pada tahun 80-84 M. Ketika menulis tentang pemerintahan Nero, Tacitus menyinggung tentang kematian Kristus dan keberadaan orang-orang Kristen di Roma:

”Tetapi tidak ada pertolongan yang datang dari seorang manusia, tidak pula anugerah yang dikaruniakan putra mahkota, atau korban silih yang dipersembahkan kepada dewa-dewa, yang dapat menyelamatkan Nero dari keaiban oleh karena dituduh telah sengaja menimbulkan kebakaran besar di Roma. Jadi, untuk menghentikan desas-desus itu, dia mengalihkan tuduhan dengan memfitnah dan menghukum dengan siksaan paling keji terhadap orang-orang yang disebut Kristen, yang dibenci oleh karena kejahatannya. Kristus, yang menjadi pendiri kepercayaan itu, telah dihukum mati oleh Pontius Pilatus, wali negeri Yudea di bawah pemerintahan Tiberius: tapi kepercayaan tahayul yang merusak itu, setelah mereda untuk sementara, bangkit kembali, bukan hanya di Yudea, di mana kejahilan itu berasal, tapi juga di seluruh Kota Roma.” Annals XV. 44

Tacitus menyinggung lebih jauh tentang kekristenan dalam fragmen-fragmen tulisannya Histories, ketika mengupas tentang pembakaran Bait Allah Yerusalem pada tahun 70 M, yang diabadikan oleh Sulpicius Severns (Chron. ii. 30.6).

b. LUCIANUS DARI SAMOSATA

Seorang satiris dari abad ke-2, yang berbicara dengan sinis tentang Kristus dan kekristenan. Dia mengaitkan Yesus dengan sinagoge-sinagoge di Palestina dan menyebut Kristus sebagai “. . . orang yang disalibkan di Palestina karena memperkenalkan aliran kepercayaan baru ini kepada dunia . . . Selanjutnya, pemimpin mereka yang pertarna-tama meyakinkan bahwa mereka semua adalah saling bersaudara setelah mereka menyeberang sekali dan untuk selama-lamanya dengan menyangkal dewa-dewa Yunani dan menyembah pecundang yang disalibkan itu sendiri serta menaati hukum-hukumnya” The Passing Peregrinus.

Lucianus juga beberapa kali menyinggung tentang orang-orang Kristen dalarn bukunya Alexander the False Prophet, unit 25 dan 29

c. FLAVIUS JOSEPHUS (lahir 37 M)

Seorang sejarawan Yahudi yang menjadi seorang Farisi pada usia 19 tahun; pada tahun 66 M dia menjadi komandan pasukan Yahudi di Galilea. Setelah tertangkap dia ditempatkan di markas besar Romawi. Berikut adalah kata-katanya yang banyak dikutip dan diperdebatkan:

“Pada masa inilah Yesus, seorang manusia bijaksana, kalau boleh disebut manusia, karena dia adalah pelaku berbagai perbuatan yang luar biasa, pengajar orang-orang yang menerima kebenaran dengan sukacita. Dia telah menarik banyak orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi. Dia adalah Kristus, dan ketika Pilatus, atas desakan orang-orang penting di antara kita, telah menghukurnnya di kayu salib, mereka yang mengasihinya sejak semula tidak melupakan Dia; karena Dia telah menampakkan diri lagi kepada mereka dalam keadaan hidup pada hari yang ketiga; sebagaimana yang telah diramalkan oleh para nabi Allah sarna seperti puluhan ribu hal lainnya ten tang Dia. Dan kaum Kristen, yang dinarnai demikian menurut namanya, belum juga punah sampai hari ini.” Antiquities. xviii.33. (Awal abad kedua) .

Teks Arab dari perikop di atas adalah sebagai berikut:

”Pada masa ini hiduplah seorang pria bijaksana bemama Yesus. Prilakunya baik, dan (Dia) dikenal hidup suci. Banyak orang, baik Yahudi maupun bengsa-bangsa lain yang menjadi murid-Nya.

Pilatus menghukum-Nya untuk disalibkan sampai mati. Dan mereka yang telah menjadi murid-Nya tetap setia kepada-Nya. Kata mereka Dia telah menampakkan diri kepada mereka tiga hari setelah di¬salibkan dan bahwa Dia hidup; jadi, mungkin Dia adalah Mesias yang tentang-Nya para nabi telah memberitakan berbagai keajaiban.”

Perikop di atas ditemukan dalam naskah Arab yang berjudul:
“Kitab AI-Unwan AI-Mukallal Bi-Fadail Al-Hikma Al-Mutawwaj Bi-Anwa Al-Falsafa AI-Manduh Bi-Haqaq AI-Marifa.” Terjemahannya kira-kira adalah: Kitab Sejarah yang Dituntun oleh Segala Unsur Kebijaksanaan. Disempumakan oleh Filosofi dan Diperkaya oleh Kebenaran dan Pengetahuan.”

Naskah di atas yang digubah oleh Uskup Apapius pada abad ke-l0 berisi sebuah unit yang dibuka dengan kata-kata: “Kami temukan dalam banyak buku karangan para ahli filsafat bahwa mereka menyinggung tentang hari ketika Kristus disalibkan.” Lalu dia memberikan beberapa kutipan dari beberapa pengarang kuno. Ada yang sudah dikenal oleh para cendekiawan modem ada yang belum. 8/hlmn

Kita juga menemukan rujukan kepada Yakobus saudara Yesus dalam tulisan Josephus. Dalam Antiquities XX 9:1 dia menggarn¬barkan perbuatan imam agung Ananus:

“Tetapi Ananus yang lebih muda, seperti yang kami katakan, diangkat menjadi imarn agung, mempunyai watak yang berani, dan agak nekad; dia menganut aliran Saduki, yang paling keras dalam menjalankan hukum di antara orang Yahudi, sebagaimana yang telah kami tunjukkan. Jadi, karena Ananus telah memegang kekuasaan itu, dia berpikir bahwa sekaranglah saat yang paling tepat, setelah Festus wafat, dan selagi Albinus masih dalam perjalanan; maka dia membentuk dewan hakim, dan membawa ke hadapan mereka saudara Yesus yang disebut Kristus, yang namanya adalah Yakobus, serta beberapa orang lainnya, dan menuduh mereka sebagai pelanggar hukum, dan menyuruh agar mereka semua dilontari batu.” 2/107

d. SUETONIUS (120 M)

Juga seorang sejarawan Roma, pejabat istana di bawah Hadrianus, penulis sejarah Imperial House. Dia mengatakan:
“Karena orang-orang Y ahudi terus menimbulkan kerusuhan atas hasutan Chrestus (ejaan lain dari Kristus), mereka diusir dari Roma.” Life of Claudius, 25.4

Dia juga menulis: “Nero menjatuhkan hukuman ke atas orang¬orang Kristen, yaitu sekelompok orang yang menganut suatu tahayul bam yang jahat.” Lives of the Caesars, 26.2

e. PLINIUS SECUNDUS, PLINIUS YANG MUDA

Sebagai Gubemur Bitinia di Asia Keeil (112 M), Plinius menu lis kepada Kaisar Trayanus meminta pendapat tentang bagaimana harus memperlakukan orang-orang Kristen.
Plinius menjelaskan bagaimana dia telah membunuh baik lelaki maupun wanita, anak lelaki atau anak perempuan. Sudah begitu banyak yang dibunuhnya sehingga dia ragu apakah dia hams terus rnernbunuh mereka yang kedapatan sebagai orang Kristen, atau hanya membunuh orang-orang tertentu saja. Plinius menjelaskan bagaimana dia telah memaksa orang-orang Kristen untuk menyembah patung-patung Trayanus. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa dia juga telah “memaksa mereka menyumpahi Kristus, yang tak mungkin dilakukan seorang Kristen sejati.” Dalam surat yang sarna dia mengatakan tentang orang-orang yang diadili:

“Namun terbukti bahwa semua kesalahan mereka, kekeliruan mereka adalah bahwa mereka mempunyai kebiasaan untuk berkumpulpada hari-hari tertentu sebelum hari terang. Mereka akan menyanyikan lagu-Iagu pujian kepada Kristus seperti kepada dewa, dan mengikat sumpah dengan sungguh-sungguh bukan untuk melakukan suatu kejahatan, tetapi untuk tidak menipu, mencuri, berzina, bersumpah palsu, tidak berkhianat bila mereka harns mempertanggungjawabkannya.” Epistles X.9

f. TERTULIANUS

Ahli teologi dan hukum dari Karthage. Dalam pembelaannya terhadap kekristenan (197 M) di depan penguasa Roma di Afrika, dia menyinggung tentang perbedaan pendapat di antara Tiberius dan Pontius Pilatus:

“Pada masa ketika nama Kristen mulai muneul di dunia, Tiberius yang telah menerima kebenaran tentang keilahian Kristus, membawa perkara ini ke hadapan senat, disertai keputusannya sendiri untuk membela Kristus. Karena ia sendiri tidak menyetujuinya, senat menolak usulan Tiberius. Kaisar tetap berpegang pada pendapatnya, dan mengancam mereka yang mendakwa orang-orang Kristen (Apology, V.2). Beberapa sejarawan meragukan nilai sejarah dari perikop ini. Juga, Cr. Justinus Martyr, Apology, 1.35.

g. THALLUS, SEJARAWAN KETURUNAN SAMARIA

Salah seorang penulis bukan Yahudi yang pertama-tama menyinggung tentang Kristus adalah Thallus yang menulis pada tahun 52 M. Namun tulisan aslinya sudah musnah dan kita menge¬tuhui tulisannya hanya mclnlui beborapa kutipan oleh pengarang-pengarang lain. Salah seorang di antaranya adalah Julius Africanus, seorang pengarang Kristen yang hidup sekitar tahun 221 M. Dalam sebuah paragraf yang sangat menarik dia menyinggung tentang komentar Thallus. Julius Africanus menulis:

“Thallus, dalam buku sejarahnya yang ketiga, menggambarkan kegelapan ini seperti suatu gerhana matahari – sesuatu yang kurasa tidak masuk akal’ (tentu saja tidak masuk akal, karena gerhana matahari tidak dapat terjadi pada saat bulan purnama, dan pada masa Paskah ketika bulan sedang purnama Kristus wafat).”

