Bless the Lord oh My soul

Bless the Lord oh My soul

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan

Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan

Sukacita adalah ciri Utama orang Kristen. bersukacita sebagai ungkapan hati atas kasih karunia Tuhan More »

Spread the word

Spread the word

Sebarkan Berita Keselamatan More »

Janagn risau menghadapi tantangan hidup

Janagn risau menghadapi tantangan hidup

Selalu ada berkat dibalik masalah yang kita hadapi. More »

Bingung memilih Asuransi Jiwa?

Bingung memilih Asuransi Jiwa?

PT Generali Indonesia adalah perusahaan internasional yang berpengalaman sejak tahun 1831. More »

 

Category Archives: Artikel

Hozier lirik mencemooh gereja

Hozier, seorang musisi asal Irlandia berusia 25 tahun yang main di genre indie rock-blues-soul, dengan suara yang “berat”, sering melontarkan komentar dalam lagu-lagunya yang menentang iman dan peradaban,lihat saja lirik lagunya yang berjudul “Take me to the church” :

My lover’s got humour
She’s the giggle at a funeral
Knows everybody’s disapproval
I should’ve worshipped her sooner
If the heavens ever did speak
She’s the last true mouthpiece
Every Sunday’s getting more bleak
A freshan buday poison each week
“We were born sick”
You heard them say it
My church offers no absolutes
She tells me “worship in the bedroom”
The only heaven I’ll be sent to
Is when I’m alone with you
I was born sick, but I love it
Command me to be well
Amen, Amen, Amen
Take me to church
I’ll worship like a dog at the shrine of your lies
I’ll tell you my sins and you can sharpen your knife
Offer me that deathless death
Good God, let me give you my life
[x2]
If I’m a pagan of the good times
My lover’s the sunlight
To keep the goddess on my side
She demands…

artinya:
Kekasihku punya humor
Dia terkikik saat menghadiri pemakaman
Mengetahui ketidaksetujuan orang lain
Seharusnya aku lebih dulu memujanya
Jika langit pernah berbicara
Dia adalah corong sebenarnya yang terakhir
Setiap hari Minggu semakin suram
Racun segar setiap minggu
“Kami terlahir sakit”
Anda mendengar mereka mengatakannya
Gereja saya tidak menawarkan yang absolut
Dia mengatakan kepada saya “penyembahan di kamar tidur”
Satu-satunya surga yang akan saya kirim
Apakah saat aku sendirian bersamamu?
Saya lahir sakit, tapi saya menyukainya
Perintahkan aku untuk menjadi sehat
Amin, Amin, Amin
Bawa saya ke gereja
Aku akan menyembah seperti anjing di tempat suci kebohonganmu
Aku akan memberitahumu dosa-dosaku dan kamu bisa mempertajam pisaumu
Tawarkan padaku kematian tanpa kematian itu
Ya Tuhan, biarkan aku memberimu hidupku
[x2]
Jika saya seorang kafir pada saat-saat indah
Kekasihku adalah sinar matahari
Untuk menjaga dewi di sisi saya
Dia menuntut …

Kebangunan Rohani di Herrnhut perintis gerakan Persaudaraan Moravia (Moravian Brethren )

Di dalam 150 tahun pertama usahanya, komunitas Moravia telah mengutus tidak kurang dari 2.158 anggotanya ke luar negeri! Mengikuti perkataan Stephen Neil, “Gereja kecil ini diikat oleh semangat misi yang tidak pernah pupus.”

Unitas Fratum (United Brethren), demikian sebutan mereka, telah meninggalkan catatan yang tiada bandingannya dalam era penginjilan dunia setelah Perjanjian Baru, dan kita perlu melihat kembali beberapa karakteristik utama dari gerakan ini dan menarik pelajaran yang Allah berikan pada kita.

——–

 Para Moravian Brethren yang tinggal di pertanahan Pangeran Nicolaus von Zinzendorf mengadakan pertemuan seperti biasa pada tanggal 13 Agustus 1727. Namun, gelora spiritual telah berkobar sejak beberapa minggu sebelumnya. Selama itu Pula telah berlangsung doa semalam suntuk, pengakuan dosa, pemahaman Alkitab dengan sungguh-sungguh dan pengharapan.

Semuanya meledak pada hari itu. Setelah berkat pengukuhan dinyatakan kepada kedua gadis tersebut, gereja itu pun dilanda keharuan yang dahsyat. Ada yang menangis, ada yang menyanyi, banyak yang berdoa. Tidak ada keraguan di benak mereka tentang apa yang sedang terjadi. Mereka sedang dilawat Roh Allah. Mereka telah mendirikan sebuah “badan” di sini, di Herrnhut, namun saat itu mereka adalah satu dalam roh.

