Bless the Lord oh My soul

Bless the Lord oh My soul

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan

Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan

Sukacita adalah ciri Utama orang Kristen. bersukacita sebagai ungkapan hati atas kasih karunia Tuhan More »

Spread the word

Spread the word

Sebarkan Berita Keselamatan More »

Janagn risau menghadapi tantangan hidup

Janagn risau menghadapi tantangan hidup

Selalu ada berkat dibalik masalah yang kita hadapi. More »

Bingung memilih Asuransi Jiwa?

Bingung memilih Asuransi Jiwa?

PT Generali Indonesia adalah perusahaan internasional yang berpengalaman sejak tahun 1831. More »

 

Category Archives: Etika Kristen

Paus Fransiskus meminta maaf kepada umat Kristen Protestan

BBC World
Jakarta –
Paus Fransiskus meminta maaf kepada kaum Protestan dan Gereja Kristen lainnya atas penganiayaan yang dilakukan kaum Katolik, dalam upaya terbarunya untuk membina kesatuan umat Kristen.

Dalam acara kebaktian malam di Basilika Santo Petrus, Roma, yang dihadiri perwakilan sejumlah agama, ia meminta “maaf bagi perilaku penganut Katolik yang tidak sesuai injil terhadap kaum Kristiani dan Gereja lain”. Ia juga meminta umat Katolik memaafkan siapapun yang telah menganiaya mereka, demikian lansir kantor berita Reuters.

Vatikan mengumumkan, pada 31 Oktober Paus Fransiskus akan pergi ke kota Lund di Swedia, tempat Federasi Dunia Lutheran (LWF) didirikan pada 1947, untuk kebaktian bersama kaum Lutheran dalam peringatan Reformasi Protestan yang akan berlangsung di seluruh dunia tahun depan.

Martin Luther, pria berkebangsaan Jerman, diakui sebagai perintis Reformasi Protestan pada tahun 1517 dengan menulis 95 tesis yang mengkritik Gereja Katolik karena menjual pengampunan dosa dengan uang.

Langkah itu berujung pada perpecahan politik di seluruh Eropa dan dalam agama Kristen, memicu di antaranya Perang 30 Tahun di Eropa, penghancuran biara di Inggris, dan pembakaran sejumlah ‘orang sesat’ di kedua pihak.

Kelompok tradisionalis Katolik menyalahkan Fransiskus karena sikapnya yang terlalu longgar terhadap Lutheran, khususnya dalam “doa bersama” yang akan digunakan kedua agama selama peringatan Reformasi Protestan 2017.

Bukan sekedar mengisi waktu luang

Saya berkesempatan hadir dalam konferensi guru-guru Sekolah Minggu. Salah satu pembicara adalah Simon Hood. Ia adalah Direktur Kreatif dari Australian Creative Children’s Powerhouse. Simon juga bergerak di dunia puppet dan sudah mengadakan show lebih dari 4.000 kali di seluruh dunia. Selama 19 tahun terakhir beliau melatih banyak guru sekolah minggu di lebih dari 18 negara.

Simon Hood sempat berbincang-bincang dengan saya.”Sebenarnya bukan hanya di Indonesia. Di berbagai tempat yang saya kunjungi,keadaannya juga demikian: pelayanan anak seringkali tidak digarap optimal karena banyak gereja yang kurang menganggap penting hal ini,” katanya. Karena itulah Sekolah Minggu terkesan hanya mengisi waktu luang anak-anak yang sedang mengikuti orangtuanya beribadah atau sekedar agar mereka tidak berlari-lari di dalam gereja saat pendeta sedang berkhotbah.

“Jadi,sebelum dunia ini menawarkan sesuatu kepada mereka dan mereka menjadi pengikut setianya, maka hendaknya gereja menyadari tugas mereka untuk membawa anak-anak dalam pengenalan akan Tuhan dan kebenaran,” kata Simon Hood.

Itulah salah satu potret pelayanan dan pemberdayaan anak-anak yang di dalam gereja, yang dikenal dengan istilah Sekolah Minggu. Anak-anak adalah generasi yang potensial untuk mengikuti apa saja yang ditawarkan atau diberikan dalam hidup mereka. Jikalau para orangtua tidak menyalakan lilin pengetahuan dan budi pekerti, maka pihak yang lain dapat mengambil mereka; kekuatan militer dapat mengambil mereka dalam organisasi-organisasi liar ,dan kekuatan-kekuatan lainnya, apapun itu.

Dikutip dari Blessing September 2016

Tanggapan Dr.Andik Widjaja terhadap pernyataan (sepihak) MPH-PGI tentang LGBT

Baru-baru ini Dr.Andik telah mengeluarkan surat terbuka kepada MPH-PGI sehubungan pernyataan sepihak MPH PGI tentang LGBT yang sangat meresahkan umat kristiani. Berikut isi surat tersebut disalin apa adanya sesuai email dari XBT management.

 

MPH PGI, Jangan ada dusta di antara kita! Andik Wijaya,MD,MRepMed

Surabaya, 23 Juni 2016 Yth.MPH PGI, kita membaca alkitab yang sama, tetapi soal perilaku LGBT ternyata kita memiliki pandangan yang bukan hanya berbeda, namun amat sangat berbeda, bertolak belakang, berbeda arah 180°. Jangan ada dusta di antara kita. MPH PGI, anda mengatakan perilaku LGBT adalah perilaku yang normal, tidak berdosa, tidak perlu berubah, dan tidak perlu bertobat. Saya mengatakan perilaku LGBT adalah perilaku yang tidak normal, berdosa, perlu disembuhkan, dan harus berjumpa dengan Tuhan Yesus untuk mengalami pertobatan sejati, dan mengalami kuasa pemulihanNya. Jangan ada dusta di antara kita.

MPH PGI, anda terlihat memiliki agenda untuk memperjuangkan pernikahan sejenis di negara ini. Saya meyakini, pernikahan adalah gagasan Ilahi, dan bukan karya budaya manusia, karena itu konsep pernikahan sejati tidak pernah boleh dirubah oleh gagasan-gagasan manusia. Pernikahan sejak semula adalah antara 1 laki-laki dan 1 perempuan, yang ditandai dengan hubungan seksual hetero. Jangan ada dusta di antara kita.

Silahkan anda lakukan agenda memperjuangkan pernikahan sejenis tersebut secara pribadi, namun jangan pernah menggunakan dan membawa nama PGI untuk agenda pribadi anda. PGI adalah milik Gereja-Gereja di Indonesia, milik jutaan umat, dan bukan milik anda pribadi. Sekarang saya minta kembalikan PGI ku padaku, kembalikan PGI pada Gereja-Gereja di Indonesia.

Mengapa saya menolak perilaku LGBT, mengapa saya menolak pernikahan sejenis? Sebab alkitab yang saya baca dengan sangat gamblang menyatakan LGBT adalah perilaku menyimpang, LGBT adalah dosa. Dan dengan sangat jelas pula alkitab yang saya baca mengajarkan bahwa Allah hanya menciptakan laki-laki dan perempuan, dengan orientasi seksual hetero, agar mereka bisa menjalin relasi intim yang eksklusif dalam suatu pernikahan kudus.

PERJANJIAN LAMA: Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” [Kejadian 1 : 27-28] Firman Tuhan di atas jelas menyatakan, manusia diciptakan menurut gambar Allah sebagai laki-laki dan perempuan, yang memiliki orientasi seksual hetero. Penciptaan manusia sebagai laki-laki dan perempuan ini konsisten dengan gagasan Ilahi tentang pernikahan, seperti dinyatakan dalam Firman Tuhan berikut ini.

Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. [Kejadian 2 : 24-25]

Keunikan relasi pernikahan ditunjukkan dengan adanya hubungan intim yang eksklusif, yaitu hubungan seksual hetero, antara suami dan istri. Alkitab bahkan menyatakan hal tersebut secara eksplisit.

Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.” [Kejadian 4:1]

Kata bersetubuh dalam ayat diatas, berasal dari kata ibrani עדי] yada]. Kata ini juga bisa diterjemahkan mengenal, berbagai versi terjemahan inggris menggunakan kata knew. Jadi hubungan seksual adalah proses menjalin pengenalan yang intim antara suami-istri. Hubungan seksual adalah ekspresi keintiman yang sangat dalam.

Kata ibrani עדי] yada], bukan hanya dipakai dalam Kejadian 4 : 1. Di dalam alkitab PL, kata ibrani עדי] yada] setidaknya muncul sebanyak 1040 kali, diantaranya adalah: Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN. [Hosea 2 : 19] Kata mengenal dalam ayat diatas berasal dari kata ibrani עדי] yada], sama dengan yang digunakan dalam Kejadian 4 : 1, yang diterjemahkan denga kata bersetubuh. Jadi Hosea 2 : 19, bisa kita terjemahkan dengan versi saya, sebagai berikut: Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN, seperti seorang istri mengenal suaminya dalam keintimanKetika kita mempelajari kitab Hosea secara mendalam, kita tahu bahwa ayat ini menyatakan kerinduan Tuhan Yesus yang sangat dalam untuk dikenal dalam dan melalui hubungan yang intim oleh GerejaNya, yaitu umat pilihan. Kekristenan itu bukan agama, tetapi hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus.

Dan hubungan tersebut adalah hubungan yang sangat intim, seperti hubungan suamiistri. Dengan pemahaman ini, kita mengetahui bahwa pernikahan sejenis yang ditandai dengan hubungan seks sejenis akan menghilangkan pesan terpenting alkitab, yaitu Tuhan Yesus ingin membangun hubungan yang penuh keintiman dengan umat pilihanNya, seperti hubungan suami-istri. Jadi benarkah MPH PGI telah melakukan studi yang mendalam sebelum menyatakan LGBT sebagai perilaku yang normal dan tidak berdosa, sehingga tidak perlu perubah dan bertobat? Bolehkah oknum MPH PGI menggunakan nama PGI dan mengatas-namakan Gereja-Gereja di Indonesa untuk memperjuangan legalitas pernikahan sejenis, yang sangat jelas akan menghilangkan pesan terpenting alkitab? MPH PGI, jangan ada dusta diantara kita.

PERJANJIAN BARU: Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah satu kesatuan. Alkitab PL dan PB adalah book of covenant yang menyampaikan pesan konsisten, yaitu covenant of grace. Pesan utama covenant of grace, adalah Tuhan Yesus ingin membangun hubungan yang penuh keintiman dengan umat pilihanNya, seperti hubungan suami-istri. Konsistensi tersebut, salah satunya bisa kita baca dalam Firman Tuhan berikut ini: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. [Efesus 5 : 31-32] Bagian pertama dari ayat diatas, yaitu ayat 31, dikutip oleh Rasul Paulus dari Perjanjian Lama, yaitu: Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. [Kejadian 2 : 24] Dari kutipan dua ayat diatas, terlihat sangat jelas konsistensi PL dan PB, soal pernikahan, yaitu antara satu laki-laki dengan satu perempuan yang memiliki orientasi seksual hetero, sehingga keduanya bisa menjadi satu daging.

Menjadi satu daging, di PL berasal dari kata ibrani דחא’] echad] ; unity, bukan satu tunggal, tetapi menyatu. Dan רָּ שָּ ב] basar] ; pudenda, adalah letak anatomi organ reproduksi. Jadi menjadi satu daging menyatakan terjadinya hubungan seksual antara pria dan wanita, yang dilakukan dengan penetrasi penis kedalam vagina. Kedua ayat diatas yaitu Kejadian 2 : 24 dan Efesus 5 : 31, adalah formulasi pernikahan yang sejati, yaitu antara 1 laki-laki dan 1 perempuan yang memiliki orientasi seksual hetero, sehingga mereka bisa menjadi satu daging. Pernikahan sejenis yang ditandai dengan hubungan seksual sejenis jelas bertentangan dengan Firman Tuhan diatas. Pria dan pria, maupun wanita dan wanita tidak mungkin bisa menjadi satu daging. Anal seks dan atau oral seks yang biasa dilakukan oleh kaum LGBT bukan hanya sangat membahayakan kesehatan, akan tetapi jelas-jelas bertentangan dengan Firman Tuhan diatas. Penetrasi penis kedalam anal bukan menjadi satu daging, karena daging dalam Kejadian 2 : 24 berasal dari kata רָּ שָּ ב] basar] ; pudenda, bukan anal. Setelah meneguhkan formulasi pernikahan yang sejati, Rasul Paulus mengajak kita untuk melihat rahasia besar dibalik formulasi pernikahan tersebut, seperti dinyatakan dalam ayat selanjutnya. Pernyataan Rasul Paulus ini konsisten dengan apa yang dinyatakan di Perjanjian Lama, bahwa pernikahan adalah simbol hubungan yang penuh keintiman antara Allah dengan umat pilihanNya (Hosea 2 : 19), antara Kristus dan GerejaNya (Efesus 5 : 31-32).

