Bless the Lord oh My soul

Bless the Lord oh My soul

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan

Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan

Sukacita adalah ciri Utama orang Kristen. bersukacita sebagai ungkapan hati atas kasih karunia Tuhan More »

Spread the word

Spread the word

Sebarkan Berita Keselamatan More »

Janagn risau menghadapi tantangan hidup

Janagn risau menghadapi tantangan hidup

Selalu ada berkat dibalik masalah yang kita hadapi. More »

Bingung memilih Asuransi Jiwa?

Bingung memilih Asuransi Jiwa?

PT Generali Indonesia adalah perusahaan internasional yang berpengalaman sejak tahun 1831. More »

 

Category Archives: Tokoh

Kebangunan Rohani di Herrnhut perintis gerakan Persaudaraan Moravia (Moravian Brethren )

Di dalam 150 tahun pertama usahanya, komunitas Moravia telah mengutus tidak kurang dari 2.158 anggotanya ke luar negeri! Mengikuti perkataan Stephen Neil, “Gereja kecil ini diikat oleh semangat misi yang tidak pernah pupus.”

Unitas Fratum (United Brethren), demikian sebutan mereka, telah meninggalkan catatan yang tiada bandingannya dalam era penginjilan dunia setelah Perjanjian Baru, dan kita perlu melihat kembali beberapa karakteristik utama dari gerakan ini dan menarik pelajaran yang Allah berikan pada kita.

——–

 Para Moravian Brethren yang tinggal di pertanahan Pangeran Nicolaus von Zinzendorf mengadakan pertemuan seperti biasa pada tanggal 13 Agustus 1727. Namun, gelora spiritual telah berkobar sejak beberapa minggu sebelumnya. Selama itu Pula telah berlangsung doa semalam suntuk, pengakuan dosa, pemahaman Alkitab dengan sungguh-sungguh dan pengharapan.

Semuanya meledak pada hari itu. Setelah berkat pengukuhan dinyatakan kepada kedua gadis tersebut, gereja itu pun dilanda keharuan yang dahsyat. Ada yang menangis, ada yang menyanyi, banyak yang berdoa. Tidak ada keraguan di benak mereka tentang apa yang sedang terjadi. Mereka sedang dilawat Roh Allah. Mereka telah mendirikan sebuah “badan” di sini, di Herrnhut, namun saat itu mereka adalah satu dalam roh.

Keadaan tidak selalu menyenangkan bagi orang-orang Moravian. Sebagian besar yang ada di sana ialah orang-orang pelarian dari tempat lain karena penganiayaan. Mereka adalah keturunan spiritual Yohanes Hus – bukan Katolik, bukan Lutheran, bukan Calvinis. Tak ada tempat lagi bagi mereka di dunia ini; bahkan pemimpin besarnya yang terkenal karena keilmuwannya, Jan Amos Comenius, tidak dapat mencarikan tempat bagi mereka. Maka mereka pun bubar.

Pengumpulan kembali berawal pada tahun 1722, ketika Christian David muncul di depan pintu tempat kediaman Pangeran Zinzendorf di Dresden. Zinzendorf adalah Lutheran yang saleh dari keluarga kaya, dan ia sangat berminat melayani Tuhan dengan kemampuannya. Sebenarnya ia pernah berpikir untuk mewujudkan sebuah komunitas yang akan mempraktikkan kesucian kristiani. Sekarang, berdiri pula seorang Moravian di ambang pintunya, dengan permintaan agar kelompok tertindasnya itu dapat tinggal di pertanahan Zinzendorf. Pangeran tersebut mengizinkannya.

Ketika Zinzendorf berkenalan dengan para tamunya,. is merasakan persaudaraan spiritual. la mengundang para Moravian lain ke komunitas baru ini dan mulai mendirikan sekolah serta kedai. Tempat itu dinamakan Herrnhut yang artinya, “penjagaan Tuhan”. Apakah mereka berjaga-jaga akan Tuhan atau mereka dijagai Tuhan? Kedua-duanya.

Sekitar tahun 1725, ada sembilan puluh Moravian di Herrnhut. Menjelang tahun berikutnya, ada 300. Tetapi bersamaan dengan pertumbuhannya datang juga masalah. Para pengungsi datang dari berbagai tempat dan berbicara dengan bahasa yang berbeda. Tentunya kesulitan ekonomi tak terelakkan karena para penghuni baru itu mulai melanjutkan pekerjaan lama mereka. Komunitas itu mencakup juga para Lutheran dan Moravian. Jadi, pertengkaran tentang liturgi gereja pun muncul. Seorang guru yang bermukim di sana adalah orang yang telah diusir dari Gereja Lutheran karena ajaran sesatnya, dan karenanya ia sangat marah. Tentu saja kemarahannya ditujukan kepada Lutheran terkemuka di komunitas tersebut, Zinzendorf. Guru itu berjalan mengelilingi kota dengan berteriak bahwa pangeran tersebut adalah “binatang” yang ada dalam Wahyu. Akhirnya orang tersebut menjadi gila.

Khawatir bahwa komunitas tersebut akan berantakan, Zinzendorf memutuskan untuk menerapkan kepemimpinan. Ia berpindah dari istananya ke komunitas itu sendiri dan mulai mengunjungi anggota-anggotanya. Ia menetapkan berbagai peraturan bagi kehidupan komunitas, yang semuanya disetujui. Komunitas tersebut memilih para penatua untuk memimpin mereka. Karya sosial ditetapkan, dan kelompokkelompok kecil dibentuk bagi pertumbuhan rohani.

Pada musim panas tahun 1727, perbedaanperbedaan sepele mulai memudar. Komunitas tersebut telah bersatu, terfokus, dan kebaktian pada tanggal 13 Agustus itulah yang membuktikannya.

Dalam gelora spiritual ini, berdoa dua puluh empat jam sehari telah ditetapkan. Hal ini berlanjut lebih dari satu abad. Kebaktian-kebaktian Kristen di tempat-tempat lain dijelajahi. Hubungan dengan para Moravian di seluruh dunia diadakan, dan mereka mengembangkan sistem yang melibatkan kebersamaan dan korespondensi. Para pemimpin dilatih mengunjungi kelompok-kelompok lain, dan mengadakan sharing dengan mereka tentang apa yang sedang berlangsung di Herrnhut.

Pada tahun 1732, para Moravian berkembang ke dalam misi-misi di luar negeri dengan mengirimkan Leonard Dober dan David Nitschmann ke Hindia Barat. Pada tahun berikutnya, tiga misionaris Moravian pergi ke Greenland. Pada tahun 1734, beberapa yang lainnya pergi ke Lapland dan Georgia, dan 17 relawan bergabung dengan Dober di St. Thomas. Menjelang 1742, lebih dari 70 Moravian meninggalkan komunitas Herrnhut yang terdiri dari 600 orang, untuk pelayanan misi. Ladang misi tersebut mencakup Suriname, Afrika Selatan, Guyana, Aljazair, Sri Langka dan Rumania.

Zinzendorf, sementara itu, berupaya mendirikan basis yang sah bagi Gereja Moravian di Saxony. Dalam penyelidikannya, ia menemukan konstitusi kuno bagi Unitas Fratrum, asal Gereja Moravian. Ini menunjukkan bahwa para Moravian mempunyai pendahulu historis sama seperti kaum Lutheran, dan itu harus diberi pengakuan. Tetapi, musuh-musuh Zinzendorf menyebabkan dia terbuang dari Saxony pada tahun 1736. Ini mengawali kurun waktu perjalanan bagi sang pangeran dan pemimpin Moravian lainnya. Perjalanan tersebut membawanya ke Amerika tempat ia mendirikan Bethlehem, Pennsylvania, sebagai basis karya misinya di antara para Indian. Di kemudian hari, ia menjadikan London sebagai pusat kegiatan Moravian.

Menjelang kematiannya pada tahun 1760, 226 misionaris dikirim keluar oleh para Moravian. Mereka telah membaptis lebih dari 3.000 orang yang bertobat. Ketika ia sekarat, Zinzendorf berkomentar kepada rekannya, “Sungguh suatu jemaat hebat dari gereja kita yang mengelilingi Anak Domba itu!” Hal itu memang benar.

Gereja Brethren berlanjut hingga hari ini, namun warisannya dapat juga dilihat pada denominasi lain. John Wesley sangat dipengaruhi kaum Moravian dan menggabungkan beberapa perhatian mereka pada gerakan Methodis. William Carey, yang dihormati sebagai orang yang merintis gerakan misi Protestan modern, sesungguhnya mengikuti jejak para misionaris Moravian. “Lihatlah apa yang telah dilakukan para Moravian ini,” tuturnya pada suatu kesempatan. “Apakah kita tidak dapat mengikuti contoh mereka dalam kepatuhan kepada Guru Surgawi kita, pergi ke tengah-tengah dunia dan mengabarkan Injil kepada orang-orang kafir?”

Dikutip dari blogspot.com

Pertobatan John Wesley tahun 1738

Ketika masih berusia lima tahun, John Wesley hampir saja tewas dalam kebakaran yang telah melalap pastorin ayahnya. Sungguh ia adalah “api yang dipetik dari kebakaran itu”, seorang yang akan dipakai Allah untuk menyulut iman pada ribuan orang.

Namun ketika John pergi ke Oxford untuk belajar menjadi pendeta dan kemudian membantu jemaat Anglikan ayahnya selama beberapa tahun, keresahan pun mulai meliputi dia. Meskipun ia tahu doktrin-doktrin keselamatan, namun semuanya itu belum menyenangkan hatinya.

Pada tahun 1729 John kembali ke Oxford. Adiknya, Charles telah memulai “Holy Club” (Klub Suci), yang tidak lama kemudian dipimpin John. Mereka dijuluki Methodis oleh orangorang yang ingin mencemarkan mereka, karena mereka menggunakan metode-metode keras dalam pencarian kesucian. Anak-anak muda itu mencari keselamatan, namun latihan-latihan devosional yang amat keras pun tidak memberi kedamaian kepada John. Seperti Luther, Wesley berupaya mendapatkan anugerah Allah dan menemukan kekosongan.

Pada tahun 1735, John dan Charles pergi ke Georgia dalam suatu perjalanan misioner. Ketika melintasi Samudra Atlantik, John terkesan dengan beberapa orang Moravian. Ketika kapal mereka dihantam badai, John gemetar karena takut, sementara para Moravian dengan tenang menyanyikan pujian.

Charles hanya berdiam selama satu tahun di Georgia. Ia pulang karena kesehatannya. Meskipun John tinggal, namun pelayanannya tidak berjalan mulus. Ia mengikuti jejak saudaranya kembali ke Inggris menjelang tahun 1738. Ia diundang pada pertemuan Moravian di Aldersgate Street, London, dan pada tanggal 24 Mei ia menghadirinya dengan “setengah hati”. Pada pertemuan tersebut, ketika seorang membacakan tafsiran Luther tentang Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma, Wesley berkata, “Kira-kira pukul sembilan kurang lima belas, ketika ia sedang menggambarkan perubahan yang diadakan Allah dalam hati melalui iman kepada Kristus, aku merasakan kehangatan dalam hati. Aku merasakan bahwa aku benar-benar percaya kepada Kristus, hanya Kristuslah keselamatan; dan suatu jaminan telah diberikan kepadaku bahwa Ia telah menyingkirkan dosa-dosaku, dan telah menyelamatkan daku dari hukum dosa dan maut.”

Wesley dan saudaranya, Charles, yang telah bertobat tiga hari sebelumnya, membawa berita anugerah baru ini dan mengajarkannya di mana saja. Seorang lagi anggota Holy Club, George Whitefield, menerima Kristus pada waktu yang bersamaan. Bersama-sama mereka akan menuntun Inggris dan Amerika menuju kebangkitan kembali.

Ketika Gereja-gereja Anglikan yang bermusuhan menutup pintu bagi berita ini, anak-anak muda tadi berbicara di mana saja, tempat-tempat umum atau lapangan terbuka. Tidak seperti Gereja Anglikan, yang hanya melayani kaum aristokrat, pendengar mereka adalah kaum miskin di Inggris, yang kelaparan akan harapan. Orang-orang mengelilingi mereka ketika mereka berkhotbah.

Meskipun Wesley berpendapatan besar melalui tulisan-tulisannya, ia hidup sederhana dengan membagi-bagikan kelebihan uangnya. Ia bertekad menyambut mereka yang berasal dari kelas rendah.

Wesley tanpa merasa letih mengadakan perjalanan sejauh 250.000 mil dengan menunggang kuda, mengajar di seluruh Inggris dan Skotlandia. la membentuk perkumpulan orang-orang percaya di setiap kawasan, dan ketika gerakan tersebut bertumbuh, ia menunjuk para pengajar lain dengan menempatkan seorang bagi satu distrik. Perkumpulan-perkumpulan tersebut, lebih lanjut, dipecah menjadi kelas-kelas rekanan dan kelompok-kelompok doa. Organisasi rumit yang dicap Methodis ini membantu gerakan itu bertahan.

Wesley bersaudara tidak berniat berpisah dari Anglikanisme. Sesungguhnya mereka ingin melihat pembaruan berlangsung dari dalam gereja. Perpecahan itu berlangsung pelan. Ketika pada tahun 1784 John mempersiapkan kelanjutan Methodisme setelah kematiannya, Charles tidak menyetujui perpecahan itu.

Meskipun berada di bawah bayang-bayang kakaknya, Charles pun punya andil yang cukup besar dalam Methodisme. Ia sangat dikenal akan kidungnya, termasuk “O for a Thousand Tongues”, “And Can It Be?” dan “Hark the Herald Angels Sing”. Tidak seperti gereja Anglikan yang selalu terikat pada Mazmur, dari awal para Methodis merupakan gerakan bernyanyi — sebagian besar karena Charles yang berbakat dalam menyusun kata-kata.

Methodisme telah mengubah masyarakat Inggris dengan perlahan. Meskipun setia pada status quo politik, Methodisme telah membangkitkan semangat liberal yang membawa Inggris ke keadaan yang lebih baik. Banyak sejarawan memuji orang-orang Methodis karena tidak memicu revolusi berdarah seperti yang dialami orang Perancis pada akhir abad kedelapan betas.

 

Dikutip dari blogspot.com

Glenn A.Cook tokoh Pentakosta

Glenn A.Cook (1867-1948)
glenn-cook

Glenn A.Cook adalah wartawan koran di Los Angeles yang pada mulanya menolak validitas khotbah William Seymour dan mencari bukti untuk memperbaiki apa yang semula dipercayainya sebagai kesalahan doktrinal.
Tetapi dia segera mengubah pikirannya dan menjelaskan :”Setelah meminta maaf pada Pendeta Seymour dan yang lainnya atas semua kata-kata saya yang keras. Saya bersujud dan mulai berdoa…Saat saya hampir putus harapan,Roh Kudus turun atas saya saat saya berbaring di tempat tidur di rumah. Saya merasa seperti mengalami trance selama 24 jam dan pada keesokan harinya dalam ibadah saya mulai berbicara dalam bahasa lidah.” Cook kemudian menjadi manajer usaha di Apostolic Faith Mission dan menolong Seymour menerbitkan The Aposyolic Faith. Pada tahun 1907 dia memperkenalkan pesan Pantekosta di Indianapolis. Pada tahun 1914, setelah dibaptis ulang dalam nama Yesus, Cook menjadi pelayan pionir dalam gerakan Oneness Pentecostal – Kesatuan Pentakosta.

Sumber: Majalah Charisma September 2006

Chuck Norris : Rencana Tuhan Lebih Besar

Chuck Norris

Rencana Tuhan Lebih Besar

Kebanyakan orang akan mengatakan, Chuck Norris telah meraih puncak sukses. Enam kali juara dunia karate, membintangi lebih dari 23 film serta menulis dan memproduksi serial populer televisi, Walker, Texas Ranger. Namun, sukses tidak mampu menyelamatkan keluarga Norris pada malam saat mereka menghadapi krisis yang mengancam kehidupan.

Norris benar-benar merasa tak berdaya saat istrinya, Gena, terpaksa melahirkan anak kembar mereka secara prematur. Namun, Norris juga tahu, ia dapat bersandar hanya kepada Tuhan. Ia mengenang peristiwa pada malam mencekam itu dalam otobiografinya, “Against All Odds: My Story”, ditulis bersama Ken Abraham, diterbitkan Broadman & Holman (2004).

“Saya telah mengumpulkan jutaan dolar sepanjang hidup saya,” tulisnya. “Saya bersahabat dengan beberapa presiden [AS], namun seluruh uang di rekening bank saya saat ini tidak dapat menolong…. Hanya ada satu Orang yang kepada-Nya saya dapat berpaling.” Itu adalah Tuhan. Ia telah menyertai Norris sepanjang hidupnya, dan kali ini pasti tak berbeda.

“Tuhan Punya Rencana Untukmu”

Charlos Ray Norris dilahirkan 10 Maret 1940 di tengah keluarga miskin. Ayahnya pecandu alkohol, dan mereka sekeluarga sudah pindah rumah 16 kali saat ia mencapai usia 15 tahun. Ibu Norris, seorang Kristen yang teguh dan pejuang doa, tidak pernah menyerah atau membiarkan anak-anaknya menyerah di tengah kondisi sulit tersebut.

“Tuhan punya rencana untukmu,” katanya kepada anak laki-lakinya setiap hari, menanamkan keyakinan dan keteguhan hati.

Iman ibunya ini merupakan teladan yang luar biasa bagi Norris muda. Ibunyalah yang bersikeras, agar mereka sekeluarga tetap ke gereja di mana pun mereka tinggal. Norris mulai mengalami hubungan pribadi dengan Yesus Kristus sejak dini, dan ia mendedikasikan kembali hidupnya kepada Kristus saat dewasa muda ketika ia mengikuti kebaktian Billy Graham.

Menurut Norris, ibunya terus menanamkan pengaruh yang besar bagi hidupnya. “Ia mengasihi Yesus dengan segenap hati dan jiwa, dan memastikan bahwa kami memahaminya,” katanya. “Ia mempengaruhi saya secara rohani dan menanamkan sikap bertanggung jawab yang saya bawa sampai dewasa. Ia selalu mengatakan, ‘Tuhan punya rencana untukmu.’ Semula saya tidak memahami apa maksudnya. Sekarang saya rasa saya memahaminya.”

Menemukan Pengampunan

Kariernya dimulai saat ia menjadi pilot yang ditempatkan di Korea untuk belajar bela diri. Pada mulanya ia bukan orang yang kuat, dan sukses tidak diraihnya secara gampangan, namun dalam delapan tahun, Norris berhasi menjadi juara dunia. Ia merupakan orang kulit pertama yang menyandang sabuk hitam tingkat delapan (grand master) dalam Tae Kwon Do.

Sukses dalam karate membuatnya menanjak dan terkenal. Ia membuka sekolah-sekolah karate dan muncul di televisi. Akhirnya Hollywood pun meliriknya, dan tidak lama kemudian ia tampil dalam film pertamanya.

Namun, seiring dengan kesuksesan dan kemasyhuran, kehidupan pribadinya justru berantakan. Norris dan istri pertamanya, Dianne, bercerai setelah 30 tahun menikah. Saat dua anak laki-laki mereka beranjak besar dan hidup mandiri, keterpisahan itu tak ayal mempengaruhi hubungan mereka. Meskipun sudah bercerai, ia dan Dianne tetap bersahabat.

Sepuluh tahun kemudian, kehidupannya berbelok tajam. Sepucuk surat dari putri yang tidak dikenalnya sampai di kotak suratnya. Pada tahun pertama pernikahannya, Norris berselingkuh saat bertugas jauh dari rumah. Ia tidak tahu bahwa pengalaman itu telah menjadikannya seorang ayah.

Sungguh sulit bagi sosok seterkenal Norris untuk mengungkapkan pergumulan dalam sebuah buku yang akan dibaca banyak orang. Namun, Norris dan istri barunya menganggap tema pengampunan sebagai bagian penting dari kisah mereka. Putrinya dan suaminya sekarang menjadi bagian keluarga mereka, dan kesembuhan emosi pun melanda keluarganya – antara Norris dan ibu Deanna, antara Norris dan mantan istrinya, serta hubungan yang baru antara anak-anak laki-lakinya dan saudari tiri mereka.

“Semua ini adalah kelemahan manusia; kita semua mengalaminya, kita semua berdosa,” kata Norris. “Namun dalam kasus saya, dosa yang kemudian membuahkan putri saya telah diubah menjadi berkat. Saya tidak dapat membayangkan kehidupan saya tanpa dia dan anak-anaknya, tiga cucu saya.”