Keadaan tidak selalu menyenangkan bagi orang-orang Moravian. Sebagian besar yang ada di sana ialah orang-orang pelarian dari tempat lain karena penganiayaan. Mereka adalah keturunan spiritual Yohanes Hus – bukan Katolik, bukan Lutheran, bukan Calvinis. Tak ada tempat lagi bagi mereka di dunia ini; bahkan pemimpin besarnya yang terkenal karena keilmuwannya, Jan Amos Comenius, tidak dapat mencarikan tempat bagi mereka. Maka mereka pun bubar.

Pengumpulan kembali berawal pada tahun 1722, ketika Christian David muncul di depan pintu tempat kediaman Pangeran Zinzendorf di Dresden. Zinzendorf adalah Lutheran yang saleh dari keluarga kaya, dan ia sangat berminat melayani Tuhan dengan kemampuannya. Sebenarnya ia pernah berpikir untuk mewujudkan sebuah komunitas yang akan mempraktikkan kesucian kristiani. Sekarang, berdiri pula seorang Moravian di ambang pintunya, dengan permintaan agar kelompok tertindasnya itu dapat tinggal di pertanahan Zinzendorf. Pangeran tersebut mengizinkannya.

Ketika Zinzendorf berkenalan dengan para tamunya,. is merasakan persaudaraan spiritual. la mengundang para Moravian lain ke komunitas baru ini dan mulai mendirikan sekolah serta kedai. Tempat itu dinamakan Herrnhut yang artinya, “penjagaan Tuhan”. Apakah mereka berjaga-jaga akan Tuhan atau mereka dijagai Tuhan? Kedua-duanya.

Sekitar tahun 1725, ada sembilan puluh Moravian di Herrnhut. Menjelang tahun berikutnya, ada 300. Tetapi bersamaan dengan pertumbuhannya datang juga masalah. Para pengungsi datang dari berbagai tempat dan berbicara dengan bahasa yang berbeda. Tentunya kesulitan ekonomi tak terelakkan karena para penghuni baru itu mulai melanjutkan pekerjaan lama mereka. Komunitas itu mencakup juga para Lutheran dan Moravian. Jadi, pertengkaran tentang liturgi gereja pun muncul. Seorang guru yang bermukim di sana adalah orang yang telah diusir dari Gereja Lutheran karena ajaran sesatnya, dan karenanya ia sangat marah. Tentu saja kemarahannya ditujukan kepada Lutheran terkemuka di komunitas tersebut, Zinzendorf. Guru itu berjalan mengelilingi kota dengan berteriak bahwa pangeran tersebut adalah “binatang” yang ada dalam Wahyu. Akhirnya orang tersebut menjadi gila.

Khawatir bahwa komunitas tersebut akan berantakan, Zinzendorf memutuskan untuk menerapkan kepemimpinan. Ia berpindah dari istananya ke komunitas itu sendiri dan mulai mengunjungi anggota-anggotanya. Ia menetapkan berbagai peraturan bagi kehidupan komunitas, yang semuanya disetujui. Komunitas tersebut memilih para penatua untuk memimpin mereka. Karya sosial ditetapkan, dan kelompokkelompok kecil dibentuk bagi pertumbuhan rohani.

Pada musim panas tahun 1727, perbedaanperbedaan sepele mulai memudar. Komunitas tersebut telah bersatu, terfokus, dan kebaktian pada tanggal 13 Agustus itulah yang membuktikannya.

Dalam gelora spiritual ini, berdoa dua puluh empat jam sehari telah ditetapkan. Hal ini berlanjut lebih dari satu abad. Kebaktian-kebaktian Kristen di tempat-tempat lain dijelajahi. Hubungan dengan para Moravian di seluruh dunia diadakan, dan mereka mengembangkan sistem yang melibatkan kebersamaan dan korespondensi. Para pemimpin dilatih mengunjungi kelompok-kelompok lain, dan mengadakan sharing dengan mereka tentang apa yang sedang berlangsung di Herrnhut.

Pada tahun 1732, para Moravian berkembang ke dalam misi-misi di luar negeri dengan mengirimkan Leonard Dober dan David Nitschmann ke Hindia Barat. Pada tahun berikutnya, tiga misionaris Moravian pergi ke Greenland. Pada tahun 1734, beberapa yang lainnya pergi ke Lapland dan Georgia, dan 17 relawan bergabung dengan Dober di St. Thomas. Menjelang 1742, lebih dari 70 Moravian meninggalkan komunitas Herrnhut yang terdiri dari 600 orang, untuk pelayanan misi. Ladang misi tersebut mencakup Suriname, Afrika Selatan, Guyana, Aljazair, Sri Langka dan Rumania.