Jadi, dari sumber ini kita dapat melihat bahwa berita Injil tentang kegelapan yang meliputi daerah itu pada saat Yesus disalibkan juga diketahui banyak orang dan menuntut penjelasan alamiah dari orang-orang tidak percaya yang turut menyaksikannya. 2/113

h. PHLEGON, SEORANG SEJARAWAN DARI ABAD PERTAMA

Kitab Tawarikhnya sudah hilang, tapi sebuah kutipan kecil dari karyanya, yang menegaskan tentang kegelapan yang meliputi bumi pada saat penyaliban, juga disinggung oleh Julius Africanus. Setelah komentarnya (Africanus) tentang tidak masuk akalnya pendapat Thallus tentang kegelapan itu, dia mengutip Phlegon yang menga¬takan bahwa “pada masa Kaisar Tiberius sebuah gerhana matahari terjadi pada masa bulan purnama.” 7/IIB, bagian 256 fl6, hlm, 1165

Phlegon juga disebut-sebut oleh Origenes dalam Contra Celsum, Buku ke 2, bagian 14, 33, 59.

Philopon (De. opif. mund. II 21) mengatakan: “Dan mengenai kegelapan ini … Phlegon mengenangnya dalam Olympiads (judul buku sejarahnya).” Dia berkata bahwa “Phlegon berbicara tentang gerhana matahari yang terjadi pada waktu penyaliban Tuhan Kristus, dan bukan yang lain (gerhana), jelas sekali bahwa dia tidak mengetahui dari sumbernya sendiri tentang gerhana lain (yang serupa) pada masa-masa sebelumnya . . . dan hal ini ditunjukkan dalam catatan sejarah itu sendiri tentang Kaisar Tiberius.” 41IIB, bagian 257 fl6, c, hlm, 1165.

i. SURAT MARA BAR-SERAPION

F. F. Bruce mencatat bahwa:
” . . . di British Museum ada sebuah naskah menarik yang memuat sebuah surat yang ditulis setelah tahun 73 M, tetapi kapan tepatnya tidak diketahui. Surat ini dikirim oleh seorang Siria ber¬nama Mara Bar-Serapion kepada putranya Serapion, Pada saat itu Mara Bar-Serapion sedang berada dalam penjara, tetapi dia menulis untuk meneguhkan putranya agar terus mencarl kcbijaksanaan, dan menunjukkan bahwa mereka yang menganiaya orang bijaksana akan ditimpa kemalangan. Dia memberi contoh kematian Socrates, Phytagoras, dan Kristus:

[color=darkblue]”’Keuntungan apa yang diperoleh orang-orang Athena dengan membunuh Socrates? Bencana kelaparan dan wabah penyakit menimpa mereka sebagai hukuman atas kejahatan mereka. Keuntungan apa yang diperoleh orang-orang di Samos dengan membakar Phytagoras? Dalam sekejap tanah mereka diliputi oleh pasir. Keuntungan apa yang diperoleh orang-orang Yahudi dengan membunuh Raja mereka yang bijaksana? Tidak lama setelah itu kerajaan mereka dihancurkan. Allah telah membalas kematian ketiga orang bijaksana ini dengan adil: orang-orang Athena mati kelaparan; orang-orang Samos ditelan samudra; orang-orang Yahudi, kalah perang dan terusir dari tanah airnya, terpencar ke seluruh dunia. Tetapi Socrates tidak binasa; dia hidup dalam ajaran Plato. Phytagoras tidak binasa; dia hidup dalam patung Hera. Begitu pula sang Raja bijaksana tidak binasa; Dia hidup dalam ajaran yang diberikan-Nya.'” 2/114

j. JUSTINUS MARTYR

Sekitar tahun ISO ‘M, Justinus Martyr, dalam Defence of Christianity yang ditujukan kepada Kaisar Antonius Pius, mengingatkan Kaisar pada 1aporan Pilatus, yang menu rut Justinus pasti tersimpan dalam arsip kerajaan. Tetapi kata-kata, “Mereka menikam tangan dan kakiku,” katanya, “menjelaskan tentang paku-paku yang tertancap di tangan dan kaki-Nya ke kayu salib; dan setelah Dia disalibkan, mereka yang menyalibkan-Nya membuang undi atas pakaiannya, dan membagi-baginya di antara mereka; dan bahwa hal ini adalah benar, Anda dapat melihatnya dalam “Kisah” yang dicatat dalam pemerintahan Pontius Pilatus.” Selanjutnya dia berkata:

“Bahwa Dia telah melakukan mukjizat-mukjizat, Anda dapat memeriksanya dalam ‘Kisah’ Pontius Pilatus.” Apology, 1.48

Elgin Moyer, dalam Who Was Who in Church History, melukiskan Justinus sebagai ” … ahli filsafat, martir,’ apologis (orang yang membuat pembelaan bagi suatu keyakinan dan lain-lain), yang dilahirkan di Flavia Neapolis. Berpendidikan tin&gi, dan tampaknya mempunyai cukup sarana untuk mendukung penelitian dan perjalanannya. Sebagai seorang yang haus pada kebenaran, dia telah menimba banyak pengetahuan tentang Stoicisme, Aristotelisme, Phytagoreanisme, dan Platonisme, tetapi membenci Epicureanisme. Pada masa-masa itu dia mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan orang-orang Yahudi, tapi tidak tertarik pacta agama mereka. Rupanya dia paling condong pada Platonisme dan mengira bahwa dia sudah hampir mencapai tujuan filosofinya melihat Allah ketika suatu hari selagi berjalan-jalan seorang diri di tepi pantai, ahli filsafat muda itu bertemu dengan seorang Kristen tua yang tampak agung, berwajah menyenangkan dan lembut berwibawa. Orang Kristen yang rendah hati ini menggoyahkan kepercayaannya pada kebijaksanaan manusia, dan menunjukkan nabi-nabi Yahudi ‘orang-orang yang hidup jauh sebelum semua ahli filsafat yang mulia, yang telah meramalkan kedatangan Kristus dalam semua tulisan dan ajarannya . . . ‘ Mengikuti nasihat orang tua ini, penganut Platonisme yang bersemangat ini menjadi seorang Kristen yang percaya. Katanya, ‘Aku mendapatkan bahwa inilah satu-satunya filosofi yang aman dan menguntungkan.’ Setelah pertobatannya, yang terjadi pada usia mudanya, dia membaktikan seluruh hidupnya pada pembelaan dan penyebaran agama Kristen.” 7/227

k. TALMUD YAHUDI

Tol’doth Yeshu. Yesus disebut sebagai “Ben Pandera.”

Talmud Babilonia. (Memberi pendapat orang:orang Amori) menulis ” … dan menggantung dia pada hari menjelang Paskah.”

Talmud memberikan sebutan kepada Yesus: “Ben Pandera (atau ‘Ben Pantere’)” dan “Yeshu ben Pandera.” Banyak cendekiawan mengatakan “pandera” adalah suatu permainan kata, suatu plesetan dari kata Yunani untuk perawan “parthenos,” untuk menyebut-Nya “putra seorang perawan.” Joseph Klausner, seorang .Yahudi, mengatakan “kelahiran Yesus yang di luar nikah adalah suatu masalah hangat di kalangan orang-orang Yahudi . ”

Komentar yang terdapat dalam Baraila mempunyai nilai historis yang tinggi:

”Pada hari sebelum Paskah mereka menggantung Yeshu (dari Nazaret) dan selama 40 hari sebelumnya telah beredar pengumuman yang mengatakan bahwa (Yeshu dari Nazaret) akan dilontari batu dan’ bahwa dia telah melakukan sihir dan telah menipu dan menyesatkan orang-orang Israel. Hendaknya setiap orang yang mempunyai pembelaan terhadap dia datang dan memohonkan peng¬ampunan baginya. Tetapi karena tidak ada yang datang untuk membela dia mereka menyalibkannya pada hari menjelang Paskah” (Sanhedrin; Babilonia 43a). – “Hari menjelang Paskah.”

Amoa ‘Ulla’ (“Ulla” adalah seorang murid R. Youchanan dan diam di Palestina pada akhir abad ketiga.) menambahkan:

“Dan apakah menurut Anda baginya (Yeshu dati Nazaret) ada hak untuk memohon pengampunan? Dia adalah seorang penipu, dan Yang Maha Pemurah telah mengatakan: ‘Janganlah engkau mengampuni atau melindunginya.’ Tapi entah dengan Yeshu, karcna dia dekat dengan pemerintah sipil.”

Penguasa Yahudi tidak menyangkal bahwa Yesus telah melakukan tanda-tanda dan mukjizat (Matius 9:34; 12:24; Markus 3:22) tapi mereka menghubungkannya dengan perbuatan sihir, 5/23

“Talmud,” tulis cendekiawan Yahudi Joseph Klausner,
“memakai istilah menggantung bukan menyalibkan, karena hukuman mati ala Roma yang mengerikan ini hanya dikenal oleh cendekiawan Yahudi dari pengadilan-pengadilan Roma, dan tidak terdapat dalam sistem hukum Yahudi. Bahkan Rasul Paulus (Galatia 3:13) menerapkan nas “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib” (UIangan 21:23) pada Yesus.” 5/28

Sanhedrin 43a juga menyehut-nyebut tentang rasul-rasul Yesus.
Yeb. IV 3; 49a: “R. Shimeon ben Azzai berkata (tentang Yesus): ‘AIm menemukan sebuah gulungan silsilah di Yerusalem di dalamnya tercatat, dia itu tiada lain seorang anak haram anak pezina. ‘”

Klausner menambahkan: “Edisi barn dari Misynah menambahkan: ‘untuk mendukung kata-kata R. Yehoshua’ (yang, dalam Misynah yang sama, mengatakan: Apakah anak haram itu? Mereka . yang orang tuanya layak dijatuhi hukuman mati oleh Beth Din). Bahwa yang dimaksud di sini adalah Yesus rasanya tidak perIu diragukan lagi . . . ” 5/35

Sebuah Baraita kuno, di mana R. Eliezer menjadi tokoh utamanya, menyebut-nyebut nama Yesus. Tanda kurung di sini memang asli ada dalam kutipannya. Eliezer berkata: “Dia menjawab, Akibat engkau telah mengingatkan aku! Suatu ketika aku pemah berjalan-jalan di pasar atas (dalam Tosefta ‘jalan’) di Sepphoris dan berternu dengan seorang [Yesus dari Nazaret) dan Yacob dari Kefar Sekanya (dalam Tosefta ‘Sakkanin’) adalah namanya Dia berkata kepadaku, dalam Hukummu ada tertulis, ‘Janganlah engkau membawa upah persundalan, dan lain-lain.’ Jadi, apa yang harus dilakukan dengannya – kakus untuk Imam Agung? Tetapi aku tidak menjawab sepatah kata pun. Dia berkata kepadaku, begitulah [Yesus dari Nazaret] mengajarku [dalam Tosefta ‘Jeshu bin Pantere’]; ‘Dari upah persundalan dia mendapatkannya, dan akan kembali kepada upah persundalan’; karena dari tempat yang kotor mereka berasal, maka ke tempat kotorlah mereka akan kembali. Dan peribahasa itu menyenangkan hatiku, dan oleh karenanya aku ditangkap untuk Minuth. Dan aku telah melanggar apa yang tertulis dalam Hukum; ‘Jauhkanlah dirimu dati temp at ini’ – itulah Minuth; dan ‘Janganlah engkau mendekati’ ambang pintu rumahnya’ – Itulah peraturan pemerintah.” 5/38

Tanda-tanda kurung di atas diketemukan dalam Dikduke So! rim to Abada Zara (Naskah Munich, ed. Rabinovitz).