Mengadakan Program KICKSTART

Saat ini, anak-anak sangat penting bagi Norris. Setelah masa kehamilan yang sukar, Gena melahirkan dua anak kembar yang sehat – laki-laki dan perempuan, sekarang tiga tahun. Ia juga melanjutkan kiprahnya dalam program KICKSTART bagi anak-anak sekolah menengah. Semua keuntungan dari bukunya akan disumbangkan bagi program tersebut.

Lebih dari 30.000 anak telah lulus dari program itu, yang saat ini dijalankan di 37 sekolah. Meskipun fokusnya pada bela diri, program itu juga menawarkan banyak hal lain bagi anak yang mengikutinya – kebanyakan dari kawasan kumuh perkotaan. Anak-anak itu dibangun harga dirinya.

“Banyak yang melanjutkan kuliah, dan salah satu di antaranya baru lulus dari MIT melalui beasiswa,” kata Norris bangga.

Ia sangat bersemangat dengan program tersebut, nyaris sebesar hasratnya akan kehidupan imannya. Menurut pengakuannya sendiri, ia bertumbuh semakin kuat dalam hubungan dengan Tuhan selama sepuluh tahun terakhir ini. Namun, Norris merasa frustasi pada mayoritas orang Kristen yang enggan berbicara tentang persoalan iman.

Ia dan Gena mendorong agar Alkitab kembali digunakan di sekolah umum. Mereka juga mendukung National Council of Bible Curriculum in Public Schools, yang bertujuan memadukan Alkitab sebagai bagian dari pelajaran fakultatif sejarah dan sastra.

Lalu, apa lagi yang masih ingin dilakukan oleh bintang laga bersuara lembut ini? Sebagai anggota Prestonwood Baptist Church di Dallas, ia dan Gena berharap nantinya dapat terlibat dalam pelayanan misi bila anak-anak mereka sudah lebih besar. Mereka juga ingin terus memantapkan program KICKSTART.

“Kami rindu untuk menolong jutaan anak dan memperlihatkan kepada mereka bahwa mereka tidak perlu menyerah,” kata Norris. “Tantangan tidaklah terlalu tinggi bagi mereka untuk mewujudkan impian mereka. Saya ingin mereka menyadari, kalau saya dapat mengatasi perkara-perkara dalam hidup saya, tentunya mereka juga dapat melakukan hal yang serupa.” *** (Diterjemahkan dari Baptist Press News)

— Dimuat di Bahana, April 2005.

1

William Seymour, tokoh utama kegerakan Asuza Street

William Seymour

Gembala Kulit Hitam dari Azusa Street

William Joseph Seymour lahir di Centerville, Louisiana, 2 Mei 1870, dalam keluarga bekas budak penganut Baptis, Simon dan Phyllis Seymour. Pada umur 25 tahun, ia pindah ke Indianapolis, bekerja sebagai penjaga rel kereta api dan kemudian sebagai pelayan restoran. Pada masa inilah ia terserang cacar, yang mengakibatkan mata kirinya buta.

Tahun 1900 ia pindah ke Cincinnati dan bergabung dengan Church of God. Di sini ia mendalami teologi Kekudusan radikal. Teologi ini mengajarkan pengudusan sebagai pengalaman pascapertobatan menuju kekudusan sempurna, kesembuhan ilahi, premilenialisme, dan janji akan pencurahan Roh Kudus di seluruh dunia sebelum terjadinya pengangkatan.

Tahun 1903 ia pindah ke Houston, Texas, mencari keluarganya. Di sana ia bergabung dengan gereja kecil beraliran Kekudusan yang digembalakan oleh seorang wanita kulit hitam, Lucy Farrow. Tidak lama kemudian Farrow memperkenalkannya dengan Charles Fox Parham, seorang pengajar Kekudusan. Murid-murid yang dilayaninya mengalami karunia berbahasa lidah (glossolalia) dua tahun sebelumnya. Bagi Parham, itu adalah “bukti Alkitabiah” dari baptisan Roh Kudus. Ketika ia mendirikan sekolah Alkitab “Apostolic Faith” di Houston, Farrow mendorong Seymour mengikutinya.

Karena hukum di negara bagian Texas melarang orang kulit hitam duduk dalam ruangan kelas bersama orang kulit putih, Parham meminta Seymour mendengarkan kuliahnya di koridor. Seymour menerima uraian Parham tentang baptisan Roh Kudus “berkat ketiga” dengan bukti berbahasa roh. Meskipun secara pribadi Seymour belum mengalami karunia bahasa lidah, ia kadang-kadang berkhotbah tentang hal itu bersama Parham di gereja-gereja Houston.

Pentakosta di Los Angeles

Pada awal 1906, Seymour diundang untuk membantu Julia Hutchins, gembala gereja Kekudusan di Los Angeles. Dengan dukungan Parham, Seymour pergi ke California, memberitakan doktrin Pentakosta baru dengan Kisah Para Rasul 2:4 sebagai nasnya. Namun, Hutchins menolak pengajaran Seymour tentang bahasa lidah dan menutup pintu baginya dan pengajarannya.

Seymour kemudian diundang untuk tinggal di rumah Richard Asberry. Pada 9 April, sebulan setelah berdoa dan berpuasa secara intensif, Seymour dan beberapa orang lain berbicara dalam bahasa roh. Berita segera tersebar tentang peristiwa ganjil di kediaman Asberry ini dan menarik banyak perhatian. Seymour harus berkhotbah di serambi kepada kerumunan orang di jalan. Suatu saat, karena begitu banyaknya orang yang berdesakan, lantai serambi itu ambruk.

Seymour pun menyusuri Los Angeles untuk mencari gedung yang memadai. Ia menemukan bekas gereja African Methodist Episcopal di Azusa Street, yang saat itu digunakan sebagai gudang dan kandang. Dibantu beberapa tukang cuci wanita, pelayan dan pekerja, ia membersihkan gedung berantakan itu, menyusun kursi papan, dan membuat mimbar dari kotak sepatu. Kebaktian dimulai pada pertengahan April, dan gereja itu dinamai “Apostolic Faith Mission”.

Peristiwa yang berlangsung di Azusa Street sepanjang tiga tahun berikutnya benar-benar mengubah jalannya sejarah gereja. Gedung kecil berukuran 40 X 60 kaki itu dipadati sampai 600 orang, dan ratusan orang lainnya melongok dari jendela. Yang menjadi pusat perhatian adalah bahasa lidah, selain gaya ibadah tradisional kaum kulit hitam yang penuh dengan teriakan, trance dan tarian kudus. Tidak ada tata ibadah khusus karena “Roh Kudus yang memegang kendali”. Para pelayan mimbar dengan penuh gairah berdoa bagi orang-orang yang menginginkan karunia berbahasa lidah. Tempat itu sangat ribut, dan ibadah berlangsung sampai jauh malam.

Meskipun liputan koran lokal secara sinis menyebutnya sebagai “celotehan ganjil tak karuan”, berita itu menggugah minat warga kota. Ada satu jemaat yang datang berbondong-bondong ke Azusa Street dan menetap di sana, meninggakan gereja lama mereka. Pusat-pusat Pentakosta lainnya segera bermunculan di seluruh kota.

Orang yang membuat laporan tentang semua peritiwa ini adalah Frank Bartleman, pengkhotbah Kekudusan dan pekerja misi penyelamatan yang melayani berkeliling. Kepada Way of Faith di Carolina Selatan ia menulis, “Pentakosta telah melanda Los Angeles, Yerusalemnya Amerika.” Laporannya menyebarluaskan keingintahuan akan kebaktian di Azusa Street itu ke seluruh negeri.

Bulan September, Seymour mula menerbitkan korannya sendiri, The Apostolic Faith. Pada puncaknya, koran ini disebarkan secara gratis ke sekitar 50.000 pelanggan di seluruh dunia.

Rekonsiliasi Rasial

Banyak orang yang datang untuk mencemooh. Namun, banyak pula lainnya yang mendengarkan khotbah dalam bahasa asing tertentu (bukan bahasa Inggris) disampaikan oleh orang kulit hitam dan kulit putih yang tidak terpelajar. Hal ini meyakinkan mereka bahwa ini sebuah kebangunan rohani. Tidak lama kemudian orang kulit putih menjadi mayoritas anggota dan pengunjung gereja tersebut. Tangan-tangan orang kulit hitam terulur ke atas kepala orang-orang kulit putih, mendoakan mereka untuk menerima karunia berbahasa roh.

Pengunjung Azusa yang kemudian menjadi tokoh terkenal di kalangan Pentakosta, antara lain Gaston B. Cashwell (membawa Pentakosta ke gereja-gereja Kekudusan di wilayah selatan), Charles Mason (memimpin Church of God in Christ masuk ke kalangan Pentakosta; sekarang menjadi denominasi Pentakosta kulit hitam terbesar di Amerika), dan William Durham (perintis Sidang Jemaat Allah).

Bagi Seymour, bahasa roh bukanlah satu-satunya berita dari Azusa Street. “Jangan keluar dari tempat ini berbicara tentang bahasa roh; berbicaralah tentang Yesus,” tegasnya. Berita lain yang ditekankan olehnya adalah rekonsiliasi rasial. Orang kulit hitam dan kulit putih bekerja sama dalam keharmonisan di bawah pimpinan seorang gembala kulit hitam. Ini benar-benar suatu keajaiban pada saat segregasi rasial masih sangat kental. Bartleman menyanjung, “Di Azusa Street, perbedaan warna kulit terhapus oleh Darah Yesus.” Seymour bermimpi membangun suatu jenis gereja yang baru. Dalam gereja ini, semua orang mengalami Roh Kudus sehingga tembok-tembok perbedaan rasial, etnis dan denominasi dapat diruntuhkan.

Impian Seymour berantakan bahkan sebelum “hari-hari yang mulia di Azusa Lama” berakhir. Ketika gurunya, Charles Parham, mengunjungi Azusa pada Oktober 1906, Parham tersentak oleh pemdangan yang disaksikannya dalam kebaktian. Ia menganggapnya sebagai antusiasme agamawi yang tidak terkendali. Ibadah yang emosional dan percampuran antara orang kulit putih dan kulit hitam sangat melukai perasaannya. Meskipun Seymour mengakuinya sebagai “proyektor” gerakan ini, para penatua Azusa Street menolak Parham.

Mungkin tantangan paling berat dihadapi Seymour tahun 1909. Dua pekerja wanita kulit putih pindah ke Portland, Oregon, membawa daftar alamat pelanggan The Apsotolic Faith. Hal ini memutuskan hubungan Seymour dengan para pengikutnya, dan kepemimpinannya atas pergerakan yang baru muncul ini pun berakhir.

Setelah “tahun-tahun kemuliaan” dari 1906 sampai 1909, gereja Azusa Street menjadi gereja kecil bagi warga kulit hitam yang digembalakan Seymour sampai ia meninggal pada 28 September 1922. Istrinya, Jennie, meneruskan penggembalaan, sampai ia meninggal pada tahun 1936.

Tahun 2000, William Seymour dipilih pembaca majalah Christian History sebagai salah satu dari 10 tokoh paling berpengaruh abad kedua puluh. Keturunan rohaninya, kalangan Pentakosta dan kharismatik, berjumlah sekitar 500 juta penganut, golongan Kristen terbesar kedua di dunia. Saat ini, secara praktis semua gerakan Pentakosta dan kharismatik dapat merunut akar mereka secara langsung maupun tidak langsung pada gereja sederhana di Azusa Street dan gembalanya. ***

Sumber: Vinson Synan/Christian History

© 2003 Denmas Marto

Kisah hidup Pdt.Philip Mantofa

Kesaksian Kisah Sukses Philip Mantofa: “Gunakan Imanmu”

 
Philip Mantofa lahir di Surabaya pada tanggal 27 September 1974, dia merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara. Semuanya laki-laki. Waktu kecil Philip sering step dan kejang-kejang. Dalam kekalutan ibunya berkata kepada Tuhan: “Tuhan, jangan diambil! Anak ini saya berikan kepadaMu! Jaga dia, Tuhan!” Setelah agak besar, Phlip masih mengalami kesulitan untuk berjalan. Oleh Dokter disarankan untuk memakai sepatu dari besi yang biasa digunakan untuk anak yang cacat karena polio. Hal ini membuatnya menjadi minder dan tidak mau keluar rumah.
Papa Philip walaupun bukan orang Kristen, tetapi mengijinkan Philip mengikuti sekolah minggu di gereja. Waktu Philip akan masuk SD, orang tuanya menyekolahkan ke Taiwan. Hal ini untuk sekalian perawatan kesehatannya. Bersama dengan kakaknya Maxixe, Philip sekolah di Ho Bu Guo Xiao, Taipei, Taiwan. Kenakalannya menjadi-jadi saat mulai sekolah di Taiwan. Philip gampang sekali emosi, marah dan berkelahi dengan teman-temannya.
Tak lama kemudian mereka pulang ke Indonesia dan bersekolah di SDK St. Aloysius, Kepanjen Surabaya. Tiap hari Philip berkelahi dan itu terus berulang sampai ia masuk SMP. Suatu saat pernah ada kakak kelasnya yang tidak terima dan mengajak seorang tentara untuk membunuh Philip. Dengan berbagai pertimbangan orang tuanya menyekolahkannya ke Singapura.
Di Singapura, ia terlibat dalam okultisme, dari mempelajari buku yang dibeli di Singapura. Saat sekolah ia mengalami pelecehan seks oleh pembimbing / guru lesnya. Hal itu menambah kepahitan dalam hidupnya. Selain itu Philip sering berkelahi dengan anak-anak di lingkungannya.
Kedua orang tua Philip kemudian menyekolahkannya ke Kanada bersama kedua saudaranya. Dibawah bimbingan Pdt Sonny, Gereja “Emmanuel Indonesian Christian Fellowship”, semua roh-roh jahat dilepaskan. Hal itu tidak berlangsung secara mudah, tetapi membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Philip dibaptis di gereja itu dan mulai dibentuk karakternya oleh Tuhan.
Ketika memutuskan untuk kuliah di Sekolah Theologia, dia takut mengutarakan keinginannya itu kepada ayahnya. Karena ayahnya belum mengenal Tuhan. Selama 3 hari ia mengurung diri di kamar. Ia berdoa, stress! Saat ia mengatakan ke ayahnya, diluar dugaan ayahnya cuma menjawab pendek “Oke, bagus, Lip! Papa dukung!”
Philip menyelesaikan studinya di Columbia Bible College Canada, dan diwisuda pada 20 April 1996. Semua itu dilaluinya dengan tidak mudah. Ia sempat praktek di Ungaran Jawa Tengah pada tahun 1994. Philip harus adaptasi dengan lingkungan yang ada. Tetapi semuanya itu dijalani dengan suka cita.
Saat ia ulang tahun, papanya bermaksud membelikan mobil Mercedes. Tapi ia menolak, alasannya, anak-anak rohaninya banyak yang masih jalan kaki atau naik angkutan umum, mana mungkin dia sebagai bapak rohani naik Mercedes.
Philip menikah dengan Irine dan memiliki seorang anak perempuan bernama Vanessa. Irine menceritakan perkenalan dengan Philip. Sebagai istri hamba Tuhan, ia menyadari kalau harus berbagi dengan Tuhan.
 
Pelayanan Philip berhasil karena cintanya dengan Tuhan. Ia selalu membaca Firman dan berdoa setiap hari. Pada saat penyembahan dilakukan lawatan Tuhan hadir, sehingga membuat orang-orang disekelilingnya menangis. Padahal penyembahan yang dilakukan sama dengan yang orang lain lakukan.
 
Pada suatu retreat tahun 2003, ketika dalam suasana penyembahan, tiba-tiba Siane (penulis buku), dapat melihat adanya kabut tipis dua lapis turun dan naik secara teratur di sekeliling tubuhnya. Dan ketika acara tersebut berakhir, hampir seluruh area altar dipenuhi oleh kabut tipis itu. Bapak Ongky, bagian multimedia, mengisahkan saat akan mengarahkan gambar ke Philip, gambarnya menjadi kabur. Sedangkan bila kamera diarahkan ke peserta retreat, gambar yang dihasilkan tampak terang dan jelas.
Di dalam acara Festival Kuasa Allah, banyak mujizat dan kesembuhan terjadi. Seorang bapak yang lumpuh berkata seperti dialiri air yang sejuk dan bapak itu bisa langsung melompat berdiri. Juga seorang ibu yang lumpuh kaki kanannya dan harus berjalan dengan tongkat. Ia merasa sesuatu yang panas menjamahnya dan ia bisa berjalan tanpa menggunakan tongkatnya. Halleluya.
 
Mengenai imannya, ada cerita yang mengesankan. Waktu KKR di Salatiga. Semua orang sudah siap di lapangan ketika hujan deras tiba-tiba membuyarkan acara. Semua orang semburat mencari tempat berteduh termasuk pemimpin pujiannya. Padahal KKR harus dimulai. Waktu itu Pak Philip maju dan mengambil mic. Ia menaikkan satu pujian dan menyanyikannya berulang-ulang. Melihat itu, semua orang mau tidak mau maju ke panggung. Kemudian apa yang terjadi setelah itu ? Hujan itu cuma bertahan sekitar 10 hingga 15 menit. Setelah itu berhenti.
Begitu berhenti Philip langsung memberikan mic nya kepada song leader sambil berbisik ditelinganya. “Lain kali kalau menghadapi situasi seperti ini gunakan imanmu.”
Melalui Pendeta Philip Mantofa, banyak anak muda terpanggil, menjadi pekerja pelayananfull timer.
YESUS KRISTUS mengasihi Anda..
 
————————————————————————————————————————–
Before 30 (Kisah dan Prinsip Kehidupan Philip Mantofa
Penulis : Philip Mantofa, BRE dan Sianne Ribkah M.H
 
 
ORDINARY MAN
 
“Itu Pasti Philip”
Philip lahir tanggal 27 september 1974. Dia anak kedua dari tiga bersaudara. Dari sejak berada di kandungan sampai ia lahir, semua tampak baik-baik saja.
Pada waktu Philip berumur 2 atau 3 bulan Philip mengalami sebuah peristiwa yang cukup berbahaya. Pd waktu ibunya sedang bekerja, ia terjatuh dari ranjang tempat ia tidur dan mulai saat itu Philip sering mengalami sakit kejang 
 
– kejang.
”Tuhan, Jangan Diambil”
Walaupun Philip sedang sakit step (kejang), ibunya sering meninggalkannya untuk bekerja sehingga ibunya tidak dapat mengontrol kesehatan Philip 100 %. Dalam keadaan demikian, ibunya mengikuti saran teman2 nya untuk membeli obat secara teratur, namun tetap saja ia masih mengalami sakit kejang. Dalam setiasi kalut seperti inilah ibunya berkata “Tuhan, jangan diambil”. inilah perjanjian antara ibunya dengan Tuhan.
“Ma, aku di rumah saja”
Waktu kecil ia sangat lemah sekali, ia sangat sulit berjalan karena kakinya sangat lemah. Karena hal inilah Philip harus menggunakan sepatu besi untuk menopang kakinya untuk berdiri. Namun ternyata pemakainan sepatu besi ini membuatnya tidak nyaman untuk berdiri, sehungga pada saat ketika ibunya mengajaknya pergi ketempat yang ia suka, ia berkata, “Ma, aku di rumah saja”.
”Tuhan, Ubah Hatinya”
Ibu Philip pernah berjanji kepada Tuhan kalau anak-anaknya berumur 3,5 tahun dia akan membawa mereka ke gereja. Pada saat ibu Philip mengucapkan janji itu, ayah Philip belum percaya kepada Tuhan. Papa Philip marah krn hal itu dan untuk menghindari pertengkaran, ibunya lebih memilih untuk mengalah. Dan lebih memilih untuk berdoa, dan dalam setiap doanya, ia berkata “Tuhan, ubah hatinya”, dan ajaib Tuhan menjawab doanya.
 