Zinzendorf, sementara itu, berupaya mendirikan basis yang sah bagi Gereja Moravian di Saxony. Dalam penyelidikannya, ia menemukan konstitusi kuno bagi Unitas Fratrum, asal Gereja Moravian. Ini menunjukkan bahwa para Moravian mempunyai pendahulu historis sama seperti kaum Lutheran, dan itu harus diberi pengakuan. Tetapi, musuh-musuh Zinzendorf menyebabkan dia terbuang dari Saxony pada tahun 1736. Ini mengawali kurun waktu perjalanan bagi sang pangeran dan pemimpin Moravian lainnya. Perjalanan tersebut membawanya ke Amerika tempat ia mendirikan Bethlehem, Pennsylvania, sebagai basis karya misinya di antara para Indian. Di kemudian hari, ia menjadikan London sebagai pusat kegiatan Moravian.

Menjelang kematiannya pada tahun 1760, 226 misionaris dikirim keluar oleh para Moravian. Mereka telah membaptis lebih dari 3.000 orang yang bertobat. Ketika ia sekarat, Zinzendorf berkomentar kepada rekannya, “Sungguh suatu jemaat hebat dari gereja kita yang mengelilingi Anak Domba itu!” Hal itu memang benar.

Gereja Brethren berlanjut hingga hari ini, namun warisannya dapat juga dilihat pada denominasi lain. John Wesley sangat dipengaruhi kaum Moravian dan menggabungkan beberapa perhatian mereka pada gerakan Methodis. William Carey, yang dihormati sebagai orang yang merintis gerakan misi Protestan modern, sesungguhnya mengikuti jejak para misionaris Moravian. “Lihatlah apa yang telah dilakukan para Moravian ini,” tuturnya pada suatu kesempatan. “Apakah kita tidak dapat mengikuti contoh mereka dalam kepatuhan kepada Guru Surgawi kita, pergi ke tengah-tengah dunia dan mengabarkan Injil kepada orang-orang kafir?”

Dikutip dari blogspot.com

Pertobatan John Wesley tahun 1738

Ketika masih berusia lima tahun, John Wesley hampir saja tewas dalam kebakaran yang telah melalap pastorin ayahnya. Sungguh ia adalah “api yang dipetik dari kebakaran itu”, seorang yang akan dipakai Allah untuk menyulut iman pada ribuan orang.

Namun ketika John pergi ke Oxford untuk belajar menjadi pendeta dan kemudian membantu jemaat Anglikan ayahnya selama beberapa tahun, keresahan pun mulai meliputi dia. Meskipun ia tahu doktrin-doktrin keselamatan, namun semuanya itu belum menyenangkan hatinya.

Pada tahun 1729 John kembali ke Oxford. Adiknya, Charles telah memulai “Holy Club” (Klub Suci), yang tidak lama kemudian dipimpin John. Mereka dijuluki Methodis oleh orangorang yang ingin mencemarkan mereka, karena mereka menggunakan metode-metode keras dalam pencarian kesucian. Anak-anak muda itu mencari keselamatan, namun latihan-latihan devosional yang amat keras pun tidak memberi kedamaian kepada John. Seperti Luther, Wesley berupaya mendapatkan anugerah Allah dan menemukan kekosongan.

Pada tahun 1735, John dan Charles pergi ke Georgia dalam suatu perjalanan misioner. Ketika melintasi Samudra Atlantik, John terkesan dengan beberapa orang Moravian. Ketika kapal mereka dihantam badai, John gemetar karena takut, sementara para Moravian dengan tenang menyanyikan pujian.

Charles hanya berdiam selama satu tahun di Georgia. Ia pulang karena kesehatannya. Meskipun John tinggal, namun pelayanannya tidak berjalan mulus. Ia mengikuti jejak saudaranya kembali ke Inggris menjelang tahun 1738. Ia diundang pada pertemuan Moravian di Aldersgate Street, London, dan pada tanggal 24 Mei ia menghadirinya dengan “setengah hati”. Pada pertemuan tersebut, ketika seorang membacakan tafsiran Luther tentang Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma, Wesley berkata, “Kira-kira pukul sembilan kurang lima belas, ketika ia sedang menggambarkan perubahan yang diadakan Allah dalam hati melalui iman kepada Kristus, aku merasakan kehangatan dalam hati. Aku merasakan bahwa aku benar-benar percaya kepada Kristus, hanya Kristuslah keselamatan; dan suatu jaminan telah diberikan kepadaku bahwa Ia telah menyingkirkan dosa-dosaku, dan telah menyelamatkan daku dari hukum dosa dan maut.”