Karena itu mengatakan LGBT sebagai perilaku normal dan tidak berdosa, serta memperjuangkan legalitas pernikahan sejenis sangat jelas bertentangan dengan Firman Allah, dan menghilangkan pesan terpenting alkitab, yaitu Tuhan Yesus ingin membangun hubungan yang penuh keintiman dengan umat pilihanNya, seperti hubungan suami-istri. Jadi benarkah MPH PGI telah melakukan studi yang mendalam sebelum menyatakan LGBT sebagai perilaku yang normal dan tidak berdosa, sehingga tidak perlu perubah dan bertobat? Bolehkah oknum MPH PGI menggunakan nama PGI dan mengatas-namakan Gereja-Gereja di Indonesa untuk memperjuangan legalitas pernikahan sejenis, yang sangat jelas akan menghilangkan pesan terpenting alkitab? MPH PGI, jangan ada dusta diantara kita. PENGHARAPAN ESKATOLOGIS: Sejarah manusia di muka Bumi diawali dengan peneguhan pernikahan yang pertama di taman Eden, antara Adam dan Hawa, antara satu laki-laki dan satu perempuan, yang memiliki orientasi seksual hetero sehingga keduanya bisa menjadi satu daging. Pelayanan Tuhan Yesus di muka Bumi ditandai dengan mujizat yang dilakukanNya dalam perjamuan kawin di Kana, Galilea. KehadiranNya dalam perjamuan kawin ini meneguhkan pentingnya lembaga pernikahan. Dan pernikahan sejati adalah antara 1 laki-laki dan satu perempuan, yang memiliki orientasi seksual hetero sehingga keduanya bisa menjadi satu daging. Pengharapan eskatologis digambarkan sebagai Perjamuan Kawin Anak Domba seperti diungkapkan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 22 : 1 – 14, juga Matius 25 : 1-13.

Saat ini Gereja sedang menantikan kedatangan mempelai pria, yaitu Tuhan Yesus Kristus, yang akan menjemputnya untuk mengalami hubungan intim abadi di kekekalan. Seluruh alkitab, dari Kejadian sampai Wahyu menyatakan kebenaran yang konsisten. Inilah pengharapan eskatologis Gereja: Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!” (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.)

Lalu ia berkata kepadaku: “Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba.” Katanya lagi kepadaku: “Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah.” [Wahyu 19 : 7-9]

Dengan mengajarkan perilaku LGBT adalah normal dan tidak berdosa, lalu berjuang untuk melegalkan pernikahan sejenis, bisakah MPH PGI menyampaikan pengharapan eskatologis ini? Jadi benarkah MPH PGI telah melakukan studi yang mendalam sebelum menyatakan LGBT sebagai perilaku yang normal dan tidak berdosa, sehingga tidak perlu perubah dan bertobat? Bolehkah oknum MPH PGI menggunakan nama PGI dan mengatas-namakan Gereja-Gereja di Indonesa untuk memperjuangan legalitas pernikahan sejenis, yang sangat jelas akan menghilangkan pesan terpenting alkitab? MPH PGI, jangan ada dusta diantara kita. MPH PGI, kau yang mulai, kau yang harus mengakhiri! Surabaya, 23 Juni 2016 Andik Wijaya,MRepMed medical sexologist www.yadainstitute.org

 

Mengulas korupsi dari sudut pandang Alkitab

Koruptor adalah tikus intelek.
Bukan hal yang baru kalau kita menggunakan istilah “tikus” untuk menyebut para koruptor. Mengapa? karena tikus dan koruptor memiliki banyak persamaan.
Menjadi pergumulan yang rumit untuk menganalisa dari pandangan Perjanjian Lama (PL). Lalu bertolak dari UU no 11 tahun 1980 yang dikeluarkan pemerintah RI khusus untuk memberantas kasus suap. Kasus suap menyuap tidak hanya terjadi di jaman modern saja tetapi sudah ada sejak jaman kerajaan Israel .
Tentang suap.
Umumnya suap diartikan sebagai uang sogok ataupun pelicin. Dalam Alkitab Perjanjian Lama ada 2 istilah yangf identik dengan suap ,yaitu syohad dan kofer. Syohad adalah bentuk partisif aktif dari kata kerja syahad ini yang dipakai untuk menunjuk koruptor. Sedang penerima suap disebut miqqah syohad. Mengenai istilah kofer adalah bentuk partisif dari kata kerja kafar yang artinya menutup.Jadi kofer berarti penutup (yang nenutupi atau menanggung) Amsal 5:12, dalam hal materi sering disebut uang tebus/uang suap.

Apakah kedua kata ini sama? Ya,modusnya sama, namun keduanya memiliki konteks berbeda. Bedanya adalah, istilah syohad dipakai untuk kasus suap dalam peradilan dan pemerintahan, sedangkan kofer digunakan menunjuk kasus suap di dalam hal ibadah atau keagamaan.

Disarikan dari Mitra Indonesia edisi 74 tahun 2014

Menjadi sahabat sejati

Dikutip dari Charisma Indonesia, Agustus-September 2008

Fakta: 90 persen pria tidak mempunyai seorang teman sejati.Jika Anda adalah seorang pekerja statistik,ambillah pelajaran mengenai seorang pria lumpuh dan para pria yang membawanya kepada Yesus.

Oleh: John Ortberg

Setiap orang yang pernah bermain baseball atau bola basket pasti tahu betapa pedih rasanya menunggu untuk dipilih masuk ke dalam sebuah tim. Siapa yang ingin dipilih terakhir? Keinginan hati untuk dipilih ke dalam tim, secara langsung berhubungan dengan keinginan kita dalam persahabatan dewasa yang sesungguhnya.

Siapa sih yang tidak ingin disukai, diinginkan, untuk memiliki pertemanan yang utuh dan memuaskan?

Tidak seorangpun yang saya atau Anda kenal yang tidak ingin memiliki persahabatan tersebut.Tapi marilah kita hadapi kenyataan, menjadi seorang teman merupakan pekerjaan yang tidak mudah. dan para pria seringkali tidak dapat membangun hubungan dengan baik.

Satu survey menunjukkan bahwa 90 persen dari populasi para pria tidak mempunyai seorang teman sejati. Mengapa demikian? Kita dapat saja berhubungan dengan sesama dalam berbisnis, berbincang-bincang dengan para guru anak-anak kita atau membahas tentang olahraga dengan siapa saja, tapi ketika disinggung mengenai membangun persahabatan yang sejati,mengapa kita bimbang?

Ahli psikolog Alan L.McGinnis menuliskan bahwa aturan nomor satu untuk masuk ke tahap persahabatan yang mendalam kedengarannya sangat sederhana dan menipu: Tentukan prioritas utama dalam pertemanan Anda. Ironisnya, kita cenderung memfokuskan diri dan menggunakan waktu kita dengan mencari uang, pergi beberbelanja kebutuhan sehari-hari dan mensukseskan diri dalam pekerjaan kita, namun kita mengabaikan diri kita untuk memberi milik kita yang paling berharga –waktu– untuk membangun hubungan pertemanan dan meluangkan waktu bersama mereka.

Ada perbedaan yang sangat besar antara beramah tamah debngan seseorang, dan menjadi sahabat seseorang.

Ada seseorang menelpon saya di rumah dan ini mengingatkan saya akan suatu hal akhir-akhir ini. Seorang pria menelpon saya dan memanggil saya dengan nama panggilan saya; Ia menanyakan bagaimana hari yang saya jalani; ia berbicara dengan nada yang hangat dan penuh perhatian; ia sangat peduli bahwa jasa angkutan jarak jauh  saya mungkin saja tidak dapat memenuhi pelayanan kebutuhan orang sesibuk saya. Akan tetapi ketika saya mengatakan padanya bahwa saya tidak ingin mengeluarkan uang, saya merasakan dengan jelas bahwa hubungan kami secara tiba-tiba sudah berakhir.

Ia memang orang yang ramah. Akan tetapi ia bukanlah teman saya.

Teman adalah orang-orang yang telah membuat komitmen besar terhadap orang lain. Akan tetapi di lingkungan masyarakat kita, seperti yang dikatakan oleh Lewis Smedes, seorang teologis dan penulis buku, bahwa kita telah mencapur adukkan “teman-teman” dengan “orang-orang yang ramah”

Terkadan orang menghabiskan waktu seumur hidup mereka berusaha “tampil baik”. Mereka tampak begitu sehat dan kuat sehingga orang-orang di sekitar mereka beranggapan bahwa mereka dapat pergi kemana saja yang mereka inginkan.

Kepada siapa Anda menunjukkan kelemahan-kelemahan serta pergumulan-pergumulan Anda?

 

 

John Ortberg adalah seorang gembala senior dan pengajar di Menlo Park Presbyterian Church di California, sekaligus pengarang dari beberapa buku bestseller, termasuk Everybody’s Normal Till You Get to Know Them .

Pemimpin secara alkitabiah

Kepemimpinan yang Alkitabiah

Dalam (Efesus 2:10 ) dikatakan “ Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan yang baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya, Ia mau supaya kita hidup didalamnya Tuhan mempunyai rencana yang haus dilaksanakan oleh UmatNya di muka bumi. Tuhan itu sendiri yang mempersiapkan tugas dan memilih orang yang harus melakukannya. Orang inilah yang disebut sebagai pemimpin rohani. Dalam ( Matius 23:10) dikatakan janganlah kamu disebut pemimpin karena hanya satu pemimpinmu yaitu Mesias. Semua orang yang menduduki pemimpin rohani dalam dunia pelayan haruslah menyadari bahwa diatasnya masih ada pemimpin agung yaitu Mesias.
Dibawah ini ada beberapa fungsi pemimpin Rohani sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam Alkitab:

1. Pemimpin sebagai gembala

Yesus berkata dalam Yoh 10:14-15 Akulah gembala yang baik, sebagai gembala yang baik hal-hal berikut harus dilakukan kepada semua dombanya.
a. Mengenal nama-nama mereka
b. Mengetahui kondisi kehidupan mereka
c. Mengasihi mereka

2. Pemimpin sebagai pelayan

Dalam Yoh 13: 15-16 dikatakan oleh Tuhan Yesus sebab Akulah yang member teladan kepada kamu supaya kamu juga berbuat seperti yang telah kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Ataupun seorang utusan dari pada Dia yang mengutusnya. Sebagai pemimpin Kristen kita harus menyadari bahwa semakin memiliki kedudukan yang tinggi haruslah semakin melayani (Matius 23:11).

3. Pemimpin Sebagai Manager
Tuhan Yesus adalah seorang manager agung yang telah merencanakan dan mengatur gerejanya melalui murid-murdNya yang Ia telah didik dan latih. Dampak dari pendelegasian tugas tersebut masih dapat dirasakan sampai saat ini dalam (1Petrus 5:3) ditegaskan sebagai berikut “ Janganlah kamu berbuat seolah – olah kamu mau memerintah atas mereka yang di percayakan kepadamua, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu”. Sebagai pemimpin Kristen kita harus mampu mengatur semua aktivitas dengan memberikan tugas dan tanggung jawab kepada anggota kita dan selanjunya mendelegasikan wewenang tersebut kepada penerusnya.

4. Pemimpin sebagai Guru
Murid – murid Tuhan Yesus dan orang- orang Yahudi saat itu memanggilnya Rabi (Rabbuni) yang artinya guru. Ia mengajar dimana-mana tentang kerajaaan Allah dan kebenarannya. Dalam Yoh 3:1-2 Tuhan Yesus dipanggil sebagai guru oleh Nikodemus yang berstatus sebagai guru/pengajar orang Israel (Yoh 3:10). Artinya bahwa Tuhan Yesus adalah Maha Guru. Disebutkan bahwa Tuhan Yesus mengajar dengan kuasa dan hikmat Allah Yudho,B. (2006:7-10).

5. Pemimpin harus mempunyai Visi
Pemimpin harus memiliki gambaran yang jelas dalam jiwanya mengenai masa depan yang dikehendaki yang ditanamkan oleh Allah kepada hamba pilihannya, dan didasarkan pada pemahaman yang akurat tentang Allah, diri sendiri dan situasi yang sementara terjadi. Visi haruslah jelas,menjanjikan keadaaan yang lebih baik dari sekarang, berpusat pada masa depan yang sesuai dengan kehendak Allah, menunjukkan pandangan yang realistis, memimpikan yang paling mungkin terjadi dan dibangun atas dasar kenyataan. Harefa,A(2003:16-25).

6. Pemimpin memiliki tanggung jawab
Seorang pemimpin harus bertanggung jawab dalam banyak bidang. Salomo menyebutkan lima hal yang merupakan tanggung jawab seorang pemimpin.
a. Menegur atau mengoreksi (Amsal 28:23) siapa menegur orang akan kemudian lebih disayang daripada orang yang menjilat.
b. Bertindak tegas (Amsal 24:11-12)
c. Mendengarkan kritik (Amsal 15:8) siapa mengindahkan teguran adalah bijak
d. Bersikap adil (Amsal 11;1) neraca serong adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi ia berkenan atas batu timbangan yang tepat. Eims.(1981:12-21).

7. Pemimpin harus Mempertahankan Integritasnya
Integritas mahal sekali dan sulit diperoleh Integritas adalah reputasi kredibiltas, moralitas tinggi, kejujuran dan karakter Kristus Integritas sangat penting kalau ingin sukses. Kita harus tarnsparan dan terbuka dihadapan Allah dan manusia. Perhatikan kesaksian Yesus ( Lukas 5:52 ). Mereka yang dipimpin harus tahu bahwa yang memimpin mereka dapat diandalkan dapat dipercaya kalau kita kehilangan integritas maka kita kehilangan kapasitas untuk berfungsi dengan baik. Untuk mempertahankan integritas kita harus mengikuti rasul Yohanes kepada jemaat – jemaat Asia kecil dan selalu berjalan dalam terang Hammond J. (2002:51-52).