”Mana Mungkin Bisa?”
Suatu hari ada sebuah perlombaan melukis tingkat TK, dan Philip mengikuti acara tersebut. ia meminta spidol warna kepada ibunya, dan ibunya berkata “Mana mungkin bisa?”. Ternyata Philip jadi juara satu, dan ibunya sendiri tidak percaya hal tersebut. setelah saat itu dia dikirim ke Taiwan untuk bersekolah dan kemudian di sanalah ia bertobat.
“Apa Saja Yang Dia Pegang Pasti Patah”
Sekalipun waktu kecil kakinya lemas dan ia sering sakit2tan, ternyata sebenarnya ia adalah anak yang kuat. Hal ini terlihat ketika ia pindah ke Taiwan, dia terlihat begitu kuat. Ketika ia memegang kunci, kunci bisa patah, pada waktu ayah dan kakanya mendorong sebuah batu besar namun tidak bisa, sedangkan Philip bisa melakukannya sendiri. Seperti ada sesuatu yang sulit untuk digambarkan.
“Mengapa Mama Pergi?”
Setelah di Taiwan kenakalan Philip semakin menjadi – jadi, ia suka bermain orang-orangan (boneka yang berbentuk manusia). Dan lebih parah lagi ketika ibunya menyurhnya belajar ia tidak menuruti sema sekali, ia malah mengusir ibu nya dengan berkata ibu saja ke Indonesia, dan esoknya ibunya memang pergi. ?
 
“Prinsip-Prinsip Hidup Philip Mantofa”
Baginya orang tua adalah wkil dari Tuhan di bumi. Tuan member perintah untuk menghormati orang tua, dan anehnya dari ke 10 perintah yang Ia berikan, perintah ini adalah perintah yang paling mudah karena sudah pasti semua orang memiliki orang tua. Namun tidak semudah yang kita bayangkan, buktinya tidak semua orang bisa melakukannya
Setelah ia memenuhi panggilan Tuhan banyak hal yang terjadi dalam hidupnya, kadang kala ia harus rela disalah mengerti demi keberhasilan Kristus untuk membentuk karakternya.
“Saya belajar dari Papa saya”
Papanya adalah orang yang sangat baik, ia begitu cepat mengulurkan tanganya untuk menolong orang lain. Papanya lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingannya. Dari sinilah Philip belajar tentang “seni melayani”. Dari sinilah kemudia ia sering belajar melakukan pelayanan dari hal-hal yang sederhana.
“Saya meninggalkan jubah kerasulan saya ketika saya berada di rumah”
Pada saat Philip melayani, ia begitu luar biasa. Disaat ia mendoakan ibu, kakak dan papanya, mereka semua bisa renbah kelantai. Pada saat ia mengadakan KKR, tantenya maju kedepan dan rebah. Pada saat ibadah dan dalam hadirat Tuhan, ia adalah milik Tuhan dan mereka lading Tuhan. Ada kalanya ia memakai jubah pengurapannya namun ada kalanya pula ia hanya sebagai seorang Philip biasa. Ia menanggalkan jubah kerasulannya pada saat ia dirumah.
 
 
I SAW JESUS
“Prok! Prok! Prok! Prok!”
Pada suatu hari Philip diserang oleh setan dengan cara mencekek lehernya. Dan pada saat itu ia seperti mendengar suara seperti sepatu besi yang digunakan oleh para prajurit, Prok!, Prok!, Prok! Prok!. Philip igin memanggil kakanya namun ada suara yang berbisik “kamu hanya bereani kalau kakakmu ada”karena kakanya sering ke gereja jadi setidaknya ia pernah mendengar nama Yesus yang penuh kuasa.
“Ada malaikat malaikat Yang mengitari rumah kita dari atas”
Setelah kejadian itu mau tidak mau ia harsu tidur dengan kakaknya. Pada saat itu kakaknya berdoa dan meminta ampun serta perlindungan kepadanya. Selesai berdoa kakaknya mendapat penglihatan yaitu terbang ke atas rumah mereka dan pada saat itu ia melihat begitu banyak mahluk yang bersayap yang ternyata adalah malaikat. Dan pada saat itulah ia sadar bahwa Tuhan telah menjawab doanya dengan cara mengirim malaikat-Nya keatas rumah mereka.
“Ia mendengar setan menyanyi dalam bahasa Kanton”
Pada saat pertama kali Philip belajar berdoa, ia mendengar suara orang yang bernyanyi dalam bahasa kanton (bahasa orang hongkong) padahal pada saat itu ia hanya seorang diri di sana. Oleh sebab itu ia memutuskan untuk pindah ke kamar kakaknya.
“Mendapat karunia bahasa Roh di kamar Mandi”
Setelah ia bertobat, menyerahkan hidupnya secara penuh kepada Tuhan, ia mulai rajin berdoa dan membaca alkitab setiap hari. Pada saat ia sedang suntuk ia paling suka pergi ke WC nya untuk berdoa, ia menenteng gitarnya untuk menyembah Tuhan. Dan disanalah ia mendapat karunia bahasa Roh.
“Prinsip hidup Philip Mantofa”
Ketika ia melakukan dosa-dosa kecil, tanpa ia sadari ternyata dosa tersebut dan hamper matang dan siap menuju maut. Oleh sebab itulah kemudia ia menyadari bahwa yang harus ia lakukan ialah mencintai Tuhan lebih dari yang lain karena ia adalah orang yang diampuni Tuhan. Oleh sebab itu ia lebih sunggu2 terhadap Tuhan.
“something was wrong with me”
Suatu hari ia seperti mendengar suara yang berbisik kepadanya dan member perintah untuk mencuru sebuah barang. Ternyata waktu ia masih kecil banyak roh2 jahat yang berdiam dalam dirinya. Akibat perbuatannya ia harus bebrusuan dengan pihak kepolisian. Ternya roh jahat yang masih berkuasa dalam dirinya selalu member perintah kepadanya. Menurutnya semua itu terjadi karena ia mengalami kepahitan, pernah berkelahi di sebuah ruang karaoke.
 
 
“Close-to-death experience”
Pilip juga pernah mengalami hal2 buruk dalam dirinya. Pada saat ia berada di ruang bawah tanah, kebenciannya terhadap Tuhan semakin menumpuk. Tidak hanya itu, ia juga semakin kecewa terhadap dirinya sendiri. bahkan ia pernah mengeluarkan kata2 yang kasar kepada Tuhan demikian “ Tuhan Yesus itu omong kosong” aku benci Tuhan Yesus. Ia menghujat Tuhan sedemikian. Namun pada saat itu juga ada suara yang mengatakan “Aku mengasihi mu” dan yang ia lakukan malah kembali menghujat Tuhan dan saat itu ia beberapa kali terpental ke lantai. Dan akhirnya ia berniat untuk bunuh diri.
“Tiga kali berencana bunuh diri”
Ia berencana untuk mengakhiri hidupnya sebanyak tiga kali. Namun anehnya niatnye tersebut tidak pernah berhasil. Yang pertama kedua dan yang ketiga gagal karena pemikirannya, ia memikirkan keluarga dll. Kasih karunia Tuhan sangat luar biasa, Tuhan tetap mengasi Philip.
“ I Saw Jesus”
Tidak seorang pun tau kalau dia hendak mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Akhirnya timbul pemikiran bahwa Tuhan menolongnya secara nyata, oleh sebab itu Philip memutuskan untuk pergi kegereja lagi. Pada saat itu ia mendengarkan firman tentang hal menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat. Ia berkeinginan untuk pergi, tp ada suara yang nyata yang berkata ‘Philip jika hari ini kamu tidak diselamatkan, maka untuk selamaya engkau tidak akan selamat”. Ia menyadari kalau itu adalah suara Tuhan.
Jesus set me free!
Sejak saat itu ia jatuh cinta pada Tuhan dan setan keluar dari dirinya. Roh yang bertama yang keluar adalah roh ‘martial arts’ (bela diri), dan yang terakhir adalah roh kepahitan. Setiap roh itu dating dan menggangu kehidupannya, Tuhan menyuruhnya untuk mendatangi sebuat tempat untuk berdoa. Pada saat seperti itu ia berkata “hai setan, aku tidak mau kamu, aku mau Yesus yang mencintai aku” dan pada saat ia didoakan, kakinya menendang nendang seperti ilmu bela diri, kemudian pingsan dan mulai saat itu semuanya berubah.
 
 
MAN OF ONE BOOK
Bagi Philip alkitab adalah surat cintanya Tuhan baginya. Oleh sebab itu ia sangat menyukai alkitab, ia suka membacanya karena itu semua berisi tentang cinta Tuhan. Ia ingin membalas perasaan cinta Tuhan, dan ia ingin Tuhan juga tau kalau dia mencintai Tuhan. Inilah kebiasaan Philip sewaktu ia masih praktek pelayanan di JKI Maranatha Ungaran, ini disaksikan oleh Pdt Yohanes gembala sidang ‘Double R’ Semarang.
‘Kalau kamu bisa melihat aku dalam jarak 10 meter terpisah dari Alkitabku, aku akan memberimu uang’
Kemanapun ia pergia, ia akan senantiasa membawa alkitab kecuali ke kamar mandi. Biasanya ia akan membaca alkitab setiap pagi sebelum sarapan. Ia pernah menantang Pdt Yosef Morro (Gembala GMS wilayah Sumatera), ‘Kalau kamu bisa melihat aku dalam jarak 10 meter terpisah dari Alkitabku, aku akan memberimu uang’, karena ia tau pasti kalau mereka tidak akan melihatnya jauh dari alkitab.
Disiplin Rohani
Philip memiliki kebiasaan yang unik. Setiap ia membaca alkitab, biasanya ia akan mondar-mandir sambil mengimajinasikan ayat2 yang telah dibacanya. Kalau berdoapun biasanya ia akan berbaring di tempat tidurnya kalau dia capek. Ini adalah bentuk disiplin rohani yang ia terapkan.
Rahasia di balik Mazmur 119
Philip pernah menyuruh salah satu orang untuk mencitai alkitab dengan cara membaca Mazmur 119. Menurutnya banyak sekali orang yang menghindari pasal itu, karena pasal itu merupakan pasal terpanjang di alkitab. Ia berpendapat bahwa raja Daud pun melakukan hal yang sama, yaitu membaca dan merenungkan firman Tuhan.
‘sangat tergantung pada dari seberapa banyak kebenaran firman Tuhan yang km makan’
Menurut nya membaca alkitab sama sulitnya dengan berdoa. Sepertinya sangat muah dikerjakan namun sedikit orang yang benar2 konsisten melakukannya. Karena alkitab berisikan sejarah bangsa dan umat pilihan Allah, sejumlah janji kepada anak cucu Israel serta seputar kisah tokoh2 alkitab.
“Pesan sederhana yang berbunyi: IMAN! IMAN! IMAN!
Dalam kepemimpinan nya sebagai seorang bapak rohani ia ingin menunjukkan sebuah teladan yang besar. Ia ingin menyampaikan kalau igin berhasil, andalakan iman. Apakah hanya itu? Ya! Itu yang ia terapkan dalam segala pergumulan hidupnya. Ia menulis kata2 tersebut dipinggiran alkitabnya guna untuk pernyataan imannya kepada Tuhan.
‘Prinsip Hidup Philip’
Ia berpendapat bahwa Tuhan akan mengirimkan burung gagak untuk memelihara hidupnya. Ia sangat memiliki hubungan yang begitu dekat alkitab. Ada orang yang bertanya kepadanya, mengapa ia begitu dekat dengan alkitab. Dia melakukan ini untuk menguatkan imannya, karena setiap saat ia bisa membaca alkitab yang berkata burung gagak akan dikirim Tuhan untuk memilihara hidupnya.
‘Alkitab inilah yang menandai hubungan saya dengan Tuhan’
Banyak orang yang heran melihat hubungan nya dengan alkitab. Sering kali orang bertanya, apakah kamu tidak bosan dengan alkitabmu tersebut?. ia berkata, alkitab inilah yang menggambarkan sejauh mana hubungan saya dengan Tuhan. Jadi bagaimana mungkin saya bosan dengan Yesus yang ada dalam alkitab ini? jika saya mencintai-Nya, maka saya juga harus mencintai firman-Nya.
Mereka belajar hal-hal seputar alkitab bukan alkitabnya
Banyak orang yang mengira bahwa dekat dengan alkitab itu brarti harus kuliah Theologia. Pada kenyataannya orang sekolah Teologiapun tidak dekat dengan alkitab. Mereka belajar hal-hal seputar alkitab bukan alkitabnya. Respon orang yang melihat kecintaan Philip pada alkitab juga beragam. Ada yang tertempalak dan ada juga yang terinspirasi.
‘aliktab itu menjadi bantal saya kalau saya pelayanan ke desa-desa’
Ia mempunya tempat alkitab berwarna hitam dan di dalamnya ada satu sikat gigi dan pasta gigi. Hanya bermodalkan itu ia sudah siap diutus kemana saja. Pernah suatu kali ia diutus ke desa krasak dan alkitab tersebutlah yang digunakannya sebagai bantal. Waktu itu ia tidur di lantai yang beralaskan karung beras, ketika ia bangun yang ia lakukan ialah sikat gigi kemudian membaca alkitab dan bekerja untuk Tuhan.
Alkitab yang mengeluarkan Minyak
Pada suatu kali dia meninggalkan alkitabnya di dalam laci. Kemudian keesokan harinya ia membuka alkitab tersebut dan melihat alkitab tersebut berminyak dan sangat wangi. Dia sngat penasan siapakah yang meminyaki alkitab tersebut, dan kesokan harinya alkitab itu kembali dipenuhi minyak, dan ternyata ada maksud Tuha untuk semua itu.
Tuhan membangun pelayanan saya di atas dasar kebenaran firman Tuhan, bukan diatas dasar pengalaman.
Kebanyakan orang membaca buku-buku rohani kemudian mencocokkannya dengan alkitab. Tetapi Philip melakukan hal yang terbalik, ia membaca alkitab terlebih dulu kemudian membaca buku-buku yang lain. Tuhan membangun pelayanan nya diatas dasar firman Tuhan bukan di atas dasar pengalamannya. Baginya kalau hari ini ia di urapi Tuhan, itu semua karena ia membaca alkitab dan kemudian dari situlah ia mendapatkan banyak pewahyuan.
 
 
HEAVEN CALLS MY NAME
‘Itu memang Panggilan Tuhan’
Dia menjadi seorang Pdt bukan karena dia pengangguran. Waktu sekolah dia anak yang pintar, dia juga seorang juara umum. Pada saat dia melayani di Ungaran, dia tidur ditempat yang basah padahal sebenarnya dia sangat tidak suka tempat yang basah. Dia juga seorang yang suka terhadap mobil mewah, tetapio ketika di Ungaran dia bahkan rela naik angkutan umum. Jadi kalau bukan karna panggilan Tuhan dia tidak akan melakukan semua itu.
Takut Tuhan cemburu
Ia adalah seorang pemimpin. Seorang pemimpin akan sangat diperhatikan oleh bawahannya. Demikianlah hal dengan apa yang terjadi pada hidup Philip, ia sangat diperhatikan oleh bawahannya. Ada begitu banyak pujian dan sanjungan yang disampaikan oleh orang yang dipimpinnya maupun yang tidak dipimpinnya. Oleh sebab itu dia bilang kalau dia takut Tuhan cemburu terhadap hal tersebut.
‘Pernah Takut’
Ketika dia ingin memutuskan untuk belajar di sekolah Teologia, ia mengalami tekanan yang berat. Tekanan tersebut bukan dari orang-orang sekitar melainkan dirinya sendiri. berhung ayahnya belum percaya pada Yesus, ia ragu untuk berbicara secara terus terang. Dia berdoa selam 3 hari dan mengurng diri di sana, kemudia dia konsultasi dengan ibunya yang waktu itu di Indonesia, ibunya bilang lebih baik terus terang saja. Dan yang terjadi., ayahnya mendukung 100 %. Setelah Philip menyerahkan dirinya kepada Tuhan, kluarganyapun sangat diberkati oleh Tuhan.
‘Prinsip Hidup’
Obey Heaven :
Pada saat dia berumur 6 tahun ia sudah mengalami kunjungan ilahi. Padahal pada saat itu itu ia sama sekali blm mengerti yang namanya panggilan. Namun menurutnya, sungguh Tuhan memanggil yg hina untuk mempermalukan yg berhikmat bagi dunia.
Obey Heaven :
Sejak namanya dipanggil oleh sorga sampai hari ini, tidak pernah sekalipun atau sekalipun rasa ragu dan bimbang itu ada dihatinya.
 
 
A HEART OF REVIVALIST
Kalau bisa naik bis tidak usah duduk, berdiri di pinggir pintu saja!
Pada suatu hari ia diundang oleh sebuah gereja di salatiga yang ibadahnya dimulai pukul 06:30 wib. Yang aneh adalah ia tidak mau duduk dikursi sekalipun busnya kosong, dia lebih memilih berdiri dekat pintu. Padahal dulu di kanada ia selalu terbiasa dengan kemewahan. Ternyata ini artinya dia berhasil dibentuk oleh Tuhan.
Terlibat beberapa kali perkelahian yg nyaris merenggut nyawanya
Siapa yg menyangka bahwa sosok yg sabar dan bertindak sangat hati2 ini menjalani sebagian hidupnya dengan serangkaian perkelahian yang nyaris merenggut nyawanya? Dulu dia sering berkelahi, kadang2 dia memukul orang tanpa alasan. Masalah sepele saja bisa membuatnya marah besar dan siap baku hantam dengan org lain.
Buah-buah sabarnya mulai kelihatan
Dulunya sebelum bertobat ia sangat pemarah tetapi berbeda dengan kehidupannya setelah bertobat. Ketika dia mengalami jamahan Tuhan, buah-buah rohnya mulai kelihatan, ia menjadi org yang sangat sabar dan penuh dengan kasih.
Prinsip hidup Philip Mantofa
1. Hatiku sumber damai yg sempurna bagi org lain.
Banyak pristiwa yg dialaminya yang bisa memancingnya untuk melakukan perkelahian dll. Tetpi setelah pertobatannya tersebut dia punya prinsip yg kuat, bahwa dia harus membawa kedamaian bagi orang lain, bahkan bagi generasinya di Indonesia. Hal ini terbukti dari buah pelayanannya saat ini.
2. Hatiku sumber kekuatan yg sempurna bagi orang lain.
Hatinya yg percaya kepada Tuhan membuatnya bisa menjadi sumber kekuatan bagi orang lain. Ia harus bisa menguatkan hati orang tampa ia harus dikuatkan oleh orang lain.
IRENE, FOREVER WILL BE Itu jodohmu
 
Pertama kali bertemu Philip di gereja, dan pada saat itu Irene seperti mendengar suara ‘itu jodohmu’. Padahal pada saat itu Irene masih berumur 14 tahun. Ternyata semua itu dia ketahuai kalau ternyata orang tua dari Irene selalu mendoakan jodoh anak2nya.
Just Married 1999
Mereka mulai berpacaran sejak tahun 1995 dan mereka berpacaran selama 4 tahun. Mereka jarang sekali bertemu kecuali kalau dia pulang ke Indonesia. Mereka berpacaran jarak jauh bisa bertemu hanya dalam hitungan tahun. Supaya hubungan mereka terjaga satu sama lain mereka menyedeiakan satu buku harian dan setiap hari mereka menulis sedikit saja ttg pasangan mereka. Sampai pada akhirnya mereka menikah dan hidup sangat bahagia karna mereka sama2 mencintai Tuhan.
Saya suka kamu karna kamu cinta Tuhan
Pada saat awal berpacaran orang tua dari Irene sudah menyetujui hubungan mereka karena menurutnya Philip org yang baik hati meskipun masih banyak yg lebih kaya darinya. Pada saat Philip mengungkapkan perasaannya kepada Irene, ada satu pertanyaan Irene ‘ mengapa kamu menyukai saya?’ dan jawaban Philip adalah, saya suka kamu krn kamu cinta Tuhan dan kluarga.
Berbagi suami dengan Tuhan
Irene tau dan menyadari perbedaan menjadi seorang hamba Tuhan dengan istri org yang suaminya bukan seorang hamba Tuhan. Kalau menjadi seorang hamba Tuhan, harus siap berbagi suami dengan Tuhan. Karena ada waktu2 tertentu dmn suami nya akan melayani Tuhan dan sebagai istri tidak boleh menghalanginya.
Prinsip hidup Philip Mantofa
Prisnsip 1 : Holiness is beautiful
Menurutnya menjaga kekudusan dalam berpacan bukanlah dengan cara berjalan sendiri2 melainkan kita harus berjalan sesuai dengan kebenaran Tuhan. Kita harus belajar mendengar suara Tuhan melaui para pemimpin rohani kita.
 