Wesley dan saudaranya, Charles, yang telah bertobat tiga hari sebelumnya, membawa berita anugerah baru ini dan mengajarkannya di mana saja. Seorang lagi anggota Holy Club, George Whitefield, menerima Kristus pada waktu yang bersamaan. Bersama-sama mereka akan menuntun Inggris dan Amerika menuju kebangkitan kembali.

Ketika Gereja-gereja Anglikan yang bermusuhan menutup pintu bagi berita ini, anak-anak muda tadi berbicara di mana saja, tempat-tempat umum atau lapangan terbuka. Tidak seperti Gereja Anglikan, yang hanya melayani kaum aristokrat, pendengar mereka adalah kaum miskin di Inggris, yang kelaparan akan harapan. Orang-orang mengelilingi mereka ketika mereka berkhotbah.

Meskipun Wesley berpendapatan besar melalui tulisan-tulisannya, ia hidup sederhana dengan membagi-bagikan kelebihan uangnya. Ia bertekad menyambut mereka yang berasal dari kelas rendah.

Wesley tanpa merasa letih mengadakan perjalanan sejauh 250.000 mil dengan menunggang kuda, mengajar di seluruh Inggris dan Skotlandia. la membentuk perkumpulan orang-orang percaya di setiap kawasan, dan ketika gerakan tersebut bertumbuh, ia menunjuk para pengajar lain dengan menempatkan seorang bagi satu distrik. Perkumpulan-perkumpulan tersebut, lebih lanjut, dipecah menjadi kelas-kelas rekanan dan kelompok-kelompok doa. Organisasi rumit yang dicap Methodis ini membantu gerakan itu bertahan.

Wesley bersaudara tidak berniat berpisah dari Anglikanisme. Sesungguhnya mereka ingin melihat pembaruan berlangsung dari dalam gereja. Perpecahan itu berlangsung pelan. Ketika pada tahun 1784 John mempersiapkan kelanjutan Methodisme setelah kematiannya, Charles tidak menyetujui perpecahan itu.

Meskipun berada di bawah bayang-bayang kakaknya, Charles pun punya andil yang cukup besar dalam Methodisme. Ia sangat dikenal akan kidungnya, termasuk “O for a Thousand Tongues”, “And Can It Be?” dan “Hark the Herald Angels Sing”. Tidak seperti gereja Anglikan yang selalu terikat pada Mazmur, dari awal para Methodis merupakan gerakan bernyanyi — sebagian besar karena Charles yang berbakat dalam menyusun kata-kata.

Methodisme telah mengubah masyarakat Inggris dengan perlahan. Meskipun setia pada status quo politik, Methodisme telah membangkitkan semangat liberal yang membawa Inggris ke keadaan yang lebih baik. Banyak sejarawan memuji orang-orang Methodis karena tidak memicu revolusi berdarah seperti yang dialami orang Perancis pada akhir abad kedelapan betas.

 

Dikutip dari blogspot.com

The Butterfly Effect

The Butterfly Effect

Matius 5:13-16 ; Titus 2:7a

 

Butterfly effect atau yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai “Efek Kupu-kupu” adalah sebuah konsep yang mengatakan bahwa hal yang terkecil di dunia ini bisa menyebabkan efek yang sangat besar. Edward Lorenz mengemukakan ide dan teori ini lewat contoh seekor kupu-kupu kecil.Seekor kupu-kupu kecil memang tidak memiliki kuasa untuk menciptakan badai besar. Namun menurut teori ini, kepakan sayap kupu-kupu dapat membuat perubahan kecil di atmosfir bumi yang pada akhirnya dapat berujung kepada sebuah kemungkinan perubahan cuaca dan bahkan badai besar.

 

Pada tahun 1912 seorang misionaris bernama William Leslie pergi ke sebuah pedalaman hutan di Kongo untuk memberitakan Kabar Baik. Dia tinggal di sana dan memberitakan Kabar Baik selama 17 tahun. Kemudian dia merasa tidak ada hasil dan hati orang-orang di sana begitu tertutup bagi Kristus. Dia pun kembali ke Amerika dengan rasa kecewa yang luar biasa pada diri sendiri. Kemudian, 9 tahun setelah kembali ke Amerika, Leslie meninggal dunia. Pada tahun 2010, sebuah tim pemberita Kabar Baik dari Tom Cox WorldMinistries yang dipimpin oleh Eric Ramsey pergi ke lokasi yang sama di Kongo. Mereka sangat kaget ketika melihat di pedalaman hutan yang sangat sulit dijangkau tersebut ditemukan sebuah bangunan gereja yang sangat besar. Ketika ditelusuri asal-usulnya, ternyata gereja tersebut adalah buah hasil pemberitaan Kabar Baik Dr.William Leslie. Perlu waktu bertahun-tahun sampai penduduk setempat menerima Kristus dan pelayanan yang dilakukan Leslie mulai membawa dampak nyata.