8. Pemimpin harus intim dengan Tuhan
Rasul Petrus dalam Petrus 1:3-11 mengatakan bahwa mengenal Yesus adalah suatu dasar keberhasilan. Setiap pemimpin dalam Alkitab yang berhasil telah mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Pemimpin yang sukses tidak hanya menceritakan dan berdasarkan kesaksian orang lain.

9. Pemimpin harus memiliki ketekunan (perseverance)
Semua pemimpin sejati harus memiliki sikap ketekunan, roh kepemimpinan tidak pernah menyerah sampai mencapai tujuannya. Ini adalah roh yang tidak pernah menyerah.
Ketekunan adalah produk iman yang dibangkitkan oleh suatu tujuan. Ketekunan adalah:
a. Kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi segala hal
b. Kemampuan untuk menghadapi kekalahan berulang kali tanpa menyerah.
c. Kesanggupan untuk terus mendesak laju dalam menghadapi kesulitan, karena mengetahui bahwa kemenangan adalah milik anda.
d. Berusaha keras untuk mengatasi segala rintangan dan melakukan apa yang perlu untuk mencapai sasaran anda.
Para pemimpin bertekun karena mereka mempunyai suatu pemahaman yang kuat pada tujuan mereka mengetahui kearah yang mereka tuju. Dan yakin mereka akan tiba disana. Monroe.M (2002 :57-58).

10. Pemimpin harus memiliki karakter dan kharisma
Untuk mengembangkan roh kepemimpinan anda harus banyak memadukan kualitas dan karakteristik didalam kehidupan anda. Ini adalah sikap yang perlu untuk kepemimpinan yang efektif dan berfungsi sebagai tindakan penyempurnaan kepemimpinan anda sementara anda terus maju dalam memaksimalkan potensi kepemimpinan anda yang sejati. Semua pemimpin sejati mempunyai sikap berikut:
a. Visi – kapasitas untuk melihat melampaui tujuan
b. Hikmat –kapasitas untuk menyerapkan pengetahuan secara efektif.
c. Pengambilan keputusan – kemampuan untuk mempelajari konsekuensi dan mengambil keputusan yang sehat tanpa rasa takut, suatu kesedihan untuk gagal daripada menghindari tangung jawab.
d. Sikap positif – kemampuan untuk melihat orang dan situasi dengan cara yang positif.
e. Keberanian – kemampuan untuk tidak dikendalikan atau dilumpuhkan oleh ketakutan manjemen efektif dari ketidakpastian.
f. Energi tinggi – kekuatan dan stamina untuk bekerja keras dan tidak kehabisan tenaga
g. Kehangatan pribadi – suatu perilaku dan sikap yang menarik orang.
h. Kerendahan hati – berhubungan dengan diri sendiri menerima diri sendiri.
i. Kemarahan yang benar – kapasitas untuk menolak dan bersikap menentang ketidakadilan dan penganiayaan.
j. Integritas – konsistensi dalam perkataan dan tindakan seseorang kelayakan untuk dipercaya karakter yang benar.
k. Gambar diri yang baik – merasa senang pada diri sendiri, orang dan kehidupan.
l. Persahabatan – kapasitas untuk menyambut baik dan menerima orang lain tanpa perselisihan.
m. Daya mental – kemampuan untuk terus belajar, sementara pekerjaan meluas.
n. Otoritas – pengaruh yang sangat positif atas orang lain.
o. Ketidakadaan masalah pribadi – kehidupan pribadi, keluarga dan bisnis keluarga.
p. Kekuatan inspirasi- kemampuan untuk mengkomunikasikan hasrat seseorang kepada orang lain.
q. Rasa Humor- kemampuan untuk menertawakan diri sendiri dan kehidupan serta tidak terlalu serius menanggapinya.
r. Keuletan- kemampuan untuk bangkit kembali saat masalah timbul.
s. Riwayat prestasi- pengalaman dan sukses dalam situasi sebelumnya
(Monroe,M,2002 :275-276 )

11. Pemimpin harus menciptakan budaya kepemimpinan yang tepat
Sikap membentuk penampilan, demikianlah juga dengan lingkungan yang diciptakan oleh seorang pemimpin. Apa yang dapat dilakukan oleh seorang pemimpin untuk membangun kondisi yang positif , kondisi yang memberikan hal terbaik bagi orang- orang. Ada beberapa cara dalam lingkungan budaya dan kefektifan yaitu Prinsip pertama, tidak meremehkan pengaruh dari budaya lingkungan, iklim yang diciptakan oleh kepemimpinan yaitu setiap hal dilakukan dengan keefektifan dan sukses bagi para pengikutnya, orang yang sama melakkan pekerjaan yang sama bisa berjalan baik pada iklim pemimpin yang satu dan cara total. Gagal dalam iklim pemimpin yang lain. Prinsip kedua, Kepemimpinan harus memberi perhatian untuk mengolah budaya ini adalah tanggung jawab para pemimpin untuk mengerti nilai-nilai dan budaya kerjasama, serta untuk membantu perkembangan suasana dimana para pengikut bisa bertumbuh seperti petani yang rajin bekerja keras membanting tulang di ladangnya dari matahari terbit sampai terbenam, maka sudah satu dari beberapa tanggung jawab mendasar untuk para pemimpin yang tidak boleh dilakukan adalah menciptakan kondisi yang tepat bagi para pekerja. Prinsip ketiga, Hanya kepemimpinan yang dapat mengubah budaya, banyak orang dalam suatu organisasi mungkin ingin mengubah cara kita dalam melakukan berbagai

Bersikap adil dalam pelayanan.

Seorang pemimpin harus bertanggung jawab dalam semua bidang. Salomo menyebutkan lima hal yang merupakan tanggung jawab seorang pemimpin.
a. Menegur atau mengoreksi (Amsal 28:23) siapa menegur orang akan kemudian lebih disayang daripada orang yang menjilat.
b. Bertindak tegas (Amsal 24:11-12)
c. Mendengarkan kritik (Amsal 15:8) siapa mengindahkan teguran adalah bijak
d. Bersikap adil (Amsal 11;1) neraca serong adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi ia berkenan atas batu timbangan yang tepat. Eims.(1981:12-21).

Suatu ketika, seorang gembala cabang menyampaikan pesan-pesan penggembalaan dalam satu acara menara doa. Dia mengatakan bahwa dalam pelayanan gereja, terdapat dua jenis pelayanan, yaitu yang bersifat administratif seperti bidang ketatausahaan, dan pelayanan yang bersifat roh, misalnya para pendoa syafaat. Kemudian ia mengatakan, bahwa pelayanan yang ngeroh lebih penting daripada yang administratif.

Pernyataan ini membuat keresahan di sementara pengerja. Bukankan Yesus sendiri dalam masa pelayananNya di muka bumi pun tidak mengutamakan suatu pelayanan lebih unggul dari pelayanan lainnya.Bahkan ada yang berkomentar, cobalah kalau bapak gembala menganggap tugas administratif tidak penting. Biarlah semua urusan surat-menyurat, pembelanjaan, pengaturan ibadat diserahkan pada para pendoa, apakah dengan hanya berdoa lalu semua urusan gereja dapat terselesaikan?.

Yang benar adalah: karunia roh tetap mengindahkan karunia hikmat,  para pendoa juga harus turut memahami prosedural administrasi sedangkan para administrator juga seyogianya menyelami keperluan para pendoa.

Hati Raja di Tangan Tuhan – sermon by Pdt.DR.Petrus Agung

Hati Raja di tangan Tuhan itulah yang firman Tuhan katakan, dan itulah yang harus kita doakan. Dalam beberapa hari lagi, bangsa kita akan memilih pemimpin baru untuk 5 tahun ke depan. Sejujurnya aroma persaingan untuk mendapatkan suara terbanyak. Sebagian di kerjakan dengan cara cara yang bermartabat bahkan menyentuh hati dan memberi pengharapan. Sebagian lagi dengan cara cara yang mengerikan dan bahkan keji. Apa yang perlu kita renungkan dengan semuanya ini? Disatu sisi kita melihat bahwa pesta demokrasi ini adalah jalan terbaik bagi bangsa, namun jika tidak dikelola dengan dewasa, potensi perpecahan ada di depan mata. Sebagai umat yang percaya kepada Tuhan yang mengalami kasih Nya yang ajaib, inilah sikap yang harus muncul di hidup kita :

1. KEBENARAN MENINGGIKAN DERAJAT BANGSA. Itupun adalah apa yang tertulis dalam firman Nya. Setelah tanggal 9 juli nanti, seharusnyalah kita melanjutkan hidup dan menata masa depan bersama sama sebagai satu bangsa. Seberapa derajat bangsa ini akan naik atau turun, tergantung cara dan sikap kita sendiri. Jika kita memilih jalan kebenaran, maka derajat bangsa kita akan naik. Sebab itu firman Tuhan. Tetapi jika karena kebencian, sakit hati, marah, dendam, balas dendam, dan ketidakdewasaan membuat kita meninggalkan jalan kebenaran, bahkan memilih jalan jalan yang jahat. Maka bangsa ini sedang kita bawa sendiri di jurang kenistaan. Sebagai anak anak Tuhan, mari teladani hidup dalam kebenaran, berkata – kata dalam kebenaran, berpikir dalam kebenaran dan dengan hati yang benar. Hentikan semua fitnah, olok olok yang menghina orang lain, sindiran yang merendahkan sesama, ya..semua yang tidak di dalam kebenaran, harus dihentikan. Sudah waktunya merajut hati dengan semua anak bangsa, sebab kita bukan anak partai, bukan anak organisasi, tetapi anak ibu pertiwi. Pesta demokrasi tak boleh memecah belah negeri tercinta ini. Hiduplah dalam kebenaran dan mulailah dengan kita.

2. HATI RAJA DI TANGAN TUHAN. Saat saat inilah saat terbaik untuk berdoa, berdoa dan berdoa! Rakyat akan menentukan pilihannya. Siapapun dia, kita berdoa supaya hatinya di genggam oleh tangan Tuhan. Sudah banyak janji diucapkan, sudah banyak ikrar dan sumpah di canangkan, dan tentunya semua untuk Indonesia yang lebih baik. Tetapi setelah terpilih, apakah semuanya itu terbukti? Apakah semuanya digenapi? Hanya jika tangan Tuhan menggenggan hatinya, semuanya akan menjadi luar biasa. Team kampanye tak bisa memaksa sang pemimpin untuk menepati janjinya. Bahkan seringkali rakyatpun tidak. Namun kita tak perlu kecil hati. Ada Tuhan yang pasti pegang kendali atas bangsa yang besar ini. Mulai saat ini, mari kawal bangsa ini dengan doa. Itu lebih ampuh dari apapun. Sebab dalam kenyataannya, tak banyak dari kita yang bisa bersentuhan langsung dengan sang pemimpin. Tak banyak yang bisa bicara dari hati ke hati dengan beliau. Tapi Tuhan bisa, dan Tuhan pasti bicara. Bagian kita adalah mendoakan dan dukung dengan segenap hati, guyup rukun membangun negeri.

3. VISI MEMANG HARUS DIUJI dan di uji dengan semua fakta dan kesulitan dilapangan, apakah itu sebuah visi yang bisa diwujudkan atau tidak. Cuma berjanji tak butuh biaya, tetapi mewujudkannya butuh harga yang amat mahal dalam segala hal. The Man Behind The Gun,yang menjadi penentu. Sehebat apapun visi, ujungnya tetap bergantung pada karakter pemimpin itu sendiri. Jadi buka mata dan telinga yang selebar lebarnya, sampai paling tidak mulai terbaca karakternya, walau tak mudah.

4. MEMERINTAH DENGAN TEGAS Ada tipe pemimpin yang ketiga, yang memerintah dengan tegas namun penuh dengan kasih dan perhatian.  Di satu sisi mereka bisa ambil keputusan yang tegas dan tepat, namun mereka juga mau mendengar inspirasi rakyat dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan diri sendiri.  Seorang pemimpin yang mau melayani rakyat dan rendah hati.

5. KEPERCAYAAN YANG DIBERIKAN JANGAN DI SALAHGUNAKAN dan mengecewakan rakyat. Memang tidak mudah untuk menyenangkan rakyat.  Kadang ada permintaan yang tidak harus di turuti. Di sinilah diperlukan hati yang bijaksana, supaya setiap keputusan yang diambil menghasilkan kebaikan. Berbicara tentang kebijaksanaan, maka Raja Salomo atau Raja Sulaimanlah pakarnya, dia pernah menghadapi situasi sulit, namun berhasil menyelesaikan dengan baik. Saudaraku, mari cintai dan jangan sakiti sesama, walau kita berbeda. Kesatuan tak berarti keseragaman. Kebhinekaan adalah kekayaan yang tak ternilai. Semua kita adalah anak anak yang di sayangi Tuhan. Mari saling melayani, saling membebat dan menyembuhkan. Seperti Tuhan Yesus berkata : Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Amin.