prinsip pacaran
1. Pacaran sekali untuk menikah
2. Memulai dengan benar
3. Tau saat yg tepat untuk berpacaran
Prinsip 2 : mengutamakan buah2 roh/buah2 kasih dlm berpacaran
Dalam hubung berpacaran harus menerapkan buah2 roh. Apa saja yang ada dalam buah2 roh? Itulah yg harus kita terapkan dalam berpacaran, karena hubungan kita dengan pacar kita adalah gambaran hubungan kita dengan Tuhan. Kita juga hrs menhormati tubuh kita, dan jgn memberhalakan pacar kita.
Prinsip 3 : menghormati orang tua
Peneguhan hubungan tidak boleh hanya dari pemimpin rohani saja, orang tua kita dan orang tua pasangan kita juga harus ikut serta didalamnya. Menikah tanpa restu dari orang tua akan sangat mempengaruhi kehidupan rumah tangga kita nantinya. Sekalipun kita diberkati digereja namun jika tanpa restu ortu kehidupan rumah tangga kita tidak akan bahagia.
Prinsip 4 : menghormati pemimpin rohani
Bila hubungan anda direstui oleh orang tua anda tetapi anda tidak menghormati pemimpin rohani anda, bisa dipastikan kalau anda akan mengalami kerugian yg sangat besar dalam hidup anda.
Prinsip 5: dipenuhi dengan kasih yang tidak bersyiarat
Dalam sebuah hubungan kasih yang tidak bersyarat adalah kunci utamanya. Karena itu tempat yang benar untuk menemukan pasangan adalah di dalam keluarga Tuhan. Saran :
ü Tidak usah takut kalau blm punya pasangan, karena Tuhan akan menyediakan tepat pada waktu-Nya.
ü Bagi yg sudah punya pasangan, kasih yg tidak bersyarat adalah sumber kebahagiaan.
ü Bagi yg sudah menikah biarkan kasih yg tidak bersyarat kekal sampai di sorga
INTIMACY WITH GOD
Doa itu seperti makanan harian
Menurut seorang teman sekantornya Pak Philip, ia adalah seseorang tidak pernah lepas dari doa. Walaupun hanya setengah jam sebelum ia mengikuti pertemuan dengan orang lain. Kadang ia berdoa sambil berjalan dan kadang ia sadari sambil berjalan pun ia sering sekali ia berbahasa roh. Bahkan kadang2 ia sampai tertidur karena berdoa seharian dikamarnya. Ia sangat intim dengan Tuhan.
Festival kuasa Allah
Pada suatu hari ia memutuskan untuk tinggal di sebuah kamar yang disediakan gereja untuk para tamu. Ia tinggal disana mulai hari senin hingga hari rabu pukul 17:30 wib. Dari kamar itulah sesuatu yg dahsyat mulai terjadi, sesuatu yg dahsyat di festival kuasa Allah 8-9 juni 2004.
Pada festival hari pertama kuasa Allah sudah terlihat luar biasa. Ia melihat kuasa iblis dikalahkan, penyakit disembuhkan dan banyak org mengakui Tuhan dalam iman mereka. Festival yg kedua adalah datangnya seorang ibu dari malasya yg mengalami penyakit MULTIPLE SCLEROSIS. Ibu ini dilawat sebelum ibadah dimulai. Dan yg terakhir ketika banyak org yg ikut ibadah mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan.
Prinsip Hidup Philip Mantofa
Prinsip 1 : Membangun pelayanan diatas dasar cinta akan Tuhan
Banyak orang membangun pelayanannya di atas dasar pelayanan, bukan atas dasar cinta akan Tuhan. Kapan saja ia merasak hadirat Tuhan, pada saat itu juga ia akan meninggalkan siapa saja untuk bersekutu dengan Tuhan. Hatinya selalu tertuju pada Tuhan yg penuh dengan cinta.
Prinsip 2 : Intim dengan Tuhan itu berbicara tentang segenap hati.
Tidak ada satu teori yang membahas tentang keintiman dengan Tuhan. Tidak ada satu cara yang bisa diterapkan pada semua orang. Hanya saja membangun hubungan intim dengan Tuhan itu keluar dari hati yang benar2 mencintai Tuhan.
Prinsip 3 : membangun hubungan intim yg serius dengan Tuhan itu penting.
5 menit dalam persekutuan pribadi dengan Tuhan lebih berharga dari 5 jam melakukan ibadah KKR yang megah sekalipun.
Prinsip 4 : Bahasa roh sekitar 40 menit sehari dan 40 menit baca alkitab
Jam dan ruang kita tentukan bisa mendisiplin daging kita dan bukan sebagai batasan. Jika tidak demikian kita akan mengalir dan cenderung melupakan.
 
 
FATHERING MOVEMENTS
Kamu yang punay otoritas bukan iblisnya
Dalam pelayanan pelepasan, biasanya ia akan menunggu sampai berjam-jam sampai iblisnya benar2 keluar dari tubuh orang yang dilayaninya tersebut. kalau sekarang cukup dengan satu kata ‘dalam nama Yesus” saja iblisnya sudah lari. Kemudian ia mengajarkan satu hal kepada Yosef Moro, kalau kamu mengusir setan, kamulah yang punya otoritas bukan iblisnya.
 
 
Bukan Cuma sekedar Teori
Menurut pdt Yosef Moro, semua yang dibagikan oleh Philip kepadanya bukan sekedar teori saja. Semua nilai2, prinsip2 kehidupannya benar2 nyata. Banhkan untuk membangkitkan rasa cinta kepada alkitab juga demikian, ia benar2 mempraktekkannya setiap hari.
Diterima bukan karena hebat
Tidak ada yg bisa memungkiri hubungan darah antara bapak dengan anaknya. Senakal apapun anaknya, anak itu tetaplah anaknya. Ia diterima sebagai anak bukan karena dia berprestasi atau krn tidak pernah melakukan sebuah kesalahan tetapi krn dia adalah darah daging.
Masih diberi kesempatan
Prinsip kepemimpinan pak Philip ialah tetap member kesempatan kepada orang, sekalipun orang tersebut telah melakuka yang sangat fatal. Ketika ada orang yang bergabung dengan pelayanan mereka melakukan kesalahan tidak ada kata pemecatan, tetapi meberi kesempatan dan kesempatan.
Prinsip hidup
Member aturan2 yang wajar kepada anak2 rohani yang dipimpinnya. Sekalipun ia adalah bapak secara rohani bagi mereka. Mereka tidak pernah protes terhadap aturan yang ia brikan sekalipun itu bertentangan dengan daging mereka, itu semua krn ia melakukannya berdasarkan kasihnya kepada mereka.
MANY REVIVALS, ONE VISION
Kuduskan bagian ini! ini adalah tanah kudus!
Tuhan bekerja melalui Philip mentofa pada saat acara Youth jamboree tahun 1999. Pada saat itu Tuhan bekerja dengan sangat luar biasa, sehinnga dari sekian banyak pembicara hanya Philip mentofa yang masih diingat hingga saat ini. waktu itu ia berbiacara tentang kuduskan bagian ini! ini adalah kudus!. Mulai saat itu terjadilah kegerakan yang sangat besar.
Tidak usah berfikir dua kali
Ia selalu mendorong para gembala distriknya untuk mengadakan KKR ini dan KKR itu. Dan dorongan tersebut ditanggapi serius oleh para gembala tersebut. melihat jadwal KKR yang sangat padat, salah seorang gembala bertanya padanya, mengapa tidak dai tidak mau memperlambat kegerakannya saja?. Dan ia menjawab, kalau saya memperlambat laju kegerakan Allah dan ternyata membuat satu orang berdosa dan semakin tersesat, maka tidak usah berfikir dua kali.
 
Prinsip hidup Philip
Prinsip yang paling luar biasa adalah mengontrakkan air matanya pada Allah. Menurutnya pertumbuhan sebuah gereja adalah tergantung apakah pemimpinnya telah mengontrakkan air matanya pada Allah. Artinya ia harus menagisi jiwa2 yang belum percaya kepada Tuhan melalui doa2 nya. Ini adalah alasan mengapa terjadi pertumbuhan luar biasa di GMS (Gereja Mawar Sharon).
Aplikasi
Dari buku before 30 ini saya mendapatkan banyak hal2 baru yang berkaitan dengan prinsip-prinsip kehidupan. Baik dalam hal kepemimpinan, dalam hal kehidapan sehari-hari bahkan dalam kehidupan berpacaran. Bagaimana menjaga kekudusan hidup, menghargai orang tua, pemimpin rohani dan siapa saja yang ada disekitar kita. Selain itu, saya juga belajar mengenai hubungan intim dengan, bagaimana cara membangun hubungan dengan Tuhan, betapa pentingnya menjaga hubungan dengan Tuhan melalui doa2 dan persekutuan kita sehari-hari. Dari buku ini, saya juga belajar mengenai pelayanan yang sungguh2 kepada Tuhan, memdoakan orang2 yang belum mengenal Tuhan (mengontrakkan air mata pada Tuhan) setiap hari. Ini adalah sebagian besar yang bisa akan saya aplikasikan dalam kehidupan saya sehari-hari nantinya.
 
————————————————————————————————————————–
 
PHILIP MANTOFA: THE RISING STAR OF GOD
 
 
 
Masih muda, ganteng, terkenal, dipake Tuhan luar biasa, mungkin itu empat kata yang paling pas buat gambarin Pdt. Philip Mantofa, BRE. Seorang hamba Tuhan muda yang dipake Tuhan dengan kuasa en mujizat. Biarpun masih muda (di bawah 40 taun), beliau udah jadi wakil ketua sinode Gereja Mawar Sharon en dipake sama Tuhan buat bikin banyak mujizat en menangin ribuan jiwa buat Tuhan.
 
Kalo GF!ers belum pernah dengar nama beliau sebelumnya, wah ketinggalan tuh…soalnya beliau ini bisa dibilang salah satu bintangnya Tuhan yang lagi bersinar. Nah biar kita bisa lebih kenal sama hamba Tuhan yang satu ini, yuk kita ikutin wawancara GF! sama Ko Philip (nama panggilan akrab Pdt. Philip). (dp)
 
Masa kecil Ko Philip
Waktu kecil Ko Philip udah sering pergi ke luar negeri. Lahir di Indonesia, umur 6 taun udah ke Taiwan, gak lama terus pindah lagi ke Singapura, udah gede pindah lagi ke Canada. Ko Philip pindah-pindah negara gitu bukan karena kebanyakan duit, tapi karena waktu kecil dia penyakitan, en nakalnya luar biasa.
 
‘Waktu kecil saya emang lemah sekali. Saya menderita penyakit lemah tulang, jadi saya sulit berjalan normal seperti orang lain. Belum lagi saya suka kejang-kejang kayak orang ayan. Tingkat IQ saya juga dibawah batas normal. Makanya saya sempat mau dimasukkan sekolah luar biasa. Untungnya gak jadi. Sejak saat itu saya dipindahin ke Taiwan. Buat berobat sekaligus belajar.
 
‘Dari Taiwan saya sempat balik lagi ke Indonesia. Terus pindah lagi ke Singapura. Di Singapura ini saya mengalami banyak pengalaman dengan Tuhan. Di Singapura, kenakalan saya makin menjadi-jadi. Gak ada hari yang gak saya lewatin tanpa berantem sama teman. Tiap hari saya mesti mukulin orang, baru puas. Di Singapura juga saya belajar ilmu hitam. Saya beli buku-buku tentang ilmu kebatinan. Saya praktekin ilmu itu. Saya meditasi, mengundang roh jahat buat masuk dalam diri saya, en hasilnya? Luar biasa. Saya jadi sangat kuat. Gak ada lagi orang yang berani sama saya. Semua takut sama saya.’
 
 
Pertobatan
‘Saya hidup seperti itu selama beberapa taun. Sampe akhirnya saya belajar di Canada. Di sana saya berjemaat di sebuah gereja yang isinya orang Indonesia semua. Walaupun namanya berjemaat, tapi kenyataannya saya cuma sekedar jadi pengunjung. Saya gak pernah benar-benar mau peduli sama apa yang hamba Tuhan saya omongin.
 
‘Suatu hari saya benar-benar merasa udah gak ada artinya en pengen bunuh diri. Tapi selalu gagal. Dua minggu setelah pencobaan bunuh diri saya yang terakhir saya ke gereja. Di sanalah saya bertemu Yesus. Bener-bener bertemu Yesus. Muka dengan muka. Jadi ceritanya begini. Waktu itu ada altar call. Hamba Tuhan manggil semua orang yang belum bertobat buat maju ke depan. Saya belum bertobat, tapi saya gak mo maju, malah saya mo pulang. Begitu saya mo keluar pintu gereja, saya dengar suara Tuhan, “Philip, kalo kamu hari ini gak diselamatkan kamu gak akan selamat selamanya!”
 
‘Begitu dengar itu saya langsung lari ke depan mimbar en saya liat ada cahaya yang luar biasa banget terangnya. Saya merasakan Yesus ada dalam cahaya itu. Seperti apa yang dialami Paulus. Setelah hari itu saya benar-benar dibebaskan. Saya dibaptis, dilepaskan dari semua roh jahat en mulai melayani Tuhan.’
 
 
Awal pelayanan
‘Awal pelayanan saya? Hmmm…waktu itu, setelah bertobat saya putusin buat masuk sekolah Alkitab di Canada. Taun 1994 saya ke Ungaran, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Waktu itu saya dapat tugas praktek dari sekolah Alkitab saya. Di sanalah buat pertama kalinya saya liat kuasa Tuhan bekerja dengan dahsyat. Ada banyak orang yang dijamah Tuhan en sekarang udah jadi pendeta. Ada kebangkitan rohani yang terjadi waktu itu yang melahirkan banyak gereja baru. Apa yang terjadi waktu itu bukan karena saya, tapi karena Tuhan. Itulah kuasa doa dan mujizat.
 
‘Taun 1998 saya balik lagi ke Indonesia en bergabung dengan Gereja Mawar Sharon Surabaya. Tapi belum sebagai wakil gembala sidang. Cuma jemaat biasa. Waktu itu saya belum terpanggil buat jadi hamba Tuhan sepenuh waktu. Saya masih punya bisnis waktu itu, walaupun saya masih tetap melayani. Jadi bolak-balik Surabaya Semarang. Bisnis saya di Surabaya, tapi pelayanan di Semarang. Taun 2000, saya diminta membantu Gereja Mawar Sharon yang waktu itu sedang dalam goncangan. Waktu itu saya pegang jemaat pemudanya. Sejak taun 2000 itulah saya jadi hamba Tuhan sepenuh waktu sampe sekarang. Bisnis saya lepasin, saya kasih ke orang lain. Saya fokus pelayanan aja.’
 
 
Rahasia kuasa Ko Philip
Kalo kita datang ke pertemuan-pertemuan yang diadain Ko Philip, kita bakal rasain hadirat Tuhan yang luar biasa banget. Hadirat Tuhan yang bukan biasa-biasa tapi benar-benar bikin kita sadar kalo kita ini orang berdosa en butuh Tuhan. Makanya gak heran begitu Ko Philip adain altar call ratusan orang langsung lari ke depan panggung, nangis-nangis, berlutut minta ampun sama Tuhan. Apa sih rahasianya bisa kayak gitu?
 
‘Brokenness. Itu rahasia saya.’ Kata Ko Philip. ‘Hati saya selalu hancur waktu liat generasi ini. Tiap kali saya liat generasi yang terhilang ini, saya selalu merasa hancur. Saya bahkan rela mati demi generasi ini. Dari hati yang hancur inilah lahir iman, mujizat.’
 
Selain hati yang hancur, Ko Philip juga ngaku kalo dia selalu punya disiplin rohani yang ketat.
 
‘Ya, saya selalu lakuin disiplin rohani. Apa yang saya lakuin dulu waktu saya pertama kali bertobat, saya tetap lakuin sampe sekarang. Saya tetap berdoa sekian jam tiap hari. Saya baca sekian pasal tiap hari. Saya bersekutu dengan Tuhan tiap hari. Tapi itu bukan poin utamanya. Poin utamanya adalah hati saya selalu hancur bagi generasi ini. Itu aja.’
 
The man behind Ko Philip
Seorang Philip Mantofa gak bisa jadi kayak sekarang kalo gak ada orang-orang yang dipake sama Tuhan buat bentuk dia. Waktu ditanya siapa sih orang-orang yang berjasa bisa bikin Ko Philip kayak sekarang, Ko Philip nyebutin beberapa nama.
 
‘Emang secara pribadi saya gak punya bapa rohani yang ajarin saya secara khusus, harus gini, harus gitu. Tuhan pake banyak orang buat bentuk hidup saya. Mulai dari keluarga saya, istri saya, anak-anak saya, sampe jemaat saya. Tapi secara khusus saya merasa berhutang banyak sama dua orang, Pdt. Sonny gembala saya waktu saya di Kanada. Beliau yang mengawasi pertumbuhan rohani saya di masa awal kehidupan rohani saya. Dan Pdt. Joesoef Soetanto gembala sidang, sekaligus ketua sinode Gereja Mawar Sharon en bapa mertua saya.’
 
 
Ko Philip en kegerakan Tuhan di Indonesia
‘Buat saya gak penting apa nama kegerakan yang lagi Tuhan bawa di Indonesia. Buat saya yang penting itu kita back to bible. Apa yang Alkitab bilang supaya kita lakukan? Beritakan Injil pada segala makhluk. Waktu kita memberitakan injil, Tuhan yang akan bawa kita ke mana-mana. Saya udah menyaksikan hal ini. Makanya saya gak pernah mo pusing dengan apa nama kegerakan yang kata orang sedang kita alami. Buat saya, beritakan Injil, sisanya Tuhan yang bawa kita masuk dalam kegerakanNya.
 
‘Makanya di gereja kita (Gereja Mawar Sharon), saya cuma menekankan dua hal. Satu, gereja adalah rumah kedua kita. Artinya kita semua yang ada di gereja adalah satu keluarga besar. Artinya hubungan kita dengan sesama saudara seiman itu mesti dibangun dengan baik. Kalo hubungan kita dengan Tuhan baik, hubungan kita dengan sesama juga akan baik.
 
‘Dua, saya selalu menekankan pada jemaat kalo mereka itu adalah aset yang berharga, yang Tuhan udah titipin sama saya. Saya bukan yang punya mereka. Mereka itu punya Tuhan. Saya cuma dikasih kepercayaan sama Tuhan buat bikin mereka bertumbuh, dewasa secara rohani en kalo mereka udah dewasa, utus mereka keluar, untuk memperluas Kerajaan Allah di bumi.’
 
 
Ko Philip en pembapaan
Satu hal yang menonjol dari Ko Philip adalah sifatnya yang kebapaan banget. Makanya gak heran kalo Ko Philip punya banyak anak-anak rohani. Sebagian besar anak-anak rohaninya sekarang udah pada jadi hamba Tuhan yang powerful kayak bapa rohaninya, salah satunya Pdt. Yosep Moro Wijaya yang kotbahnya pernah dimuat di GF! edisi 95.
 
 
Apa kata Ko Philip tentang pembapaan?
 
‘Pembapaan itu belajar mencintai orang-orang yang Tuhan cintai. Banyak banget dong? Emang. Tapi kita mesti ngerti kalo kita gak bisa cintai semua orang. Ada keterbatasan. So, mulailah cintai orang yang dekat dengan kita. Yang pasti yang pertama perlu kita cintai itu keluarga kita sendiri terus baru keluarga kita dalam Tuhan.
 
‘Mencintai itu harus dengan motivasi kasih. Jangan kita membapai seseorang dengan tujuan kalo orang itu udah sukses, kita minta ganti rugi sama dia. Kita mesti jadi teladan buat orang yang kita bapai. Tanpa ada motivasi lain. Kalo mereka udah besar, ya bersyukurlah. Jangan terus minta pamrih.’
 
 
Profil
Nama lengkap: Pdt. Philip Mantofa, BRE
Tanggal lahir: 27 September 1974
Nama istri: Irene Saphira Mantofa
Nama anak: Vanessa Mantofa, Jeremy Mantofa
Melayani sebagai: Wakil Gembala sidang Gereja Mawar Sharon
————————————————————————————————————————–
 
 
Biodata Profil Pelayanan dan Khotbah Pdt Ps Philip Mantofa
 
 
Banyak orang berkata Pdt Philip Mantofa adalah sesat. Apa benar demikian. Tentu tidak. Ps Philip Mantofa adalah seorang hamba Tuhan yang rendah hati dan penuh dedikasi dalam pelayanan. Saya pernah makan siang bersama beliau. Beliau begitu bersahaja. Saya dan teman yang lain makan bersama dalam rangkah kedatangannya ke Palembang mengadakan KKR TRIPTO HELL.
 