Klausner dalam mengomentari paragrap di atas, mengatakan:

“Tidak dapat diragukan bahwa kata-kata, ‘seorang murid Yesus dari Nazaret,’ dan ‘begitulah Yesus dari Nazaret mengajarku,’ dalam paragrap yang sekarang adalah sama tuanya dengan bagian yang lain dan mempunyai bagian yang mendasar dalam konteks ceritanya; dan sifat kekunoann ya tidak dapat disangkal berdasarkan perbedaan kecil dengan paragrap yang sama dari naskah yang lain; perbedaan itu (‘Yeshu ben’ Pantere’ atau ‘Yeshu ben Pandera,’ sebagai ganti dari ‘Yeshu of Nazaret’) hanya disebabkan oleh kenyataan bahwa, sejak semula, nama ‘Pantere,’ atau ‘Pandera,’ telah dikenal luas di kalangan orang Yahudi sebagai ayah Yesus.” 5/38

l. ENCYCLOPAEDIA BRITANNICA

Edisi terbaru Encyclopaedia of Britannica memakai lebih dari 20.000 kata untuk menjelaskan tentang orang ini, Yesus. Penjelasan tentang Yesus jauh lebih panjang daripada tentang Aristoteles, Cicero, Alexander, Julius Caesar, Buddha, Confucius, Mohamad atau Napoleon Bonaparte.

Tentang banyaknya kesaksian bebas dunia sekular tentang Yesus dari Nazaret, ia mencatat:

“Kesaksian-kesaksian bebas ini menunjukkan bahwa dalam zaman kuno bahkan musuh-musuh agama Kristen pun tidak pemah meragukan kesejarahan Yesus, yang baru mulai diragukan oleh beberapa penulis tanpa dasar yang kuat pada akhir abad ke-l S, selama abad ke-19 dan awal abad ke-20.” 3/145

BIBLIOGRAFI :

1. Betz, Otto. What Do We Know About Jesus? , SCM Press, 1968.

2. Bruce, F. F. The New Testament Documents: Are They Reliable? Edisi yang direvisi yang kelima. Downers Grove: Inter-Varsity Press, 1972. Digunakan dengan izin.

3. Encyclopaedia Britannica. Edisi ke-15, 1974.

4. Jacoby, Felix. Die Fragmente der Griechischen Historiker. Berlin: Wiedmann, 1923.

5. Klausner, Joseph. Jesus of Nazareth. New York: The Macmillan Company, 1925.

6. Montgomery, John Warwick. History and Christianity. Downers Grove: Inter-Varsity Press, 1964. Digunakan dengan izin.

7. Moyer, Elgin. Who Was Who in Church History. Chicago: Moody Press. 1968. ‘

8. Pines, Shlomo, Profesor Filsafat Universitas Ibrani, Ycrusalcm; David

Flusser, profesor Universitas Ibrani, dalam press release New York Times, 12 Februari 1972, dimuat oleh Palm Beach Post-Times, Minggu, 13 Februari 1972, “CHRIST DOCUMENTATION: Para Cendekiawan Israel Menemukan Dokumen-Dokumen Kuno yang  Menegaskan Keberadaan Yesus.”

Disalin dari :
Josh Mc Dowell, APOLOGETIKA : Bukti yang Meneguhkan Kebenaran Alkitab, Vo. 1, p 137-147,

http://chtistianwarrior.blogspot.co.id/2016_01_01_archive.html

Pax Romana

Pax Romana adalah sebuah masa ketika Kekaisaran Romawi mencapai keadaan yang lebih damai dan perekonomian lebih stabil dibanding dengan periode sebelumnya. Para sejarawan menyatakan pada masa inilah Romawi menggapai masa keemasannya dengan segala pencapaiannya. Para kaisar Romawi berhasil memperluas wilayah kekuasaan Romawi, mendirikan bangunan-bangunan dengan arsitektur yang megah, dan meningkatkan kesejahteraan serta kemakmuran rakyat.
pax-romana-map

Sejak abad pertama SM, Republik Romawi masuk ke dalam era Perang Saudara antara para jenderal untuk memperebutkan kekuasaan di Roma. Octavianus adalah jawara tunggal terakhir yang mengalahkan para saingannya, termasuk Sextus Pompeius dan Marcus Antonius. Ia mengangkat dirinya sendiri sebagai kaisar pertama pada tahun 27 SM dengan gelar Caesar Augustus. Ini menjadi titik awal masa Kekaisaran Romawi sekaligus masa yang dikenal sebagai Pax Romana.

Dan di masa Pax Romana inilah, masih dalam wilayah imperium Romawi, lahirlah Yesus Kristus.Penguasa Tunggal alam semesta yang juga adalah Raja Damai. Dalam Alkitab dikatakan masa kelahiran Yesus adalah pada masa kekuasaan Kaisar Agustus.

Pada masa awal kekaisaran, Caesar Augustus memproklamirkan dirinya dan ayah angkatnya, Julius Caesar, sebagai dewa yang pantas disembah oleh rakyat Romawi. Keputusan tersebut mengawali sebuah tradisi yang menjadikan para kaisar selanjutnya sebagai dewa. Ironis sekali, justru ketika Caesar Augustus merasa dirinya sebagai dewa dan penguasa seluruh dunia, lahir seorang bayi di sebuah kota kecil di salah satu ujung wilayah kekuasaan Romawi. Kota kecil itu adalah Bethlehem di Provinsi Judea. Di tempat yang sangat sederhana, yang tidak selayaknya untuk kelahiran seorang Raja atas segala raja, Yesus lahir. Sampai matinya, kemungkinan besar Caesar Augustus yang menganggap dirinya sebagai dewa dan penguasa dunia tidak pernah menyadari bahwa pada zamannyalah lahir Yesus yang adalah Raja atas seluruh umat manusia. Bahkan para penguasa di Provinsi Judea pun tidak mengenal siapa Yesus.

Bagaimana dengan kita yang sudah seringkali mendengar tentang Yesus? Yesus tidak hanya menawarkan keadaan yang “relatif lebih damai”, tetapi sebuah perdamaian abadi, yaitu memperdamaikan kita dengan Bapa. Dia mati dan bangkit untuk menebus dosa kita semua, dan membawa kita kepada Bapa, suatu kondisi yang jauh melampaui Pax Romana.

Apakah kita menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan dan Raja Damai yang mendirikan kerajaannya di antara umat pilihan-Nya? Marilah kita merenungkan kembali apa artinya Bapa mengutus Anak-Nya yang Tunggal bagi kita.

“Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, kerena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.”
–Wahyu 17:14
Pax Romana. The Peace of Rome. Sebuah slogan yang mengklaim perdamaian yang diberikan oleh Kekaisaran Romawi sejak Caesar Augustus naik takhta. Masa yang relatif lebih damai dibanding masa sebelumnya ini merupakan suatu masa keemasan yang berlangsung dari tahun 27 SM sampai 180 M. Dua ratus tahun lebih perjalanan sejarah yang sangat luar biasa di dalam peradaban Kekaisaran Romawi!

Tetapi sesungguhnya di balik Pax Romana yang digembar-gemborkan oleh para kaisar Romawi, ada serangkaian tragedi yang menjadi sebuah noda hitam di dalam perjalanan sejarah. Di masa inilah lahir sebuah “sekte” di tanah Judea yang percaya bahwa Yesus dari Nazaret adalah Tuhan. Para penganut “sekte” yang kemudian dikenal sebagai orang Kristen ini dikejar-kejar, dianiaya, dan dibunuh oleh para pemimpin Romawi. Tidak jarang hidup mereka harus berakhir di ujung pedang dan api, bahkan dalam cengkeraman singa yang mematikan, menjadi tontonan di Colosseum yang megah itu.

Masih di awal masa Pax Romana, Yesus disalibkan di bawah pemerintahan Kaisar Tiberius, meskipun kekristenan pada waktu itu belum dianggap sebagai ancaman. Tetapi kaisar-kaisar selanjutnya, seperti Caligula dan Nero menganiaya orang-orang Kristen dengan berbagai cara. Kaisar berikutnya, Domitian membunuh mereka karena menolak menyembah dia sebagai tuhan, dan di bawah kekuasaannyalah Rasul Yohanes dibuang ke Pulau Patmos. Bahkah, para “Lima Kaisar Baik”, begitulah sebutan para sejarawan terhadap Trajan, Antonius Pius, dan Marcus Aurelius, melakukan penganiayaan yang tidak pernah berhenti terhadap orang Kristen. Di zaman Marcus Aurelius, seorang apologet Kristen bernama Justin Martyr dieksekusi di Roma pada tahun 167 M. Dengan berakhirnya kekuasaan Marcus Aurelius pada tahun 180 M, berakhir pulalah Pax Romana.

Puji Tuhan, kekristenan yang mengalami masa penganiayaan yang panjang dan mengenaskan tersebut bahkan semakin berkembang, justru makin banyak orang yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ribuan orang mati syahid dibunuh karena iman mereka pada Kristus, tetapi kekejaman tidak dapat menghentikan kuasa Tuhan untuk menyelamatkan orang percaya yang beriman pada Yesus Kristus.