 

 

Sumb er: Manna Sorgawi, Mei 2017

Baalbek, tempat pemujaan berhala kuno

Baalbek (/ bɑːlbɛk /),  Ba’albek [2] (bahasa Arab: بعلبك) dan juga dikenal sebagai Baalbekatau Baalbeck,  adalah sebuah kota di Anti-Libanon , timur Sungai Litani di Lebanon Lembah Bekaa, sekitar 85 km (53 mil) timur laut dari Beirut dan sekitar  75 km (47 mil) utara Damaskus. Kota Ini memiliki penduduk sekitar 82.608,  Sebagian besar Muslim Syiah, diikuti oleh Muslim Sunni dan minoritas Kristen.Tempat ini diperhitungkan kubu gerakan Hizbullah..  adalah tempat penyelenggaraan  Festival Internasional Tahunan Baalbeck.

Bebatuan Baalbekbaalbek

Di zaman kuno Yunani dan Romawi, ia dikenal sebagai Heliopolis. Ini masih memiliki beberapa reruntuhan Romawi terbaik dilestarikan di Lebanon, termasuk salah satu kuil terbesar dari kekaisaran. Para dewa kuno yang disembah adalah -Jupiter, Venus, dan Bacchus-yang setara dengan dari Kanaan dewa Hadad, Atargatis, dan  dewa kesuburan pria muda lainnya. Pengaruh lokal terlihat dalam perencanaan dan tata letak kuil, yang bervariasi dari desain Romawi klasik.

Paus Fransiskus meminta maaf kepada umat Kristen Protestan

BBC World
Jakarta –
Paus Fransiskus meminta maaf kepada kaum Protestan dan Gereja Kristen lainnya atas penganiayaan yang dilakukan kaum Katolik, dalam upaya terbarunya untuk membina kesatuan umat Kristen.

Dalam acara kebaktian malam di Basilika Santo Petrus, Roma, yang dihadiri perwakilan sejumlah agama, ia meminta “maaf bagi perilaku penganut Katolik yang tidak sesuai injil terhadap kaum Kristiani dan Gereja lain”. Ia juga meminta umat Katolik memaafkan siapapun yang telah menganiaya mereka, demikian lansir kantor berita Reuters.

Vatikan mengumumkan, pada 31 Oktober Paus Fransiskus akan pergi ke kota Lund di Swedia, tempat Federasi Dunia Lutheran (LWF) didirikan pada 1947, untuk kebaktian bersama kaum Lutheran dalam peringatan Reformasi Protestan yang akan berlangsung di seluruh dunia tahun depan.

Martin Luther, pria berkebangsaan Jerman, diakui sebagai perintis Reformasi Protestan pada tahun 1517 dengan menulis 95 tesis yang mengkritik Gereja Katolik karena menjual pengampunan dosa dengan uang.

Langkah itu berujung pada perpecahan politik di seluruh Eropa dan dalam agama Kristen, memicu di antaranya Perang 30 Tahun di Eropa, penghancuran biara di Inggris, dan pembakaran sejumlah ‘orang sesat’ di kedua pihak.

Kelompok tradisionalis Katolik menyalahkan Fransiskus karena sikapnya yang terlalu longgar terhadap Lutheran, khususnya dalam “doa bersama” yang akan digunakan kedua agama selama peringatan Reformasi Protestan 2017.

Kuasa mujizat dalam masa gereja awal

Gregorius Thaumaturgus (213-270 m) mempunyai kuasa yang dahsyat atas roh-roh jahatndan karunia penginjilan yang sedemikian kuatnya sehingga injil disebarluaskan.

Gregorius Agung (540-604 M) banyak menulis tentang mujizat-mujizat yang terjadi dalam zamannya pada buku Dialoques dan <em>Homilies On The Gospels</em>. Diantara kesaksian tersebut, terdapat Benedictus dari Nursia, yang melayani pelepasan roh jahat dan kesembuhan ilahi.