 
 
Jadwal Pelayanan Khotbah Ps. Philip Mantofa
 
 
BIBLE STUDY
5 March 2016
Pembicara : Ps. Philip Mantofa
EagleKidz
Gereja Mawar Sharon
 
JL. Cempaka 18i Surabaya
Pk. 10am – 2.30pm WIB
Undangan dapat diperoleh di EagleKidz
Ph. +6231 – 6000 7000 ext. 125 (Kak Nikita/kak Itok)
 
 
FINDING FAVOUR
 
Pembicara : Ps. Philip Mantofa
8 – 10 March 2016
Retret Doa Sinode Gereja Mawar Sharon
Bukit Doa Immanuel
Jl. Raya Junggo
Desa Sukolilo, Prigen – Tretes
Cp. 031 – 60007000 (ext. 124)
 
 
IBADAH UMUM
Gereja Mawar Sharon “Revival”
 
Pembicara : Ps. Philip Mantofa
Jl. Pahlawan Sidoarjo
Sebelah Hero Supermarket Kav. A2 No. 23 – 32
Pk. 7am, 10am WIB
Ph. +6231 – 894 6136
 
Berikut ini biodata profil tentang Pastor/Pendeta Philip Mantofa yang diambil dari berbagai sumber.
Pastor/Pendeta Philip Mantofa adalah seorang hamba Tuhan yang melayani di Gereja Mawar Sharon sejak 1998. Ia telah berbicara di ratusan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR)baik di dalam maupun di luar negeri. Selain itu juga ia dikenal sebagai pembicara seminar Business Breakthrough, Career Breakth rough dan Education Breakthrough yang diadakan di beberapa kota di Indonesia sebagai wujud pedulinya kepada kalangan pebisnis, pekerja dan pelajar.
 
Buku perdananya “Before 30” diterbitkan pertama kali tanggal 24 September 2004. Dicetak untuk kedua kalinya pada pertengahan tahun 2005. Buku ini telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Mandarin dan dicetak serta dipublikasikan ke seluruh Asia oleh salah satu penerbit di Taiwan. Juga telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris dan dalam waktu dekat ini akan dicetak serta dipublikasikan ke seluruh dunia oleh salah satu penerbit di Amerika. Buku “Iblis! Dalam nama Yesus! Lepaskan! (A Trip to Hell)” adalah buku keduanya yang diterbitkan 16 Desember 2006 dan dicetak ulang akhir Desember di tahun yang sama.
 
Pdt Ps Philip Mantofa lahir di Surabaya pada tanggal 27 September 1974, dia merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara. Semuanya laki-laki. Waktu kecil Philip sering step dan kejang-kejang. Dalam kekalutan ibunya berkata kepada Tuhan :”Tuhan, jangan diambil! Anak ini saya berikan kepadaMu! Jaga dia, Tuhan!” Setelah agak besar, Phlip masih mengalami kesulitan untuk berjalan. Oleh Dokter disarankan untuk memakai sepatu dari besi yang biasa digunakan untuk anak yang cacat karena polio. Hal ini membuatnya menjadi minder dan tidak mau keluar rumah.
 
Papa Philip Mantofa walaupun bukan orang Kristen, tetapi mengijinkan Philip Mantofamengikuti sekolah minggu di gereja.Waktu Philip akan masuk SD, orang tuanya menyekolahkan ke Taiwan. Hal ini untuk sekalian perawatan kesehatannya. Bersama dengan kakaknya Maxixe, Philip sekolah di Ho Bu Guo Xiao, Taipei, Taiwan. Kenakalannya menjadi-jadi saat mulai sekolah di Taiwan. Philip gampang sekali emosi, marah dan berkelahi dengan teman-temannya.
Tak lama kemudian mereka pulang ke Indonesia dan bersekolah di SDK St. Aloysius, Kepanjen Surabaya. Tiap hari Philip berkelahi dan itu terus berulang sampai ia masuk SMP. Suatu saat pernah ada kakak kelasnya yang tidak terima dan mengajak seorang tentara untuk membunuh Philip. Dengan berbagai pertimbangan orang tuanya menyekolahkannya ke Singapura.
 
Di Singapura, ia terlibat dalam okultisme, dari mempelajari buku yang dibeli di Singapura. Saat sekolah ia mengalami pelecehan seks oleh pembimbing / guru lesnya. Hal itu menambah kepahitan dalam hidupnya. Selain itu Philip sering berkelahi dengan anak-anak di lingkungannya.
 
Kedua orang tua Philip Mantofa kemudian menyekolahkannya ke Kanada bersama kedua saudaranya. Dibawah bimbingan Pdt Sonny, Gereja “Emmanuel Indonesian Christian Fellowship”, semua roh-roh jahat dilepaskan. Hal itu tidak berlangsung secara mudah, tetapi membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Philip dibaptis di gereja itu dan mulai dibentuk karakternya oleh Tuhan.
Ketika memutuskan untuk kuliah di Sekolah Theologia, dia takut mengutarakan keinginannya itu kepada ayahnya. Karena ayahnya belum mengenal Tuhan. Selama 3 hari ia mengurung diri di kamar. Ia berdoa, stress! Saat ia mengatakan ke ayahnya, diluar dugaan ayahnya cuma menjawab pendek “Oke, bagus, Lip! Papa dukung!”
Philip Mantofa menyelesaikan studinya di Columbia Bible College Canada, dan diwisuda pada 20 April 1996. Semua itu dilaluinya dengan tidak mudah. Ia sempat praktek di Ungaran Jawa Tengah pada tahun 1994. Philip harus adaptasi dengan lingkungan yang ada. Tetapi semuanya itu dijalani dengan suka cita.
Saat ia ulang tahun, papanya bermaksud membelikan mobil Mercedes. Tapi ia menolak, alasannya, anak-anak rohaninya banyak yang masih jalan kaki atau naik angkutan umum, mana mungkin dia sebagai bapak rohani naik Mercedes.
Philip menikah dengan Irine dan memiliki seorang anak perempuan bernama Vanessa Mantofa, Warren Mantofa, Jeremi Mantofa. Irine menceritakan perkenalan dengan Philip. Sebagai istri hamba Tuhan, ia menyadari kalau harus berbagi dengan Tuhan.
Pelayanan Philip Mantofa berhasil karena cintanya dengan Tuhan. Ia selalu membaca Firman dan berdoa setiap hari. Pada saat penyembahan dilakukan lawatan Tuhan hadir, sehingga membuat orang-orang disekelilingnya menangis. Padahal penyembahan yang dilakukan sama dengan yang orang lain lakukan.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Pada suatu retreat tahun 2003, ketika dalam suasana penyembahan, tiba-tiba Siane (penulis buku), dapat melihat adanya kabut tipis dua lapis turun dan naik secara teratur di sekeliling tubuhnya. Dan ketika acara tersebut berakhir, hampir seluruh area altar dipenuhi oleh kabut tipis itu. Bapak Ongky, bagian multimedia, mengisahkan saat akan mengarahkan gambar ke Philip, gambarnya menjadi kabur. Sedangkan bila kamera diarahkan ke peserta retreat, gambar yang dihasilkan tampak terang dan jelas.
Didalam acara Festival Kuasa Allah, banyak mujizat dan kesembuhan terjadi. Seorang bapak yang lumpuh berkata seperti dialiri air yang sejuk dan bapak itu bisa langsung melompat berdiri. Juga seorang ibu yang lumpuh kaki kanannya dan harus berjalan dengan tongkat. Ia merasa sesuatu yang panas menjamahnya dan ia bisa berjalan tanpa menggunakan tongkatnya. Halleluya.
 
Mengenai imannya, ada cerita yang mengesankan. Waktu KKR Ps Philip Mantofa di Salatiga. Semua orang sudah siap di lapangan ketika hujan deras tiba-tiba membuyarkan acara. Semua orang semburat mencari tempat berteduh termasuk pemimpin pujiannya. Padahal KKR harus dimulai. Waktu itu Pak Philip maju dan mengambil mic. Ia menaikkan satu pujian dan menyanyikannya berulang-ulang. Melihat itu, semua orang mau tidak mau maju ke panggung. Kemudian apa yang terjadi setelah itu ? Hujan itu cuma bertahan sekitar 10 hingga 15 menit. Setelah itu berhenti.
Begitu berhenti Philip langsung memberikan mic nya kepada song leader sambil berbisik ditelinganya. “Lain kali kalau menghadapi situasi seperti ini gunakan imanmu.”
Melalui Pdt Philip, banyak anak muda terpanggil, menjadi pekerja pelayanan full timer.
Berikut ini beberapa kumpulan foto/gambar Pdt Philip Mantofa
 
 
Philip Mantofa, biodata Philip Mantofa, profil Philip Mantofa, pdt Philip Mantofa, pendeta Philip Mantofa, pastor Philip Mantofa, istri Philip Mantofa, anak Philip Mantofa, keluarga Philip Mantofa
 
 
 
 
————————————————————————————————————————
 
Kesaksian Trip To HELL 
oleh Ps. Philip Mantofa
 
 
 
 
Suatu Penglihatan tentang A Trip to hell dari pastor Philip Mantofa
 
1 Januari 2000, pukul 5.00 WIB. Saya terbangun dan terkejut. Sekeliling saya gelap dan saya tidak dapat melihat apapun. Saya tidak melihat adanya tanda-tanda kehidupan di tempat itu, kecuali suara-suara teriakan kesakitan yang lamat-lamat terdengar dari kejauhan.
 
“Bangun! Aku ingin menunjukkan sesuatu yang sangat penting kepadamu.” Saya tahu bahwa itu suara Tuhan Yesus. Saya bangun dan mengikuti-Nya. Ia membawa saya ke padang gurun. Sebuah perjalanan yang panjang dengan suasana mencekam. Saya tidak merasakan adanya tanda-tanda kehidupan di sana, kecuali kesunyian yang bercampur kengerian yang tak terkatakan. Sunyi, sangat tandus dan tak ada angin yang berhembus. Tenggorokan saya terasa kering karena panasnya melebihi batas normal. Di sepanjang jalan saya melihat banyak makhluk-makhluk aneh yang tak pernah saya lihat atau jumpai di bumi.
Saya tidak bisa berjalan cepat, tetapi berjalan setapak demi setapak untuk bisa sampai ke sebuah gerbang yang besar sekali sehingga ujungnya tak tampak. Saya tidak tahu pintu itu terbuat dari apa. Pintu gerbang itu tinggi sekali dan menyeramkan. Saya mendongakkan kepala untuk membaca sebuah papan nama. Kalau Tuhan tidak membantu saya, mungkin saya tidak akan pernah bisa membacanya. Tulisan itu tidak menyerupai tulisan dalam bahasa apapun di bumi, bunyinya : Valley of Torture, Lembah Penyiksaan. Saya baru menyadari dimana saya berada saat itu. Ternyata saya berada di neraka! Masih dalam keadaan shock, saya mendengar suara Tuhan di sebelah saya berkata, “Buka pintu itu!”
 
Saya menghela nafas panjang. Bagaimana mungkin? Akhirnya saya menaati perintah-Nya dan dengan urapan kuasa Tuhan saya menyorongkan tangan saya ke pintu gerbang itu. Cuma dengan menyentuhnya pintu gerbang besar itu terbuka dan berbunyi kkkkkkrriiiieeekkkkkkkkk. Deritnya memekakkan telinga.
 
Masuk ke dalam kegelapan di balik pintu gerbang besar itu, saya mencium bau busuk yang menyengat hidung. Hawa panas menyerbu saya, disusul bau daging terbakar yang membuat saya mual dan ingin muntah. Mendadak kepala saya pusing karena mengetahui bau daging apa yang sedang terbakar disana, bau daging manusia terpanggang.
Apa yang saya lihat di balik pintu itu sulit sekali saya lupakan. Bahkan setelah semuanya kembali berjalan seperti biasa, ingatan akan tempat terkutuk itu sulit dihapus dari benak saya. Di Lembah Penyiksaan itu saya melihat banyak orang-orang yang mati di luar Tuhan Yesus ditempatkan. Sayangnya saya hanya mampu menceritakan sebagian kecil dari semua yang saya lihat di sana.
 
Saya tahu ada banyak sekali manusia yang tak terhitung jumlahnya di sana. Karena saya mendengar suara jeritan mereka memenuhi udara, berbarengan dengan kertakan gigi. Jeritan mereka itu memekakkan telinga, sehingga rasa ngeri membungkus sekujur tubuh saya. Teriakan kesakitan mereka itu seolah-olah menghilangkan kekuatan saya untuk tetap melihat semuanya sampai selesai.
 
Jika urapan-Nya tidak melindungi saya, saya takkan bisa bertahan di sana. “Lord, get me out of here, please. . .” pinta saya kepada Tuhan. Namun Tuhan tidak menanggapi saya.
 
Belum habis rasa panik saya, tiba-tiba saya melihat kengerian yang lain. Tak jauh dari tempat saya berdiri, saya melihat seorang wanita yang dikerumuni roh-roh jahat. Mereka berbentuk aneh. Roh-roh jahat itu berjalan-jalan mengelilingi wanita itu, sambil memegang senjata tajam yang tak pernah saya lihat di bumi.
Saya melihat wajah wanita itu diliputi ketakutan yang sangat. Saya tahu bahwa ia belum lama mati karena posisinya saat itu sangat dekat dengan gerbang maut di mana saya berada. Saya tidak tahu apa yang membuat ia mati. Yang saya tahu, ia masih muda dan wajahnya cantik. Ketakutan di wajahnya sangat jelas ketika ia memohon belas kasihan mereka. Sayangnya, roh-roh jahat di sekelilingnya tidak menggubris permintaannya. Malahan mereka tertawa-tawa senang melihat ketakutan wanita itu. Mereka mengikat kedua tangan wanita itu ke sebuah balok kayu dan terus mengancam dan mengintimidasinya.
 
“Ayo, berdusta! Ayo, berdusta!” Semakin ia berteriak ketakutan, semakin keras iblis-iblis itu menyuruhnya berdusta. Ternyata selama hidup di bumi wanita itu sering mendustai suaminya. Ia tidak setia kepada janji dan ikatan pernikahannya. Wanita itu berselingkuh dengan pria lain. Wanita itu tampak pasrah terhadap perintah mereka.
 
“Ya, ya, aku akan berdusta! Aku akan berdusta!”
 
Saya kira wanita itu akan dibebaskan karena telah memenuhi permintaan mereka. Ternyata dugaan saya keliru. Salah satu roh jahat itu menyodok wajah perempuan itu dengan senjata yang bentuknya aneh, kemudian menggaruk wajahnya dengan senjata yang sama dengan kasar dan cepat. Kulit wajah wanita itu terkelupas bersamaan dengan teriakan dan jeritan kesakitan wanita malang itu. Darah segar menyembur dari luka di wajahnya, dari luka yang menganga. Teriakan kesakitan terdengar sangat menyayat hati. Wajahnya tampak mengerikan akibat tindakan brutal dari iblis ini. Di saat yang bersamaan saya melihat roh jahat yang lain muncul dari balik kerumunan, menarik lidah wanita ini hingga putus. Jeritan kesakitan melolong-lolong keluar dari mulut tanpa lidah ini.
 
A Trip to hell, A Trip to hell Philip mantofa, kesaksian A Trip to hell, kesaksian neraka, kesaksian philip mantofa A Trip to hell, kesaksian KristenSaya terpana. Saya kehabisan kata-kata. Jantung saya seperti berhenti sepersekian detik karena sangat kaget. Saya tak menduga sama sekali bahwa wanita tersebut akan diperlakukan sesadistis itu. Saya tidak tahan lagi! Saya berteriak dengan marah. Saya bermaksud ingin menolongnya. Tetapi teriakan saya tenggelam dalam kegelapan dan kengerian. Karena dikuasai rasa takut, suara saya terdengar bagai rintihan. Tetapi mereka tidak dapat mendengar saya.
 
Belum pulih dari shock saya, tiba-tiba saya melihat lidahnya kembali ada. Seolah-olah tidak terjadi apapun. Cuma darah yang tersisa di wajahnya menandakan adanya perlakuan sadistis atas wanita itu. Iblis yang sama kembali mengulangi kejadian tadi dengan senjatanya. Kembali wanita itu menjerit-jerit kesakitan. Begitu terus berulang-ulang sehingga kengerian menguasai saya sepenuhnya. Pada akhirnya saya tahu bahwa kekekalan di sana berlaku atas tubuh, perasaan dan pikiran manusia. Sekalipun semuanya terjadi di alam supranatural, tetapi jeritan, ekspresi ketakutan, bentuk penyiksaan, kertakan gigi, suara tawa iblis di neraka begitu nyata. Neraka itu lebih nyata dan lebih kekal daripada apa yang ada di bumi ini.
 
“Ayo, kita bawa wanita ini ke depan, ke lautan api itu!” Seketika itu juga saya diberi hikmat Tuhan tentang perbedaan antara maut, kerajaan maut, dan lautan api. Orang yang mati dalam dosanya akan mengalami maut, karena upah dosa ialah maut. Mereka terpisah selama-lamanya dari hadirat Allah. Di sanalah setan-setan mendirikan kerajaan maut. Mereka menyiksa manusia-manusia yang berada di kerajaan maut. Lautan api adalah hukuman terakhir bagi iblis dan para pengikutnya.
 
“Tiiiddddaaaakkkkkkkk! Aku tak mau ke sana. Tidak mauuuuu!” Wanita tersebut memohon belas kasihan iblis-iblis itu. Dengan tangan terikat ke belakang, wajah yang hancur dan bersimbah darah, lidah yang putus, ia berlutut menangis memohon belas kasihan para penyiksanya. Sungguh, itu merupakan pemandangan yang sangat sangat sangat menyedihkan, membuat iba, dan sekaligus mengerikan. Bukan iba, bukan belas kasihan, para roh jahat itu malahan bersorak-sorak kegirangan melihat korban di depannya tak berdaya, penuh kemalangan.
 
“Aku tidak mau ke sana. Tidak mau. Siksa aku saja di sini. Siksa aku saja semau kalian, jangan bawa aku ke sana!” Wanita itu sudah demikian tersiksa, sedemikian menderita, sedemikian kesakitan, masih memilih disiksa di situ saja, dibandingkan dibawa ke lautan api. Saya bisa memahami ketakutannya. Lautan api itu bukan dongeng. Tempat itu nyata. Tempat itu ada di depan matanya. Benar kata Alkitab, “Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam penghukuman Allah yang hidup!”
 
Tak jauh dari tempat wanita itu disiksa, saya melihat seorang pria yang tinggal kerangka, karena dagingnya telah meleleh, digotong kembali ke dekat pintu gerbang. Sebelumnya ia ditempatkan di dekat lautan api. Saya yakin ia telah lama mati. Ia dibawa ke dekat pintu gerbang itu entah untuk ke berapa kalinya, hanya untuk mempermainkan perasaannya. Sementara itu roh-roh jahat yang mengerumuninya berteriak-teriak memberi semangat, “Ayo, onani! Ayo, masturbasi!”
 
Rupanya, semasa ia hidup ia sering melakukan masturbasi. Ketika saya mendengar roh-roh jahat itu berteriak-teriak, saya dikagetkan dengan munculnya ribuan ulat yang menjalar keluar dari lubang kemaluannya yang sebenarnya tinggal daging meleleh. Ulat-ulat itu keluar juga dari lubang mata, hidung, dan telinganya. Ulat-ulat itu menjilati dagingnya yang meleleh. Saya tidak pernah menjumpai ulat-ulat seperti itu di bumi. Pria itu sangat kesakitan digerogoti dagingnya oleh ulat-ulat ganas itu.
 
Tak jauh dari tempat saya berdiri, saya melihat seorang pria muda yang sepertinya baru meninggal. Saya tahu kalau ia belum lama meninggal, karena orang-orang yang sudah lama meninggal akan berada di tempat yang sangat jauh dari tempat saya berdiri di dekat gerbang maut itu. Tak berapa lama kemudian beberapa roh jahat datang membawa seorang pria yang lebih tua usianya. Dugaan saya, semasa mereka hidup, mereka adalah ayah dan anak. Roh-roh jahat itu memaksa kedua orang itu ke tengah lingkaran. Mereka memaksa pria yang lebih muda untuk makan bagian belaksan dari kepala pria yang lebih tua. Memakan otak! Mengerikan sekali. Sebelumnya para iblis itu merobek belakang tempurung kepala pria yang lebih tua dengan tangan mereka. Terdengar jerit kesakitan dari pria tua itu. Dan anak muda itu tak punya pilihan lain selain memakan otak dan bagian belakang pria yang adalah ayahnya.
 