Pax Romana sebagai zona perdamaian hanyalah dinikamti kalangan tertentu, namun beberapa kelompok lain tidak menikmati perdamaian tersebut, tidak mendapat tempat dalam Pax Romana. Sifat damai pada era Pax Romana hanyalah semu, karena ketenangan yang didapat adalah karena kekuasan yang absolut menekan para pemberontak. Berbeda dengan kerajaan Allah yang memberikan perdamaian abadi bagi semua umat-Nya . Pax Romana justru membunuh umat Kristen yang berani mempertahankan iman mereka dengan mempertaruhkan hidup. Mereka menjadi martir yang menerangi dunia dengan kemuliaan Yesus yang mereka imani.
(dari berbagai sumber)

Antiokus Epifani 4

Antiokus Epifani IV

sumber: wikipedia, dll

Antiochus IV Epiphanes

Antiochus IV Epiphanes
Basileus dari Kerajaan Seleucid
Antiokhos IV.jpg

Patung dada  Antiochus IV di Altes Museum , Berlin.
Berkuasa 175-164 BC
Lahir 215 BC
Wafat 164 BC (Usia 52)
Pendahulu Seleucus IV Philopator
Penerus Antiochus V Eupator
Istri Laodice IV
Issue Antiochus V Eupator, Laodice VI, Alexander Balas, Antiochis, and possibly Laodice (istri Mithridates III dari Pontus)
Dynasty Seleucid dynasty
Ayah Antiochus III the Great
Ibu Laodice III

Antiochus IV Epiphanes (Mithridates); dia mendapat nama Antiokus/ Antiochus sesudah dia naik tahta.

Peristiwa-peristiwa penting selama pemerintahan Antiochus IV termasuk penaklukan Mesir, yang memimpin konfrontasi yang menjadi awal istilah, “arur pasir” (lihat bawah), dan perlawanan dari orang Yahudi yang dipimpin Maccabee.

Antíochos Epiphanḗs, “Pernyataan Allah”; c. 215 BC – 164 BC) adalah seorang Raja Yunani dari Kekaisaran Seleucid  berkuasa mulai 175 BC sampai wafatnya pada tahun 164 Sebelum Mesias. Dia adalah putera Raja Antiochus III Agung. Nama aslinya adalah Mithradates (bentuk lain dari Antiochus raja pertama Seleucid menggunakan kepingan koin mata uang dengan citra dewa, mungkin diilhami oleh Raja-raja Yunani Helen Bactrian yang telah lebih dahulu menerapkannya, atau membangun kultus pemerintahan yang oleh ayahnya Antiochus the Great sudah dikodifikasikan dalam Kerajaan  Seleucid.

Gelar-gelar ini termasuk ‘pernyataan Dewa’, dan sesudah penyerangannya atas Mesir,  ‘pembawa kemenangan’. Bagaimana pun, Antiochus juga mencoba berinteraksi dengan rakyatnya, dengan kemunculannya di rumah-rumah pemandian umum dan kehadirannya di Balaikota, serta kebiasaannya yang eksentrik dan keputusan-keputusan plin-plannya membuat banyak yang menjulukinya  Epimanes (” si gila”),kata  plesetan dari gelarnya Epiphanes.

Naik Tahta

Sebagai putera dan penerus Raja Antiochus III, Antiochus menjadi seorang tawanan politik Romawi menyusul Pakta Perdamaian Apamea in 188 BC. Ketika kakaknya, Seleucus IVmengikuti ayahnya naik tahta di tahun 187 Sebelum Mesias, Antiochus dipertukarkan dengan kemenakannya Demetrius I Soter (putera dan pewaris Seleucus). Sesudah Raja Seleucus dibunuh oleh Heliodorus, seorang perebut kekuasaan, di tahun 175 BC, Antiochus menggulingkannya. Sejak Seleucus’ mensahkan warisan tahta, Demetrius I Soter, masih jadi tawanan di Roma, Antiochus, dengan bantuan Raja Eumenes II of Pergamum, menyita tahta itu untuk dirinya sendiri, memproklamirkan dirinya sendiri bupati bagi putera lain dari Seleucus, seorang bayi dinamai Antiochus (yang kemudian dibunuhnya beberapa tahun kemudian).

Perang melawan Mesir

Ketika pasukan Raja Mesir Ptolemy VI menginginkan kembalinya Coele-Syria pada tahun 170 Sebelum Mesias, Antiochus melancarkan serangan kepada Mesir, menaklukkan semuanya kecuali Alexandria dan menawan Raja Ptolemy. Untuk menghindari bergolaknya Roma, Antiochus memperbolehkan Ptolemy VI meneruskan pemerintahan sebagai raja boneka. Dengan undian Antiochus, kota Alexandria memilih raja baru, salah satu saudara Ptolemy, yang juga dinamai Ptolemy (VIII Euergetes). Untuk menghindari perang saudara, saudara-saudara Ptolemy setuju memerintah Mesir dengan bekerjasama.

Pada tahun 168 BC Antiokus memimpin serangan kedua terhadap Mesir dan mengirim pasukan menaklukkan Siprus. Sebelum mencapai Alexandria, jalannya diblok oleh seorang, duta Romawi tua bernama Gaius Popillius Laenas, yang mengirimkan pesan dari dewan Romawi kepada Antiochus untuk mengerahkan pasukannya dari Mesir dan Siprus, atau mereka berperang dengan Romawi. Antiokus berkata bahwa ia akan berdiskusi dengan penasehatnya, ketika orang Romawi itu menggaris di pasir sekitarnya dan berkata, “Sebelum kamu melewati lingkaran yang aku buat ini, kamu harus menjawab.”“ implying that Rome would declare war if the King stepped out of the circle without committing to leave Egypt immediately. Berat pada pilihannya, Antiochus memutuskan untuk mengundi. Maka Popillius berjabat tangan tanda setuju dengan dia.

Sacking of Jerusalem dan penganiayaan terhadap orang Yahudi

While Antiochus was busy in Egypt, a rumor spread that he had been killed. The deposed Imam Besar Jason gathered a force of 1,000 soldiers and made a surprise attack on the city of Jerusalem. The High Priest appointed by Antiochus, Menelaus, was forced to flee Jerusalem selama kerusuhan. Sekembalinya Raja dari Mesir pada tahun 167 BC dikobarkan karena kekalahannya, diamenyerang Yerusalem memperbaiki Menelaus, kemudian mengeksekusi banyak orang Yahudi.

Ketika peristiwa-peristiwa ini terjadi dilaporkan pada Raja,dia menyangka Yudea dalam pemberontakan. Menggelora laksana binatang buas,  he set out from Egypt and took Jerusalem by storm. He ordered his soldiers to cut down without mercy those whom they met and to slay those who took refuge in their houses. There was a massacre of young and old, a killing of women and children, a slaughter of virgins and infants. In the space of three days, eighty thousand were lost, forty thousand meeting a violent death, and the same number being sold into slavery. 
 2 Maccabees 5:11-14

Untuk mengkonsolidasikan kerajaannya dan memperkuat kekuasaan di wilayahnyan, Antiochus memutuskan to side with the Hellenized Jews by outlawing Jewish religious rites and traditions kept by observant Jews and dengan memerintahkan penyembahan Zeus sebagai dewa mahatinggi (2 Maccabees 6:1-12). Tak ada pilihan bagi kaum Yahudi jika mereka menolak, Antiokus mengirimkan pasukan untuk melaksanakan perintahnya. Because of the resistance, the city was destroyed, many were slaughtered, and a military Greek citadel called the Acra was established.

“ Not long after this the king sent an Athenian senator to force the Jews to abandon the customs of their ancestors and live no longer by the laws of God; also to profane the temple in Jerusalem and dedicate it to Olympian Zeus, and that on Mount Gerizim to Zeus the Hospitable, as the inhabitants of the place requested…They also brought into the temple things that were forbidden, so that the altar was covered with abominable offerings prohibited by the laws. A man could not keep the sabbath or celebrate the traditional feasts, nor even admit that he was a Jew. At the suggestion of the citizens of Ptolemais, a decree was issued ordering the neighboring Greek cities to act in the same way against the Jews: oblige them to partake of the sacrifices, and put to death those who would not consent to adopt the customs of the Greeks. It was obvious, therefore, that disaster impended. Thus, two women who were arrested for having circumcised their children were publicly paraded about the city with their babies hanging at their breasts and then thrown down from the top of the city wall. Others, who had assembled in nearby caves to observe the sabbath in secret, were betrayed to Philip and all burned to death. ”
— 2 Maccabees 6:1–11

Maccabean revolt

Mina of Antiochus IV Epiphanes.

The First and Second Book of Maccaby  menggambarkan Pergerakan Maccabean  sebagai pertahanan nasional to a foreign political and cultural oppression. Para sarjana modern berpendapat bahwa raja turut campur tangan dalam perang sipil antara Yahudi tradisionalis country and the Hellenized Jews in Jerusalem. Menurut Joseph P. Schultz:

Modern scholarship on the other hand considers the Macabean revolt less as an uprising against foreign oppression than as a civil war between the orthodox and reformist parties in the Jewish camp.

It seems that the traditionalists, with Hebrew/Aramaic names like Onias, contested with the Hellenizers with Greek names like Jason and Menelaus over who would be the High Priest. Other authors point to possible socio/economic motives in addition to the religious motives behind the civil war.

What began in many respects as a civil war escalated when the Hellenistic kingdom of Syria sided with the Hellenizing Jews in their conflict with the traditionalists. As the conflict escalated, Antiochus took the side of the Hellenizers by prohibiting the religious practices that the traditionalists had rallied around. This may explain why the king, in a total departure from Seleucid practice in all other places and times, banned the traditional religion of a whole people.

Final years

Taking advantage of Antiochus’ western problems, King Mithridates I of Parthia attacked from the east and seized the city of Herat in 167 BC, disrupting the direct trade route to India and effectively splitting the Greek world in two.

Recognizing the potential danger in the east, but unwilling to give up control of Judea, Antiochus sent a commander named Lysias to deal with the Maccabees, while the King himself led the main Seleucid army against the Parthians. After initial success in his eastern campaign, including the reoccupation of Armenia, Antiochus died suddenly of disease in 164 BC.

Legacy

The reign of Antiochus was the last period of real strength for the Seleucid Dynasty, but in some ways his rule was also fatal to the Empire. Antiochus IV was a usurper and left an infant son named Antiochus V Eupator as his only heir. The result was a series of civil wars between rival claimants to the throne, effectively crippling the Empire during a critical phase in the wars against Parthia.

Tradisi Yahudi

Antiochus IV menguasai Yahudi dari 175 to 164 BC. Dia diingat sebagai penjahat utama dan penganiaya besar dalam tradisi Yahudi yang sering dikaitkan dengan Hanukkah,termasuk kitab Maccabees and the “Gulungan naskah Antiokus”. Sumber rabinik mengenali dia sebagai harasha (“sang durjana”).