 

Oleh Pdt. DR. Drs. Petrus Agung Purnomo – Gembala Senior JKI INJIL KERAJAAN, Semarang

Pendeta dan Nabi

Pendeta vs Nabi
oleh Peter Wagner
www.globalharvest.org

Bagaimana kita bisa menghindari penyalahgunaan nubuat dalam gereja?

Sebuah Ministries Hari ini Forum khusus
Tujuan dalam pelayanan kenabian telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir, namun seiring dengan itu telah datang gelombang pertanyaan penting. Bagaimana seharusnya fungsi hadiah di gereja lokal? Apakah ada pedoman untuk operasi? Dan bagaimana Anda menangani situasi di mana ia disalahgunakan atau ketika nabi melangkah keluar dari barisan?

Karena kenabian sering disalahpahami dan disalahgunakan, banyak pendeta memilih jalan keluar yang mudah dan menghindari sama sekali. Tapi ini bukan solusi terbaik. Memahami hadiah dan bagaimana fungsinya dalam keseimbangan dapat melepaskan tingkat baru urapan dalam pelayanan gereja ini.

Untuk memberikan wawasan isu kritis ini, Kementerian Hari bertanya diakui pemimpin dalam pelayanan kenabian untuk pengamatan dan pemahaman mereka mengenai karunia nubuat. Berikut ini adalah dialog kami dengan Cindy Jacobs, Ted Haggard, Bill Hamon, Mike Bickle dan Juanita Bynum.

MINISTRIES HARI INI: Bagaimana karunia nubuat berbeda atau bertepatan dengan nubuatan dalam Perjanjian Lama?

<strong>Jacobs:</strong> Dalam Perjanjian Lama, para nabi adalah orang-orang utama yang mendengar dari Allah. Sebaliknya, semua orang percaya Perjanjian Baru yang dipenuhi oleh Roh Kudus dan telah diberi kemampuan untuk bernubuat (lihat 1 Kor. 14:39).

Namun, tidak semua orang ditempatkan dalam tubuh oleh Tuhan di jawatan nabi. Dalam Perjanjian Lama ada orang-orang yang dipanggil menjadi nabi dan orang-orang yang kadang-kadang tersentuh oleh apa yang disebut roh nubuat, seperti ketika Saul jatuh di bawah kuasa Allah dan itu mencetuskan pertanyaan, “Apakah Saul juga termasuk para nabi ? ” (1 Sam. 19:24, NKJV).

<strong>Bickle</strong>: Perjanjian Lama memiliki standar yang lebih tinggi diperlukan untuk pelayanan kenabian dari Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama mereka bernubuat dari komunikasi terbuka langsung dengan Tuhan, seperti mendengar suara terdengar dari Tuhan atau melihat suatu penglihatan.

Dalam Perjanjian Baru, kita sering bernubuat dengan iman sebagai Roh Kudus memberikan kesan dalam roh kita. Ada ruang untuk salah tafsir dari tayangan tersebut; dengan demikian, nabi dinasihati untuk menilai atau membedakan satu sama lain.

Haggard: Pada zaman Perjanjian Lama, umat Tuhan mengandalkan nabi untuk memberitahu mereka apa yang Ia katakan. Ketergantungan pada nabi begitu tinggi bahwa itu adalah pelanggaran modal untuk seorang nabi untuk menggambarkan firman Tuhan. Dalam Perjanjian Baru dan sepanjang sejarah gereja, kami terus memiliki kedua kantor nabi dan karunia nubuat, tetapi ketergantungan kita tidak sama besar karena Roh telah diberikan kepada semua orang percaya.

Dengan demikian, gereja Perjanjian Baru memiliki sangat sedikit “Beginilah firman Tuhan” jenis pertemuan untuk berkomunikasi kata tertentu dari Tuhan. Surat-surat yang ditulis oleh para rasul pertama adalah Firman Tuhan. Yang paling penting, Yesus adalah Firman Tuhan. Allah dijelaskan sendiri sempurna di dalam Yesus (lihat Kol 1:15), dan kami memiliki teladan-Nya untuk mengikuti. Jadi di gereja hari ini kita tidak tergantung pada nabi agar kita mengetahui kehendak-Nya.

Gereja-gereja Perjanjian Baru tidak dapat menemukan kepenuhan dalam pelayanan tanpa kenabian, namun. Paulus menjelaskan bahan-bahan yang diperlukan untuk kehidupan gereja tiga kali, dan hanya nubuat disebutkan tiga kali (lihat Roma 12:.. 6; 1 Korintus 12:10; 30). Tidak ada kantor atau fungsi lainnya dibahas dengan frekuensi yang sama atau kesungguhan (lihat 1 Korintus 14:. 1).

Bynum: Hari nubuatan diambil begitu banyak untuk diberikan bahwa saya percaya orang memperlakukannya seolah-olah itu adalah mode terbaru. Seringkali seorang pribadi mengakui bahwa mereka memiliki karunia nubuat dari pemberian firman, bukan telah menerima firman untuk yang lain. Rasa  kegembiraan meluap , dan mereka pergi pada komunitas, mencoba untuk bernubuat kepada orang lain. Bagian yang buruk adalah ketika mereka menjadi tinggi pada karunia mereka sehingga mereka tidak menganggap perlu untuk berpuasa dan berdoa.

Terlalu sering, nabi beroperasi dari wilayah soulish mereka, yang berbahaya. Seorang nabi menyalahgunakan karunia nubuat akan tunduk karunia untuk apa yang dirasakan bukan apa yang Allah benar-benar mengatakan.

Hamon: definisi yang luas My nubuat adalah “mengekspresikan hati dan pikiran Allah dengan wahyu dan pemberdayaan Roh Kudus.” Ini adalah kemampuan berbakat yang bisa “mengaduk,” diaktifkan dan dilaksanakan oleh iman orang percaya.

Nubuat tidak akan diremehkan. “Janganlah anggap rendah nubuat-nubuat” (1 Tes. 5:20, KJV). Nubuat yang diinginkan, diwujudkan, terbukti dan kemudian terpenuhi. Semua orang Kristen tidak memiliki karunia nubuat, tetapi semua dapat bergerak dalam “roh nubuat,” yang merupakan kesaksian Yesus kepada umat-Nya (lihat Wahyu 19:10).

Nabi di Perjanjian Lama menubuatkan hanya ketika Roh pindah kuat atas mereka atau Tuhan berbicara langsung kepada mereka. nabi Perjanjian Baru memiliki kekal terus menerus dari Kristus di dalam dan bahwa rahmat khusus dan iman untuk menggambar pada hati dan pikiran Allah setiap kali iman mereka membuat imbang pada urapan itu.

Beberapa orang bertanya kepada saya bagaimana saya bisa bernubuat kepada siapa pun, kapan saja. Saya biasanya menjawab bahwa itu adalah dengan wahyu, anugerah dan iman bahwa Kristus telah diberikan. Untuk membantu seseorang memahami satu prinsip ini hanya untuk meminta karismatik jika dia bisa latihan karunia rohaninya berdoa dalam bahasa Roh kapan saja dan dimana saja.

Cara bahwa dipenuhi Roh Kristen berbicara dengan kemampuan berbakat mereka berdoa dalam bahasa lidah adalah cara yang sama yang saya bernubuat dengan hadiah Kristus nubuat, dan itu adalah cara yang sama percaya bernubuat menurut wahyu-Nya, kasih karunia dan iman. nubuat Alkitab adalah sama dari Kejadian sampai Wahyu dalam hal itu mengungkapkan hati dan pikiran Allah dengan wawasan supernatural dan ucapan.

Nabi dan nubuat disebutkan lebih dari 400 kali dalam Alkitab. Nubuat mulai di Taman Eden ketika Tuhan berbicara hati dan pikiran untuk Adam dan Hawa dan ketika Adam bernubuat kepada istrinya. Kami menemukan nabi dan nubuat masih hidup dan aktif dalam bab terakhir dari buku terakhir dari Alkitab.

Nabi dan nubuat pribadi adalah jalan utama melalui mana Allah telah berkomunikasi dengan manusia dan gereja-Nya. Paulus menyatakan bahwa ketika ia pergi di mana saja ia dikomunikasikan hati dan pikiran Allah dalam salah satu dari empat cara. Dua yang pertama adalah dengan pengetahuan dan ajaran logo, atau tertulis, Firman Allah. Dua lainnya adalah dengan rhema, atau mengungkapkan, firman Tuhan dan dengan wahyu dan bernubuat (lihat 1Cor.14: 6).

MINISTRIES HARI INI: pedoman Apa yang harus pendeta lokal memiliki untuk cara karunia nubuat harus beroperasi dalam layanan mereka?

Jacobs: Saya tidak percaya ada hanya satu set pedoman bagi para pendeta untuk digunakan. Setiap tubuh lokal akan menentukan bagaimana karunia nubuat harus berfungsi di gereja mereka.

Pokok masalah ini dibahas secara luas dalam buku saya, The Voice Allah. Berikut adalah beberapa pedoman umum yang paling karismatik / gereja Pantekosta mungkin menggunakan. Saya menyarankan bahwa ini akan diterbitkan dalam buletin gereja setiap minggu:

1. Jika Anda percaya Tuhan telah memberikan ucapan kenabian untuk jemaat selama layanan, silahkan kirimkan ke penatua, pemimpin atau pendeta. (Gereja Anda harus menentukan siapa yang akan menilai kata-kata ini, dan itu harus diketahui di mana mereka duduk untuk administrasi kata.)

2. Bagi inti dari kata dengan pemimpin.

Pemimpin 3. kemudian akan menentukan apakah atau ketika kata tersebut tepat untuk jemaat. Jangan tersinggung jika kata tidak dibagi publik. Ini mungkin tidak ada hubungannya dengan validitasnya. Mempercayai Tuhan untuk membiarkannya keluar dengan cara dan waktuNya.

4. Alasan kami Administrasi karunia nubuat cara ini adalah agar kata dapat diberikan lebih mikrofon, didengar oleh semua untuk peneguhan mereka, dan dicatat. kata kemudian dapat disimpan dan berdoa lebih sebagai bagian dari firman Tuhan untuk jemaat kami.

Haggard: Di gereja kami, orang-orang percaya sering ingin berbagi kata kenabian selama bagian musik dari layanan. Mereka datang ke pendeta dan menjelaskan apa yang mereka ingin berbagi. Jika kita tahu dan menghormati mereka, atau percaya bahwa kata-kata mereka akan sangat membantu bagi tubuh, maka kita memiliki mereka berbagi dengan gereja. Jika tidak, kita secara singkat menjelaskan kepada mereka mengapa kita tidak akan memiliki mereka berbagi saat itu, dan mereka baik share di layanan lain atau menggunakan kata itu sebagai titik dalam doa.
————————————————– ——————————
Kita harus selalu ingat bahwa hidup seseorang berubah tidak hanya dengan kata dari Tuhan, tetapi kata sarat dengan buah-terutama buah terkemuka cinta. -Juanita Bynum
————————————————– ——————————

Kita sering memiliki dua atau tiga kata di masing-masing empat layanan kami setiap akhir pekan. Nubuat adalah norma di banyak kelompok sel 530 kami. Kadang-kadang kata-kata yang murni kenabian. Lain kali mereka visi, kitab suci tertentu atau kata-kata nasihat. Sering kita mendengar kata-kata bijak, wahyu atau pengetahuan. Itu selalu kuat bagi tubuh untuk mendengar apa yang Roh katakan.

Hamon: Saya telah menemukan bahwa orang yang tulus beroperasi terbaik di giftings mereka dalam konteks harapan yang jelas dan pedoman. Oleh karena itu, penting bagi para pendeta lokal untuk membangun dan berkomunikasi protokol untuk membawa kata jemaat di gereja mereka. Beberapa pedoman praktis yang kita telah ditemukan efektif meliputi:

1. kata Congregational nubuat yang dimaksudkan untuk peneguhan, nasihat dan kenyamanan (lihat 1 Korintus 14: 3).. Kata-kata teguran atau koreksi hanya harus dibawa oleh menteri berpengalaman, dan kemudian hanya melalui kesepakatan eksplisit dan pengawasan pendeta atau mengawasi tua. Banyak kali jenis kata-kata yang terbaik bersama dengan para pemimpin gereja secara pribadi.

2. Dalam rangka memfasilitasi aliran kata-kata nubuat yang melahirkan, sering baik untuk memiliki seorang penatua yang ditunjuk untuk siapa individu mengirimkan isi kata sebelum membawanya publik. tua dapat memilih untuk memberikan pesan umum dari kata dirinya untuk mengakomodasi terbaik aliran layanan. kata-kata tertentu dapat membawa dampak yang lebih besar datang dari pemimpin didirikan.

3. Para pendeta harus mendorong individu membawa kata-kata untuk tidak pergi terlalu lama, atau mengubah arah aliran dari layanan tanpa saksi dari penatua mengawasi. “Roh-roh para nabi tunduk pada nabi” (1 Kor. 14:32, NKJV).

4. Semua pelayanan kenabian, apakah berjamaah atau pribadi, harus dicatat. Hal ini memberikan kesempatan untuk kata untuk diingat akurat, dievaluasi dengan benar dan tepat diterapkan.

Bynum: Saya percaya dua pedoman yang sangat penting mengenai nubuat harus dilaksanakan di gereja lokal:

1. Individu harus menjadi anggota aktif gereja, memiliki reputasi yang dikuduskan di hadapan Tuhan, dan harus menjadi salah satu pendoa syafaat terkemuka gereja (lihat Yohanes 16:13).