Melihat kejadian yang menjijikkan dan gila itu saya berteriak histeris. Saya marah sekali melihat kejadian itu. Seumur hidup saya tidak pernah melihat dengan mata kepala sendiri perbuatan kanibalisme seperti itu. Sontak saya menjadi pusing dan tubuh saya gemetar. Sekujur tubuh saya jadi lemas karena ngeri. Kalau bukan karena tangan-Nya yang memberi kekuatan, saya tidak akan kuat berdiri.
 
“Tuhhhaaaaaannnnn! Jangan diam saja! Lakukan sesuatu!” kata saya iba. Tuhan tidak menjawab. Saya merasa putus asa karena saya tak dapat menghalangi perbuatan iblis-iblis itu. “Lord, do something, please. Tuhan, Engkau ‘kan penuh kuasa. Lakukan sesuatu.” Tuhan tetap diam. Saya tidak dapat berbuat apa-apa lagi, selain menaati-Nya. Saya memaksakan diri untuk melihat kembali potongan adegan yang sangat sangat mengerikan itu. Anak muda itu masih sedang memakan bagian belakang tempurung kepala ayahnya yang sangat-sangat kesakitan.
 
“Cukup, Tuhan! Hentikan! Saya tidak tahan!”
 
“Tidak! Engkau harus tetap di sini! Tetaplah di dekat-Ku dan jangan bergerak,” kata-Nya dengan lembut. “Jangan membenci,” sambung-Nya. Seketika itu juga saya mengerti bahwa mereka berdua, ayah dan anak itu, saling membenci ketika mereka masih ada di dunia. Mereka tidak mau saling memaafkan sampai kematian menjemput mereka.
 
Ketika saya menoleh kembali ke arah ayah dan anak itu, terdengar suara satu roh jahat, “Sekarang tiba giliranmu!” Pria yang lebih tua dengan kesakitan yang sangat karena bagian kepalanya tinggal seperempat, menuruti kata-kata iblis itu. Ia sekarang berbalik memakan kepala anaknya sendiri. Wajah anak muda itu tampak tegang menanti giliran disiksa. Ia berdiri mematung dengan ekspresi wajah yang penuh kengerian. Ia menjerit-jerit kesakitan ketika ayahnya sendiri memakan bagian belakang kepalanya. Ya, Tuhan!
 
“Tuhan, cukup!” Saya tidak tahan lagi melihat semua kengerian itu. Saya menutup mata, tapi pemandangan itu tak dapat pergi. Seketika itu juga saya merasakan Tuhan menarik roh saya, sehingga bisa kembali ke tubuh saya. Saya terbangun dengan nafas terengah-engah. “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil!” seru saya setelah pengalaman dibawa Tuhan ke neraka yang sangat sangat sangat mengerikan itu.
 
Berbulan-bulan setelah itu, trauma saya melihat neraka tidak segera pulih. Ingatan tentang neraka itu tidak dapat saya lupakan sama sekali. Ditambah lagi, sekujur tubuh saya pada sakit. Tulang-tulang saya terasa nyeri, sehingga untuk menggerakkan badan saja terasa sulit. Sekalipun berusaha melupakan perjalanan ke lembah penyiksaan itu, namun saya tak dapat tidur tanpa memikirkannya.
 
Saya tahu, Tuhan membawa saya ke sana untuk membongkar rahasia pekerjaan iblis yang tak disadari banyak orang. Saya yakin “emergency call” ini datangnya dari Allah, bukan peringatan dari manusia. Tuhan mengembalikan roh saya ke tubuh saya dalam keadaan hidup, karena hanya orang hidup yang dapat berbicara kepada manusia yang hidup. Orang mati, sekalipun telah melihat dan mengalami neraka, tidak dapat berbicara kepada orang hidup.
 
Keseluruhan pesan ini bukan terletak dan berfokus pada nerakanya. Yang jauh lebih penting, pesan ini mengenai Tuhan Yesus, mengenai keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Karena hanya Tuhan Yesus saja yang sanggup menyelamatkan manusia dari penghukuman kekal di neraka. Kisah Para Rasul 4:12 mengatakan, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Yesus Kristus, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Kisah kesaksian Philip Mantofa ini diambil dari buku “A Trip To Hell”ditulis oleh Philip Mantofa bersama Sianne Ribkah.
 
 
Marilah kita bertobat dari dosa-dosa kita dan terimalah Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat karena hanya DIA lah yang bisa membawa kita masuk dalam kerajaan Surga yang kekal dan terhindar dari neraka yang jahanam , Yohanes 14:16
 
Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
 
 
————————————————————————————————————————–
 

 
 
Suatu Penglihatan tentang A Trip to hell dari pastor Philip Mantofa dari Indonesia
 
1 Januari 2000, pukul 5.00 WIB. Saya terbangun dan terkejut. Sekeliling saya gelap dan saya tidak dapat melihat apapun. Saya tidak melihat adanya tanda-tanda kehidupan di tempat itu, kecuali suara-suara teriakan kesakitan yang lamat-lamat terdengar dari kejauhan.
 
“Bangun! Aku ingin menunjukkan sesuatu yang sangat penting kepadamu.” Saya tahu bahwa itu suara Tuhan Yesus. Saya bangun dan mengikuti-Nya. Ia membawa saya ke padang gurun. Sebuah perjalanan yang panjang dengan suasana mencekam. Saya tidak merasakan adanya tanda-tanda kehidupan di sana, kecuali kesunyian yang bercampur kengerian yang tak terkatakan. Sunyi, sangat tandus dan tak ada angin yang berhembus. Tenggorokan saya terasa kering karena panasnya melebihi batas normal. Di sepanjang jalan saya melihat banyak makhluk-makhluk aneh yang tak pernah saya lihat atau jumpai di bumi.
 
Saya tidak bisa berjalan cepat, tetapi berjalan setapak demi setapak untuk bisa sampai ke sebuah gerbang yang besar sekali sehingga ujungnya tak tampak. Saya tidak tahu pintu itu terbuat dari apa. Pintu gerbang itu tinggi sekali dan menyeramkan. Saya mendongakkan kepala untuk membaca sebuah papan nama. Kalau Tuhan tidak membantu saya, mungkin saya tidak akan pernah bisa membacanya. Tulisan itu tidak menyerupai tulisan dalam bahasa apapun di bumi, bunyinya : Valley of Torture, Lembah Penyiksaan. Saya baru menyadari dimana saya berada saat itu. Ternyata saya berada di neraka! Masih dalam keadaan shock, saya mendengar suara Tuhan di sebelah saya berkata, “Buka pintu itu!”
 
Saya menghela nafas panjang. Bagaimana mungkin? Akhirnya saya menaati perintah-Nya dan dengan urapan kuasa Tuhan saya menyorongkan tangan saya ke pintu gerbang itu. Cuma dengan menyentuhnya pintu gerbang besar itu terbuka dan berbunyi kkkkkkrriiiieeekkkkkkkkk. Deritnya memekakkan telinga.
 
Masuk ke dalam kegelapan di balik pintu gerbang besar itu, saya mencium bau busuk yang menyengat hidung. Hawa panas menyerbu saya, disusul bau daging terbakar yang membuat saya mual dan ingin muntah. Mendadak kepala saya pusing karena mengetahui bau daging apa yang sedang terbakar disana, bau daging manusia terpanggang.
 
Apa yang saya lihat di balik pintu itu sulit sekali saya lupakan. Bahkan setelah semuanya kembali berjalan seperti biasa, ingatan akan tempat terkutuk itu sulit dihapus dari benak saya. Di Lembah Penyiksaan itu saya melihat banyak orang-orang yang mati di luar Tuhan Yesus ditempatkan. Sayangnya saya hanya mampu menceritakan sebagian kecil dari semua yang saya lihat di sana.
 
Saya tahu ada banyak sekali manusia yang tak terhitung jumlahnya di sana. Karena saya mendengar suara jeritan mereka memenuhi udara, berbarengan dengan kertakan gigi. Jeritan mereka itu memekakkan telinga, sehingga rasa ngeri membungkus sekujur tubuh saya. Teriakan kesakitan mereka itu seolah-olah menghilangkan kekuatan saya untuk tetap melihat semuanya sampai selesai.
 
Jika urapan-Nya tidak melindungi saya, saya takkan bisa bertahan di sana. “Lord, get me out of here, please. . .” pinta saya kepada Tuhan. Namun Tuhan tidak menanggapi saya.
Belum habis rasa panik saya, tiba-tiba saya melihat kengerian yang lain. Tak jauh dari tempat saya berdiri, saya melihat seorang wanita yang dikerumuni roh-roh jahat. Mereka berbentuk aneh. Roh-roh jahat itu berjalan-jalan mengelilingi wanita itu, sambil memegang senjata tajam yang tak pernah saya lihat di bumi.
 
Saya melihat wajah wanita itu diliputi ketakutan yang sangat. Saya tahu bahwa ia belum lama mati karena posisinya saat itu sangat dekat dengan gerbang maut di mana saya berada. Saya tidak tahu apa yang membuat ia mati. Yang saya tahu, ia masih muda dan wajahnya cantik. Ketakutan di wajahnya sangat jelas ketika ia memohon belas kasihan mereka. Sayangnya, roh-roh jahat di sekelilingnya tidak menggubris permintaannya. Malahan mereka tertawa-tawa senang melihat ketakutan wanita itu. Mereka mengikat kedua tangan wanita itu ke sebuah balok kayu dan terus mengancam dan mengintimidasinya.
 
“Ayo, berdusta! Ayo, berdusta!” Semakin ia berteriak ketakutan, semakin keras iblis-iblis itu menyuruhnya berdusta. Ternyata selama hidup di bumi wanita itu sering mendustai suaminya. Ia tidak setia kepada janji dan ikatan pernikahannya. Wanita itu berselingkuh dengan pria lain. Wanita itu tampak pasrah terhadap perintah mereka.
“Ya, ya, aku akan berdusta! Aku akan berdusta!”
 
Saya kira wanita itu akan dibebaskan karena telah memenuhi permintaan mereka. Ternyata dugaan saya keliru. Salah satu roh jahat itu menyodok wajah perempuan itu dengan senjata yang bentuknya aneh, kemudian menggaruk wajahnya dengan senjata yang sama dengan kasar dan cepat. Kulit wajah wanita itu terkelupas bersamaan dengan teriakan dan jeritan kesakitan wanita malang itu. Darah segar menyembur dari luka di wajahnya, dari luka yang menganga. Teriakan kesakitan terdengar sangat menyayat hati. Wajahnya tampak mengerikan akibat tindakan brutal dari iblis ini. Di saat yang bersamaan saya melihat roh jahat yang lain muncul dari balik kerumunan, menarik lidah wanita ini hingga putus. Jeritan kesakitan melolong-lolong keluar dari mulut tanpa lidah ini.
 
 
 
 
Saya terpana. Saya kehabisan kata-kata. Jantung saya seperti berhenti sepersekian detik karena sangat kaget. Saya tak menduga sama sekali bahwa wanita tersebut akan diperlakukan sesadistis itu. Saya tidak tahan lagi! Saya berteriak dengan marah. Saya bermaksud ingin menolongnya. Tetapi teriakan saya tenggelam dalam kegelapan dan kengerian. Karena dikuasai rasa takut, suara saya terdengar bagai rintihan. Tetapi mereka tidak dapat mendengar saya.
 
Belum pulih dari shock saya, tiba-tiba saya melihat lidahnya kembali ada. Seolah-olah tidak terjadi apapun. Cuma darah yang tersisa di wajahnya menandakan adanya perlakuan sadistis atas wanita itu. Iblis yang sama kembali mengulangi kejadian tadi dengan senjatanya. Kembali wanita itu menjerit-jerit kesakitan. Begitu terus berulang-ulang sehingga kengerian menguasai saya sepenuhnya. Pada akhirnya saya tahu bahwa kekekalan di sana berlaku atas tubuh, perasaan dan pikiran manusia. Sekalipun semuanya terjadi di alam supranatural, tetapi jeritan, ekspresi ketakutan, bentuk penyiksaan, kertakan gigi, suara tawa iblis di neraka begitu nyata. Neraka itu lebih nyata dan lebih kekal daripada apa yang ada di bumi ini.
 
 
 
 
“Ayo, kita bawa wanita ini ke depan, ke lautan api itu!” Seketika itu juga saya diberi hikmat Tuhan tentang perbedaan antara maut, kerajaan maut, dan lautan api. Orang yang mati dalam dosanya akan mengalami maut, karena upah dosa ialah maut. Mereka terpisah selama-lamanya dari hadirat Allah. Di sanalah setan-setan mendirikan kerajaan maut. Mereka menyiksa manusia-manusia yang berada di kerajaan maut. Lautan api adalah hukuman terakhir bagi iblis dan para pengikutnya.
“Tiiiddddaaaakkkkkkkk! Aku tak mau ke sana. Tidak mauuuuu!” Wanita tersebut memohon belas kasihan iblis-iblis itu. Dengan tangan terikat ke belakang, wajah yang hancur dan bersimbah darah, lidah yang putus, ia berlutut menangis memohon belas kasihan para penyiksanya. Sungguh, itu merupakan pemandangan yang sangat sangat sangat menyedihkan, membuat iba, dan sekaligus mengerikan. Bukan iba, bukan belas kasihan, para roh jahat itu malahan bersorak-sorak kegirangan melihat korban di depannya tak berdaya, penuh kemalangan.
 
 
 
 
“Aku tidak mau ke sana. Tidak mau. Siksa aku saja di sini. Siksa aku saja semau kalian, jangan bawa aku ke sana!” Wanita itu sudah demikian tersiksa, sedemikian menderita, sedemikian kesakitan, masih memilih disiksa di situ saja, dibandingkan dibawa ke lautan api. Saya bisa memahami ketakutannya. Lautan api itu bukan dongeng. Tempat itu nyata. Tempat itu ada di depan matanya. Benar kata Alkitab, “Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam penghukuman Allah yang hidup!”
Tak jauh dari tempat wanita itu disiksa, saya melihat seorang pria yang tinggal kerangka, karena dagingnya telah meleleh, digotong kembali ke dekat pintu gerbang. Sebelumnya ia ditempatkan di dekat lautan api. Saya yakin ia telah lama mati. Ia dibawa ke dekat pintu gerbang itu entah untuk ke berapa kalinya, hanya untuk mempermainkan perasaannya. Sementara itu roh-roh jahat yang mengerumuninya berteriak-teriak memberi semangat, “Ayo, onani! Ayo, masturbasi!”
Rupanya, semasa ia hidup ia sering melakukan masturbasi. Ketika saya mendengar roh-roh jahat itu berteriak-teriak, saya dikagetkan dengan munculnya ribuan ulat yang menjalar keluar dari lubang kemaluannya yang sebenarnya tinggal daging meleleh. Ulat-ulat itu keluar juga dari lubang mata, hidung, dan telinganya. Ulat-ulat itu menjilati dagingnya yang meleleh. Saya tidak pernah menjumpai ulat-ulat seperti itu di bumi. Pria itu sangat kesakitan digerogoti dagingnya oleh ulat-ulat ganas itu.
 
Tak jauh dari tempat saya berdiri, saya melihat seorang pria muda yang sepertinya baru meninggal. Saya tahu kalau ia belum lama meninggal, karena orang-orang yang sudah lama meninggal akan berada di tempat yang sangat jauh dari tempat saya berdiri di dekat gerbang maut itu. Tak berapa lama kemudian beberapa roh jahat datang membawa seorang pria yang lebih tua usianya. Dugaan saya, semasa mereka hidup, mereka adalah ayah dan anak. Roh-roh jahat itu memaksa kedua orang itu ke tengah lingkaran. Mereka memaksa pria yang lebih muda untuk makan bagian belaksan dari kepala pria yang lebih tua. Memakan otak! Mengerikan sekali. Sebelumnya para iblis itu merobek belakang tempurung kepala pria yang lebih tua dengan tangan mereka. Terdengar jerit kesakitan dari pria tua itu. Dan anak muda itu tak punya pilihan lain selain memakan otak dan bagian belakang pria yang adalah ayahnya.
 
Melihat kejadian yang menjijikkan dan gila itu saya berteriak histeris. Saya marah sekali melihat kejadian itu. Seumur hidup saya tidak pernah melihat dengan mata kepala sendiri perbuatan kanibalisme seperti itu. Sontak saya menjadi pusing dan tubuh saya gemetar. Sekujur tubuh saya jadi lemas karena ngeri. Kalau bukan karena tangan-Nya yang memberi kekuatan, saya tidak akan kuat berdiri.
 
“Tuhhhaaaaaannnnn! Jangan diam saja! Lakukan sesuatu!” kata saya iba. Tuhan tidak menjawab. Saya merasa putus asa karena saya tak dapat menghalangi perbuatan iblis-iblis itu. “Lord, do something, please. Tuhan, Engkau ‘kan penuh kuasa. Lakukan sesuatu.” Tuhan tetap diam. Saya tidak dapat berbuat apa-apa lagi, selain menaati-Nya. Saya memaksakan diri untuk melihat kembali potongan adegan yang sangat sangat mengerikan itu. Anak muda itu masih sedang memakan bagian belakang tempurung kepala ayahnya yang sangat-sangat kesakitan.
“Cukup, Tuhan! Hentikan! Saya tidak tahan!”
 
“Tidak! Engkau harus tetap di sini! Tetaplah di dekat-Ku dan jangan bergerak,” kata-Nya dengan lembut. “Jangan membenci,” sambung-Nya. Seketika itu juga saya mengerti bahwa mereka berdua, ayah dan anak itu, saling membenci ketika mereka masih ada di dunia. Mereka tidak mau saling memaafkan sampai kematian menjemput mereka.
 
Ketika saya menoleh kembali ke arah ayah dan anak itu, terdengar suara satu roh jahat, “Sekarang tiba giliranmu!” Pria yang lebih tua dengan kesakitan yang sangat karena bagian kepalanya tinggal seperempat, menuruti kata-kata iblis itu. Ia sekarang berbalik memakan kepala anaknya sendiri. Wajah anak muda itu tampak tegang menanti giliran disiksa. Ia berdiri mematung dengan ekspresi wajah yang penuh kengerian. Ia menjerit-jerit kesakitan ketika ayahnya sendiri memakan bagian belakang kepalanya. Ya, Tuhan!
 
“Tuhan, cukup!” Saya tidak tahan lagi melihat semua kengerian itu. Saya menutup mata, tapi pemandangan itu tak dapat pergi. Seketika itu juga saya merasakan Tuhan menarik roh saya, sehingga bisa kembali ke tubuh saya. Saya terbangun dengan nafas terengah-engah. “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil!” seru saya setelah pengalaman dibawa Tuhan ke neraka yang sangat sangat sangat mengerikan itu.
 
Berbulan-bulan setelah itu, trauma saya melihat neraka tidak segera pulih. Ingatan tentang neraka itu tidak dapat saya lupakan sama sekali. Ditambah lagi, sekujur tubuh saya pada sakit. Tulang-tulang saya terasa nyeri, sehingga untuk menggerakkan badan saja terasa sulit. Sekalipun berusaha melupakan perjalanan ke lembah penyiksaan itu, namun saya tak dapat tidur tanpa memikirkannya.
Saya tahu, Tuhan membawa saya ke sana untuk membongkar rahasia pekerjaan iblis yang tak disadari banyak orang. Saya yakin “emergency call” ini datangnya dari Allah, bukan peringatan dari manusia. Tuhan mengembalikan roh saya ke tubuh saya dalam keadaan hidup, karena hanya orang hidup yang dapat berbicara kepada manusia yang hidup. Orang mati, sekalipun telah melihat dan mengalami neraka, tidak dapat berbicara kepada orang hidup.
 
Keseluruhan pesan ini bukan terletak dan berfokus pada nerakanya. Yang jauh lebih penting, pesan ini mengenai Tuhan Yesus, mengenai keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Karena hanya Tuhan Yesus saja yang sanggup menyelamatkan manusia dari penghukuman kekal di neraka. Kisah Para Rasul 4:12 mengatakan, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Yesus Kristus, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Kisah kesaksian Philip Mantofa ini diambil dari buku “A Trip To Hell” ditulis oleh Philip Mantofa bersama Sianne Ribkah.
 