Kaitan dengan kitab Daniel

  1. Daniel dan “Tanduk Kecil”
  2. Saat mempelajari binatang-binatang yang muncul dalam Daniel 7 (Daniel 7:4-7, yakni Pelajaran 4 dari seri pelajaran ini), apakah kita berpendapat bahwa binatang-binatang tersebut nampaknya sama dengan apa yang telah kita lihat sebelumnya dalam kitab Daniel? (Ya. Dalam Daniel 2 kita melihat lintasan sejarah yang dinubuatkan dalam mimpi tentang patung. Patung tersebut mewakili empat kerajaan besar: Babilon, Media-Persia, Yunani dan Roma yang berturut-turut bangkit dan jatuh. Kita berpendapat bahwa binatang-binatang dalam Daniel 7 mewakili kerajaan-kerajaan dunia yang sama, yang telah kita lihat dalam Daniel 2.)
  3. Mari baca lebih lanjut hingga ke bagian akhir dari mimpi ini. Baca Daniel 7:8-14. Jika ini merupakan sebuah pernyataan tentang sejarah dunia dan penghakiman terakhir, sebagaimana pendapat saya, bagaimana perasaan saudara tentangnya? (Sebagaimana dalam mimpi Daniel 2, pada Allah ada penghakiman. Allah dan umatNya menang, Allah berjaya dalam sejarah manusia.)
  4. Apa dua aktivitas Allah yang diungkapkan dalam mimpi ini? (Ayat 9-10 menunjukkan bahwa Allah menggelar penghakiman di surga dan ayat 11-14 menunjukkan kebinasaan dari kekuatan dunia dan pemahkotaan Yesus (“anak manusia”-Matius 17:22).)
  5. Kapan penghakiman tersebut dimulaikan? (Penghakiman tersebut berlangsung sebelum akhir zaman saat “tanduk kecil” masih ada.)
  6. Secara umum, apakah yang diajarkan oleh patung dari Daniel 2 dan binatang-binatang dari Daniel 7 kepada kita? (Allah berkuasa atas raja-raja, kerajaan-kerajaan dan lintasan sejarah. Ada pergumulan antara kebaikan dan kejahatan di alam semesta ini. Akan datang penghakiman Allah. Sementara itu, Allah bermitra dengan orang-orang yang setia untuk menyingkap tumbangnya kejahatan di masa datang.)
  7. Baca Daniel 7:15-17. Apa reaksi Daniel setelah melihat mimpi tentang binatang-binatang tersebut? Apakah saudara perhatikan bahwa Daniel bukanlah “orang kebanyakan?” (Daniel digelisahkan oleh mimpinya. Ia ingin mengetahui artinya, jadi ia bertanya. Ia sedia menghentikan perjalanannya dan menanyakan arah!)
  8. Siapakah orang yang dihampiri Daniel dalam ayat 16? (Bagian terakhir dari penglihatan Daniel adalah bagian di mana dia mengamat-amati apa yang sedang berlangsung di surga. Secara nalar dapat ditarik kesimpulan bahwa Daniel pergi menemui mahluk surgawi dan memohon bantuan dalam menafsirkan mimpi tersebut.)
  9. Baca Daniel 7:19-20. Apa yang berbeda dengan binatang keempat ini? (Satu hal: mengerikan. Namun, semua binatang ini bagi saya nampak menakutkan. Perbedaan utamanya terletak pada tanduk-tanduknya. Daniel 7:7 menyebut soal perbedaannya dan secara khusus mengomentari tanduk-tanduknya.)
  10. Apa yang istimewa dengan tanduk yang satu ini? (Tanduk tersebut nampaknya diidentifikasikan dengan seseorang. Perhatikan bahwa pada tiga binatang terdahulu, Babilon (Daniel 7:4) digambarkan dengan karakteristik “seperti manusia.” Sang tanduk, seperti halnya Babilon, digambarkan dengan ciri-ciri “seperti manusia.”
  11. Baca Daniel 7:21-22. Apa lagi yang kita pelajari tentang tanduk kecil ini? (Bahwa tanduk tersebut menganiaya umat Kristen dan “mengalahkan” mereka. Kemenangannya atas orang-orang kudus berakhir dengan penghakiman Allah)
  12. Baca Daniel 7:23-25. Penafsir surgawi ini mengatakan bahwa tanduk-tanduk tersebut adalah sepuluh raja. Bagaimanakan tafsiran ini dibandingkan dengan mimpi Nebukadnezar tentang patung? (Cocok sekali. Tidak ada kerajaan dunia yang dominan setelah Roma. Gantinya, Kerajaan Romawi berganti menjadi kaki dan jari-jari (saudara barangkali memiliki sepuluh jari kaki – seperti sepuluh tanduk) yang merupakan campuran dari besi dan tanah liat. Jadi, kita dapati bahwa setelah Kerajaan Romawi ada bangsa-bangsa yang lemah (tanah liat) dan yang kuat (besi), namun tak satupun menguasai dunia. Bandingkan Daniel 2:40-43.)
  13. Penyelidikan atas “Tanduk Kecil” Daniel 7
  14. Kapan “tanduk kecil” yang nampak seperti manusia ini bangkit? (Ia bangkit setelah Kerajaan Romawi terpecah menjadi 10 kerajaan. Daniel 7:24 berkata ia bangkit “sesudah” “sepuluh raja yang muncul dari kerajaan [Romawi] itu.”)
  15. Berapa lama “tanduk kecil” ini berkuasa? (Ada dua pernyataan terkait dengan waktu. Tanduk itu berkuasa sampai sampai saat penghakiman surgawi (Daniel 7:8-9, 26) dan berkuasa selama “satu masa, dua masa dan setengah masa.” Daniel 7:25)
  16. Pendapat mayoritas adalah bahwa “tanduk kecil” itu adalah Raja Seleciud yang bernama Antiokhus Epifanes yang memerintah selama sebelas tahun yakni tahun 175-164 S.M. Antiokhus berkuasa setelah kematian Alexander yang Agung di penghujung masa Kerajaan Yunani. (Lihat, Goldstein, Grafitti dalam buku Holy of Holies, hal. 39-42.)
  17. Apakah Antiokhus Ephiphanes cocok dengan penggambaran tanduk kecil? (Tidak. Waktunya salah sama sekali. Antiokhus berkuasa sebelum, bukan sesudah, Kerajaan Romawi. The Treasury of Scripture Knowledge menceriterakan bahwa kesepuluh kerajaan tersebut, yang berasal dari terbaginya Kerajaan Romawi, berdiri antara tahun 356 TM dan 526 TM. Dengan demikian, Antiokhus terlalu dini lebih dari 500 tahun untuk cocok dengan nubuatan ini. Sebagai tambahan, sebelas tahun masa berkuasanya sangatlah sulit untuk terulur sampai saat penghakiman terakhir.)
  18. Jika secara historis Antiokhus sedemikian buruk untuk “cocok” ditafsirkan sebagai tanduk kecil, mengapa sebagian besar dari para komentator menganggap bahwa tanduk kecil itu adalah Antiokhus? Baiklah kita lanjutkan pelajaran kita.
  19. Daniel dan sang “Tanduk Kecil.”
  20. Baca Daniel 8:9-12 dan Daniel 8:23-25. Apakah menurut saudara tanduk dalam Daniel 8 itu sama dengan tanduk kecil dalam Daniel 7?
  21. Untuk menyegarkan ingatan saudara, telusuri dengan cepat Daniel 7:8, 11-12, 20-25 untuk membandingkan tanduk kecilnya Daniel 7 dan Daniel 8. Alasan-alasan apa yang bisa dikemukakan untuk mendukung pendapat bahwa kedua tanduk ini sama adanya? (Keduanya adalah tanduk dengan karakteristik manusia. Keduanya menentang Allah. Keduanya menentang umat Allah. Keduanya dibinasakan oleh Allah.)
  22. Alasan-alasan apa yang bisa saudara kemukakan untuk mengatakan bahwa kedua tanduk ini berbeda? (Tanduk dalam Daniel 8 digambarkan sedang menyerang bait suci – di mana hal ini tidak disebutkan dalam menggambarkan tanduknya Daniel 7.)
  23. Pada saat manakah tanduk kecil Daniel 8 muncul? (Sementara tanduk Daniel 7 jelas-jelas bangkit dari (setelah) binatang keempat (Roma), tanduk Daniel 8 bangkit dari (setelah) kambing jantan (Daniel 8:8-9)
  24. Apa yang diwakili oleh kambing jantan? (Baca Daniel 8:21-23. Kambing jantan tersebut adalah Yunani dan tanduk kecil bangkit dari Yunani.)
  25. Apakah waktunya tidak cocok bagi Antiokhus untuk menjadi sebagai tanduk dalam Daniel 8:9? (Masa berkuasanya Antiokhus cocok dengan Daniel 8. Ia muncul dari pecahan kerajaan Yunani (yang menjadi alasan mengapa ia bukanlah “tanduk kecil” dalam Daniel 7 – yang muncul dari pecahan kerajaan Romawi).
  26. Apakah saudara bisa melihat landasan dari konflik ini? Jika tanduk kecil Daniel 7 dan Daniel 8 sama adanya, kelompok yang meyakini bahwa “tanduk kecil = Antiokhus” tiba pada kesimpulannya oleh memadankan penafsiran mereka atas Daniel 8 ke dalam tanduk kecil Daniel 7. Kelompok (di mana saya adalah anggotanya) yang meyakini bahwa “tanduk kecil = Roma kepausan” memadankan penafsiran mereka atas tanduk kecil Danel 7 ke dalam Daniel 8.) (Untuk mengetahui penjelasan mengapa saya berpendapat bahwa “tanduk kecil” Daniel 7 adalah Roma kepausan, bacalah pelajaran 4 dari seri pelajaran ini yang banyak mencakup materi yang sama ini.)
  27. Penyelesaian Konflik
  28. Jika saudara sepakat bahwa “tanduk kecil” adalah kekuasaan yang sama dalam Daniel 7 dan Daniel 8, lantas alasan apa yang bisa saudara kemukakan untuk untuk mendukung pendapat saudara bahwa tanduk kecil tersebut bukanlah Antiokhus? Tampaknya sulit untuk membangun argumen berdasarkan masalah waktu semata, karena bila terkait dengan waktu, argumen mereka kelihatannya sama baiknya dengan argumen kita.
  29. Mari kita pelajari kembali Daniel 8:9-12. Perhatikan gambaran selanjutnya dari tanduk ini. Apakah tanduk ini lebih kena dengan Roma Kafir dan Roma Kepausan atau lebih kena dengan Antiokhus? (Gambaran kekuasaan tanduk ini sebanding atau melebihi gambaran kekuasaan domba jantan dan kambing jantan. Contohnya, domba jantan disebut (Daniel 8:4) “besar” dan kambing jantan disebut (Daniel 8:8) “sangat besar.” Kebanyakan terjemahan Alkitab (tapi bukan NIV) menerjemahkan gambaran tanduk tersebut (Daniel 8:9) sebagai “teramat besar” (NAS, KJV, NKJV, ASV, RSV). Oleh karena tanduk tersebut digambarkan sebagai lebih besar dari Media-Persia dan Yunani, nampaknya tidak tepat untuk menyimpulkan bahwa 11 tahun masa berkuasanya Antiokhus, raja Seleciud, dapat diperbandingkan dengan kerajaan Persia dan Yunani! Di lain sisi, kerajaan Romawi (baik fase kekafiran maupun fase Kepausannya), jelas dapat diperbandingkan dengan kerajaan Persia dan kerajaan Yunani.)
  30. Apakah Roma (Daniel 8:11) merobohkan bait suci? (Bangsa Romawi menghancurkan kaabah Allah pada tahun 70 TM. Mazmur 79:1 menyebutkan pemusnahan pertama Yerusalem dan kaabah sebagai “menajiskan” kaabah.)
  31. Apakah Roma sudah mencapai langit, melemparkan sebagian penghuni langit ke bumi dan menginjak-injak mereka?
  32. Penjelasan Gabriel Soal Tanduk Kecil
  33. Baca Daniel 8:23-25. Kita sekarang beranjak kepada penjelasan Gabriel selanjutnya ihwal bagian mimpi tentang tanduk. Siapakah Raja segala raja yang disebutkan dalam ayat 25? (Tentunya Yesus.)
  34. Apakah Roma mengambil sikap menentang Yesus?
  35. Seberapa cocokkah hal tersebut dengan Daniel 8:10 yang menyebutkan tentang tanduk yang mencapai langit dan menginjak-injak sebagian bintang penghuni langit? (Roma menyalibkan Yesus. Menurut saya hal ini cocok dengan gambaran tentang menginjak-injak penghuni langit dan sikap menentang Raja segala Raja.)
  36. Bagaimana akhir dari tanduk tersebut? (Daniel 8:25 mengatakan ia dihancurkan oleh suatu kuasa yang bukan berasal dari manusia.)
  37. Menurut saudara apa artinya hal itu? (Kesimpulan logisnya adalah bahwa tanduk tersebut dihancurkan oleh Allah.)
  38. Sobat, saya memahami argumen yang dikemukakan oleh orang-orang yang menyimpulkan bahwa kuasa tanduk Daniel 8 adalah Antiokhus Epifanes. Di lain sisi, saya yakini Roma (baik fase kekafiran maupun fase kepausannya) lebih cocok menggenapi nubuatan. Setelah bergumul sepanjang pelajaran ini, barangkali engkau akan berkata “Lantas kenapa, Bruce!? Mengapa hal sepele soal nubuatan ini jadi perkara? Pekan depan kita akan membahas apakah hal itu jadi perkara atau tidak dan kenapa.