2. Orang dengan nubuatan harus menjadi salah satu yang tidak hanya tertarik dalam memproyeksikan hadiah, tapi lebih tertarik dalam memproyeksikan buahnya. I Korintus 13:. 1-2 mengatakan bahwa jika kita “berbicara dengan bahasa manusia dan malaikat, tetapi tidak memiliki kasih, [kami adalah sebagai] kuningan terdengar atau simbal berdentang Dan meskipun [kita] memiliki karunia nubuat, dan memahami segala rahasia dan semua pengetahuan, dan meskipun [kita] memiliki iman [untuk] memindahkan gunung, dan tidak memiliki kasih, [kami] adalah apa-apa “.

Ini berarti bahwa bahkan jika kita berbicara apa yang Tuhan katakan, jika tidak dilakukan dengan kasih Allah, itu keuntungan apa-apa. Kita harus merasakan kepuasan dalam mengetahui bahwa kita tidak dihargai hanya karena kita mendapatkan pekerjaan yang dilakukan-kita dihargai untuk bagaimana kita melakukannya. Kata harus disampaikan dengan presisi sehingga orang yang menerima itu berakhir berterima kasih pada Tuhan, bukan kita.

Kita harus selalu ingat bahwa hidup seseorang berubah tidak hanya dengan kata dari Tuhan, tetapi kata sarat dengan buah-terutama buah terkemuka cinta.

Bickle: Jika nubuat yang meliputi koreksi atau arah baru bagi gereja untuk diberikan, itu pertama harus diserahkan kepada tim kepemimpinan yang mengatur. Kemudian tim kepemimpinan akan memutuskan apakah seluruh atau sebagian dari kata tersebut untuk dibagikan secara publik. Hal ini sering lebih baik untuk salah satu menteri yang mengatur untuk berbagi bukan orang kenabian, karena ini sering lebih efektif dalam tubuh menerima dan bertindak atas kata.

Jika kata profetik tidak mengandung unsur koreksi atau arah, melainkan terbatas pada dorongan dan kenyamanan, maka masalah utama berbagi itu adalah salah satu waktu. Tahu bahwa ketika Roh Kudus bergerak pada layanan ibadah, banyak orang akan menerima dorongan kenabian dan bahwa hal itu tidak akan praktis bagi mereka semua untuk berbicara secara terbuka. Menerima kesan kenabian asli bukan merupakan indikator otomatis bahwa kata harus dibagikan secara publik.

MINISTRIES HARI INI: Jika pelanggaran terjadi, bagaimana cara terbaik seorang pendeta atau gereja pemimpin dapat menangani mereka?

Bickle: Pendeta idealnya menyeimbangkan kelembutan di satu sisi dengan keterusterangan yang cukup di sisi lain. Kita harus menghindari koreksi publik kecuali situasi menuntut hal itu. Misalnya, jika seseorang menubuatkan doktrin palsu seperti Yesus tidak menjadi Tuhan, maka koreksi harus publik dan segera. Pada dasarnya, jika bahaya akan datang ke gereja karena tidak mengoreksi orang kenabian, maka harus ada koreksi publik.

Dalam kasus kata-kata kenabian yang berdaging, memaksa atau hyped up, namun tanpa sesuatu yang menciptakan bahaya nyata untuk gereja, Anda harus hati-hati benar orang secara pribadi, dengan jaminan dari cinta dan kemauan untuk melatih mereka di daerah di mana mereka membuat kesalahan.

Hamon: Cara terbaik untuk menghindari pelanggaran adalah untuk mengajar dan melatih individu dalam operasi yang tepat dari karunia dan tujuan mereka. Maka Anda harus konsisten model rilis pelayanan kenabian diurapi di gereja Anda. Dalam 13 tahun mengawasi gereja kenabian dan hampir 45 tahun pelayanan, saya telah menemukan itu menjadi kesempatan langka untuk memiliki secara terbuka menegur atau memperbaiki individu dalam pengaturan publik untuk kesalahan penanganan karunia nubuat.

Perbedaan perlu dibuat antara mereka yang sengaja mengganggu dan rusak dan orang-orang yang mungkin belum dewasa atau membuat kesalahan dalam memberikan kata publik. Hal ini hampir selalu mungkin untuk anggun menindaklanjuti kata tidak tepat diberikan dan mengarahkan ke arah peneguhan tanpa mempermalukan individu, pendinginan aliran Roh Kudus atau mengganggu arah layanan.

Hal ini hampir selalu yang terbaik untuk berurusan dengan individu pribadi melalui nasihat pribadi. Jika nasihat berulang kali pergi diabaikan, maka mungkin tepat untuk menempatkan pembatasan pada pelayanan kenabian orang itu di gereja. Tingkat keparahan dan konteks kapan dan di mana kata itu bersama dapat mendikte tingkat keparahan dan konteks bagaimana penyesuaian dan koreksi yang diberikan oleh pemimpin gereja.

Kuyu: Dalam 15 tahun saya telah menggembalakan Gereja New Life, kami hanya punya satu kata palsu yang diberikan selama layanan. Ketika ini terjadi, kita sebagai jemaat berhenti dan berbicara tentang hal itu saat itu, dan semua orang baik-baik saja. Sebenarnya, itu adalah kesempatan besar bagi kita semua untuk mempelajari lebih lanjut tentang pekerjaan Roh. Itu adalah pengalaman yang memberi hidup, bahkan untuk orang yang memberi nubuat palsu.

kehidupan tubuh, kredibilitas dan integritas yang benar-benar penting untuk pertumbuhan rohani yang sehat. Itulah mengapa ada orang yang memberikan sebuah kata yang tidak akurat dan mengklaim itu adalah kebutuhan kenabian mengakui kesalahan dan bekerja melalui proses pertumbuhan di tempat yang sama di mana mereka memberi kata aslinya.

Jika kata yang salah atau ternyata salah dari waktu ke waktu, maka orang yang memberi kata harus kembali ke tempat di mana mereka memberi pesan dan meminta pengampunan untuk menyesatkan orang. Hal ini memberikan kesempatan bagi pertumbuhan yang sehat di dalam Kristus untuk semua orang yang terlibat dan memperkuat integritas nubuatan otentik. Namun, jika orang yang memberi kata menggantikan tanggung jawab atau membentang fakta dalam rangka untuk mencoba untuk tampil benar, mereka harus diberhentikan sebagai lemah dan tidak dianggap serius.

Jacobs: Tentu saja, ini mungkin akan ditentukan sebagian oleh ukuran jemaat lokal. saran saya adalah bahwa hal itu harus diketahui melalui pengajaran dari kenabian yang menginformasikan kepada jemaat bahwa semua kata yang diberikan (baik pribadi atau perusahaan) akan dinilai. Hal ini harus dilakukan pada pita mengajar tersedia untuk semua anggota dan pengunjung gereja.

Ini benar-benar menghemat “kulit yang mengelupas.” Harus seseorang menyalahgunakan hadiah, kebijakan (yang harus pada tape atau tertulis) telah ditetapkan pada bagaimana situasi akan ditangani. Jika situasi yang melecehkan terjadi, seseorang di tim kepemimpinan harus mendekati orang dengan kerendahan hati dan kelembutan untuk melihat apakah itu hanya kebodohan, atau semangat sejati penipuan mencoba untuk datang ke gereja.
————————————————– ——————————
Sebuah curahan baru wahyu datang ke gereja, dan dengan itu akan datang gelombang baru penipuan. – Cindy Jacobs
————————————————– ——————————

Jika orang yang bernubuat menghina masih berlanjut dan diajar, saya sarankan mereka diminta oleh pimpinan untuk meninggalkan gereja.

Bynum: Jika melanggar disebabkan oleh satu individu, cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan menunjukkan kepada mereka bagaimana kata itu benar atau waktunya. Saya percaya orang harus ditampilkan contoh dalam Alkitab di mana orang-orang baik berbicara sepatah kata keluar dari musim dan menyebabkan rasa sakit yang hebat karena bukan waktu yang tepat, atau mereka tidak pilihan yang sempurna Tuhan harus memberikan kata di tempat pertama.

Satu cerita terlintas dalam pikiran di 2 Samuel 18: 19-20. Ahimaas bin Zadok, datang kepada Yoab dan berkata, “Mari saya sekarang menjalankan, dan menanggung raja kabar, bagaimana Tuhan telah membalas dendam dari musuh-musuhnya.” Dan Yoab menjawab, “Jangan mengucapkan kabar hari ini, tapi engkau menanggung kabar hari yang lain, tetapi hari ini engkau tidak memikul kabar, karena anak raja sudah mati” (KJV). Dia mengatakan bahwa Ahimaas tidak cukup terampil untuk memberikan semacam ini kata. Kata ini harus disampaikan dengan keterampilan, berkomunikasi sukacita bahwa musuh-musuh raja dikalahkan, tetapi dengan kepekaan terhadap fakta bahwa putra raja sudah mati.

Yoab dirasakan bahwa meskipun Ahimaas adalah seorang pelari cepat dari Cushi, ia belum cukup matang untuk menyampaikan kata ini, sehingga ia mengirim Cushi. Namun, Ahimaas bersikeras bahwa jika Yoab memungkinkan dia untuk menjalankan, ia akan tetap tinggal Cushi. Saat itu, penipuan ini dilahirkan pada hatinya. Dia tahu bahwa jika Yoab memungkinkan dia untuk menjalankan, ia akan berlari lebih cepat utusan nyata. Tapi Yoab berkata kepada Cushi, “Pergilah memberitahu raja apa yang engkau lihat” (vs. 21).

Suatu hal yang sangat kuat terjadi: “Dia [Cushi] sujud kepada Yoab, dan berlari” (vs 21.). Ia diserahkan kepada otoritas; Oleh karena itu, ia berjalan di bawah penutup dan urapan. Sementara itu, Ahimaas menjadi begitu gigih dalam meminta untuk menjalankan bahwa Yoab menyerah pada semangat dan biarkan dia berjalan. Ini adalah kesalahan tragis bagi seorang pemimpin untuk membuat.

Saya mendorong Anda untuk belajar 2 Samuel 18 secara mendalam. Ada tiga pelajaran penting yang dapat dipelajari dengan mengamati yang menyampaikan pesan, bagaimana itu disampaikan dan apa yang dihasilkan:

1. Seseorang dapat melihat bagian, memiliki semangat yang tepat, dan memakai pakaian yang tepat, namun menjadi utusan yang salah.

2. Hanya karena Anda sudah familiar dengan karakter seseorang tidak berarti ia memiliki kata yang benar dari Tuhan untuk Anda untuk musim tertentu. Jangan pernah membiarkan diri Anda untuk menerima kata hanya karena Anda tahu seseorang. Dosa keakraban adalah perangkap benar musuh.

3. Banyak orang dapat memberikan kata parsial untuk individu, tetapi beberapa kata-kata yang dimaksudkan untuk disampaikan oleh orang-orang yang berpengalaman di God.The pelajaran paling penting untuk setiap nabi adalah untuk mengetahui “tingkat” Anda (atau “aptitude spiritual”) Allah dan Firman-Nya. Tinggal di “kelas.”

MINISTRIES HARI INI: Kriteria apa yang harus pendeta mengajar orang untuk menguji nubuat?

Haggard: Tes pertama adalah konsistensi dengan ajaran Alkitab. Sangat penting untuk tampilan tinggi Kitab Suci untuk beristirahat di jantung setiap gerakan kenabian, kata atau Selain act.In untuk akurasi Alkitab, saya mengajar sederhana tes tiga langkah: kebenaran, waktu dan nada:

1. Kebenaran. Aku mengakui bahwa Allah dapat dan tidak berubah pikiran-Nya, doa yang mengubah hal-hal dan bahwa semua orang percaya tumbuh. Tapi jika seseorang mengaku sebagai juru bicara Allah, ia harus mengatakan yang sebenarnya.

2. Timing. Kadang-kadang kata kenabian yang tepat dalam satu pengaturan tapi tidak di negara lain. Sangat penting untuk tahu kapan untuk mengatakan apa yang kita dengar Roh berkata dan kapan harus diam. Apakah kata melengkapi apa yang telah dilakukan Roh? Apakah akan mengganggu atau menghambat untuk menyembah manusia tentang Allah? Waktu adalah sepenting kata itu sendiri, karena waktu memiliki banyak hubungannya dengan bagaimana diterima.

3. Tone. Kata-kata “Aku mencintaimu” dalam berbagai nada suara berarti hal yang sangat berbeda. Saya percaya bahwa salah satu alasan Tuhan harus mengirim Yesus untuk menunjukkan kasih-Nya bagi kita adalah karena kita kehilangan nada cinta di Dekalog, dalam Pentateukh dan wahyu tertulis lainnya Allah. Beberapa orang mengatakan nada yang berkomunikasi lebih dari 50 persen dari makna dalam berbicara dan menulis. Sangat sering dalam pertemuan kenabian, kita menggunakan tape recorder untuk merekam tidak hanya kata-kata yang sebenarnya, tetapi nada, baik yang membantu kami mendengar makna-Nya.