Marilah kita bertobat dari dosa dosa kita dan terimalah Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat karena hanya DIA lah yang bisa membawa kita masuk dalam kerajaan Surga yang kekal dan terhindar dari neraka yang jahanam , Yohanes 14:16 
 
Kata Yesus kepadanya: 
 
 
” Akulah d jalan dan kebenaran dan hidup Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku “




—————————————————————————————–

 

JALAN 2 MIL Oleh: Pdt. Philip Mantofa, Bre
 
 
 
JALAN 2 MIL
Oleh: Pdt. Philip Mantofa, Bre.
 
Buat apa sih kita sekolah? Buat apa sih kita harus kerja atau mengerjakan semua tanggung jawab dalam hidup ini? Pertanyaan semacam ini selalu terlontar. Siapapun kita, dan apapun yang kita lakukan sekarang, pastikan kita nggak melakukannya cuma lantaran sekedar kewajiban. Jika kita melakukannya dengan benar, maka hidup kitapun akan benar karena apa yang kita lakukan merupakan bagian yang nggak bisa terpisahkan dari hidup kita, termasuk pekerjaan dan studi kita.
 
Matius 5:41 berkata, “Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil”. Ada tiga point penting yang perlu kita perhatikan dari ayat ini.
 
1. “Memaksa engkau”
Siapakah yang ‘memaksa’ kita berjalan 1 mil di ayat tersebut? Saya mendapat pengertian mengenai ‘panggilan hidup’ dalam ayat ini, bahwa yang ‘memaksa’ kita bukan manusia, bukan pula si Iblis karena Tuhan nggak mungkin menyuruh kita berjalan bersama iblis. Tapi Roh Kudus-lah yang digambarkan ‘memaksa’ kita buat melakukan studi atau perkerjaan kita. Itu adalah mengenai panggilan hidup kita.
 
Nah, karena Roh Kudus yang meminta kita melakukan semua tanggung jawab kita, kita nggak boleh merasa terpaksa melakukannya. Studi atau tanggung jawab apa pun nggak boleh menjadi paksaan dan siksaan dalam hidup kita. Banyak dari kita yang secara tubuh ada di sekolah, di kampus, atau mungkin di tempat kerja(buat yang udah kerja), tetapi hati kita di tempat lain. Sekalipun mungkin hati kita ada pada pelayanan di gereja, hal ini tetap salah karena pelayanan di gereja punya perannya sendiri dalam hidup kita. Studi, pekerjaan ataupun pelayanan di gereja semuanya adalah sama-sama pelayanan pada Tuhan, tapi dalam fungsi dan bentuk yang berbeda. Kalo kita gagal menerima pewahyuan ini, berkat Tuhan nggak bisa mengalir. Tapi, bukan berarti kita harus gila kerja atau gila studi atau gila pelayanan di gereja, karena Tuhan menghendaki kita tetap berjalan tanpa harus jatuh ke kanan maupun ke kiri.
Seringkali kita ngerasa stres dengan kewajiban-kewajiban kita. Tuhan nggak pernah memberi pekerjaan yang lebih besar daripada apa yang kita dapat tanggung. Pekerjaan yang besar pasti Dia sertai dengan kasih karunia yang besar. Stres timbul dari rasa takut dan kuatir kita yang nggak realistis. Belajarlah buat bersukacita dalam pekerjaan atau studi kita. Tuhan yang memanggil kita untuk melakukannya dan kita harus percaya bahwa Dia turut campur dalam apa yang kita kerjakan.
 
2. “Berjalanlah bersama dia”
Libatkan Roh Kudus dalam sekolah dan semua tanggung jawab kita yang lain. Cara untuk berjalan bersama Roh Kudus dimulai dari gimana kita memulai hari kita. Sediain waktu dengan cara bangun lebih pagi untuk berdoa dan membaca firman Tuhan. Sekalipun mungkin kita nggak dengar apa-apa, roh kita tenang dekat Dia dan ada damai sejahtera. Kalo kita memulai hari dengan terburu-buru tanpa menyerahkan roh kita kepada Roh Kudus, apapun yang kita lakukan hari itu nggak bakalan efektif dan kita bakal lebih mudah terserang stres, setiap tantangan dan masalah yang ada terlihat besar dan kita seperti belalang karena kita nggak pake kacamata-nya Tuhan. Bersama dengan Roh Kudus, setiap masalah selalu ada dalam kapasitas kita untuk diselesaikan, sehingga kita bisa berkata “… kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34).
 
 
3. “Dua mil”
Ayat di atas nggak berhenti hanya sampai di mil pertama. Ada mil kedua yang juga merupakan bagian kita. Kita nggak boleh hanya bersukacita di mil ke-1 karena kedua mil ini bukanlah pilihan, melainkan janji Tuhan dan kita perlu untuk claim janjiNya. Mil ke-2 adalah membagi kasih Tuhan di sekolah, di tempat kita kerja atau dimana pun kita berada. Entah itu mengasihi, memberkati, jadi tempat curhat, jadi jawaban, bersaksi, ngajak ikut retreat atau sekedar kasih brosur tentang sebuah KKR, yang penting adalah mengasihi mereka yang terhilang atau yang mundur dan mengajak untuk kembali sama Tuhan. Nggak cukup bagi kita untuk hanya minta disertai Tuhan dalam kewajiban kita, tapi sampai menjadi teladan, bangkit dan bersinar terang disana. Hidup kita harus berdampak dan menjadi sebuah kesaksian terbuka bagi orang yang belum mengenal Tuhan. Sampaikanlah sukacita kita kepada mereka sehingga hidup mereka berubah secara kekal karena mereka mengenal kita. Inilah panggilan injil kita.
Berjalanlah dalam mil ke-1 dengan sukacita. Namun jangan berhenti disana. Prioritas kita adalah Kerajaan Surga. Oleh karena itu, kita harus teruskan sampai mil ke-2. Jangan tunggu sampai kita sempurna di mil ke-1 baru mau bergerak ke mil ke-2. Minta penyertaan Tuhan dan tanya kepada Tuhan kapan waktu yang tepat untuk bergerak kesana. Tanpa kita sadari, iman kita mulai dibawa Tuhan ke level yang lebih lagi karena kita berani bergerak sampai ke mil ke-2.
 
Pdt. Philip Mantofa, Bre. adalah wakil gembala sidang Sinode Gereja Mawar Sharon, Surabaya. Dengan istrinya Irene Saphira, ia mempunyai 3 anak: Vanessa, Jeremy dan Warren.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar




The Life Of Jesus Christ Full Movie (English Version)







Jesus of Nazareth Full Movie HD







The Life of Jesus Christ







the Nativity about the birth of Jesus







THE GOSPEL OF JOHN







THE GOSPEL OF MATTHEW







David and Goliath 1960 Biblical Story Of David Biblical Movies Full Movies







David and Bathsheba







The Kingdom of Solomon – English Subtitle – full movie







KING SOLOMON – HOLY BIBLE







ESTHER – THE BIBLE MOVIE ONLINE (1999)







Queen Esther One Night With The King full movie







ESTHER AND THE KING (1960)








Esther And The King (1960)







The Ten Commandments 2007 Full Movie HD







The Ten Commandments (2007) Subtitle Indonesia







Greatest Heroes of the Bible The Story of Moses







MOSES







Bible Story Moses | Subtitle Indonesia | Musa







NOAH’S ARK MOVIE







NUH







Samson and Delilah







Sodom & Gomorrah FULL VIDEO


https://www.youtube.com/watch?v=Uo82q6ki3bk







The Story of Joseph and His Brethren (1962)







GABRIEL

https://www.youtube.com/watch?v= mIBStAQMq3Y







Ruth Movies







THE STORY OF RUTH







The Life Of Apostle Paul ( Bible Movie )







Cleopatra Full Movie HQ







Joshua at the Battle of Jericho







The Dark Ages (Full Documentary)







JUDAS







Thomas







Elijah Prophet Full Movie







Mary of Nazareth







Mary Mother of Jesus







Mary Magdalene







The Kingdom of God & The New Jerusalem







The Real Queen of Sheba ¦ Full Documentary







Full Bible Movie – The Book Of Acts – The Visual Bible







Moses – Man of God (2005 Full Movie) [HD]







Full Bible Movie – The Book of Revelations







The Book of Mark (KJV)







The Book Of Psalms ( Full Movie )







The Book Of Revelation Full Film







The Acts of the Apostles – Film – High Quality! HD







Paul the Apostle Full Movie







Jeremiah – The movie (Heb subs)







Trip to Heaven

Heaven pictures_A Trip to Heaven(Full version (Full version)







Trip to Hell

Hell pictures_ A Trip To Hell (Full version)(Full version)







Gambaran Neraka







Demon talking out of teenage girl







ASTEROID JATUH DAN MENGHANGUSKAN 1/3 BUMI TERJADI PADA SAAT PENGANGKATAN DI AKHIR JAMAN







Meteors Attack: The Last Day of Earth. The World Ends. Doomsday.







World WATERS TURN BLOOD Apocalypse – Australia DUST STORM, FIRE; Russia COLD; China 1.19.13














2016

(5493)



Sumber:  http://tuhanyesusterangdunia.blogspot.co.id/2016/06/kesaksian-philip-mantofa-penglihatan.html


Gottlob Bruckner

GOTTLOB BRUCKNER
mini story dirangkai dari berbagai sumber:


Gottlob Bruckner lahir dalam keluarga petani di desa Linda, Jerman. Ayah Gottlob sering mengajak anak-anaaknya untuk menyaanyikan lagu-lagu rohani dan membacakan buku-buku Kristen pada malam hari. Saat berumur 20 tahun, Gottlob pergi ke Berlin, sebelum berangkat ayahnya berpesan, “Ingatlah ini: Yesus Kristus telah bangkit dari antara orang mati!.” Setelah menimba banyak pengalaman di Berlin, maka ia pergi ke Belanda untuk mengikuti pendidikan theologia. Tanggal 1 Januari 1814 ia berangkat dari Belanda untuk melayani ke berbagai negara dan akhirnya ia tiba di Indonesia. Di Jakarta ia disambut oleh Gubernur Raffles.

Pendeta Gottlob tinggal di Semarang, kemudian ia menjadi gembala sidang dan menikah di sana. Saat ke Surakarta,Pdt Gottlob bertemu dengan Pdt. Thomas Trowt dan isterinya yang tekun mempelajari bahasa jawa. Enam bulan kemudian, Pdt. Thomas Trowt meninggal dunia dan Pdt.Gottlob ditunjuk sebagi penggantinya. Sebelum meninggal, Pdt Trowt telah menyiapkan kamus bahasa jawa dan juga telah menterjemahkan sebagian kitab PB ke dalam bahasa jawa. Pdt Gottlob bersedia meneruskan tugas itu, meskipun menurutnya bahasa jawa jauh lebih sulit daripada berbagai bahasa asing lainnya. Pdt Gottlob menyadari pentingnya penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Jawa, agar orang Jawa mengenal firman Tuhan. Tahun 1820 ia menyelesaikan terjemahan seluruh PB dan tahun 1823 Alkitab PB siap untuk dicetak. Kerena keterbatasan teknologi, Pdt Gottlob menemui kesulitan dalam usaha pencetakan. Melalui proses yang panjang akhirnya Alkitab PB dalam aksara Jawa dapat dicetak pada tahun 1828 di India dengan bantuan Dr.William Carey.

Tiga tahun kemudian pdt Gottlob kembali ke Indonesia dengan membawa 2000 jilid kitab PB dalam aksara dan bahasa Jawa, lalu ia membagikannya. Ia juga membuat selebaran dan membagi-bagikannya, namun pemerintah Belanda tidak menyetujui tindakannya itu dan menyita semua selebaran yang dicetaknya. Meskipun demikian, ia tetap gigih mencetak dan menyebarkan selebaran dengan diam-diam. Dengan demikian berita Injil dalam bahasa Jawa dapat tersebar luas ke masyarakat suku Jawa.

Pdt. Gottlob mengirimkan Alkitab PB dalam bahasa Jawa kepada raja Belanda dan raja Prusia. Raja Prusia mengiriminya sebuah medali emas sebagai penghargaan kepadanya. Umur 60 tahun, Pdt. Gottlob berlayar menyusuri pantai utara pulau Jawa sampai ke Surabaya. Dalam perjalanan itu ia berjumpa dengan beberapa orang Jawa yang telah percaya kepada Tuhan Yesus. Ketika masuk ke pedalaman Jawa, ia menemukan lebih banyak lagi petobat baru. Semua itu mendatangkan suatu kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri dalam hatinya. Pada tahun 1875, Pdt. Gottlob pulang ke rumah Bapa di surga. Pengganti Pdt.Gottlob mewarisi ladang penginjilan yang sudah dibajak, karena telah tersedia kitab PB, selebaran, lagu-lagu rohani, dan kamus bahasa Jawa, yang sangat berfaedah dalam pelayanan.

Polycarp,murid Yohanes yang setia pada panggilan

 

 

 

POLYCARP, TOKOH YANG SETIA PADA PANGGILAN
dikutip Editor


 

“Hendaklah engkau setia sampai mati dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” Wahyu 2 : 10 b

 

Yohanes, murid yang paling dikasihi Yesus, merupakan salah satu rasul yang paling lama hidup sesudah kebangkitan Yesus. Yohanes telah memuridkan banyak orang Kristen, diantaranya adaaalah Polycarp yang hidup sekitar tahun 70 – 160 sesudah masehi. Polycarp menjadi gembala yang menggembalakan jemaat di Smirna. Pada jaman itu penindasan dan penganiayaan oleh penguasa Romawi terhadap kekristenan sangatlah berat. Pada usia yang sangat tua yaitu 86 tahun, Polycarp ditangkap dan dianiaya.

Dengan ancaman akan dibakar hidup-hidup, Polycarp dipaksa untuk mengingkari imannya,namun ia menolak. Ia lalu diikat pada sebatang tiang dengan tumpukan kayu bakar di sekitarnya, saat itu ia kembali dipaksa menyangkal Tuhan Yesus sebagai Tuhannya agar lepas dari pembakaran.Polycarp tetap teguh pada imannya, ia teringat akan pesan gurunya, yaitu rasul Yohanes, “Hendaklah engkau setia sampai mati”. Ketika kayu-kayu mulai dibakar,dan lidah bara api mulai menyentuh tubuhnya, orang mengira akan keluar kata-kata penyangkalan dari mulut Polycarpus, tetapi sebaliknya, yang terlontar adalah ucapan Polycarpus yang sangat terkenal dan dikenang sampai saat ini. Polycarp berkata, “Selama 86 tahun aku mengiring Dia, belum pernah Dia mengecewakan aku, mengapa aku harus menyangkalnya?”. Polycarp akhirnya tewas dalam kobaran api, ia tetap setia pada imannya pada Tuhan Yesus walaupun harus kehilangan nyawa dengan cara mengenaskan.

Mengikut Yesus, menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi bukan berarti lepas dari berbagai tantangan, godaan dan ancaman. Kita hanya bisa berharap tidak menemui rintangan, cobaan ataupun badai kehidupan, namun kita juga taaak bisa menghindari bila harapan tak sesuai kenyataan. Mengikut Yesus harus siap memikul salib, teraniaya, terhina dan tertolak. Harus siap memasuki peperangan rohani, harus siap menyangkal diri, bahkan kemungkinan terburuk, yaitu kehilangan nyawa. Yesus telah menunjukan contoh setia sampai mati di atas kayu salib, para pengikutNya pun harus tetap setia.

 

 

Susanna Wesley


 

Susanna Wesley
Susanna Annesley atau Susanna Wesley lahir di London pada tahun 1669. Sejak kecil ia hidup dalam keadaan yang sulit sebagai anak ke 25 dari keluarga yang sangat sederhana.Walaupun sebenarnya ia memiliki kepandaian namun karena keadaan ekonomi membuatnya hanya menerima pendidikan yang rendah.
Pada usia 20 tahun, Susanna menikah dengan Samuel Wesley, pendeta Anglikan dan melahirkan 19 anak. Sembilan dari anak-anaknya meninggal ketika masih bayi. Salah satu putrinya yang lahir tahun 1705, mati tertindih wanita yang membantu mengasuhnya karena wanita itu kecapaian setelah berpesta sepanjang malam dan tertidur lelap menindih putri Susanna Wesley.

Penghasilan Samuel Wesley sangat kecil,sedangkan kebutuhan rumahtangga sangat banyak. Akibatnya Samuel sering berhutang dan pernah dipenjarakan karena terlambat membayar hutang. Sikap Samuel sebagai pendeta sangatlah keras sehingga tidak disukai sebagian jemaatnya. Samuel dan Susanna Wesley sering berdebat karena keduanya sama-sama memiliki watak yang keras.

Susanna Wesley. Sebagai seorang ibu rumah tangga yang sangat kelihatan buah-buah karya rohaninya, baik sebagai pendoa bagi anak-anaknya maupun dukungkan buat pekerjaan pelayanan sang suami. Nama kecilnya Susanna Annesley, lahir tahun 1669. Ia merupakan anak bungsu yang dianggap paling cantik parasnya dan cerdas dibandingkan dengan saudara-saudara -nya yang lain. Ia memiliki banyak kemampuan yang sanggup menaklukan para remaja pada zamannya, sehingga mereka menjadi minder. Pada saat remaja saja ia sudah sanggup membaca dalam tiga bahasa yang cukup penting yakni bahasa Ibrani (bahasa Perjanjian Lama), bahasa Yunani (bahasa Perjanjian Baru) dan Bahasa Latin (bahasa Alkitab jaman dahulu).

Dan yang lebih luar biasa dari gadis remaja ini adalah ia mampu beragumentasi secara teologis dengan ayahnya yang merupakan seorang pendeta. Semua ini tentu tidak terlepas dari sistem pendidikan yang diterapkan sang ayah semasa mereka masih kecil dan dukungan dari kakak-kakaknya. Pendeta. Dr. Samuel Annesley selalu mendorong anak-anaknya untuk belajar bebas mengutarakan pendapat dalam segala hal. Kemudian juga ditambah dengan pelajaran bahasa yang diberikan serta didukung dengan koleksi buku-buku perpustakaan pribadi sang ayah yang cukup banyak.

Sistem dan pola pikir yang bebas ini memungkinkan Susanna pindah dari gereja ayahnya dan bergabung di Gereja Anglikan. Kemudian dilanjutkan dengan konsep teologianya yang bertentangan dengan sang ayah yakni Sosianisme yang anti Tritunggal, namun ayahnya sangat menghargai keputusan yang diambil putrinya. Minat belajar dan membacanya sangat luar biasa, sehingga walaupun beliau sebagai isteri pendeta dan ibu rumah tangga masih sanggup melalap buku-buku yang berbau teologia

Samuel Wesley demikianlah nama suaminya, seorang mahasiswa teologia yang terkenal memiliki otak yang cemerlang. Pada masa pacarannya dipenuhi dengan banyak waktu untuk berdiskusi masalah-masalah teologia. Setelah masa pacaran mereka berlalu selama tujuh tahun, akhirnya Samuel Wesley membawa Susanna Annesley ke jenjang pernikahan menuju bahtera rumah tangga sebagi isteri seorang pendeta. Peranan Susanna sebagai isteri cukup berpengaruh untuk mengatur roda kehidupan rumah tangganya.

Dalam kehidupan rumah tangga mereka sehari-hari, sehabis makan pagi biasanya diadakan kebaktian keluarga yang berfungsi untuk membangun kerohanian pribadi dan keluarga juga sebagai persiapan memberitakan firman Tuhan pada hari Minggu. Setelah itu Samuel akan mengadakan kunjungan ke jemaat dan pada saat yang luang seperti itu biasanya Susanna mengambil kesempatan untuk membaca selama dua jam terutama tentang hal-hal yang baru. Kebiasaan ini tetap dilakukan sampai waktu sudah mempunyai anak.