Gender Identity Disorder (Part3) solusi dan kesaksian

KERANCUAN JENDER
Tentang kelainan orientasi jender dan solusinya:
dikumpulkan dari berbagai sumber
dirangkum oleh Team


” Penekanan.
1. Sisi Medis
Harus jelas apakah kadar hormon seorang penderita penyimpangan sudah sesuai dengan gendernya. Tahap selanjutnya mungkin pemeriksaan kromosom (ini sangat mahal), untuk ini perlu konsultasi dengan dokter yang berkompeten.
2. Sisi Sosial
3. Sisi Rohani

Link Terkait:
Kesaksian Mantan Waria

Solusi
Dasar Alkitabiah
Penderita jangan selalu dicekoki dengan ayat-ayat semata. Misalnya dengan mengutip 1 Korintus 6: 13. Sebaliknya mulailah dengan asas “re-creation”

SEBELUMNYA (Part Two): Macam
.

Gender Identity Disorder apakah itu? (Bagian 2)

Macam Penyimpangan
Transvestism
Penderita transvestism merasa terangsang (selera sexualnya) bila mengenakan pakaian lawan jenisnya.Penderita belum tentu ingin menyesuaikan fisiknya dengan identitas lawan jenisnya. Misalkan seorang pria menderita transvestism, ia tetap nyaman menggunakan pakaian dalam wanita sampai ke wig sekalipun, bahkan sampai mengalami ereksi dan orgasme, namun ia tak merasa perlu mencukur bulu halus, apalagi sampai bertingkah laku sebagai perempuan di depan umum. Secara psikologos, pengidap penyakit ini paling tidak merasa tertekan jiwanya

Fetism
Penderita fetism suka memuja pakian dalam dari jenis kelamin lawan jenisnya, misalnya remaja pria yang suka meremas lingerie saudarinya atau teman wanitanya.

Homosexual dan Lesbian

Homosex adalah kelainan dorongan seksual pada pria, yang tertarik dengan pria. Sedangkan lesbian sebaliknya.

 

Bisexual. Kelainan seksual dimana penderita bisa dipuaskan baik oleh lawan jenis (pria  dengan wanita, wanita dengan pria) maupun oleh jenisnya sendiri.

SELANJUTNYA (Bagian 3): Solusi

Kembali ke awal artikel (Bagian 1)

Kesaksian mantan waria

Gender Identity Disorder ,apakah itu?

 

 

KERANCUAN JENDER
Tentang kelainan orientasi jender dan solusinya:
dikumpulkan dari berbagai sumber

 

” Seorang anak pria remaja yang merasa tertekan dengan keadaan jiwanya”

“sejak kecil ia merasa dirinya bukanlah seorang pria, namun merasa malu untuk menunjukkan kelainannya itu.
Sebenarnya ia ingin bermain bersama anak perempuan, memainkan mainan perempuan bahkan mengenakan pakaian perempuan, tetapi ia merasa malu.
Ia tahu, bahwa jika berlaku kewanita-wanitaan akan dicap sebagai banci. Padahal ia ,walaupun suka dengan pekerjaan perempuan dan ingin hidup sebagai perempuan, sama sekali tidak tertatrik secara sexual dengan pria, baik dari petrgaulan maupun hubungan sexual. Dari keadaan ini membuatnya bukan terlihat sebagai “banci” ,tetapi sebagai orang yang kikuk, canggung atau bloon, walaupun I.Q nya tergolong tinggi, bahkan cukup excelent dibanding teman sebayanya.
Bertahun-tahun ia dihimpit oleh kelainannya itu. Di hadapan teman-teman, guru di sekolah maupun dosen pada waktu kuliah, ia dipandang sebagai sosok yang aneh. ”

“Akhirnya ia memutuskan untuk konseling dengan seorang pendeta di gerejanya. Ia sebelumnya sudah mengatakan bahwa pembicaraan itu adalah “off the record”. Namun ternyata sang pendeta mengabaiakan aspek kerahasiaan konseling itu, dan lebih buruknya adalah, sang pendeta mengidentifikasikan sang pemuda sebagai “gay/homo” !!. Sang pendeta memnceritakan kepada keluarga, teman sepelayanan dan pendeta lainnya hal ihwal sang pemuda, namun dengan men-judge sang pemuda sebagai “gay” . Jemaat gereja yang pengetahuannya juga tak lebih dari sang pendeta, termakan opini sang pendeta. Rupanya sang pendeta maupun jemaat tak dapat membedakan antara seorang pria feminis dengan sorang gay. Jemaat bukannya memberi dukungan moral pada pemuda itu, sebaliknya malah mengucilkannya dari kegiatan gereja..” Dari pelajaran ini, jelaslah sangat perlu pengetahuan umum yang cukup baik bagi pendeta maupun bagi jemaat

 

Pendahuluan
Ada berbagai penyebab terjadinya penyimpangan orientasi seksual dan karakter. Ada pengaruh genetik,yang dimaksud genetik bukan hanya keturunan, tetapi faktor pembentuk gen. Bisa beruba penyimpangan kromosom, karyotype, sampai pada kelainan hormon. Ada juga karena masalah psikologis akibat kondisi keluarga. Misalnya, karena di masa kecil orangtua sering bertengkar dan sang ayah suka menganiaya ibunya. Sang anak lelaki menaruh kebencian dan anti pada sang ayah, tidak cukup sampai di situ, antipati juga tergadap gender sang ayah menyebabkan ia membenci karakter lelaki dan memilih untuk berprilaku sebagai perempuan.

SELANJUTNYA (Part Two): Macam-Macam Penyimpangan dan Pengertian
.

Kesaksian mantan waria

Gereja Bethel Indonesia (GBI)

 ho-lukas-senduk-gbi-petamburan
Ho Lukas Senduk (Ho Liong Seng / Oom Ho)
Bapak pendiri Gereja Bethel Indonesia
lahir di Ternate Ternate, 4 Agustus 1917
meninggal di Jakarta, 26 Februari 2008

 Latar belakang 
Sesudah peristiwa Asuza Street yang fenomenal itu, gereja Pantekosta berdiri di Amerika dan semakin berkembang. Muncul keinginan untuk memperluas pelayanan ke negara lain, termasuk Indonesia. Pada tahun 1922, Pendeta W.H. Offiler dari Bethel Pentecostal Temple Inc., Seattle, Washington, Amerika Serikat, mengutus dua orang misionarisnya ke Indonesia, yaitu Pdt. Van Klaveren dan Groesbeek, orang Amerika keturunan Belanda. Pada mulanya mereka melayani Tuhan di Bali, tetapi kemudian pindah ke Cepu, Jawa Tengah. Di sini mereka bertemu dengan F.G. Van Gessel yang bekerja pada Perusahaan Minyak Belanda Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Van Gessel pada tahun sebelumnya telah bertobat dan menerima hidup baru dalam kebaktian Vrije Evangelisatie Bond yang dipimpin oleh Pdt. Charles Hoekendijk (ayah dari Karel Hoekendjik). Groosbeek kemudian menetap di Cepu dan mengadakan kebaktian bersama-sama dengan Van Gessel. Sementara itu, Van Klaveren pindah ke Lawang, Jawa Timur.