Justinus Martir adalah bapa gereja abad kedua. Dia menulis:” Karena setiap roh jahat diusir,ditaklukkan, dan ditundukkan dalam nama Anak Bapa.” Selanjutnya “Bagaimanapun juga, banyak dari orang-orang kita ini yang sudah menyembuhkan banyak orang yang kerasukan, orang-orang yang tidak menerima penyembuhan dari orang lain yang mengusir setan, tukang sihir atau dukun ”

Irenaeus menulis “Karena itu, orang-orang yang berada dalam kebenaran, murid-muridNya yang menerima anugerah dari Dia, mengadakan mujizat-mujizat dalam nama-Nya untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain “

Ketika Sorga turun (Pentakosta di Azusa Street)

Tulisan Larry Martin,Ph.D
dikutip dari Charisma September 2006

Jika kita dapat mengirimkan seorang reporter kembali ke tahun 1906, maka hasil reportasenya tentang Kebangunan Rohani di jalan Asuza akan dibaca seperti ini.

apostolic-asuza-building
Jarak dari Pantai Barat Ameika Serikat ke rumah kami di Alabama Selatan cukup jauh, sehingga kami terlambat mendengarnya. Di bulan April 1906 itu kami mendengar laporan yang mengejutkan dan mengagetkan. Yang pertama adalah gempa bumi besar di San Fransisco. Bencana ini memenuhi hati saya dengan belas kasihan bagi mereka yang kehilangan segala sesuatu dan membuat saya berpikir apakah kita sedang hidup di akhir zaman.
Tetapi berita kedua membuat hati saya terlonjak lebih lagi. Koran OurHoliness mulai meliput suatu kegerakan rohani yang besar di suatu tempat kecil di Jalan Asuza di tengah kota Los Angeles – suatu gempa rohani yang menggoncangkan kotaitu.

Salah satu laoporan paling awal yang kami baca adalah dari The Pentecostal Herald. J.M. Taylor menulis,”Laki-laki,perempuan, anak-anak yang berumur 10-12 tahun,remaja dan pemuda, pendeta, majelis,pekerja misi, usahawan dari segala bangsa,ras,denominasi, beragam budaya, serta para cendekia dan segala lapisan masyarakat menerima baptisan kuasa, dan berbicara dalam bahasa lidah dan bernubuat”.
Laporan lain mengkritisi kebangunan rohani itu terutama pendeta dari misi tersebut, William J.Seymour. Koran The Nazarene Messenger berkata bahwa gerakan itu memiliki “dampak seperti kerikil kecil yang dilemparkan ke dalam lautan.” Sedangkan koran The Beulah Christian berkata bahwa itu adalah “setan yang menyamar sebagai malaikat terang.”

Saya memberi sedikit perhatian pada kata-kata negatif, karena hati saya menjadi saksi saat saya membaca berita yang baik.Saya berpikir apakah yang dialami oleh orang-orang di Azusa adalah Baptisan Roh Kudus yang begitu sering dikatakan oleh D.L.Moody dengan penuh semangat sebelum dia meninggal dunia.
Evan Roberts juga bersaksi bahwa dia telam menerima baptisan sebelum kebangunan rohani yang besar itu di Wales.Kami berharap bahwa ini adalah kesempatan kami untuk melihat gerakan Allah mengguncangkan bangsa.

Saya telah sering meminta pada Tuhan untuk jenis baptisan kuasa ini, dan hati saya rindu untuk mengunjungi Misi Jalan Azusa, yang secara resminya disebut Apostolic Faith Gospel Mission.Saya mulai berdoa sungguh-sungguh untuk bekal di perjalanan, dan dalam kehendak dan waktu Tuhan. Dia memberikan bekal untuk perjalanan saya.
Itu adalah suatu perjalanan yang indah. Sebelumnya saya tidak pernah ke bagian barat sungai Mississippi. Di tengah perjalanan sya mengunjungi beberapa tempat holiness.
Di Houston, saya menghabiskan sebagian besar waktu di Apostolic Faith Mission. Di sinilah Seymour pertama kali mendengar tentang kebenaran pentakosta dari Charles F.Parham, yang kemudian pergi untuk melayani di Zion, Illinois. Para pekerja misi di Houston dengan hangat bicara tentang Pendeta Seymour.

Saya menerima laporan yang berbeda tentang dia di Denver. Di Gereja Pillar of Fire – Pilar Api, tidak ada yang merasa kagum padanya atau misi yang diwakilinya. Tampaknya dia pernah berkunjung ke sini dalam perjalanannya ke California.

Pemimpin pekerja di Denver, Ibu Alma White, menuduh Seymour dirasuk setan. Saya menjadi begitu patah semangat (bahkan takut) karena kritik tersebut sehingga saya hampir pulang ke rumah.Tetapi saat saya berdoa dan merasakan damai yang dari Tuhan, saya tahu bahwa ini adalah siasat si jahat untuk menjauhkkan saya dari pengalaman Pentakosta. Di kemudian hari saya mengetahui, bahwa saat suami Ibu White menerima baptisan Roh Kudus, dia menolak mendampinginya dalam pelayanan.