Bynum: Saya sarankan kriteria ini:

1. Mintalah orang yang memberikan nubuat yang pendetanya, dan jika pelayanannya aktif dan disampaikan dalam tubuh.

2. Meminta untuk memiliki kata doa dengan orang sekitar untuk menyampaikan berita kepada Anda. Mulai berdoa dan mengikat semua fleshliness dan setiap kata yang sedang dikembangkan di ranah soulish. Jika itu adalah kata yang nyata dari Tuhan, itu akan terus sampai Anda selesai berdoa.

3. Minta orang jika ia akan memiliki masalah jika Anda menuliskan apa yang dia katakan agar Anda dapat menunjukkan kepada pendeta Anda atau salah satu penatua jemaat untuk memiliki kata dihakimi. Jika kata tersebut bukan kata Tuhan, memberitahukan bahwa Anda tidak akan terintimidasi untuk mengatakannya.

4. Tanyakan bahwa kata berbasis di Firman. Allah tidak berbicara di luar Firman-Nya.

Hamon: Pertama, kriteria yang paling penting untuk menguji nubuat adalah bahwa semua wahyu kenabian harus diserahkan kepada dan berbaris dengan seluruh nasihat Allah seperti yang ditemukan di dalam Firman.

Kedua, adalah penting bagi kita untuk bersaksi dengan Roh dengan apa yang diucapkan. Kita harus mampu tidak hanya untuk membedakan isi dari apa yang dikatakan, tetapi juga semangat yang dikatakan (lihat Kisah Para Rasul 16: 16-18). roh kita mungkin bersaksi meskipun pikiran kita mungkin tidak mengerti atau emosi kita mungkin bertentangan dengan apa yang Tuhan katakan. Kita harus belajar untuk mempercayai sukacita batin dan kedamaian Allah, yang melewati pemahaman, untuk memimpin kita dalam kebenaran.

Ketiga, itu baik untuk mencari konfirmasi dan konsistensi dalam apa yang Tuhan sedang berbicara. Banyak kali Allah akan membawa penekanan tentang kehendak-Nya melalui pengulangan. Di mulut dua atau tiga orang saksi setiap kata dibentuk dan iman kita meningkat untuk menerima kata sebagai Allah (lihat 2 Korintus 13:. 1).

Keempat, mengevaluasi kapal melalui mana kata tersebut diberikan. Apakah mereka terbukti dan berpengalaman dalam pelayanan mereka, atau tidak diketahui atau pemula? bobot yang lebih besar dapat diberikan untuk kata hanya karena diberi oleh seorang menteri terbukti. Namun, kita harus berhati-hati untuk tetap terbuka untuk kapal apa pun yang Tuhan dapat memilih untuk menggunakan, seperti yang kita tahu Allah bahkan dapat berbicara melalui keledai!

Akhirnya, mengirimkan kata untuk mereka yang berwenang spiritual di gereja untuk pengawasan dan nasihat. Orang tidak seharusnya takut untuk mengirimkan wahyu dari Allah kepada mereka diposisikan oleh Allah dengan otoritas dalam gereja.

Jacobs: Saya memberikan pedoman ini didasarkan pada 1 Tesalonika 5:21, “Test segala sesuatu dan peganglah yang baik” (NKJV):

1. Apakah apa yang telah dibagikan sebagai kata kitab suci kenabian?

2. Apakah ramalan itu menampilkan karakter Kristus?

3. Apakah buah dalam kehidupan orang yang memberikan ramalan itu?

4. Apakah ada sesuatu mencemari kata?

5. Apakah Roh Kudus memberi saya di jalan saksi batin?

6. Apakah nubuatan dari Tuhan? (Tiga sumber nubuat adalah: (1) Roh Allah; (2) semangat kesalahan atau roh-roh jahat, dan (3) daging.

Bickle: Pertama dan terpenting, adalah isi dari ramalan itu dalam batas-batas Alkitab? Kedua, apakah itu memotivasi kita untuk percaya dan mengasihi Yesus dengan gairah yang lebih besar? Dan akhirnya, apakah itu mempromosikan kehidupan yang kudus dan ketaatan?

MINISTRIES TODAY: Apa yang Tuhan berbicara profetis ke gereja saat kita memasuki tahun 2000?

Haggard: Tuhan berkata bahwa ini adalah generasi kesempatan untuk menjangkau setiap kelompok orang yang belum terjangkau dengan Injil. Amerika Serikat adalah negara adidaya di dunia karena suatu alasan. ekonomi global makmur, dan bahwa globalisasi yang terjadi di kota-kota besar dunia sehingga kita dapat menyebarkan Injil kepada setiap kelompok orang.

Kami berada di Matius 24:14: “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia sebagai saksi untuk semua bangsa, dan kemudian akhir itu akan datang.” Kita sekarang telah dikodifikasikan kelompok orang yang belum terjangkau dan paling menginjili, sehingga kita sekarang dapat strategis bekerja untuk menyelesaikan Amanat Agung. Kami lebih dekat untuk menjawab doa Yesus dalam Yohanes 17:23 dari sebelumnya.

Ini adalah generasi ekspansi cepat, pencurahan luar biasa dari Roh-Nya dan kemartiran sebagai Injil mengancam wilayah paling gelap dari dunia ini. Dalam beberapa dekade mendatang, Asia akan menginjili dan memuridkan, dan kemudian seluruh dunia akan tahu.

Jacobs: Sebuah curahan baru wahyu datang ke gereja, dan dengan itu akan datang gelombang baru penipuan. Seperti Tuhan bergerak untuk melepaskan seluruh tubuh Kristus ke dalam meletakkan tangan di atas orang sakit, mengusir setan, dan sebagainya, Setan akan mencoba untuk menipu bahkan umat pilihan. Kita perlu berdoa untuk semangat penegasan sekarang lebih dari sebelumnya.

Salah satu isu yang paling penting di hati Allah sekarang tentang kenabian adalah menghubungkan (atau hitching, seperti Peter Wagner adalah ajaran) para rasul dan nabi berfungsi bersama-sama untuk meletakkan dasar dari gereja.

Bickle: Saya akan mengisolasi salah satu yang dinamis bahwa Roh Kudus menekankan: 24 jam sehari doa seluruh kota dalam semangat Tabernakel Daud, atau ibadah syafaat. Ini adalah peperangan rohani yang dipimpin oleh tim ibadah.

Saya percaya bahwa seluruh bumi banyak orang yang menerima undangan oleh Roh Kudus untuk merangkul pertemuan doa 24- jam-a-hari di kota-kota mereka. Saya mendorong semua orang untuk mencari cara Tuhan untuk menggabungkan syafaat dengan ibadah. Ini adalah salah satu hal yang paling mendesak di hati Tuhan untuk membawa panen besar.

Saya percaya kita akan melihat lebih dari 1 miliar jiwa baru datang kepada Yesus pada jam mendatang. Di Kansas City kami telah melakukan doa malam-dan-hari dipimpin oleh tim penyembahan 24 jam sehari sejak September 1999. sumber Gratis dan informasi yang tersedia di situs Web kami, www.ihopkc.com.

Hamon: Sejak Reformasi Protestan, Allah telah sistematis telah mengembalikan kebenaran kepada gereja. Allah menginginkan kita untuk “dibentuk dalam kebenaran ini” bahwa kita mungkin akan lengkap dan siap untuk mencapai dan memenuhi semua tujuan ilahi untuk mempelai-Nya, gereja (lihat 2 Pet. 1:12).

Roh Tuhan mendesak tubuh Kristus untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya dan untuk membuat orang siap, seperti Yohanes Pembaptis menyatakan sebelum pertama kali Kristus datang ke dunia (lihat Matt 3: 3; Lukas 1:17).. Tuhan sedang membangkitkan tentara perkasa orang percaya yang akan bergerak dalam kekuasaan dan otoritas (lihat Markus 16: 15-18), tidak hanya dalam empat dinding gereja, tetapi di pasar dan pemerintah juga, bahwa Dia mungkin mencapai Wahyu 11:15, yang menyatakan bahwa “atas dunia telah menjadi kerajaan Tuhan kita dan Kristus-Nya.

Allah menginginkan agar umat-Nya mendengar suara-Nya dan mengetahui hati-Nya, akan dan pikiran sehingga mereka dapat mencapai rencana-Nya di bumi. Kita harus menjadi seperti anak-anak Isakhar, yang tahu waktu dan musim dan tahu bagaimana strategis menanggapi mereka (lihat 1 Taw 7: 5; 00:32.). Gereja harus berjalan dalam roh hikmat dan wahyu sehingga kita dapat mengetahui tujuan Allah dan mencapai mereka pada waktu-Nya.

Saya merasakan bahwa ini adalah strategis, ditunjuk, waktu kairos di mana Tuhan menghadapi gereja-Nya dengan cara yang kuat. Kami akan melihat rilis segar urapan ajaib dari Roh. Tanda-tanda, keajaiban dan mukjizat akan menjadi seperti sering dan mengalir bebas sebagai nubuatan telah menjadi dalam beberapa dekade terakhir. Allah akan mengaduk dan mengaktifkan pengurapan ini, tidak hanya di kantor pelayanan lima kali lipat dari kepemimpinan gereja, tetapi dalam kehidupan orang-orang kudus rata yang akan mulai mempengaruhi kota dan bangsa dengan kuasa Allah.

Allah bermaksud untuk membawa kebangunan rohani pada orang-orang muda dari Amerika Serikat. Generasi ini akan berani, berani dan radikal dalam menunjukkan pesan Injil kepada dunia. Saya percaya kita akan melihat panen yang luar biasa dari jiwa. Bahkan, saya percaya kita akan melihat lebih banyak jiwa-jiwa yang disimpan dalam beberapa dekade mendatang daripada yang telah kita lihat dalam 2.000 tahun-tahun sebelumnya. Kita hidup dalam waktu ketika kita akan melihat seluruh bangsa berbalik kepada Tuhan dalam sehari!

Musim dari nikmat adalah pada gereja (lihat Is 61:. 2), dan kita harus memposisikan diri dalam iman dan dalam doa syafaat rajin untuk menarik tujuan-Nya balik dari alam surgawi. Allah menyatakan bahwa ini adalah waktu untuk transfer kekayaan ke gereja untuk mencapai tujuan kerajaan (lihat Amsal. 13:22). Ini adalah waktu rilis ganda porsi pengurapan-Nya (lihat Is 61: 7). Dan terus gemetar pemerintah dunia dan sistem ekonomi, terorisme dan ketidakstabilan politik. Namun, Tuhan menggunakan ini gemetar untuk mengatur panggung untuk pergeseran paradigma dramatis dalam gereja-Nya, yang bahkan sekarang mengantarkan reformasi akhir dari gereja dan kedatangan Tuhan Yesus untuk bersatu dengan pengantin-Nya.

Catatan Editor: Para responden diundang untuk mengajukan pertanyaan mereka percaya perlu bertanya. Bill Hamon mengajukan pertanyaan ini dan jawaban:

Mengapa ada penekanan seperti pada rasul, nabi dan pelayanan kenabian?

Menurut Efesus 4: 11-15, semua lima hadiah kenaikan Kristus (rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar) yang diperlukan untuk melengkapi dan menyempurnakan orang-orang kudus. Namun, beberapa ratus tahun yang lalu beberapa teolog mulai mengajar yang rasul dan nabi tidak lagi valid, pelayanan aktif dalam gereja, dan bahkan keberadaan mereka berhenti setelah pembentukan gereja abad pertama.

Selama 20 tahun terakhir, Tuhan telah memulihkan realitas rasul dan nabi sebagai aktif dan penting saat ini. Yesus berkata, “Aku akan mendirikan jemaat-Ku” (Mat. 16:18). Dia masih dalam proses membangun gereja-Nya. Rasul dan nabi adalah pembangun utama dalam gereja, dan benar-benar kementerian dasar atas mana bangunan berlangsung (lihat Efesus. 2:20).

1 Korintus 14: 4 menyatakan bahwa “dia yang bernubuat edifies [membangun] gereja.” Oleh karena itu, kita melihat bahwa pelayanan nubuat adalah salah satu alat strategis Allah untuk membangun gereja-Nya dalam kekuasaan, bahwa “maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18, KJV).

Untuk membaca lebih lanjut tentang hal ini, Creation House memiliki buku-buku berikut tersedia di situsnya Web, www.creationhouse.com: Nabi Etiket oleh Michael Sullivant, dan demikianlah firman Tuhan? oleh John Bevere.

Naskah Asli :

Pastors vs. Prophets
by Peter Wagner
www.globalharvest.org

How can we avoid the misuse of prophecy in the church?

A Special Ministries Today Forum
Interest in prophetic ministry has grown in recent years, but along with it has come a wave of important questions. How should the gift function in the local church? Are there guidelines for its operation? And how do you handle situations in which it is abused or when prophets step out of line?

Because the prophetic is often misunderstood and misused, many pastors choose the easy way out and avoid it altogether. But this isn’t the best solution. Understanding the gift and how it functions in balance can release a new level of anointing in a church’s ministry.

To provide insight into this critical issue, Ministries Today asked recognized leaders in prophetic ministry for their observations and understanding regarding the gift of prophecy. Following is our dialogue with Cindy Jacobs, Ted Haggard, Bill Hamon, Mike Bickle and Juanita Bynum.

MINISTRIES TODAY: How does the gift of prophecy differ or coincide with prophecy in the Old Testament?