Januari 1923, Nyonya Van Gessel sebagai wanita yang pertama di Indonesia menerima Baptisan Roh Kudus dan demikian pula dengan suaminya beberapa bulan setelahnya. Tanggal 30 Maret 1923, pada hari raya Jumat Agung, Groesbeek mengundang Pdt. J. Thiessen dan Weenink Van Loon dari Bandung dalam rangka pelayanan baptisan air pertama kalinya di Jemaat Cepu ini. Pada hari itu, 15 jiwa baru dibaptiskan.

Dalam kebaktian-kebaktian berikutnya, bertambah-tambah lagi jemaat yang menerima Baptisan Roh Kudus, banyak orang sakit mengalami kesembuhan secara mujizat. Karunia-karunia Roh Kudus dinyatakan dengan ajaib di tengah-tengah jemaat itu. Inilah permulaan dari gerakan Pentakosta di Indonesia. Berempat, Van Klaveren, Groesbeek, Van Gessel, dan Pdt. J. Thiessen, merupakan pionir dari “Gerakan Pentakosta” di Indonesia. Kemudian Groesbeek pindah ke Surabaya, dan Van Gessel telah menjadi Evangelis yang meneruskan memimpin Jemaat Cepu.

April 1926, Groesbeek dan Van Klaveren berpindah lagi ke Batavia (Jakarta). Sementara Van Gessel meletakkan jabatannya sebagai Pegawai Tinggi di BPM dan pindah ke Surabaya untuk memimpin Jemaat Surabaya. Jemaat yang dipimpin Van Gessel itu bertumbuh dan berkembang pesat dengan membuka cabang-cabang di mana-mana, sehingga mendapat pengakuan Pemerintah Hindia Belanda dengan nama “De Pinksterkerk in Indonesia” (sekarang Gereja Pentakosta di Indonesia atau GPdI).

Pada 1932, Jemaat di Surabaya ini membangun gedung Gereja dengan kapasitas 1.000 tempat duduk ( merupakan gereja terbesar di Surabaya saat itu). Tahun 1935, Van Gessel mulai meluaskan pelajaran Alkitab yang disebutnya “Studi Tabernakel”.

Gereja Bethel Pentecostal Temple, Seattle, kemudian mengutus beberapa misionaris lagi. Satu di antaranya yaitu, W.W. Patterson yang membuka Sekolah Akitab di Surabaya bernama NIBI (Netherlands Indies Bible Institute). Sesudah Perang Dunia II, para misionaris itu membuka Sekolah Alkitab di berbagai tempat.

Setelah perang usai pimpinan gereja harus diserahkan kepada orang Indonesia. H.N. Rungkat terpilih sebagai ketua Gereja Pentakosta di Indonesia untuk menggantikan Van Gessel. Jemaat gereja yang seharusnya menjaga jarak dari sikap politik yang terpecah belah terjebak dalam nasionalisme yang tengah berkobar-kobar pada saat itu. Akibatnya roh nasionalisme meliputi suasana kebaktian dalam gereja-gereja Pentakosta. Van Gessel menyadari bahwa ia tidak bisa lagi bertindak sebagai pemimpin.

Kondisi rohani Gereja Pentakosta di saat itu menyebabkan ketidakpuasan di sebagian kalangan pendeta-pendeta Gereja tersebut. Ketidakpuasan ini juga ditambah lagi dengan kekuasaan otoriter dari Pengurus Pusat Gereja. Akibatnya, sekelompok pendeta yang terdiri dari 22 orang, memisahkan diri dari Organisasi Gereja Pentakosta, salah satunya adalah Pdt. H.L. Senduk atau lebih dikenal sebagai Oom Ho .

GBIS
Pada tanggal 21 Januari 1952, di kota Surabaya, orang-orang yang memisahkan diri dari Organisasi Gereja Pentakosta kemudian membentuk suatu organisasi gereja baru yang bernama Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS). Van Gessel dipilih menjadi “Pemimpin Rohani” dan H.L Senduk ditunjuk menjadi “Pemimpin Organisasi” (Ketua Badan Penghubung). Senduk berperan sebagai gembala bagi dari jemaat di Jakarta, sedangkan Van Gessel memimpin jemaatnya di Jakarta dan Surabaya.

Pada tahun 1954, Van Gessel meninggalkan Indonesia dan pindah ke Irian Jaya (waktu itu di bawah Pemerintahan Belanda). Jemaat Surabaya diserahkannya kepada menantunya, Pdt. C. Totays. Di Hollandia (sekarang Jayapura). Van Gessel membentuk suatu organisasi baru yang bernama Bethel Pinkesterkerk (sekarang Bethel Pentakosta). Van Gessel kemudian meninggal dunia pada tahun 1957 dan kepemimpinan Jemaat Bethel Pinkesterkerk diteruskan oleh Pdt. C. Totays.

Tahun 1962, sesudah Irian Jaya diserahkan kembali kepada Pemerintah Indonesia, maka semua warga negara Kerajaan Belanda harus kembali ke negerinya. Jemaat berbahasa Belanda di Hollandia ditutup, tetapi jemaat-jemaat berbahasa Indonesia berjalan terus di bawah pimpinan Pendeta-pendeta Indonesia.

GBIS di bawah pimpinan H.L. Senduk berkembang dengan pesat. Pada 1968-1969, kepemimpinan Senduk di GBIS diambil alih oleh pihak-pihak lain yang disokong suatu keputusan Menteri Agama. Senduk dan pendukungnya memisahkan diri dari organisasi GBIS. Pada 6 Oktober 1970, di Sukabumi, Jawa Barat, Pdt. H.L. Senduk dan rekan-rekannya membentuk Gereja Bethel Indonesia (GBI). Gereja ini diakui oleh Pemerintah secara resmi melalui Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 41 tanggal 9 Desember 1972.
Berdirinya Gereja Bethel Indonesia Jemaat Petamburan dimulai dari persekutuan rumah tangga di rumah keluarga Thio Song Goan sekitar tahun 1942 dengan Gembala Sidang pertama Pdt A. Aroen. Pada waktu itu jemaat ini masih berada dalam organisasi GPdI ( dalam persekutuan rumah tangga ini ada seorang jemaat yang dipakai Tuhan untuk bernubuat bahwa gereja ini akan menjadi besar sehingga memiliki jemaat yang besar dan banyak hamba Tuhan diutus dari tempat ini).

GBI Jemaat Petamburan mengalami proses beberapa kali Gembala Sidang. Sekitar tahun 1950-an Pdt A. Aroen digantikan oleh Pdt Liem Toan Tjhay dengan dibantu oleh Pdt Kwe Hok To. Ketika mereka berdua mengundurkan diri maka Tua-Tua Sidang meminta Pdt H.L. Senduk untuk menjadi Gembala Sidang yang dibantu oleh Pdt Go Tjeng Hoa. Pdt Go Tjeng Hoa mendirikan GBIS di Rawa Kemiri, Kebayoran Lama, Jakarta. Pdt Kwe Hok To kemudian mendirikan GPdI di Kebon Kacang, Jakarta.

GBI Jemaat Petamburan berkembang dari rumah kecil sampai pada tahun 1965 keluarga Thio Song Goan menyerahkan tanahnya untuk dibangunkan sebuah gereja yang berukuran 9 x 36,5 meter.

Pdt H.L. Senduk melayani GBI Jemaat Petamburan dibantu oleh istrinya Pdt Helen Theska Senduk, Pdt Thio Tjong Koan, dan Pdt Harun Sutanto. Pada tahun 1972, Pdt H.L. Senduk memanggil anak rohaninya, Pdt S.J. Mesach dan Pdt Olly Mesach untuk membantu pelayanan di GBI Jemaat Petamburan. Saat itu, Pdt S.J. Mesach telah menjadi Gembala Sidang GBI Jemaat Sukabumi, yang telah dilayaninya sejak tahun 1963.

Pada tahun 1980, tercatat anggota baptisan berjumlah 503 orang ditambah dengan jemaat yang tidak tercatat. Jumlah ini sudah melebihi kapasitas gedung gereja yang berukuran 9 x 36,5 meter tersebut (kapasitas maksimum 500 tempat duduk). Hal ini menggugah hati majelis untuk membentuk panitia pembangunan gereja, namun kesulitan mendapatkan ijin mendirikan (IMB). Pertumbuhan yang cepat dan kesulitan perijinan berdampak lahirnya kebaktian kedua pada setiap Minggu sejak awal tahun 1982 dan kemudian kebaktian ketiga sejak awal 1987. Jumlah jemaat terus meningkat hingga tercatat 2000 orang (umum dan kategorial). Setelah mendapat IMB, akhirnya Pdt Dhannyal Tantular yang mendapatkan tugas pembangunan, dapat meresmikan gedung gereja baru pada tanggal 1 April 1991.

Pdt H.L. Senduk meninggal pada tanggal 26 Februari 2008. Ia meninggalkan visi 10.000 gereja GBI bagi generasi berikutnya. Seperti GBI yang merupakan sinode yang lahir dari tubuh Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) dan Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI), maka dari tubuh Sinode GBI juga lahir beberapa sinode-sinode baru, di antaranya: Gereja Bethany Indonesia, Gereja Mawar Sharon, Gereja Tiberias Indonesia, dan Gereja Berita Injil. Sedang gereja yang masih setia bernaung dalam Gereja Bethel Indonesia antara lain GBI Rahmat Emanuel Ministries (GBI REM) pimpinan Pdt.Abraham Conrad Supit, GBI Gatot Subroto digembalakan Pdt.DR.Ir.Niko Njotorahardjo, GBI Rehobot dengan gembala Pdt.Erastus Sabdono, GBI Ecclessia digembalakan Pdt.Hengky So ,dll.

Pdt HL Senduk adalah anak pertama dari lima bersaudara, tiga pria dan dua wanita yaitu: Ho Goat Go, Ho Goat Song (meninggal tahun 1947), Ho Liong Hoat, dan Ho Liong Goan (meninggal tahun 1989). la mengikuti pendidikan sekolah dasar di HIS (Hollands Inlandsche School) dan sekolah lanjutan tingkat pertama di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Manado.

Ayah Pdt HL Senduk, Ho Koei Sioe (meninggal tahun 1965), adalah seorang pedagang berwarga negara Singapura, yang memulai usahanya di Ternate, dan kemudian pindah ke Manado, pada awal abad ke-20. Ayahnya menganut kepercayaan Kong Hu Cu. la menjadi Kristen saat menjelang ajalnya. Ayahnya pernah menjadi “kapitan”, yaitu pemimpin para pedagang keturunan Cina di Manado. Ibunya, Tjan Oen Nio (Oemi, meninggal tahun 1972), seorang keturunan Tionghoa yang memiliki hubungan dengan kerajaan Ternate, juga seorang pemeluk Kong Hu Cu. Pada masa tuanya ia menjadi pengikut Yesus. Keadaan ekonomi mereka cukup baik; termasuk keluarga pertama yang memiliki mobil di Manado.