Saat kereta saya akhirnya tiba di Los Angeles, saya tidak tahu harus pergi ke mana, bahkan tidak tahu kepada siapa harus bertanya.Tetapi para pekerja misi tersebut ada di stasiun untuk menyambut kedatangan saya dan pendatang lain di Los Angeles.
Ternyata dari stasiun ke misi Jalan Azusa tidak jauh. Saat kami semakin dekat dengan gereja, lingkungannya tampak semakin buruk. Gudang, bar dan bangunan lain yang rusak mengelilingi tempat misi yang kecil tersebut.
Jika saya mengharapkan gedung gereja yang besar, saya akan kecewa sekali. Bangunannya ada di ujung jalan. Hujan pada malam sebelumnya, menyebabkan jalanan bewcek oleh lumpur. Di sana tidak ada trotoar atau papan-papan pijakan untuk menghindari sepatu kami terkena tanah.

Bangunannya sendiri berbentuk kota. Saya dengar bahwa sebelumnya bangunan itu adalah gedung gereja yang menarik, tetapi api telah memakan habis atap gereja yang tadinya berbentuk segitiga. Saat dibangun kembali, atapnya diganti dengan atap datar. Bekas kebakaran tampak nyata di gedung itu dan bangunan itu sangat perlu dicat ulang. Tulisan “Dijual” tampak di salah satu sisinya.
Saya kagum dengan banyaknya orang yang hadir. Manusia terlihat di mana-mana. Di dalam bangunan, di luar dekat jendela, di tingkat atas atau bawah. Saat itu tengah hari, tetapi ratusan orang sudah memenuhi tempat itu.
Di dalam orang-orang kudus bernyanyi. Oh,betapa luar biadsanya pujian itu! Saya tidak tahu saat itu, tetapi itu adalah lagu favorit mereka.Penghibur Telah Datang: “Penghibur telah datang/ Roh Kudus dari sorga, janji yang diberikan Tuhan/kabarkan berita baik ini kemana pun,kepada siapa pun/Penghibur telah datang!”
Tempat misi tua tersebut bergoncang saat semua orang menyanyi dengan sekuat tenaga. Tidak ada alat musik, memang tidak diperlukan karena suara memenuhi ruangan tersebut. Orang-orang bertepuk tangan,bersorak dan memuji Tuhan.
Saya tidak pernah melihat hal seperti ini dalam hidup saya. Saya pernah ikut retreat, tetapi tidak ada yang dapat menandingi sukacita dan antusiasme dari ruang kecil ini.Rasanya tempat itu akan meledak.

Hal lain yang mengejutkan saya adalah banyak orang dari berbagai ras datang menyembah bersama. Saya yang berasal dari Selatan, dimana masalah rasial menjadi isu utama, cukup terkejut dengan demonstrasi kasih ini. Di sini hitam-putih, latin dan Asia memperlakukan satu sama lain sebagai saudara dan saudari dalam Tuhan. Frank Bardeman, salah seorang pendeta di kota itu bersaksi,” Darah Yesus membasuh dan menghilangkan semua pembatas warna kulit.”
Saya melihat ke sekeliling ruangan mencari sang pemimpin,Pendeta Seymour.Saya mengira bahwa dia pasti duduk di tempat yang terhormat, tetapi saya cukup terkejut saat saya menemukannya.Dia duduk di belakang “mimbar” (berupa dua peti kayu yang saling ditumpuk dan ditutupi kain) dan kepalanya tertunduk rendah di dalamnya. Dia menangis dan berdoa sepanjang penyembahan itu.

Pada akhirnya lagu itu berhenti, dan Pendeta Seymour berdiri untuk berbicara.

Tokoh-tokoh kegerakan Pentakosta:
Glenn A.Cook
E.J. Boehmar (1881-1953)
Edward John Boehmer bertemu Evangelis Frank Bartleman di tahun 1905 saat bekerja di Misi Pniel di Pasadena, California. Dengan beban untuk kebangunan rohani, mereka sering berdoa semalaman untuk hujan pembaruan rohani di California Selatan. Doa mereka dijawab oleh pencurahan Roh Kudus di Los Angeles pada tahun berikutnya. Dia yang pada mulanya merasa skeptis dengan karunia bahasa lidah, Boehmer yang merupakan keturunan Jerman, menjadi yakin saat mendengar seorang pria berbicara dalam bahasa Jerman yang sempurna. Boehmer menerima Baptisan Roh Kudus di jalan Azusa pada tahun 1907 dan berkata: “Walaupun kita memiliki Roh Kudus dan menikmati hadirat-Nya yang manis, ada kerinduan yang dalam untuk menjadi seperti Yesus. Kita memberi tempat yang lebih untuk kerendahan hati, dan terus merendahkan diri lebih lagi di hadapan Allah dalam doa yang sungguh-sungguh, meminta pada-Nya untuk mengaruniakan hal-hal yang secara sah menjadi milik mereka yang telah Dia beli dengan darah-Nya sendiri.” Boehmer kemudian menginjil di pegunungan Appalachian dan bergabung dengan Church of God(Cleveland,Tennessee).