Sebagai seorang pendeta di desa kecil Inggris, otomatis mereka menerima gaji yang sangat minim; belum lagi ditambah dengan jumlah anaknya yang cukup banyak yakni sembilan belas orang. Oleh sebab itu sering kali keluarga pendeta Samuel Wesley ini terlibat masalah utang. Seorang tukang daging misalnya pernah mendatangi Susanna untuk menagih hutang yang sudah lama tidak dibayar, namun karena Susanna tidak memiliki uang sedikitpun, maka usaha tukang daging itu pun sia-sia. Di lain pihak Susanna sendiri berusaha sendiri untuk mencukupkan kebutuhan keluarga dengan berladang, memelihara sapi perah, ayam yang menghasilkan telur dan ternyata berkat Tuhan senantiasa cukup, sehingga mereka tidak pernah sampai merasa kelaparan. Masalah hutang-piutang ini bertambah sulit ketika suaminya Samuel dijebloskan ke dalam penjara karena hutangnya yang membeludak. Untuk membebaskan suaminya Susanna terpaksa meminta bantuan dari seorang Uskup Agung.

Sebenarnya sejak muda Susanna sudah merencanakan supaya keluarganya tidak memiliki banyak anak seperti ibunya yang melahirkan dua puluh lima anak, namun kenyataannya ia harus melahirkan sembilan belas orang anak, dan sembilan diantaranya meninggal. Anak sulung Susanna diberi nama seperti nama ayahnya yaitu Samuel, sedang anak keduanya bernama Susanna. Walaupun Susanna sudah begitu tekun mendidik anak-anaknya, tetap saja tidak sempurna. Satu orang anak perempuannya meninggalkan pengajarannya yakni Hetty, ia melarikan diri bersama pacarnya; namun setelah hamil sang pacar meninggalkannya.

Suatu ketika rumah mereka terbakar dan hampir saja menewaskan mereka. Beberapa saat mereka harus tidur di depan rumah mereka yang terbakar itu. Kesehatan Susanna mulai menurun setelah peristiwa itu. Pada tanggal 21 Juli 1731, kuda-kuda mereka berlari liar dan menjatuhkan Samuel. Samuel terluka parah dan mengalami penderitaan sepanjang hidupnya.
Rumah kecil mereka di Epworth, kota kecil yang cukup tertinggal di Inggris. Namun rumah ini menjadi tempat yang sangat terkenal dalam sejarah Inggris, karena disanalah lahir dan tumbuh dua pengabar injil yang sangat terkenal sepanjang masa ,yaitu John dan Charles Wesley.Kehidupan sulit yang dialami Susanna Wesley tidak menggoyangkan imannya, bahkan tangan yang bekerja keras dan hati yang tekun berdoa ini mengantarkan kesepuluh anaknya menjadi tokoh yang berguna bagi pergerakan gereja di jamannya, bahkan dua diantaranya menjadi pengkhotbah yang akan selalu dikenang dunia.

Dengan anak yang cukup banyak, ditambah kesulitan ekonomi mereka, maka tidak jarang di dalam keluarga besar ini sering terjadi pertengkaran-pertengkaran. Samuel sebagai kepala rumah tangga selalu berkeinginan mengatur masalah keluarga, namun ketika bertemu dengan isterinya ia senantiasa terbentur; sebab bagi Susanna ia menerapkannya dari sudut pandang firman Tuhan. Memang semenjak kuliah kedua suami-isteri ini mempunyai pandangan teologia yang cukup kuat, sehingga sering terjadi perdebatan-perdebatan yang tak kunjung habis. Samuel yang begitu keras pernah pisah ranjang dengan isterinya hanya gara-gara kesalahpahaman mereka dan Susanna belum meminta maaf.
Sebagai seorang isteri pendeta, sudah banyak suka-duka yang dikecap oleh Susanna. Namun demikian semua itu, tidak pernah mematahkan semangatnya melayani Tuhan. Ketika suaminya pelayanan ke luar kota, ia memakai kesempatan untuk mengumpulkan orang-orang untuk bersekutu dan mengajarkan firman Tuhan. Setiap minggu hampir dua ratus orang yang ikut dalam persekutuan itu. Selain itu di dalam hal mendidik anak, setiap malam sebelum anak-anaknya tidur, Susanna selalu mendoakan mereka satu persatu, baru kemudian ia pergi tidur. Inilah riwayat singkat seorang tokoh wanita sejarah gereja, yang kemudian melahirkan tokoh-tokah gereja, misalnya John Wesley dan Charles Wesley. John pendiri gereja Methodist sedang Charles seorang musisi musik gerejawi yang telah menciptakan ribuan lagu-lagu rohani, masih dinyanyikan di beberapa gereja samapai hari ini.


Editor:
 

John Sung ,Rasul dan Martir di Asia Timur

John Sung
Rasul Allah di Timur
Jauh

Umat Kristen di Indonesia, terutama dari kalangan keturunan
Chinese pasti ingat pada suatu era sekitar tahun 1935-1940-an.
Pada saat itu, kehidupan keKristenan sedang hangat membara,
dan salah satu hal yang membakar kehidupan rohani Kristen
peranakan China Indonesia saat itu adalah api kebangunan
rohani yang dinyalakan oleh John Sung yang sangat fenomenal
itu.

Hamba Tuhan yang satu ini berpenampilan unik. Ia kurus kecil. Rambutnya pendek dan selalu terurai di dahi. Mukanya pucat dan selalu menunduk. Ia selalu berpakaian kemeja putih sederhana model Tiongkok kuno. Ia tidak suka tersenyum sana-sini atau berbasa-basi. Sifat pemalunya sering membuat ia ketus dan menyendiri.

John Sung, seorang China yang mengenyam beberapa pendidikan tinggi di Amerika Serikat dipakai Tuhan untuk menghidupkan api kebangunan rohani di China,saat itu China sedang
mengalami pembaruan revolusioner yang mengagumkan. Sesudah memulai penginjilan dan kebangunan rohani di China,
ia lalu mulai bergerak ke negeri sekitarnya termasuk
asia tenggara.

John Sung pada tahun 1939 datang ke Indonesia untuk
berkhotbah. Jakarta, Bandung, Cirebon,Madiun, Solo,
Surabaya, dan Makasar menjadi tempat diadakannya kampanye
penginjilan John Sung. Sebelumnya, ia telah mengadakan
kampanye penginjilan di Thailand, Philipina,Taiwan,
Malaysia, Singapura. Di berbagai tempat yang dikunjungi
ini, kuasa Allah dinyatakan, ribuan jiwa baru bertobat
dan umat Kristen setempat merasakan pergerakan rohani
yang luar biasa.

Di Indonesia, John Sung sangat besar
pengaruhnya bagi bermunculannya gereja baru sebagai
tindak lanjut dari kotbah penginjilan yang dilakukannya.
Ev.Agnes Maria Layantara pernah mengisahkan betapa hebatnya
pengaruh kebangunan rohani yang dipimpin John Sung ini
di Cirebon. Pada saat itu banyak orang China di Indonesia,
baik suku Hokkian,Khe,Theo Chew, HinHwa/HakYin ataupun
suku lain yang bertobat dan kemudian membuka cell group
yang kemudian berkembang menjadi gereja. Ibu Mia Sigar
(Maria Josephine Yacob) dari Makasar yang kemudian menjadi
staf penerjemah Lembaga Alkitab Indonesia, juga merasakan
pengaruh kebaktian kebangunan rohani oleh John Sung
ini, ketika itu ibu Mia masih sebagai gadis kecil di
kota Makasar.

Sedikit tentang John Sung

Sebagai utusan pembaharu, John Sung bekerja
sebagai penginjil kerasulan sejati, dengan banyak tanda
ajaib yang tak terhitung selama pelayanannya. Tidak
seperti beberapa tokoh gereja modern lainnya yang pernah
kita pelajari, John Sung melambangkan perpaduan Kemurnian
Perjanjian Baru dan kekuatan Perjanjian Baru. Kehidupan
pribadi dan pelayanannya sangat dikuasai oleh pengurapan
nubuatan yang sejati. Dia adalah wujud dari semangat
membara, nafsu yang tak mudah puas dan ketidaktakutan
yang tak lenyap. Beberapa menjulukinya sebagai “John
Wesley dari China,” sementara lainnya memanggilnya “Si
penghancur Es” atau “Utusan Pembaharuan” Semua
yang pernah menyaksikan ataupun mempelajari pelayanannya,
menyadari bahwa dia adalah salah satu revivalis terbesar
dalam abad ini. Di tengah rasa kehilangan kita, dia
telah dilupakan dan diabaikan oleh kebanyakan gereja
barat. Dia adalah nabi yang terlupakan dari pembaruan
China 1927-1937.

John Sung dilahirkan pada tanggal 27 September,
1901 di distrik Hinghwa di propinsi Hokkian (Minnan)
di China bagian Selatan. Dia adalah putera dari seorang
majelis Methodis yang sangat disegani .Pada tahun 1920
John Sung dalam usia sembilan belas tahun menuju Amerika
Serikat untuk kuliah di Wesleyan University of Ohio.
Dia kemudian pergi belajar di Ohio State University
and Union Theological Seminary. Selama lima tahun dan
dua bulan dari hari pertama ia memasuki kuliah, dia
menekuni tiga jurusan akademik: Sarjana Science, Master
of Science dan Doctor of Philosophy, sambil melakukan
pekerjaan sambilan. Bagaimanapun juga , semua gelar
tinggi ini tidak datang begitu saja dalam hidup rohaninya.
Sesudah beberapa tahun di Amerika, di bawah ajaran kokoh
filsafat dan theologi liberal, John Sung menyadari dirinya
menyimpang dan meragukan semua yang diajarkan ayahnya.

10 February 1927, bersamaan waktunya dengan
kebangunan rohani mulai merambah di China, John Sung
menyerahkan hidupnya bagi Tuhan Yesus Kristus. Inibaru
permulaan dari suiatu pekerjaan yang sangatlah berat.
Sesudah penyesalan dosanya dia tiba-tiba dipenuhi suatu
sukacita yang sangat dahsyat. Dia mulai berkotbah ke
seluruh teman kuliah dan profesornya. Perubahan tajam
dari kebiasaan hidup John Sung membuat banyak orang
menyangka dia mengalami gangguan kejiwaan. Dia kemudian
mendapati dirinya dirawat di satu rumah sakit jiwa atas
perintah pimpinan seminarinya. Dia diijinkan untuk membawa
hanya Alkitab dan pena dalam rumah sakit itu. Dia kemudian
mengakui bahwa rumah sakit jiwa itu adalah seminari
theologi yang sebenarnya bagi dia. John Sung dikurung
selama 193 hari, setengah tahun lebih. Selama waktu
itu ia membaca Alkitab dari awal sampai akhir empat
puluh kali. Dia mencurahkan hampir semua waktu untuk
membaca Alkitab dan berdoa. Melalui bulan-bulan kesendirian
ini, Roh Kudus telah dengan cermat meletakkan dasar
bagi pelayanan kenbangunan rohani John Sung. Dia telah
dipersiapkan untuk berpartisipasi dalam satu dari beberapa
revival terbesar di abad ke duapuluh.

Sesudah mengundurkan diri, John berlayar pada
tanggal 4 Oktober 1927 menuju Shanghai. “Dia telah hidup
tujuh setengah tahun di Amerika Serikat. Dia kini seorang
sarjana terkemuka, dan tak diragukan lagi bahwa banyak
Universitas nasional di China akan menyambutnya sebagai
pengajar. . .” Mengabaikan segala tawaran keberhasilan
dari prestasi pendidikan yang dapat diraihnya, John
Sung memutuskan kembali ke tanah air dan mewartakan
Firman pada rakyat negerinya. Dia menyadari bahwa yang
dibutuhkan negara China bukan hanya pengajar science
tetapi pemberita Injil. Suatu hari ketika kapal itu
telah mendekati tujuan, ia mengumpulkan semua ijazahnya,
medali dan semua sertifikat dan membuangnya ke samudera.
Satu-satunya yang tidak dibuang hanyalah diploma doktornya,
yang ia simpan untuk menyenangkan hait ayahnya. Seperti
halnya rasul Paulus, John Sung mungkin berkata, “Apa
yang tadinya kuanggap berharga, kini kuanggap sampah
karena Kristus” (Filipi. 3: 7). Sesudah tiba di China,
John Sung segera menikah dan kemudian bergabung dengan
Sekolah Alkitab Shanghai. Tidak lama sebelum ia menjadi
penginjil di kalangan mahasiswa. Dia menjalin aliansi
dengan Andrew dan beberapa alumni lain dari sekolah
tinggi itu untuk membentuk “Bethel Evangelistic Band.”
Allah menggunakan kelompok rasuli ini secara luarbiasa
untuk menyebarkan api kebangunan rohani di seluruh negeri
China ketika mereka berkeliling memberitakan Firman
dan menyanyikan lagu pujian. Ketika John Sung tidak
di belakang mimbar, dia seorang pendiam bahkan penurut.
Tetapi ketika berkotbah ia adalah seorang pria dengan
emosi yang kuat dan meletup. Dia seringkali bolak balik
dan melintasi panggung atau kadangkala melompati pagar
komuni. Di lain waktu, dia dapat berjalan dan menuruni
gang di tengah ruangan gereja untuk menunjuk dengan
jarinya pada seseorang dari pengunjung jemaat dan kemudian
berlari kembali ke depan altar gereja lalu berdiri di
tempat komuni melanjutkan kotbahnya sampai selesai.

Dia selalu menekankan pertobatan dan kebutuhan
untuk melengkapi pemulihan semaksimal mungkin. Dia tanpa
rasa takut mencela semua dosa dan kemunafikan ketika
menemukannya, terutama di kalangan pelayan Tuhan yang
kawakan. Begitupun dia juga menggerakkan hadirin dengan
pesan dari kelembutan Kristus dan kasih yang tak pernah
gagal. Pertemuan Dr. Sung selalu disertai sejumlah besar
pertobatan orang berdosa. Ini sangat tidak umum untuk
ratusan hadirin untuk terlihat aliran air mata turun
dari wajah dan meraung untuk kebajikan. Banyak petobat
baru menerobos ke depan untuk secara terbuka mengakui
dosa mereka sebelum keseluruhan ibadah .”Dalam kotbahnya,
Dr. Sung sering menerima karunia nabi.” Dalam beberapa
kesempatan ia menunjuk langsung dosa-dosa pastor/rohaniwan
yang melakukan dosa lama dengan suatu ketepatan yang
mengagumkan dan mencengangkan. Leslie T. Lyall menulis,
“Kadangkala ia dapat mengajak seseorang secara individual,
seorang pendeta atau pengerja kantor gereja, dan berkata,
‘Ada dosa dalam hatimu!’ Dan ia selalu benar.”

Ketika John Sung tidak sedang berkotbah atau
mengorganisir satu kelompok penginjil baru, dia sering
ditemukan sedang menulis dalam catatan hariannya atau
sedang menambahkan daftar doanya yang semakin hari semakin
panjang. Dia dengan cermat berdoa dari satu daftar kebutuhan
umat yang ekstensif, yang juga disertai beberapa lusin
foto kecil.John Sung adalah seorang pendoa syafaat yang
setia dan selalu meminta sebuah gambar kecil dari doa
yang diinginkan dalam rangka menolong dia bersyafaat
dengan beban yang berat. Dimana saja ia pergi, ia meminta
orang -orang untuk berdoa bagi mereka sendiri. “Kenyataan
bahwa Gereja China adalah gereja yang berdoa sekarang
ini, dapat dikatakan merupakan pengaruh dan teladan
dari tokoh ini yang berdoa.” Tak ada seorangpun dibolehkan
menyela waktu berdoanya. John Sung membuat ini menjadi
kebiasaan tetap untuk bangun pagi jam 5 pagi untu bersembahyang
selama dua atau tiga jam. “Berdoa dengan John Sung bagaikan
suatu pertempuran. Dia berdoa sampai keringat mengucur
dari wajahnya.” Beberapa kali dia pingsan di atas ranjang
dan tanpa kontrol menangis dan meraung dalam doanya.
John Sung percaya bahwa berdoa adalah pekerjaan palin
penting dari orang percaya. Dia mendefinisikan iman
sebagai menyaksikan Allah bekerja di lutut Anda. Mr.
Boon Mark menceritakan tentang John Sung, “Dia bicara
sedikit, khotbah banyak, dan berdoa paling banyak.”

Karena terbukti bahwa John Sung adalah tokoh
dengan kuasa besar dalam berdoa, orang sakit dan timpang
banyak datang kepadanya untuk didoakan. John Sung selalu
mengadakan waktu untuk secara khidmat berdoa untuk kebutuhan
mereka. “Dr. Sung biasanya mengadakan satu kampanye
dimana ia mengharuskan orang yang membutuhkan pelayanan
kesermbuhan dan kelepasan itu untuk bertobat terlebih
dahulu.” Ratusan orang disembuhkan dari perbagai sakit
penyakit. Orang buta dicelikkan; orang lumpuh berjalan,
dan tuli bisusecara ajaib disembuhkan ketika John Sung
berseru pada Yesus dalam doanya. Sometimes he would
personally lay hands on and pray for as many as 500-600
jemaat dalam satu ibadah. Di luar kenyataan bahwa banyak
penyembuhan mengagumkan dalam pelayanannya, dia menderita
selama bertahun-tahun akibat penyakit tuberculosis usus.
Penyakit ini menyerang dia secara konsisten dengan rasa
sakit yang luar biasa disertai infeksi darah bernanah
pada ususnya. Walaupun demikian ia tetap melanjutkan
berkotbah, kadangkala dalam posisi berlutut untuk meredakan
nyerinya. Akhirnya setelah bertahun-tahun sakit, dia
dipanggil pulang Bapa surgawi pada tanggal 18 Agustus
tahun 1944 di usia 43 tahun.

Gereja modern , seperti halnya Israel kuno,
sangat tidak nyaman dengan hamba-hamba Tuhan yang prophetik.
Di beberapa sudut Gereja hari-hari ini Anda akan menemukan
orang-orang yang menggemakan ulang perkataan tidak simpatik
raja Ahab – “Jadi engkau, (Elia) pembuat petaka atas
Israel?” (I Raja18:17). Biasanya ketika kita merasakan
ada hal yang tidak nyaman bagi kita, kita mencoba membubuhi
sesuatu untuk membuatnya lebih enak. Karena Umat Kristen
saat ini sangat tidak nyaman dengan suara kenabian,
kita mencoba untuk meredefinisi ulang peran nabi sebagai
satu-satunya yang menguatkan gereja tentang masa yang
akan datang. Nabi-nabi tidak ditempatkan di tengah-tengah
kita untuk menyanyikan lagu “Nina Bobok”,
mereka adalah sistem alarm untuk Bait Suci Allah!! Leonard
Ravenhill merumuskan peran kenabian begini:”Nabi-nabi
adalah pengerja darurat dari Allah untuk saat-saat kritis.
Mereka maju pesat dalam atasi kebingungan,mengatasi
kemalangan, mengatasi malapetaka, membawa anggur baru
untuk Kerajaan Allah dan meledakkan kirbat anggur usang
dan memperbaharui lahir baru.”

John Sung adalah seorang perintis revival sejati.
Beliau memimpin pelipatgandaan ribuan orang China dan
Asia Tenggara kepada suatu kekuatan spiritual yang baru.
Panggilan dari pembaharuan, adalah panggilan menjadi
perintis! Kalau kita serius mengenai revival, kita harus
rela pergi ke gereja yang telah di lupakan ini. Karena
itu kita harus menghentikan perbantahan dan perselisihan
dalam gereja seperti saat ini untuk menyiapkan langkah
kita bagi step kita selanjutnya, bagi mimpi dan visi.
Kita tidak layak membiarkan kelemahan dan kegagalan
mencuri iman dan pengharapan dan kasih kita. Allah tidak
memanggil kita untuk bermain dengan kelemahan dan kesia-siaan
di sekitar kita. Dia sedang mengundang kita untuk mempercayai
kemurnian dan kekuasaan gereja seperti tertulis dalam
Perjanjian Baru! masa tujuhpuluh tahun kita telah lewat,
inilah saatnya berhenti menghiraukan Sanbalat dan Tobiah
untuk giat membangun Rumah Doa Allah (Dan 9:1-3, Ezra
1:1-5).

 

Sumber pustaka: John Sung by
Leslie T. Lyall, The Diaries of John Sung translated
by Stephen L. Sheng, The Revival in Indonesia by Kurt
Koch, Go Home and Tell by Bertha Smith, The Theology
of Revival in the Chinese Christian Church, 1900-1949
by Chun Kwan Lee, Into God’s Family by Andrew Gih, Launch
out into the Deep by Andrew Gih, Twice Born and Then?
by Andrew Gih, The Shantung Revival by Mary K. Crawford,
The Awakening: Revival in China 1927-1937 by Marie Monsen

Back
to home