Pada umur 16 tahun, Ho merantau ke Ambon. Di sana ia bekerja di perusahaan minyak BPM (Batavsche Petroleum Maatschappij). Di sini, ia menjadi pengikut Yesus. Ia menerima baptisan Yesus pada tanggal 19 April 1935. Baptisan Roh Kudus dialaminya seminggu kemudian, 26 April 1935. Ia menjadi anggota Gereja Pentakosta (De Pinkster Gemeente in Nederlandsche Indie).

Pada tahun 1936, ia memutuskan untuk belajar di Surabaya, di sekolah Alkitab Netherlands Indies Bible Institute (NIBI). Di sana ia tinggal di rumah gurunya, Pdt Frans Gerald van Gessel. Setamat dari pendidikan, tahun 1939, ia memutuskan untuk merintis jemaat di Banda Neira, Maluku. Waktu itu, tahun 1937, Gereja Pentakosta berubah nama menjadi “De Pinkster Kerk in Nederlandsch Indie“. Setahun kemudian, tahun 1940, ia kembali ke Surabaya. Sambil melayani, ia kembali bekerja di perusahaan ekspor-impor Borsumij. Tanggal 26 September 1940, ia menikah dengan Helen Theska (The Koan Nio, meninggal tahun 1992). Pada tahun itu juga perusahaannya memindahkan ia ke Jakarta.

Di Jakarta, ia bekerja di maskapai Borsumij sampai tahun 1942, dan berhenti ketika Jepang menjajah Indonesia. melanjutkan mata pencahariannya dengan menjadi pedagang kecil, yaitu menjual kacang, limun, dan telur. Sementara itu, ia terlibat dalam pelayanan di jemaat, dalam bidang anak dan pemuda. Pada masa pendudukan Jepang, Gereja Pentakosta berubah nama menjadi Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI). Ia menjadi sekretaris pimpinan pusat (Badan Pengurus Umum) GPdI ketika itu. Pada tahun 1945-1946, ia ditugaskan menggembalakan jemaat Pentakosta di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kembali ke Jakarta ia tetap dalam layanan jemaat. Dan di tahun 1950, ia ditugaskan menggembalakan jemaat GPdI di Petamburan, Jakarta. Ia dan istri dikaruniakan tiga anak: Hanna Hosiany Senduk (1944), Steve Hosea Senduk (1947), dan Inge Hosiany Senduk (1954). Mereka juga mengangkat Hadi Satyagraha dan Yosia Satyagraha sebagai anak mereka.

Karena merasa tidak cocok dengan rekan kerja lainnya, pada 9-10 Agustus 1952, di Surabaya, Ho dan beberapa rekannya, mendirikan Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS). Ia menjadi ketuanya (Ketua Badan Penghubung) sejak tahun 1955.

Pada masa kepemimpinannya GBIS menjadi anggota DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia, sekarang PGI). Bersamaan dengan itu pada tahun 1952 ia membentuk yayasan Bethel yang bertugas sebagai pendukung kegiatan gereja dalam pelayanan penginjilan, pendidikan teologi, pendidikan umum, kesehatan, dan sosial lainnya.

Kursus Sekolah Penginjil Bethel (SPB) diselenggarakan sejak tanggal 7 April 1956. Sekolah Pendidikan Guru Agama (Kristen) Protestan dimulai pada tahun 1968, yang sempat berubah nama menjadi Sekolah Menengah Agama Kristen (SMAK) dan kini bernama Sekolah Menengah Theologia Bethel (SMTB). Pada tahun 1968 juga dimulai Akademi Theologia Bethel (ATB). SP, PGA, dan ATB dikenal sebagai Seminari Bethel (SB).

Ia juga aktif di LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) sebagai anggota Badan Pengurus selama tahun 1966-1980. Ia merintis dan pembangun kerja sama dengan salah satu Gereja Pentakosta terbesar di Amerika mulai tahun 1967, yaitu COG (Church of God) yang berpusat di Cleveland, Tennessee, Amerika Serikat. Pendidikan sekolah lanjutan atas diteruskannya melalui pendidikan jarak jauh, dan berhasil tamat dari HBS/LOI (Hogere Buger School/Leid se Onderwijs Instelling) negeri Belanda. Ia mengikuti kursus tertulis jurnalistik dan publisistik dari Leiden dan Rotterdam negeri Belanda untuk mendukung program penerbitan majalah Penyuluh. Setelah itu ia meneruskan pendidikan perguruan tingginya melalui studi jarak jauh di sekolah teologi Americas Bible College dan American Divinity School, Chicago, Amerika, dan dianugerahi gelar D.D. (Doctor of Divinity) pada tahun 1968. Di tahun 1960-an ia mengubah nama menjadi Ho Lukas Senduk.

Jemaat “Eben Haezer” di Jl. Wahid Hasyim 67 Jakarta didirikan pada tahun 1958, dulu disebut Jemaat “Asem Lama”. Beberapa Jemaat yang didirikannya lagi yaitu antara lain: Karang Anyar, Rangkasbitung, dan Sukabumi.

Pada 6 Oktober 1970, di Wisma Oikumene, Sukabumi, Jawa Barat, ia bersama beberapa temannya mendirikan GBI (Gereja Bethel Indonesia) karena tidak dapat bekerja sama dengan rekan-rekan lainnya. Ia menjadi ketua pada Sidang Sinode II, di Jakarta, tahun 1972. Tugas ini, ia kerjakan sampai tahun 1994, Sidang Sinode X GBI, di Jakarta. Selanjutnya ia melayani sebagai Ketua Badan Pembina Rohani GBI.

STE (Sekolah Theologia Extension) didirikannya pada tahun 1972; buku-buku pelajaran ditulisnya sendiri. Ia sempat merintis jemaat baru di Vlaardingen, Belanda selama tahun 1975-1977; sekarang dilayani oleh Dr. S.K. The, Rev. Adrian Koppens dan Ir Steve H Senduk. Tahun 1981, ATB mulai menyelenggarakan program Strata Satu dan merubah nama menjadi Institut Theologia dan Keguruan Indonesia (ITKI) pada tahun 1983. Program Strata Dua dimulai pada tahun 1991. SB pada tahun 1983 berubah nama menjadi Lembaga Pendidikan Theologia Bethel Jakarta (LPTBJ). Ia turut membangun perumahan sederhana di Tangerang pada tahun 1988 melalui YPK (Yayasan Pemukiman Kemanusiaan) yang bekerja sama dengan HFHI (Habitat for Humanity International) di Americus, Georgia, Amerika. la dipilih menjadi anggota Badan Pengurus COG selama 1989-1992; untuk itu ia harus berada di Cleveland selama sebulan setiap tahun. Pada tahun 1990, ia mendapat gelar Profesor Emeritus dari Sekolah Teologi COG. Tahun 1998, ia membuka pelayanan pendidikan teologi jarak jauh melalui Sekolah Tinggi Teologi Terbuka Nusantara.

Pada masa kepemimpinannya, GBI menjadi anggota Dewan Pentakosta Indonesia (DPI), mendirikan Persekutuan Injili Indonesia (PII), dan masuk anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Hingga tahun 2011 GBI memiliki sekitar 5.000 gereja dengan jumlah jemaat sekitar 2,3 juta orang. GBI dan GBI Bethany yang lebih dikenal sebagai Gereja Karismatik

Hormon yang membuat orang mendadak kuat

Ketika seseorang merasa terjepit atau dihadapkan pada situasi yang berbahaya, maka tubuh manusia dapat mengalami perubahan yang luar biasa. Tiba-tiba tubuh menjadi kuaternyata memang ada hormon yang memicu tubuh mendadak menjadi kuat layaknya tokoh Samson. Sehingga jangan heran jika tiba-tiba dalam kondisi darurat orang bisa mengangkat barang berat yang jika dalam kondisi normal tidak mungkin dilakukan.

Rahasianya ada pada kerjasama dua hormon tubuh yakni adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin (norepinefrin), yaitu hormon yang menciptakan keadaan agar bisa membantu kesiapan manusia untuk menghadapi bahaya.

Jadi ketika seseorang merasa takut atau dihadapkan pada situasi yang berbahaya tubuh akan merangsang hipotalamus, yaitu daerah di otak yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan antara stres dan relaksasi di dalam tubuh.

Saat ada peringatan bahaya, tubuh akan mengirimkan sinyal kimia ke kelenjar adrenalin untuk mengaktifkan sistem simpatik. Kelenjar ini kemudian akan mengeluarkan adrenalin dan noradrenalin.

Seperti dikutip dari Howstuffworks, hormon-hormon ini secara bersama-sama bisa meningkatkan denyut jantung, napas yang cepat, pupil mata membesar, memperlambat pencernaan serta memungkinkan otot untuk berkontraksi lebih besar dari biasanya.

Pelepasan hormon ini membuat tubuh lebih siap menghadapi bahaya, sehingga membuat seseorang menjadi lebih gesit, mendapatkan informasi lebih banyak serta membantu seseorang menggunakan lebih banyak energi.

Efek dari adrenalin meningkatkan jumlah massa otot dan kekuatan yang luar biasa. Adrenalin ini juga memungkinkan otot bekerja lebih kuat dibandingkan ketika tubuh dalam keadaan netral atau tenang.

Ketika adrenalin dilepaskan oleh adrenal medulla, darah menjadi lebih mudah mengalir ke otot yang berarti lebih banyak oksigen yang dibawa ke otot sehingga otot bisa bekerja pada tingkat yang lebih tinggi.

Rangka otot yang melekat pada tulang akan diaktifkan oleh rangsangan listrik dari sistem saraf. Ketika dirangsang, otot akan kontraksi yang berarti mempersingkat waktu serta mengencangkan otot. Hal inilah yang membuat seseorang bisa mengangkat barang besar atau melemparkan pukulan.

Adrenalin juga memfasilitasi perubahan glikogen menjadi glukosa yang berarti memberikan energi tambahan bagi otot. Hal ini tentu saja bisa memperkuat otot yang sudah ada.

Beberapa teori menunjukkan manusia hanya menggunakan sebagian kecil kekuatan ototnya. Tapi ketika dihadapkan pada bahaya, seseorang bisa bertindak dengan kekuatan yang melampaui keterbatasan kemampuannya.

Sumber : health.detik.com