Jacobs: In the Old Testament, prophets were the main people who heard from God. In contrast, all New Testament believers are indwelt by the Holy Spirit and have been given the ability to prophesy (see 1 Cor. 14:39).

However, not everyone is placed in the body by the Lord in the office of prophet. In the Old Testament there were those called to be prophets and those who were occasionally touched by what might be called the spirit of prophecy, such as when Saul fell down under the power of God and it was pondered, “Is Saul also among the prophets?” (1 Sam. 19:24, NKJV).

Bickle: The Old Testament has a higher standard required for prophetic ministry than the New Testament. In the Old Testament they prophesied from a direct open communication with God, such as hearing the audible voice of the Lord or seeing a vision.

In the New Testament, we often prophesy by faith as the Holy Spirit gives impressions in our spirit. There is room for misinterpretation of these impressions; thus, prophets are exhorted to judge or discern one another.

Haggard: In Old Testament times, God’s people relied on prophets to tell them what He was saying. Dependency on prophets was so high that it was a capital offense for a prophet to misrepresent the word of the Lord. In the New Testament and throughout church history, we continue to have both the office of the prophet and the gift of prophecy, but our dependency is not as great because the Spirit has been given to all believers.

Thus, the New Testament church has very few “Thus saith the Lord” types of encounters to communicate a specific word of the Lord. The letters written by the first apostles are the Word of the Lord. Most importantly, Jesus is the Word of the Lord. God described Himself perfectly in Jesus (see Col. 1:15), and we have His example to follow. So in today’s church we are not as dependent on prophets in order for us to know His will.

Our New Testament churches cannot find fullness in ministry without the prophetic, however. Paul describes necessary ingredients for church life three times, and only prophecy is mentioned all three times (see Rom. 12:6; 1 Cor. 12:10; 30). No other office or function is discussed with equal frequency or fervency (see 1 Cor. 14:1).

Bynum: Today prophecy is taken so much for granted that I believe people treat it as if it is the latest fad. Often an individual recognizes that they have the gift of prophecy from having been given a word, instead of having received a word for another. A sense of excitement flares, and they go on a roll, trying to prophesy to others. The bad part is when they become high on their gift to the point that they do not deem it necessary to fast and pray.

Too often, prophets operate out of their soulish realm, which is dangerous. A prophet misusing the gift of prophecy will subject that gift to what is felt instead of what God is really saying.

Hamon: My broad definition of prophecy is “expressing the heart and mind of God by the revelation and enablement of the Holy Spirit.” It is a gifted ability that can be “stirred up,” activated and exercised by the faith of the believer.

Prophesying is not to be belittled. “Despise not prophesyings” (1 Thess. 5:20, KJV). Prophecy is to be desired, manifested, proven and then fulfilled. All Christians do not have the gift of prophecy, but all can move in the “spirit of prophecy,” which is the testimony of Jesus to His people (see Rev. 19:10).

Prophets in the Old Testament prophesied only when the Spirit moved strongly upon them or God spoke directly to them. New Testament prophets have a continuous abiding of the Christ within and that special grace and faith for drawing upon the heart and mind of God whenever their faith makes a draw upon that anointing.

Some have asked me how I can prophesy to anyone, anytime. I usually reply that it is by the revelation, grace and faith that Christ has given. To help a person understand this principle one has only to ask a charismatic if he can exercise his spiritual gift of praying in the language of the Spirit anytime and anyplace.

The way that a Spirit-filled Christian speaks with their gifted ability of praying in tongues is the same way that I prophesy with Christ’s gift of prophecy, and it is the same way a believer prophesies according to his revelation, grace and faith. Biblical prophesying is the same from Genesis to Revelation in that it reveals the heart and mind of God by supernatural insight and utterance.

Prophets and prophesying are mentioned more than 400 times in the Bible. Prophesying started in the Garden of Eden when God spoke His heart and mind to Adam and Eve and when Adam prophesied to his wife. We find prophets and prophecy still alive and active in the last chapter of the last book of the Bible.

Prophets and personal prophecy are the main avenue through which God has communicated with mankind and His church. Paul declared that when he went anywhere he communicated the heart and mind of God in one of four ways. The first two were by knowledge and teaching of the logos, or written, Word of God. The other two were by the rhema, or revealed, word of the Lord and by revelation and prophesying (see 1Cor.14:6).

MINISTRIES TODAY: What guidelines should local pastors have for the way the gift of prophecy should operate in their services?

Jacobs: I do not believe there is simply one set of guidelines for pastors to use. Each local body will determine how the gift of prophecy should function in their church.

This subject is covered extensively in my book, The Voice of God. Here are some general guidelines most charismatic/Pentecostal churches might use. I suggest that these be published in the church bulletin each week:

1. If you believe God has given you a prophetic utterance for the congregation during the service, please submit it to an elder, leader or pastor. (Your church should determine who will judge these words, and it should be known where they sit for the administration of the word.)

2. Share the gist of the word with the leader.

3.The leader will then determine if or when the word is appropriate for the congregation. Do not be offended if the word is not shared publicly. It may not have anything to do with its validity. Trust God to let it come out in His way and time.

4. The reason we administrate the gift of prophecy this way is so that the word can be given over the microphone, heard by all for their edification, and recorded. The word then can be kept and prayed over as part of the word of the Lord for our congregation.

Haggard: At our church, believers often want to share a prophetic word during the music portion of the service. They come up to the pastor and explain what they would like to share. If we know and respect them, or believe that their word would be helpful for the body, then we have them share with the church. If not, we briefly explain to them why we are not going to have them share right then, and they either share in another service or use the word as a point in prayer.
——————————————————————————–
We must always remember that a person’s life is transformed not just by a word from the Lord, but a word loaded with fruit-especially the foremost fruit of love. -Juanita Bynum
——————————————————————————–

We often have two or three words in each of our four services every weekend. Prophecy is the norm in many of our 530 cell groups. Sometimes the words are purely prophetic. Other times they are visions, specific scriptures or words of exhortation. Often we hear words of wisdom, revelation or knowledge. It is always powerful for the body to hear what the Spirit is saying.

Hamon: I have found that sincere individuals operate best in their giftings in the context of clear expectations and guidelines. Therefore, it is important for local pastors to establish and communicate the protocol for bringing a congregational word in their church. Some practical guidelines that we have found to be effective include:

1. Congregational words of prophecy are for the purpose of edification, exhortation and comfort (see 1 Cor. 14:3). Words of rebuke or correction should only be brought forth by seasoned ministers, and then only through the explicit agreement and oversight of the pastor or overseeing elder. Many times these types of words are best shared with church leaders in private.

2. In order to facilitate the flow of prophetic words being brought forth, it is often good to have a designated elder to whom the individuals submit the content of the word before bringing it publicly. The elder may choose to give the general message of the word himself in order to best accommodate the flow of the service. Certain words may carry a greater impact coming from an established leader.

3. Pastors should encourage individuals bringing words not to go too long, nor to change the directional flow of the service without the witness of the overseeing elder. “The spirits of the prophets are subject to the prophets” (1 Cor. 14:32, NKJV).

4. All prophetic ministry, whether congregational or personal, should be recorded. This gives the opportunity for the word to be accurately remembered, properly evaluated and appropriately applied.

Bynum: I believe two very important guidelines regarding prophetic words should be implemented in the local church:

1. The individual must be an active member of the church, have the reputation of being consecrated before the Lord, and must be one of the leading intercessors of the church (see John 16:13).

2. The person with a prophecy must be one who is not just interested in projecting his gift, but is more interested in projecting his fruit. First Corinthians 13:1-2 says that if we “speak with tongues of men and of angels, but have not love, [we are as a] sounding brass or a clanging cymbal. And though [we] have the gift of prophecy, and understand all mysteries and all knowledge; and though [we] have all faith [to] remove mountains, and have not love, [we] are nothing.”

This means that even if we speak exactly what the Lord is saying, if it is not done with the love of God, it profits nothing. We should feel a sense of satisfaction in knowing that we are not rewarded just because we get a job done-we are rewarded for how we do it. The word must be delivered with such precision that the person receiving it ends up thanking God, not us.

We must always remember that a person’s life is transformed not just by a word from the Lord, but a word loaded with fruit-especially the foremost fruit of love.

Bickle: If a prophecy that includes correction or a new direction for the church is to be given, it should first be submitted to the governing leadership team. Then that leadership team would decide if all or part of the word is to be shared publicly. It is often better for one of the governing ministers to share it instead of the prophetic person, since this is often more effective in the body receiving and acting on the word.

If the prophetic word contains no element of correction or direction, but rather is confined to encouragement and comfort, then the main issue of sharing it is one of timing. Know that when the Holy Spirit is moving on a worship service, many people will receive prophetic encouragements and that it will not be practical for them all to be spoken publicly. Receiving a genuine prophetic impression is not an automatic indicator that the word must be shared publicly.

MINISTRIES TODAY: If abuses occur, how best can a pastor or church leader handle them?

Bickle: The pastor ideally balances gentleness on one hand with sufficient directness on the other hand. We should avoid a public correction unless the situation requires it. For example, if someone prophesies a false doctrine such as Jesus not being God, then the correction must be public and immediate. Basically, if harm would come to the church through not correcting the prophetic person, then there must be public correction.

In the case of prophetic words that are fleshy, pushy or hyped up, yet without something that creates real harm to the church, you should gently correct the person in private, with assurance of your love and willingness to train them in the area in which they are making mistakes.

Hamon: The best way to avoid abuses is to teach and train individuals in the proper operation of the gifts and their purpose. Then you must consistently model the release of anointed prophetic ministry in your church. In 13 years of overseeing a prophetic church and almost 45 years of ministry, I have found it to be a rare occasion to have to openly rebuke or correct an individual in a public setting for mishandling the prophetic gift.

A distinction needs to be made between those who are purposely disruptive and out of order and those who are perhaps immature or make a mistake in delivering a word publicly. It is almost always possible to graciously follow up an inappropriately given word and redirect it toward edification without shaming the individual, quenching the flow of the Holy Spirit or interrupting the direction of the service.

It is almost always best to deal with individuals privately through personal counsel. If the counsel repeatedly goes unheeded, then it may be appropriate to put restrictions on that person’s prophetic ministry in the church. The severity and context of when and where the word was shared may dictate the severity and context of how adjustment and correction are given by the church leader.

Haggard: In the 15 years that I have pastored New Life Church, we have only had one false word given during a service. When this happened, we as a congregation stopped and talked about it right then, and everyone was fine. Actually, it was a great opportunity for all of us to learn more about the work of the Spirit. It was a life-giving experience, even for the person who gave the false prophecy.

Body life, credibility and integrity are absolutely essential to healthy spiritual growth. That is why anyone who gives an inaccurate word and claims it is prophetic needs to admit the mistake and work through the process of growth in the same venue where they gave the original word.

If a word is wrong or turns out to be wrong over time, then the person who gave the word should return to the place where they gave the message and ask forgiveness for misleading people. This gives an opportunity for healthy growth in Christ for everyone involved and strengthens the integrity of authentic prophecy. However, if the person who gave the word displaces responsibility or stretches the facts in order to try to appear correct, they should be dismissed as weak and not taken seriously.

Jacobs: Of course, this will probably be determined in part by the size of the local congregation. My suggestion is that it should be known through teaching on the prophetic that informs the congregation that all words given (whether personal or corporate) will be judged. This should be done on a teaching tape available to all members and visitors of the church.

This really cuts down on “flakiness.” Should someone abuse the gift, the policy (which should be on tape or in writing) has already been set on how the situation will be handled. If an abusive situation occurs, someone on the leadership team should approach the person with humility and tenderness to see if it is only ignorance, or a true spirit of deception trying to come into the church.
——————————————————————————–
A new outpouring of revelation is coming to the church, and with it will come a new wave of deception. – Cindy Jacobs
——————————————————————————–

If the person who prophesies abusively still continues and is unteachable, I suggest they be asked by the leadership to leave the church.

Bynum: If the abuse is caused by a single individual, the best way to resolve it is by pointing out to them how the word was incorrect or untimely. I believe the person should be shown examples in the Bible where people either spoke a word out of season and caused great pain because it was not the right timing, or they were not the perfect choice God had to deliver the word in the first place.

One story comes to mind in 2 Samuel 18:19-20. Ahimaaz, the son of Zadok, came to Joab and said, “Let me now run, and bear the king tidings, how that the Lord hath avenged him of his enemies.” And Joab answered him, “Thou shalt not bear tidings this day, but thou shalt bear tidings another day: but this day thou shalt bear no tidings, because the king’s son is dead” (KJV). He was saying that Ahimaaz was not skilled enough to deliver this kind of word. This word had to be delivered with skill, communicating joy that the king’s enemies were defeated, but with sensitivity to the fact that the king’s son was dead.

Joab perceived that though Ahimaaz was a faster runner than Cushi, he had not yet matured enough to deliver this word, so he sent Cushi. However, Ahimaaz insisted that if Joab allowed him to run, he would stay behind Cushi. Right then, deceit was birthed in his heart. He knew that if Joab allowed him to run, he would outrun the real messenger. But Joab said to Cushi, “Go tell the king what thou hast seen” (vs. 21).