Glenn A.Cook tokoh Pentakosta

Glenn A.Cook (1867-1948)
glenn-cook

Glenn A.Cook adalah wartawan koran di Los Angeles yang pada mulanya menolak validitas khotbah William Seymour dan mencari bukti untuk memperbaiki apa yang semula dipercayainya sebagai kesalahan doktrinal.
Tetapi dia segera mengubah pikirannya dan menjelaskan :”Setelah meminta maaf pada Pendeta Seymour dan yang lainnya atas semua kata-kata saya yang keras. Saya bersujud dan mulai berdoa…Saat saya hampir putus harapan,Roh Kudus turun atas saya saat saya berbaring di tempat tidur di rumah. Saya merasa seperti mengalami trance selama 24 jam dan pada keesokan harinya dalam ibadah saya mulai berbicara dalam bahasa lidah.” Cook kemudian menjadi manajer usaha di Apostolic Faith Mission dan menolong Seymour menerbitkan The Aposyolic Faith. Pada tahun 1907 dia memperkenalkan pesan Pantekosta di Indianapolis. Pada tahun 1914, setelah dibaptis ulang dalam nama Yesus, Cook menjadi pelayan pionir dalam gerakan Oneness Pentecostal – Kesatuan Pentakosta.

Sumber: Majalah Charisma September 2006

Ulasan Wahyu 12

Pasal 12-15 ini tidak diawali dengan peralihan apapun, karena bagian ini seolah-olah kembali ke bagian awal, yaitu masa pemberontakan Iblis di Surga, kelahiran Tuhan Yesus, dan perseteruan antara Kristus dan Iblis. Walaupun tidak ada kaitan struktural yang kuat antara permulaan bagianini dengan pasal-pasal yang lain dalam kitab Wahyu, tetapi ada kaitan struktural yang kuat antara penutup bagian ini dengan kelanjutan hukuman Allah melalui ketujuh cawan. Berikut ini kita akan melihat tujuh tanda yang dilihat oleh Yohanes. “Tanda” (semeion) memberikan kita indikasi jelas bahwa gambaran yang dilihat Yohanes memiliki makna simbolik dan bukanlah hurufiah.

Perempuan dan Naga
Istilah “tanda” menonjol dalam bagian ini menegaskan bahwa pasal ini penuh dengan makna simbolik. Siapakah perempuan tersebut? Gambaran Yohanes menyatakan bahwa ia”berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.”
Tafsiran pertama mengatakan bahwa perempuan itu adalah Israel, seperti yang dinyatakan dalam Kejadian 37:9-11, dimana matahari dan bulan menunjuk pada Yakub dan Rahel.Bintang-bintang yang adav di kepala perempuan mewakili 12 anak Yakub.
Dia sedang mengandung dan kemudian “melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi” (ayat 5). Ini jelas menunjukkan nubuatan tentang kedatangan Mesias (Kristus) yang berasal dari bangsa Israel.
Tafsiran kedua,perempuan itu adalah ibunya Mesias (Kristus) yaitu Maria. Penglihatan Yohanes ini adalah gambaran perempuan yang super ilahi, mulia dan indah- sehingga sulit diidentifikasikan dengan pribadi manusia tertentu. Di pihak lain, perempuan ini juga mengalami penganiayaan dari naga yang jelas sekali melambangkan Iblis (Wahyu 12:9).
Tafsiran ketiga, perempuan itu melambangkan gereja Tuhan. Pertanyaannya, bagaimana “gereja Tuhan” melahirkan Mesias? Gereja Tuhan umumnya digambarkan sebagai perawan suci (2 Korintus 11:2)dan pengantin Anak Domba (Wahyu 19:7).

Naga dan siasatnya. Dalam ayat 3 ini Yohanes melihat “tanda lain”, yaitu “seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota”

Mazmur 74:14, 89:11, Yesaya 27:1. Dalam Perjanjian Lama, istilah “naga” melambangkan kejahatan yang sangat jahat, yang pada akhirnya pasti akan dimusnahkan oleh Tuhan.

Sumber: Manna Surgawi April 2007