A very powerful thing happened:”He [Cushi] bowed himself unto Joab, and ran”(vs. 21). He was submitted to authority; therefore, he was running under a covering and anointing. In the meantime, Ahimaaz became so persistent in asking to run that Joab gave in to his zeal and let him run. This is a tragic mistake for a leader to make.

I encourage you to study 2 Samuel 18 in depth. There are three important lessons that can be learned by observing who delivered the message, how it was delivered and what resulted:

1. A person can look the part, have the right zeal, and wear the right garments, yet be the wrong messenger.

2. Just because you are familiar with a person’s character does not mean he has the correct word of the Lord for you for a particular season. Never allow yourself to accept a word simply because you know a person. The sin of familiarity is a true trap of the enemy.

3. Many people can give a partial word to an individual, but some words are meant to be delivered by those who are seasoned in God.The most important lesson for any prophet is to know your “level” (or “spiritual aptitude”) in God and in His Word. Stay in your “grade.”

MINISTRIES TODAY: What criteria should pastors teach people for testing prophecies?

Haggard: The first test is consistency with biblical teaching. It’s important for a high view of the Scripture to rest in the heart of every prophetic movement, word or act.In addition to biblical accuracy, I teach a simple three-step test: truth, timing and tone:

1. Truth. I recognize that God can and does change His mind, that prayer changes things and that all believers are growing. But if someone claims to be God’s spokesman, he needs to tell the truth.

2. Timing. Sometimes a prophetic word is right in one setting but not in another. It’s important to know when to say what we hear the Spirit saying and when to be silent. Does the word complement what the Spirit is already doing? Will it be distracting or inhibiting to people’s worship of God? Timing is nearly as important as the word itself, because timing has a great deal to do with how it is received.

3. Tone. The words “I love you” in various tones of voice mean very different things. I believe that one reason God had to send Jesus to demonstrate His love for us is because we lost the tone of love in the Decalogue, in the Pentateuch and in other written revelations of God. Some say that tone communicates more than 50 percent of the meaning in speaking and writing. Very often in prophetic meetings, we use tape recorders to record not only the actual words, but the tone, both of which help us hear His meaning.

Bynum: I suggest these criteria:

1. Ask the person giving the prophecy who his pastor is, and if his ministry is active and submitted in the body.

2. Ask to have a word of prayer with the person about to deliver the word to you. Begin to pray and bind all fleshliness and every word that is being developed in the soulish realm. If it is a real word from the Lord, it will hold until you are done praying.

3. Ask the person if he would have a problem if you wrote down what he is saying in order that you may show it to your pastor or to one of the elders of the church to have the word judged. If the word is not the word of the Lord, inform him that you will not be intimidated to say so.

4. Ask that the word be based in the Word. God does not speak outside of His Word.

Hamon: First, the most important criterion for testing prophecies is that all prophetic revelation must be submitted to and line up with the whole counsel of God as found in the Word.

Second, it is important for us to bear witness by the Spirit with what is being spoken. We must be able not only to discern the content of what is being said, but also the spirit in which it is said (see Acts 16:16-18). Our spirits may bear witness even though our minds may not understand or our emotions may be contrary to what God is saying. We must learn to trust the inner joy and the peace of God, which passes understanding, to lead us in truth.

Third, it is good to look for confirmation and consistency in what God is speaking. Many times God will bring emphasis concerning His will through repetition. In the mouth of two or three witnesses every word is established and our faith is increased to receive the word as from God (see 2 Cor. 13:1).

Fourth, evaluate the vessel through which the word is given. Are they proven and seasoned in their ministry, or unknown or a novice? Greater weight may be given to the word simply because it was given by a proven minister. However, we must be careful to remain open to whatever vessel the Lord may choose to use, as we know God can even speak through a donkey!

Finally, submit the word to those in spiritual authority in the church for oversight and counsel. One should never be afraid to submit a revelation from God to those positioned by God with authority in the church.

Jacobs: I give these guidelines based on 1 Thessalonians 5:21, “Test all things; hold fast what is good”(NKJV):

1. Is what has been shared as a prophetic word scriptural?

2. Does the prophecy display the character of Christ?

3. What is the fruit in the life of the person giving the prophecy?

4. Is there anything tainting the word?

5. What is the Holy Spirit giving me in the way of an inward witness?

6. Is the prophecy from God? (Three possible sources of prophecy are: (1) the Spirit of God; (2) the spirit of error or demonic spirits; and (3) the flesh.

Bickle: First and foremost, is the content of the prophecy within the bounds of Scripture? Second, does it motivate us to trust and love Jesus with greater passion? And finally, does it promote a life of holiness and obedience?

MINISTRIES TODAY: What is God speaking prophetically to the church as we enter the year 2000?

Haggard: God is saying that this is the generation of opportunity to reach every unreached people group with the gospel. The United States is the world’s superpower for a reason. Global economies are prospering, and that globalization is happening in the megacities of the world so that we can spread the gospel to every people group.

We are in Matthew 24:14: “And this gospel of the kingdom will be preached in all the world as a witness to all the nations, and then the end will come.” We have now codified the people groups who are unreached and least evangelized, so we can now strategically work to complete the Great Commission. We are closer to answering Jesus’ prayer in John 17:23 than ever before.

This is the generation of rapid expansion, an incredible outpouring of His Spirit and of martyrdom as the gospel threatens the darkest areas of this world. In the next few decades, Asia will be evangelized and discipled, and then the whole world will have known.

Jacobs: A new outpouring of revelation is coming to the church, and with it will come a new wave of deception. As God is moving to release the whole body of Christ into laying hands on the sick, casting out demons, and so on, Satan will try to deceive even the elect. We need to pray for a spirit of discernment now more than ever before.

One of the most important issues on the heart of God right now concerning the prophetic is the linking (or hitching, as Peter Wagner is teaching) of the apostles and prophets to function together to lay the foundation of the church.

Bickle: I will isolate one dynamic that the Holy Spirit is emphasizing: 24-hour-a-day citywide prayer in the spirit of the Tabernacle of David, or intercessory worship. This is spiritual warfare led by worship teams.

I believe that throughout the whole earth many people are receiving invitations by the Holy Spirit to embrace 24- hour-a-day prayer meetings in their cities. I urge everyone to seek God’s way to combine intercession with worship. This is one of the most pressing things on God’s heart to bring in the great harvest.

I believe we will see more than 1 billion new souls come to Jesus in the coming hour. In Kansas City we have been conducting night-and-day prayer led by worship teams 24 hours-a-day since September 1999. Free resources and information are available on our Web site, www.ihopkc.com.

Hamon: Since the Protestant Reformation, God has systematically been restoring truth to the church. God desires us to “be established in the present truth” that we might be fully equipped and made ready to accomplish and fulfill all the divine purposes for His bride, the church (see 2 Pet. 1:12).

The Spirit of the Lord is urging the body of Christ to prepare the way for the coming of the Lord, make straight paths for Him and to make a people ready, just as John the Baptist declared before the first time Christ came to earth (see Matt. 3:3; Luke 1:17). God is raising up a mighty army of believers who will move in power and authority (see Mark 16:15-18), not only within the four walls of the church, but in the marketplace and government as well, that He might accomplish Revelation 11:15, which declares that the “kingdoms of this world have become the kingdoms of our Lord and of His Christ.

God desires that His people hear His voice and know His heart, will and mind so that they can accomplish His plans in the earth. We must be as the sons of Issachar, who knew the times and seasons and knew how to strategically respond to them (see 1 Chr. 7:5; 12:32). The church must walk in the spirit of wisdom and revelation so that we may know God’s purposes and accomplish them in His time.

I sense that this is a strategic, appointed, kairos time in which the Lord is encountering His church in a powerful way. We will see a fresh release of the miraculous anointing of the Spirit. Signs, wonders and miracles will become as frequent and free-flowing as prophecy has become in the last several decades. God will be stirring and activating this anointing, not only in the five-fold ministry offices of church leadership, but in the lives of the average saints who will begin to affect cities and nations with the power of God.

God intends to bring a mighty revival in the young people of the United States. This generation will be bold, daring and radical in demonstrating the message of the gospel to the world. I believe we will see a tremendous harvest of souls. In fact, I believe we will see more souls saved in the next several decades than we have seen in the previous 2,000 years. We are living in a time when we will see entire nations turn to the Lord in a day!

The season of favor is upon the church (see Is. 61:2), and we must position ourselves in faith and in diligent intercessory prayer to pull His purposes forth from the heavenly realm. God is declaring that this is the time for the transfer of wealth to the church to accomplish kingdom purposes (see Prov. 13:22). It is a time of the double-portion release of His anointing (see Is. 61:7) and of continued shaking in world governments and economic systems, terrorism and political instability. However, God is using this shaking to set the stage for a dramatic paradigm shift in His church, which is even now ushering in the final reformation of the church and the coming of the Lord Jesus to be united with His bride.

Editor’s Note: The respondents were invited to pose a question they believed needed to be asked. Bill Hamon posed this question and answer:

Why is there such an emphasis on apostles, prophets and prophetic ministry?

According to Ephesians 4:11-15, all five of the ascension gifts of Christ (apostles, prophets, evangelists, pastors and teachers) are needed to equip and perfect the saints. However, several hundred years ago some theologians started teaching that apostles and prophets were no longer a valid, active ministry within the church, and that even their very existence ceased after the establishment of the first-century church.

For the last 20 years, God has been restoring the reality of apostles and prophets as being active and vital today. Jesus said, “I will build My church” (Matt. 16:18). He is still in the process of building His church. Apostles and prophets are major builders within the church, and are actually foundational ministries upon which the building takes place (see Eph. 2:20).

1 Corinthians 14:4 states that “he who prophesies edifies [builds up] the church.” Therefore, we see that the ministry of prophesying is one of God’s strategic tools for building His church in power, that the “gates of hell shall not prevail against it” (Matt. 16:18, KJV).

For further reading on this subject, Creation House has the following books available on its Web site, www.creationhouse.com: Prophetic Etiquette by Michael Sullivant, and Thus Saith the Lord? by John Bevere.
Ministries Today Prophecy Forum Guests

TED HAGGARD pastors New Life Church in Colorado Springs, Colorado. He is the co-author with John Bolin _of Confident Parent/Exceptional Teenagers (Zondervan).

MIKE BICKLE is founder of Metro Christian Fellowship and director of the International House of Prayer in Kansas City, Missouri. He is the author of Passion for Jesus and Growing in the Prophetic (Creation House).

BILL HAMON is the director of the Christian International Network of Prophetic Ministries and founder of the Christian International (CI) School of Theology, which has helped hundreds of churches start their own Bible colleges through CI Extensions.

CINDY JACOBS is co-founder with her husband, Mike, of Generals of Intercession, an organization that helps build prayer ministries throughout the world. She is the author of several books, including Possessing the Gates of the Enemy (Chosen Books) and Women of Destiny (Gospel Light).

JUANITA BYNUM is the author of the popular book No More Sheets (Pneuma Life). A well-known conference speaker based in Hempstead, New York, she also hosts Morning Glory, her ministry’s _TV program.
Did God Say That?

Observations by John Bevere, taken from his book, Thus Saith the Lord? (Creation House)

On prophetic ministry…
“There is the prophetic ministry of promise born of the will of the Father, and there is the prophetic ministry born of flesh and the will of man. What is the difference? Though both are conceived through a genuine desire to fulfill God’s plan and promise, the one birthed by flesh must be maintained by flesh, while the one birthed by the Spirit will be sustained by the Spirit. Flesh reproduces flesh and therefore speaks directly to the desires of man. Spirit reproduces Spirit and therefore speaks forth the desire of God.”

On inaccurate words…
“At present, I believe we err in Spirit-filled circles to the loose acceptance of every word. We casually shrug off inaccurate or carnal words as: ‘Oh, well. They just missed that one,’ or, ‘They are just growing in their gift.’ But no one should take casually anything tagged with ‘thus saith the Lord.'”

On personal prophecy…
“Personal prophecy has become increasingly popular in recent years. The typical pattern for today’s personal prophecy begins with the prophetic minister’s revelation of a situation or event that has occurred or is now present in the individual’s life. Frequently it tends to be past hurts or rejection. This is usually followed by a declaration of blessings or the promise of what God is going to do in the future.

“Not all are alike, but this is a common format. The term used frequently to describe a personal prophecy is ‘a word.’ Therefore it is common to hear someone say, ‘He had a word for me.’ Or, ‘Did you get a word?’

“The individual giving these words may be a prophet or another believer. The propagation in recent years of personal prophecies has propelled many ministries to national recognition. Many of these prophets and prophetesses not only give prophetic words, but also teach others how to do the same through seminars, books, tapes or conferences. For the price of registration and a couple of sessions on a weekend you can become a prophet, or at least learn to prophesy at will. At most prophecy meetings, individual short-length audio tapes are often prepared so the people can take home their personal words.

“It is sad, but because we so desperately hunger for the supernatural and for the true prophetic, many have not exercised spiritual judgment and have recklessly embraced all forms of this ministry. Jesus made it clear: ‘See to it that no one misleads you’ (Matt. 24:4, NASB). The responsibility is ours!

“We need to ask, ‘Why are so many easily led astray by personal prophecies that are not genuine?’ Often we are ignorant of the authentic. To become familiar with authentic personal prophecy, we need to return to the Scriptures for insight.